Mengejar Cinta Mr. Ling

Mengejar Cinta Mr. Ling
253. Titik Kesabaran


__ADS_3

Makin sepi. Makin hari makin ga mood ngetik. Tp hak tahu kenapa rasanya gak tega sama readers setia yang selalu nunggu update dan minta craxy up. Entah kenapa makin kesini, aku ngerasa ceritanya flat. Buktinya juga banyak pembaca yang kabur. Sedih banget rasanya. Tp ya udah gak papa, mau gimana lagi💔


***


Rafello berjalan pelan menuju ke dalam rumah besarnya. Setelah meluapkan emosinya pada istrinya, dia menangis di dalam mobil miliknya. Saat ini, dia benar benar rapuh. Dia bahkan tidak memiliki semangat hidup lagi. Rasanya ini adalah puncak permasalahan terbesar dalam hidupnya.


Selama ini, Rafello selalu bertanya tanya kenapa istrinya berubah. Bahkan sifat Ayu yang dulu dengan yang sekarang sangat sangat bertolak belakang. Rafello bukan baru dalam mengenal Ayu sebelum dia menjadikannya sebagai istrinya. Rafello sudah lama mengenal Ayu. Bahkan sejak dia SMA. Itu bukanlah waktu yang sebentar. Tapi kenapa dengan kejadian yang terjadi saat ini, Rafello merasa jika dia tidak mengenal istrinya dengan baik.


"Loh, Fello?"


Rafello mengangkat wajahnya. Matanya melirik ke arah sumber suara. Disana, berdiri seorang wanita paruh baya yang kecantikannya tidak pernah pudar. Wanita yang tidak pernah mengecewakan Rafello. Malah justru Rafello yang selalu mengecewakannya.


"Ma," lirih Rafello.


Sarah tertegun melihat wajah anaknya yang sembab. Ditambah lagi penampilan Rafello saat ini sangat sangat kacau sekali. Seumur hidupnya, baru kali ini Sarah melihat anaknya dengan keadaan sekacau ini. Sarah tidak perlu bertanya lagi kenapa anaknya sampai seperti ini. Dia sudah tahu jawabannya. Pastinya tidak jauh jauh dari persoalan yang sedang dihadapi saat ini.


"Kemari nak," ucap Sarah. Rafello mengangguk dan berlari ke arah mamanya lalu memeluknya.


Di pelukan sang mama, Rafello kembali meneteskan air matanya. Tidak bersuara, hanya air matanya saja yang keluar. Sarah memeluk tubuh anaknya yang bergetar. Dia benar benar tidak habis pikir kenapa anaknya harus seperti ini? Masalahnya memang tidak sepele, masalah ini bahkan cukup meregangkan sampai membuat canggung antara Rafello dan keluarganya.

__ADS_1


Sarah membawa anaknya duduk di sebuah sofa yang ada disana. Namun Rafello menolak duduk di sofa, pria itu memilih duduk diatas karpet. Menyimpan kepalanya di pangkuan sang mama sembari memeluk kaki sang mama.


"Fello capek ma," ucap Rafello mengadu. Selain pada mamanya, rasanya dia tidak memiliki lagi tempat mengadu. Di awal pernikahan sampai beberapa tahun sebelum kejadian kakak Ayu menyakiti Kalingga, Ayu masih bersikap biasa saja. Dia tetap sebaik yang Rafello kenal seperti dulu. Namun sekarang, apa bisa Rafello mengadu pada wanita yang berstatus sebagai istrinya itu?


Sarah tidak menjawabnya. Tanpa anaknya memberitahu pun, dia sudah tahu. Kehidupan anak bungsunya sedang di uji. Satu satunya orang yang dipercayai Rafello saat ini hanya dia. Rafello sepertinya sudah sangat kecewa dengan Ayu.


"Fello gak tahu kenapa ini semua bisa terjadi. Fello gagal jadi suami dan ayah yang baik. Ayu dan Vanesha sudah tidak bisa dikendalikan. Mereka benar benar sudah berubah ma," adu Rafello.


"Sayang, hidup adalah ujian kalo kamu lupa. Waktu kamu kecil, mama sering bilang itu kan? Hidup kita itu ibarat petualangan. Kita gak akan berhenti berpetualang sebelum kita meninggal. Di dalam petualangan itu pula, kita pasti menemui banyak hal. Contohnya masalah yang saat ini kamu hadapi," ucap Sarah. Wanita itu mengelus pelan rambut anaknya yang sudah cukup memanjang. Sepertinya Rafello tidak mengurus dirinya seperti dulu. Mencukur rambut kepala adalah hal yang wajib bagi Rafello, namun entah kenapa kali ini berbeda.


