Mengejar Cinta Mr. Ling

Mengejar Cinta Mr. Ling
181. Gudang Minimarket


__ADS_3

***


Briella tersenyum bangga saat nama lengkapnya disebut dengan benar juga disebut indah. Nama itu memang sangat membuatnya bangga sekali. Briella senang sekali karena papinya memberi nama seindah dan sebagus itu. Bahkan namanya dengan nama maminya berbeda satu huruf saja. Dia juga membawa nama tengah maminya. Berbeda dengan kedua kakaknya, mereka tidak membawa nama maminya. Hanya marga dari papinya saja. Namun nama depan kedua kakaknya berawalan huruf K, sama dengan awalan nama papinya.


"Terus nama om siapa?" Tanya Briella.


"Kenapa kamu mau tahu?" Tanyanya.


"Ya mau tahu aja, kalo gak mau kasih tahu ya udah. Gak maksa juga," ucap Briella acuh.


Pria itu tersenyum, gadis ini ternyata sangat acuh sekali. Bahkan terkesan cuek. Selama ini dia hanya memperhatikannya dari jauh. Bukan sebab dia tidak mau mendekat, melainkan mengingat siapa ayah dari gadis ini. Memang dia juga sama pebisnis dan juga sama memiliki pengaruh yang besar, namun dia juga tidak bisa bertindak gegabah meskipun memiliki kekuasaan yang sama.


"Kamu ingin tahu nama saya?" Tanyanya.


"Kalo mau kasih tahu ya silahkan, enggak juga gak papa," ucap Briella. Gadis itu memilih fokus pada makanannya, bahkan dia berbicara tanpa menatap ke arahnya.


"Jika berbicara dengan saya, tatap mata saya. Saya paling tidak suka dengan orang yang berbicara dengan saya, tapi dia tidak menatap saya," ucapnya.


Briella menghela nafasnya dan menatap pria di sampingnya sembari mengunyah sosis yang sudah dimakan olehnya. Beberapa saat Briella terdiam saat bertatapan dengan pria ini. Pria dewasa ini ternyata sangat tampan. Rambut brown, kulit putih, mata sipit, benar benar pahatan tuhan yang sangat sempurna. Apalagi pria ini sangat tinggi. Bahkan tingginya Briella hanya sebatas dada pria ini.


"Ekhem, iya maaf," ucap Briella berdehem pelan. Entah kenapa dia jadi salah tingkah sendiri ketika menatap pria ini.


"Nama saya Klein," ucapnya.


"Klein? Itu doang?" Tanya Briella.

__ADS_1


"Kamu bisa memanggil nama itu, simpel dan tidak terlalu panjang," ucap pria bernama Klein itu.


"Oke, tapi aku sukanya manggil om. Simpel dan gak ribet, gak papa ya?" Ucap Briella. Gadis itu kembali fokus pada sosis miliknya. Di bawah sana, sudah ada beberapa bungkus sosis yang sengaja dikumpulkan. Bukan apa apa, Briella belum membayarnya jadi bungkus sisa ia makan harus ada. Sebab disana ada barcodenya.


"Saya memang lebih tua dari kamu, tapi jangan panggil sebutan itu," ucapnya.


"Klein, kesannya gak sopan kalo manggil nama. Udah ah gak ada bantahan apa apa lagi. Bri mau manggilnya om aja, suka atau enggak terserah. Briella gak peduli, lagian emang kita bakal ketemu lagi? Kan belum tentu. So, terserah," ucap Briella.


Sikap dan sifat acuh serta tidak peduli ini entah dari mana datangnya. Mengingat Kavin dan Ashel memang tidak seacuh ini. Sedangkan anak bungsu mereka sangat sangat acuh dan cuek terhadap sesuatu atau seseorang yang memang tidak ia kenal dan tidak ada apa apa di hidupnya.


Briella hanya acuh pada orang baru dan beberapa orang lama yang menurutnya tidak pantas untuk diberi feedback baik. Briella seolah memiliki dua kepribadian. Namun sepertinya itu semua memang sikap dan sifat Briella dari lahir.


