Mengejar Cinta Mr. Ling

Mengejar Cinta Mr. Ling
285. Memberikan Respon


__ADS_3

***


“Siapa yang meminta Magi datang ke Indonesia?” Tanya Ailee heran


“Tuan Levant yang memintanya,” jawab Gail.


Levant? Untuk apa abangnya itu memanggil Magi kesini? Bahkan di Boston juga Magi memiliki pekerjaan. Mansion milik kedua orang tuanya begitu besar disana. Dan Magi lah yang bertanggung jawab untuk penataan sekaligus kebersihan disana.


“Tuan Levant sudah tahu keadaan perusahaan Fox Enterprise seperti apa. Jadi mungkin beliau sengaja meminta Magi datang untuk menjaga kedua orang tua kamu. Lagi pula kamu yang harus bertanggung jawab untuk perusahaan Fox,” ucap Gail.


“Aku tahu untuk hal itu, tidak perlu diingatkan lagi Gail,” ucap Ailee.


Jauh sebelum kejadian kecelakaan ini, Ailee sudah tahu jika dia nantinya yang akan menghandel urusan perusahaan. Tapi sayangnya kali ini tanpa bimbingan kedua orang tuanya. Rasanya sangat sedih sekali, tapi sudahlah. Ailee tidak mau menangis lagi. Ia sudah lelah dan lagi masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan selain belajar.


Ailee mulai membuka beberapa file yang ada di depannya. Beberapa file sudah ia kuasai karena sebelum hari ini dia sudah pernah mempelajarinya dan diajarkan oleh mamanya. Sedikit banyaknya Ailee sudah paham tentang hal ini.


“Jangan terlalu keras dalam memahami isi semua file ini. Lagi pula ini masih terlalu dini, tuan besar pasti akan marah besar jika beliau tahu,” ucap Gail.


Lagi lagi Ailee dibuat mengernyit dengan ucapan Magi. Magi yang melihatnya hanya menghela nafasnya.


“Beberapa waktu ini kenapa otak mu jadi lambat dalam berpikir? Apa kamu sakit?” Tanya Gail.


“Tidak, aku hanya heran kenapa grand bisa marah. Bukannya ini semua memang yang harus aku jalani cepat atau lambat?” Tanya Ailee.

__ADS_1


“Memang. Tapi tuan besar sepenuhnya mendukung cita cita mulia mu, Brixy. Tapi semuanya kembali lagi pada mu. Kamu yang akan menjalaninya jadi kamu yang harus memutuskannya,” ucap Gail.


“Aku mengatakan tuan besar akan marah sebab dai tidak mau kamu tertekan dan berakhir sakit,” ucap Gail lagi. Ailee hanya mengangguk sebagai jawabannya saja. Dai kembali terfokus pada map yang ada di depannya. Rasanya dia sudah seperti seorang pebisnis saja. Padahal aslinya dia masih seorang pelajar alias mahasiswa sekolah menengah atas.


***


Waktu berjalan terasa begitu cepat. Hari demi hari sudah Ailee lalui sendirian sembari menjaga kedua orang tuanya. Dua hari yang lalu kakeknya pergi ke Boston untuk menghandel perusahaan sementara ditemani oleh Alvaro. Ailee awalnya mencegah kakeknya untuk berangkat, namun kakeknya memberikan pengertian sehingga Ailee pun mengijinkan beliau pergi.


Satu hari yang lalu tepat saat kakeknya pergi ke Boston, papinya memberikan respon yang signifikan. Kedua jari jari tangannya sudah bergerak gerak namun belum membuka kedua matanya. Dokter mengatakan jika papinya ini masih membutuhkan waktu untuk segera sadar kembali. Respon yang diberikan kemarin semata mata mungkin hanya ingin memberitahu jika beliau baik baik saja.


Pagi ini Ailee berangkat seperti biasanya ke rumah sakit. Hanya sendiri karena Gail sedang bekerja di apartement miliknya dan Magi menetap di rumah sakit. Kalingga? Entah kemana pria itu, setelah kejadian dai melihat Ailee dipeluk oleh abang sepupunya, pria itu seperti berubah. Jika memang cemburu, apa harus sampai mengabaikannya? Bukannya juga Ailee sudah menjelaskan semuanya dan pria itu sudah mengerti? Lalu kenapa tiba tiba Kalingga jadi seperti ini lagi?