Rafello tidak mengurus dirinya dan Ayu sebagai istrinya juga tidak mengurus?


Iya, Rafello terkadang merasa iri pada kakaknya. Kakaknya benar benar hebat. Dia bisa mengurus banyak hal. Perusahaan terurus, istri dan keluarganya juga. Yang lebih membuatnya iri adalah dia bisa membuat istrinya semakin baik dan semakin dewasa. Sedangkan dia, kalian tahu sendirilah seperti apa sikap Ayu beberapa waktu ini.


"Kata siapa abang kamu selalu bahagia? Enggak Fello. Kamu mungkin lupa, dulu istrinya diculik saat hamil tua. Bahkan perlu berhari hari untuk menemukan keberadaannya. Selain itu juga kandungan istrinya bermasalah, namun untungnya masih bisa diselamatkan. Saat anak anaknya kecil, kamu tahu sendiri musibah menimpa Kalingga. Lalu setelah anak anak itu remaja, Briella yang jadi sasarannya. Dia di culik sampe dibuat trauma. Perlu berbulan bulan untuk menyembuhkan traumanya kan?" Tanya Sarah. Menceritakan hal ini, seolah membuka kembali kenangan buruk dalam hidup keluarganya.


Jika dibandingkan, masalah yang diterima anak pertamanya memang sangatlah berat. Berbeda dengan anak bungsunya, dia hanya perlu mendisiplinkan istrinya. Namun kembali lagi, Sarah tidak bisa membandingkannya, sebab setiap manusia memiliki nasibnya masing masing.


Rafello tersenyum mendengar ucapan mamanya, "Benar juga. Ternyata abang sekuat itu. Beda sama aku, baru kayak gini aja aku udah gak sanggup kayaknya."

__ADS_1


"Gak boleh ngomong kayak gitu, Fello. Kamu laki laki, buktikan sama mama kalo kamu memang kepala keluarga yang bertanggung jawab. Perbaiki semuanya pelan pelan. Untuk sekarang, kamu bisa menenangkan diri kamu dulu sebelum kembali berperang dengan masalah yang kamu hadapi," ucap Sarah.


"Tapi Rafello udah gak tahan ma, Rafello ingin menyerah saja," ucap Rafello.


Titik kesabaran Rafello sepertinya sudah sampai pada puncaknya. Buktinya dia mengadu pada mamanya jika dia sudah lelah dan ingin menyerah. Apa mungkin nasib pernikahannya hanya sampai disini saja?


***


Dilain tempat, saat suaminya pergi, Ayu juga ikut pergi. Bukan ke tempat yang sama memang. Sebab Ayu pergi ke alamat yang diberitahukan suaminya. Dia sudah lama tidak bertemu dengan kakak kandungnya, dia percaya suaminya. Rafello tidak mungkin membohonginya. Karena selama mereka menikah, Ayu sama sekali tidak pernah dibohongi, justru malah sebaliknya.


Ayu tahu, rumah tangganya sedang dipertaruhkan. Dia mencintai Rafello, namun dia tidak suka dengan sikap abang dari suaminya itu yang semena mena. Sudah bertahun tahun keberadaan kakaknya disembunyikan. Ayu bahkan sudah memohon mohon meminta bertemu, namun Kavin tetap tidak mau memberitahunya.


Itulah sebabnya dia jadi membangkang pada suaminya. Dia bahkan mendukung anaknya yang sudah sangat keterlaluan itu. Namun dilain sisi dia juga mendukung hubungan anaknya dengan Kalingga. Dia setuju jika anaknya menikah dengan Kalingga. Selain karena Kalingga pria yang baik, dia juga percaya Kalingga bisa membahagiakan anak perempuannya.


Sedangkan untuk anak laki lakinya, selama ini Ayu memang sangat kurang memperhatikannya. Bahkan Ayu tidak dekat dengan Virendra. Entah kenapa bisa ada jarak diantara ibu dan anak itu. Ayu tidak tahu apa penyebabnya. Ucapan suaminya hari ini memang benar, dia tidak pernah memperhatikan Virendra. Namun anak itu sama sekali tidak pernah komplain tentang hal itu. Anak itu hanya diam saja.


Ayu menarik nafas panjangnya. Hari ini dia akan memastikan semuanya lebih dulu. Jika dugaannya salah, maka dia akan memperbaiki semuanya. Namun jika sebaliknya, jangan harap.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2