
***
Wanita memang sangat sulit sekali dimengerti. Apalagi ketika mereka sedang datang bulan atau sedang bad mood. Pasti saja semuanya akan serba salah. Sama seperti tepung serba guna yang akan jadi tepung serba salah jika menghadapi wanita.
Kalingga masih tidak habis pikir dengan Ailee, kenapa gadis itu jadi ketus padanya? Seingatnya Kalingga tidak pernah berbuat salah. Lalu kenapa gadis itu tiba tiba kesal dan marah seperti ini?
Kalingga menatap kepergian Ailee dan adiknya ke lantai satu. Disana Kairav juga ikut menyusul dan mengajaknya juga. Kalingga pun mengikuti ketiga manusia itu ke lantai bawah.
Sementara itu, Ashel. Ibu tiga anak itu baru bangun dan saat ini sedang berdiri di depan pintu kamar miliknya. Ia melihat ke empat kurcacinya yang turun ke lantai satu. Ashel tersenyum kecil melihat jalan Ailee yang sangat pelan dan hati hati, sepertinya bokong gadis itu memang kesakitan.
"Kalian mau kemana?" Teriak Ashel.
"Lantai satu mi, ayok ikut. Ailee beli makanan katanya," teriak Kairav. Ashel hanya mengangguk sekilas dan menutup pintu kamarnya. Sebentar lagi suaminya akan pulang, ia harus selalu tampil cantik dan wangi di depan suaminya.
Di lantai satu, Ailee menghela nafasnya. Turun dari lantai dua yang sering ia lakukan ternyata cukup melelahkan saat bokongnya sakit. Ia tidak tahu kapan rasa sakit ini sepenuhnya hilang.
Oh iya, tadi Angela yang menelepon. Meminta Ailee datang karena Albert berkunjung ke rumah SBA. Namun Ailee menolaknya, bukan semata mata ia tidak ingin datang. Melainkan bokongnya yang sangat sakit sekali. Boro boro bawa motor, berjalan dan duduk saja bokongnya masih sangat sakit. Ailee mengirimkan pesan dan menjelaskannya pada Angela. Diluar dugaan teman laknatnya itu malah menertawainya. Menyesal Ailee mengatakan semuanya.
"Pelan pelan ngab," ucap Briella.
"Gue cewek, napa lo panggil bang?" Ucap Ailee.
"Replek bun," ucap Briella.
Ailee hanya mendengus pelan. Untungnya dia memesan makanan cukup banyak. Ia memang selalu berjaga jaga, mengingat ketiga manusia kembar ini sangat hobi makan. Sama sepertinya.
Ailee memesan makanan khas Korea semua. Hampir semuanya street food. Untungnya ada restoran langganannya yang selalu menjadi langgannya. Selain itu ia juga memesan makanan dari food truck yang sering ia beli. Makanan dan kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Ailee benar benar menyukai makanannya.
"Nona, pesanan atas nama nona Fox," ucap seorang maid.
"Simpen disini aja. Makasih," ucap Briella.
Semua makanan datang bersamaan. Ailee benar benar kalap membeli semua makanan yang ia mau. Bahkan Kairav dan Briella melongo melihat banyaknya makanan. Sedangkan Kalingga hanya menggelengkan kepalanya.
"Astaga, ini kenapa banyak banget makanannya? Ailee yang beli semua?" Tanya Ashel. Ailee mengangguk sekilas.
__ADS_1
"Bakso buat tante," ucap Ailee menyodorkan sebuah cup makanan tahan panas berisi bakso.
"Wah, kamu beli dimana?" Tanya Ashel.
"Langganan. Rasanya cukup masuk di lidah orang Indonesia. Yang jualannya soalnya orang asia katanya," ucap Ailee.
"So tahu," ucap Kalingga. Pria itu mengambil duduk di samping Ailee. Sedangkan Ailee tidak menjawab ucapan Kalingga. Ia masih kesal dengan pria ini. Namun ia tidak menggeser duduknya. Bokongnya masih belum bersahabat.
Briella mengambil makanan kesukaannya yaitu ramen, sedangkan Kairav mengambil nasi goreng kimchi. Kalingga sendiri masih diam. Ailee mengambil ayam goreng utuh satu ekor tanpa kepala. Ia sempat bergidik ngeri melihatnya. Kepalanya hilang.
