
Sementara itu dilain tempat, Kalingga dan Ailee baru sampai di apartement milik Kalingga. Apartement ini adalah apartement pemberian opa Faraz. Masing masing dari si kembar tiga memang diberikan satu unit apartement oleh kakek mereka. Ini adalah kado ulang tahun mereka yang ke dua belas tahun saat itu.
Ailee sudah tertidur pulas di dalam pelukan Kalingga. Saat mengeluarkan gadis ini dari dalam mobil, gadis ini sama sekali tidak terganggu. Tidurnya sangat nyenyak, apa mungkin tidurnya semalam tidak cukup? Sepertinya, iya. Semalam gadis ini begadang bermain game sampai larut malam. Dan pagi ini juga Kalingga memintanya menemui Ethan.
Ethan adalah saudara sepupunya. Ethan lima tahun lebih tua dari Kalingga. Dia berprofesi sebagai dokter psikologi. Dia ditugaskan di Boston, namun semalam dia terpaksa datang ke Indonesia akibat paksaan Kalingga.
Kalingga memang sudah menyusun rencananya. Sejak dia mengetahui ada luka sayatan di pergelangan tangan dan paha gadisnya, dia sudah curiga. Dan hari ini, kecurigaannya itu terbukti. Ungkapan Ethan lah yang memperkuat kecurigaannya. Beruntung Kalingga memiliki sanak saudara yang bergelut di bidang psikologi, jadi dia bisa dengan mudah membodohi kekasihnya. Namun sepertinya kekasihnya ini menyadarinya.
Giatrós berasal dari bahasa Yunani yang berarti Dokter jika diterjemahkan dalam bahasa Indoensia, dan Ailee memanggil Ethan dengan sebutan itu. Sepertinya Kalingga sudah salah mengenali sifat gadisnya. Ailee benar benar bukan wanita main main.
"Tidur yang nyenyak, sayang," bisik Kalingga. Pria itu berhasil menidurkan Ailee ke atas kasurnya saat ia sudah sampai di dalam kamar apartementnya.
Kalingga melepaskan sepatu yang dipakai oleh Ailee serta menarik selimut untuk menutupi tubuh kekasihnya. Setelah mengucapkan kata kata tadi, bukannya pergi Kalingga justru malah diam disana. Menatap wajah damai kekasihnya yang sedang tertidur pulas. Kalingga juga menarik tangan kiri Ailee. Ia memeriksa pergelangan tangannya, tidak ada luka sayatan. Namun di bagian atasnya dekat dengan lipatan sikut, samar samar Kalingga melihat guratan garis garis abstrak yang pudar. Sepertinya Ailee juga pernah membuat sayatan disini. Kalingga mengelusnya pelan lalu mengecupnya.
"Terlalu misterius juga tidak baik sayang," ucapnya. Kalingga terus memperhatikan lengan Ailee. Menajamkan penglihatannya ke arah tangan kekasihnya. Bodoh memang, tapi Kalingga berusaha menghitungnya. Berapa banyak sayatan itu dibuat. Namun garis itu memudar dan sedikit abstrak, sepertinya Ailee menyatanya asal. Atau mungkin sayatan lama kembali di sayat saat dirinya sedang tertekan.
"Aku akan menunggu kamu siap menceritakan semuanya. Aku tidak akan mengungkitnya apalagi bertanya bahkan memaksa. Sebab aku ingin kamu sendiri yang datang kepada ku dan menceritakannya. Aku benar benar menantikan hal itu," ucap Kalingga. Pria itu menyimpan kembali lengan Ailee dan menaikan selimutnya agar kekasihnya ini tidak kedinginan. Setelah itu Kalingga mengambil tempat di sebelah Ailee dan ikut tidur. Saat Kalingga merebahkan tubuhnya, dengan refleks Ailee bergeser dan memeluknya. Sepertinya gadis ini memang sudah terbiasa dengan hal itu.
Kalingga hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya. Pria itu pun memeluk Ailee dan memejamkan matanya untuk tertidur dan menyusul Ailee ke alam mimpi.
***
Tertidur cukup lama tentunya membuat kepala bisa jadi sedikit pusing. Dan itulah yang dirasakan oleh Ailee saat ini. Terhitung tiga jam lamanya Ailee tertidur, dia bahkan tidur dengan nyenyak. Tak sadar jika dia berada dalam pelukan Kalingga. Pantas saja nyaman.