Ailee khawatir, makanya dia menghubungi Briella untuk menanyakan kabar kekasihnya itu. Briella belum membalas pesannya, mungkin gadis itu masih tidur. Ini masih cukup pagi juga. Ailee berjalan perlahan menuju keluar rumah. Satu tangannya memegang kunci mobil dan yang satunya lagi memegang ponsel. Bukan sedang melihat hal hal aneh, tapi Ailee sedang melihat sisa file yang belum ia baca dan pelajari.


“Apaan-,” ucapan Ailee terhenti saat melihat orang yang mengambil ponselnya.


“Lagi chat sama siapa sih yang sampe gak lihat aku berdiri dari tadi.”


“Ya kamu kenapa gak masuk. Gak ada yang larang kamu masuk,” ucap Ailee.


Seperti biasanya, tidak ada kabar lalu tiba tiba datang ke hadapannya. Siapa lagi jika bukan Kalingga Alister. Seharusnya Ailee sudah paham dengan sifat kekasihnya ini. Tapi entahlah, terkadang Ailee selalu terkejut dengan kehadiran tiba tiba pria ini.


"Kangen," ucap Kalingga manja. Pria itu pun mendekat ke arah kekasihnya lalu memeluknya erat. Ailee membalas pelukan Kalingga. Ia juga merindukan pria ini, namun Ailee jarang mengatakannya. Untungnya Kalingga sangat peka sehingga tanpa Ailee mengatakan, ia sudah mengerti.

__ADS_1


"Mau ke rumah sakit?" Tanya Kalingga.


"Iya, mama sama papi masih disana. Gak tahu kapan keluarnya," ucap Ailee.


"Sstt, mereka disana bukan tanpa sebab sayang. Mereka disana untuk kembali sembuh. Dengan bantuan dokter dan doa orang orang yang menyayangi om sama tante, mereka akan segera sembuh dan keluar dari rumah sakit," ucap Kalingga.


"Makasih sayang," ucap Ailee.


"Makasih gak cukup. Kiss," ucap Kalingga. Ailee mendengus kesal dan mengecup pelan bibir Kalingga.


Senyum merekah di bibir Kalingga saat sudah mendapatkan amunisi dari bibir plum merah itu. Semalaman dia tidak bermaksud mengabaikan kekasihnya ini, semalam dia punya urusan pribadi.


***


Berjalan mondar mandir tak jelas sejak semalam. Perasaan takut sekaligus sedikit senang bercampur aduk. Ia sudah mengamankan barang bukti, namun tetap saja ketakutan menghantuinya sejak dua hari yang lalu. Yang melakukannya memang bukan dia, namun dia yakin dia juga akan kena jika orang orang menemukan bukti ini.


Sebenarnya ini tidak bisa disebut bukti juga. Karena orang yang berada di video ini mengaku tidak melakukan apa apa. Namun entahlah, mana yang benar. Yang jelas dia hanya ingin orang terdekatnya tetap aman.


"Apapun yang terjadi aku akan tetap melindunginya. Mau dia yang bersalah atau pun tidak. Dia darah daging ku, seumur hidup aku tidak akan sudi melihatnya berada di tempat terkutuk itu," ucapnya menghela nafas.


Di tangannya, ada sebuah chip hitam berukuran kecil yang tengah di pegang. Baru saja dia melihat isinya. Tidak ada yang berubah. Tetap sama seperti awal dia melihatnya. Untungnya dia yang pertama melihat gelagat aneh dari orang terdekatnya itu. Sehingga dia bisa dengan cepat mengamankan barang bukti ini.


Chip itu dimasukan pada sebuah lukisan yang terdapat lipatan di bagian bawahnya. Lukisan itu berbentuk persegi panjang. Ia yakin siapa pun tidak akan menemukan bukti ini. Entah apa yang akan terjadi nanti. Ia yakin orang orang akan menyadarinya cepat atau lambat.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2