"Nape lo?" Tanya Kairav.
"Pala ayamnya di mutasi, jadi ilang," ceplos Ailee.
"Mutasi?" Tanya Briella.
"Mutilasi," koreksi Lingga.
"Ya elah, lagi bete gitu otak lo rada geser kayaknya Lee," ucap Briella. Ailee hanya menggidikan bahunya acuh. Ia pun menarik paha ayam dan memakannya. Bumbu ayam itu berwarna merah. Apa itu pedas?
"Pelan pelan sayang," ucap Ashel.
"Makasih mi," ucap Lingga. Ashel hanya mengangguk sekilas. Sedangkan Ailee benar benar tidak menoleh sedikit pun pada Kalingga. Ia benar benar kesal pada pria itu sepertinya.
"Lo makan ayam sepedes itu? Kalo sakit perut gimana?" Tanya Ling.
"Kita cuma temen Ling, kurangi rasa pedulinya. Ailee gampang baperan soalnya sama kamu," ucap Ailee acuh. Briella dan Kairav saling pandang dan tersenyum misterius. Entah apa maksud dari senyuman itu, hanya Briella dan Kairav yang tahu.
"Ailee, baksonya enak. Kapan kapan ajak tante kesana ya? Tante mau nyoba makan di tempat," ucap Ashel.
"Boleh, hubungin Ailee aja," ucap Ailee.
"Ikut," ucap Briella. Ashel hanya mengangguk.
Kalingga terdiam, apa benar gadis ini marah padanya? Tapi kenapa? Seingatnya dia tidak berbuat masalah. Wanita benar benar sulit dimengerti. Kalingga tidak paham kenapa wanita selalu tiba tiba marah kemudian diam. Kenapa tidak memarahi saja orang yang membuatnya marah?
__ADS_1
"Lingga, jangan diem aja. Makan," ucap Ashel.
"Lingga gak bisa makan kalo orang yang beli semua makanan ini diemin Lingga, mi." Briella dan Kairav tersedak bersamaan mendengar ucapan Kalingga. Benar benar suatu kemajuan yang sangat signifikan.
Sedangkan Ailee hanya mendengus pelan. Ia melepaskan semua bumbu yang ada di ayamnya dan hanya menyisahkan daging bagian dalamnya saja. Ia pun menyodorkannya pada Kalingga.
"Makan sendiri gak udah manja!" Ucap Ailee. Ka menyodorkan ayam goreng keju pada Kalingga setelah menyuapi pria itu.
"Lo berdua ngapa senyam senyum?" Tanya Ailee pada Kalingga dan Briella.
"Enggak," ucap keduanya kompak.
Ashel tersenyum. Ia bangga memiliki anak anak seperti ketiga anaknya dan Ailee. Sejak kecil Ailee sudah main ke mansionnya. Ashel bahkan sudah menganggap anak itu seperti anak kandungnya sendiri.
"Mami bangga sama kalian semua. Jangan pernah terpecah ya? Tetep bareng bareng kayak gini," ucap Ashel.
"Harus lah mi," ucap Briella.
"Kita kan sahabat," ucap Kairav.
"Najis," ucap Briella, Ailee, dan Ling bersamaan
"Heh, mulut siapa itu?" Tanya Kavin yang baru saja datang dari kantor. Ling dan Briella kompak menunjuk ke arah Ailee. Sedangkan Ailee hanya diam saja saat di tuduh seperti itu.
"Ini ada makan makan besar? Kok papi gak di ajak?" Tanya Kavin.
"Ya udah gabung aja sih pi, makanannya juga masih banyak," ucap Briella.
Ailee mengambil satu kotak paket hok ben untuk om Kavin. Ia ingat sekali saat mereka kecil om Kavin selalu memakan ini.
"Ailee masih inget aja kesukaan om," ucap Kavin.
"Jelas lah om. Ailee besar bersama keluarga om, Ailee tahu kesukaan masing masing dari kalian semua. Mungkin karena sudah lama ikut menempeli keluarga om," ucap Ailee tersenyum.
Tbc.
__ADS_1