Ailee duduk diatas kasur milik Kalingga. Disampingnya, tentu saja Kalingga masih terlelap. Pria itu tidur terlentang. Satu tangannya berada di atas perutnya sedangkan satunya lagi berada dibawah kepalanya.
__ADS_1
"Ini posisi tidurnya kok gini? Tapi kayak nyaman juga kelihatannya," gumam Ailee.
Ailee menggaruk kepalanya yang sedikit gatal lalu turun dari atas kasur. Kakinya berjalan ke sembarang arah, bukan toilet tapi keluar dari dalam kamar. Ailee berjalan menyusuri ruangan yang ia datangi. Sepertinya ini ruangan tengah atau mungkin ruang tamu? Entahlah, tapi disini ada tv dan di bagian kanannya ada meja makan dan dapur yang tidak tersekat. Jadi jika ada yang memasak maka akan bisa terlihat dari depan tv.
"Apartement bujang kayak gini ya? Perasaan apartement gue banyak barang lucu lucu deh," gumam Ailee. Gadis itu berjalan masuk ke area kitchen. Tujuannya adalah kulkas. Dia haus dan ingin minum. Namun saat tangannua membuka pintu kulkas, tidak ada apapun disana. Kulkasnya kosong. Bahkan sampah bekas snack pun tidak ada. Benar benar kosong melongpong.
"Aku belum isi kulkas."
Ailee menoleh ke arah belakang, disana ada Kalingga yang sudah berdiri memandangnya. Rambutnya acak acakan dan matanya seperti biasa terlihat sipit setelah bangun tidur.
"Kok bangun? Tadi kan kelihatannya nyenyak banget tidurnya," ucap Ailee. Gadis itu berjalan mendekat ke arah kekasihnya yang sudah duduk di sofa.
"Kamu gak ada jadi aku bangun," ucap Kalingga. Pria itu menarik lengan Ailee lalu memintanya duduk diatas pahanya. Ailee menurut dan menumpukan dagunya diatas kepala Kalingga.
"Emangnya kenapa kalo aku bangun hm?" Tanya Kalingga.
"Gak papa, cuma aneh aja kok tiba tiba udah bangun padahal tadi tidurnya pules banget," ucap Ailee.
Sepertinya kekasihnya ini masih belum tahu jika Kalingga sangat peka sekali terhadap pergerakan apapun. Tidurnya yang nyenyak juga terganggu karena pergerakan Ailee. Padahal Ailee sangat bergerak pelan tadi, tapi entah kenapa telinga Kalingga sangat peka sekali sampai akhirnya pria itu ikut bangun juga.
Keduanya tidak lagi bersuara. Kalingga memeluk pinggang Ailee sedangkan Ailee memeluk tubuh bagian atas Kalingga. Keduanya sama sama menikmati keheningan yang ada. Rasanya sangat nyaman dan tenang.
Ailee dan Kalingga adalah dua manusia yang memiliki kesukaan yang sama. Keduanya sama sama menyukai ketenangan dan sedikit membenci kebisingan. Karena dalam ketenangan, mereka bisa merilekskan pikiran mereka yang cukup semrawut.
"Boleh aku nanya?" Ucap Ailee.
__ADS_1
"Apa?"
"Ethan siapa?" Tanya Ailee.
"Bukannya kamu udah tahu?" Tanya Kalingga balik.
"Hanya dugaan saja," ucap Ailee.
"Kamu pikir aku stress sampe sampe harus ketemu sama dokter psikologi?" Tanya Ailee lagi.
"Aku gak pernah anggap kamu stres," ucap Kalingga.
"Terus kenapa ajak aku ketemu dia? Kalo cuma buat kenalan kan gak perlu secara khusus kayak tadi," ucap Ailee.
"Kamu gak suka?" Tanya Kalingga.
"Enggak."
Kalingga tersenyum tipis mendengarnya. Tanpa bertanya lagi pun Kalingga sudah memiliki asumsi dan opininya sendiri. Dan ia yakin jika opininya kali ini sangat tepat.
"Kenapa enggak? Aku ajak kamu ketemu dia bukan karena dia psikiater. Aku cuma mau kenalin kamu sama beberapa saudara aku aja," ucap Kalingga.
Ailee tiba tiba gelagapan. Bingung harus menjawab apa. Dia terjebak dalam pertanyaannya sendiri.
Tbc.
__ADS_1