
***
Satu hari berlalu, perang dingin terjadi antara Ayu dan Rafello. Saat ini mereka tetap tinggal satu atap. Ayu menyusul suaminya ke suatu tempat. Sudah lama mengenal Rafello apalagi statusnya dia adalah suaminya, jelas saja Ayu tahu seperti apa tabiat suaminya itu. Ayu tahu, dia sudah menentang sekali bahkan dia membuat keretakan hubungan suaminya dengan keluarganya. Dia memang egois, namun dia seperti ini juga demi anaknya.
Ayu tetap bersikap biasa pada suaminya. Namun Rafello malah bersikap sebaliknya. Biasanya mereka akan tidur seranjang layaknya suami istri. Tetapi karena amarah dan kekecewaan Rafello belum mereda, alhasil Rafello dan Ayu pun tidur berpisah. Ayu tidur di ranjang sementara Rafello tidur di sofa. Masih satu ruangan namun berbeda tempat saja.
Virendra masih tinggal di rumah Natapraja. Terlebih itu juga kemauan Sarah. Sudah cukup Vanesha saja yang melenceng dan tidak patuh aturan, Virendra jangan sampai. Sedangkan Vanesha, dia juga tetap tinggal di rumah Natapraja. Alasannya simpel, karena disana ada Kalingga. Namun tanpa sepengetahuannya, keluarga Kalingga sudah memutuskan akan tinggal di rumah Kavin dan Ashel saja. Mereka tidak mau lagi menimbulkan masalah baru karena ulah orang yang sama.
"Mas, kamu mau sampai kapan diemin aku? Aku tahu aku salah, tapi kamu gak seharusnya kan diemin aku teru," ucap Ayu.
Saat ini kedua pasutri yang sedang perang dingin itu sedang makan bersama di meja makan. Sebenarnya Rafello ingin pergi tadi pagi, namun Ayu menahannya bahkan mengancamnya jika Rafello tidak mau sarapan pagi, maka Ayu akan mogok makan.
Selain karena masih sayang, Rafello juga tidak mau menambah hidupnya semakin susah. Jika Ayu sakit, maka dia sendiri yang harus menjaganya. Dan lagi Vanesha masih belum ia disiplinkan.
"Bisa aku minta satu hal sama kamu?" Tanya Rafello.
"Tentu mas. Apa?" Tanya Ayu.
"Aku mohon dengan sangat, berubah. Berubah dari Ayu yang seperti ini jadi Ayu yang baik. Seperti Ayu yang aku kenal dulu. Seperti Ayu yang sangat peduli terhadap dirinya juga orang lain," ucap Rafello.
"Mas, kamu juga tahu kan sebab aku berubah kayak gini itu kenapa? Aku masih belum terima dengan keadaan kak Bagas," ucap Ayu.
__ADS_1
Yah, Bagas. Kakak kandungnya yang memiliki gangguan jiwa.
"Sampai saat ini aku bahkan kedua orang tua aku gak tahu keadaan kakak ku seperti apa. Abang kamu terlalu keterlaluan karena kasih sayangnya pada Kalingga. Andai saja abang kamu melepaskan kak Bagas, semuanya tidak akan seperti ini," sambung Ayu.
Mendengar ucapan Ayu, seketika nafsu makan Rafello menghilang. Bahkan dia menyimpan sendok dan garpu yang sejak tadi ia pegang.
"Seharusnya kamu sadar. Kamu juga kayak gitu kan sama Vanesha? Sementara Virendra, pernah kamu perhatikan anak itu? Enggak. Kamu hanya mengedepankan anak gadis kamu. Pernah kamu berpikir seperti apa perasaan anak laki laki kamu itu? Enggak kan?" Tanya Rafello.
Selama ini, Ayu memang lebih mengedepankan segala hal tentang Vanesha. Bahkan mungkin dia lupa jika dia juga memiliki Virendra. Namun Virendra tidak pernah komplen apapun. Dia hanya diam dan menerimanya.