Klein sendiri hanya tersenyum kecil mendengarnya. Ternyata gadis ini memang tidak terlalu penakut, bahkan bisa jinak jika dia baik. Tidak salah memang sejak awal niatnya. Bayangkan jika dia memaksa, mungkin Briella tidak akan sefriendly ini. Tapi dia juga tidak bisa bersabar.


"Ngomong ngomong, sebentar lagi kamu lulus kan?" Tanya Klein.


"Kamu mau liburan?" Tanya Klein.


"Mau. Sama keluarga sama Ailee juga," ucap Briella.


"Ailee? Siapa?"


"Sahabat aku dari kecil. Udah kayak sodara sih," ucap Briella. Tanpa sadar dia menceritakan garis besarnya. Padahal Klein adalah orang baru untuknya. Entah kenapa Briella bisa sefriendly ini. Biasanya dia tidak akan mau diajak bicara dengan orang lain.


"Udah om gak usah banyak tanya lagi. Aku harus pulang, takutnya mami nyariin aku. Aku cuma ijin sebentar," ucap Briella.

__ADS_1


"Secepat itu? Bahkan saya masih ingin berbicara dengan kamu. Kamu ternyata asik diajak bicara, tapi sedikit acuh dan cuek," ucapnya.


Briella hanya menggidikan bahunya sembari mengangkat bahunya. Entahlah, dia juga tidak paham dengan sikapnya sendiri. Yang penting sikapnya tidak merugikan orang lain.


"Ayo om keluar, buka pintunya," ucap Briella.


"Ya sudah," pungkas Klein. Pria itu bangkit dari duduknya dan membawa keranjang Briella. Sedangkan Briella membawa plastik bekas makannya. Keduanya berjalan beruturan, Briella yang berada di belakang pria ini. Namun entah kenapa tiba tiba dia sedikit takut. Alhasil dia mendahului Klein.


"Maaf kalo gak sopan, ngeri soalnya kalo di belakang," ucap Briella.


"Gak papa," ucap Klein terkekeh. Lucu sekali tingkah gadis ini. Bahkan sejak sebelum berbicara tadi Klein sudah tersenyum kecil. Tingkahnya menggemaskan, bahkan sampai membuat Klein gemas sendiri.


Bertemu tanpa sengaja dan berakhir Klein tidak bisa melupakan pertemuannya itu. Rasanya Klein ingin bersikap beringas ketika mendekatinya, namun Klein berpikir lagi. Sebab backingan keluarga gadis ini bukan main main. Dia memang bisa saja bersikap beringas dan tidak mempedulikan keluarga gadis ini, sebab dia juga memiliki pengaruh yang tidak main main. Di dunia bisnis, dia sudah mengenal CEO dari Kavinder Corp dan bahkan memiliki hubungan yang baik. Namun Klein sengaja seperti ini agar niatnya mendekati Briella tidak terendus oleh ayah dari gadis ini.


"Susah om, gak mau kebuka," ucap Briella sembari menekan kebawah gagang pintu gudang.


Sedangkan Klein terdiam. Dia berada dekat dengan gadis ini. Gadis ini berdiri tepat di depannya. Tidak salah ternyata dia memanggil gadis ini dengan sebutan little girl. Karena ternyata gadis ini memang benar benar sangat kecil, berbeda dengan tubuhnya yang tinggi besar.


Briella berdecih pelan dan membalikan tubuhnya saat Klein tidak menjawab. Namun baru saja membalikan tubuhnya jadi berhadapan dengan Klein, jantungnya kembali serasa dibuat loncat. Bagaimana tidak, saat berbalik wajah Klein berada tepat di depannya. Karena pria itu merendahkan tingginya.


"Ngagetin aja tahu gak, buka pintunya om. Dari tadi juga udah ngomong, masa gak kedengeran sih?!" Gerutu Briella kesal.


Tiba tiba senyum iblis tercetak di wajah Klein. Briella bisa melihatnya. Namun dia berusaha tenang, meskipun sebenarnya dari awal dia sudah ketakutan. Namun dengan bersikap beringas bukanlah solusi. Takutnya Klein malah menyekapnya dan melakukan sesuatu.


"Bibir yang indah. Rasanya saya ingin mencobanya," ucap Klein pelan. Tangan besarnya terangkat untuk mengelus pelan bibir Briella.

__ADS_1


Tbc.


OMAGAAAAAA, BRI.....


__ADS_2