"Bang Kavin bersikap seperti itu karena dia tidak ingin kakak kamu mencelakai orang lain apalagi sampai mencelakai anak anak ku. Kamu tahu, bang Kavin bahkan sudah berpikiran sejauh itu hanya demi keutuhan keluarga ku. Keluarga kecil ku. Bang Kavin dan Ashel rela melupakan semua hal yang sudah berlalu demi memperbaiki hubungannya dengan keluarga kita. Sedangkan kamu apa? Aku pikir, selama ini aku diam dan bersikap tidak tahu apa apa akan membuat kamu sadar. Nyatanya itu semua salah besar. Kamu semakin membuat aku tidak memiliki harga diri di depan keluarga ku sendiri," ucap Rafello.
Rafello tertawa sumbang, "ASET? ASET KAMU BILANG?! BAHKAN SEJAUH INI AKU TIDAK PERNAH MEMIKIRKAN HAL ITU. AKU MEMILIKI HARTA KEKAYAAN DARI HASIL JERIH PAYAH KU. URUSAN ASET DAN KEKAYAAN KELUARGA TIDAK PERNAH AKU PIKIRKAN."
"Aku benar benar tidak menyangka ternyata sifat asli kamu seperti ini. Lalu kemana Ayu yang dulu? Kemana? KEMANA HAH?!" Teriak Rafello sembari menggebrak meja.
Hatinya benar benar sakit sekali mendengar ucapan istrinya saat ini. Ia kira istrinya ini tidak gila harta, ternyata salah. Rafello benar benar tidak habis pikir. Tanpa sadar air matanya keluar begitu saja. Dia benar benar sudah lelah menghadapi permasalahan keluarganya. Apa dia menyerah sampai disini saja? Semakin lama bukannya semakin membaik, justru malah semakin memburuk.
"Aku mencintai kamu, sampai kapan pun. Aku harap, kamu tidak membuat rasa cinta yang aku miliki ini berubah jadi benci. Segera perbaiki sikap dan perilaku kamu sebelum semuanya terlambat. Ingat, penyesalan itu akan datang, cepat atau lambat," ucap Rafello membuat Ayu mematung. Seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat suaminya menangis. Tidak tersedu sedu memang, namun Ayu dapat melihatnya dengan jelas.
"Mas," ucap Ayu. Wanita itu mengejar suaminya dan menahan pergelangan tangannya lalu memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Jangan pergi, oke aku berubah. Please mas," ucap Ayu.
Rafello memejamkan matanya. Ia pun melepaskan pelukan istrinya.
"Rumah sakit jiwa Veteran, temui dokter Luki. Kakak kamu dirawat disana," ucap Rafello. Pria itu pun pergi dari sana tanpa mengatakan apa apa lagi.
Selama ini, Bagas tidaklah di siksa seperti awal awal saat Kavin masih benar benar sangat marah. Namun siksaan yang didapatkan Bagas juga setimpal. Pasalnya Kavin hanya membuat pergelangan tangan dan beberapa tulang di tubuh Bagas bergeser saja. Baru berbulan bulan setelah itu berlalu, Kavin memasukan pria itu ke rumah sakit jiwa. Selain untuk rehabilitasi, itu juga sengaja dilakukan agar pria itu tidak gila lagi.
Ternyata setelah diselidiki, selama hidup dengan kedua orang tuanya, Bagas selalu menonton film film pembunuhan. Hal itu juga yang memicunya untuk menyakiti orang lain. Bahkan banyak kasus yang di tutupi keluarga Ayu karena ulah anak sulungnya itu.
"Mas, jangan pergi. Aku mohon," ucap Ayu.
"Aku butuh waktu untuk menyendiri dan memikirkan tentang kehidupan rumah tangga kita ke depannya seperti apa," ucap Rafello.
"Mas," teriak Ayu. Wanita itu tidak bisa lagi menahan kepergian suaminya. Rafello benar benar pergi. Apa mungkin karena keegoisannya ini akan berdampak pada rumah tangganya. Tapi dia bersikap seperti ini juga demi anak kesayangannya.
Sekarang Ayu harus memilih. Memilih untuk tidak egois lagi dan mempertahankan rumah tangganya atau mengikuti kemauan anak kesayangannya, Vanesha.
Tbc.
Ramein😌🤳
__ADS_1