
***
Sore harinya, keluarga Kavin benar benar datang menjenguk Ailee. Keadaan ruangan Ailee sangat sepi karena kedua orang tuanya ada pekerjaan sedangkan Alvaro ada kepentingan lain. Ailee sudah tidak heran lagi mereka semua. Bahkan Ailee tidak menahan mereka seperti biasanya untuk tetap menemaninya disini.
Ailee bukan tidak bersyukur karena harta yang difasilitasi keluarganya, melainkan karena tidak bersyukur karena tidak pernah mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya. Bahkan Ailee tidak ingat kapan terakhir kali papinya mengantarkan Ailee ke sekolah dan mamanya menyiapkan bekal untuknya. Pekerjaan ternyata mampu menyita perhatian mereka berdua.
Ailee sendirian dengan laptop di pangkuannya. Ia gabut jadi lebih baik melihat beberapa modul pelajaran di sekolah yang akan di ujiankan nanti. Hitungan bulan ia akan menjalani ujian ujian akhir sebagai pemenuhan. Mumpung ia mood jadi tadi ia meminta orang rumah mengantarkannya kesini. Tadi ada Magi, namun wanita itu sudah pulang lagi.
Dokter juga bilang jika kondisi Ailee sudah membaik dan bisa pulang sore ini. Tadi ia sudah meminta Magi untuk kembali kesini saat sore mendatang.
Kaca mata bertengker diatas hidung mancungnya. Matanya sejak tadi menajam menatap ke arah layar laptop. Disana banyak sekali tulisan juga beberapa rumus yang mampu membuat kepala pembacanya pening. Namun Ailee justru senang melihatnya juga mempelajarinya.
Tiba tiba pintu ruangannya dibuka begitu saja tanpa diketuk. Masuklah Kairav dengan menenteng kantong keresek yang terdapat logo sebuah restoran ternama. Entah apa itu isinya.
"Anjas, masih sakit juga malah main laptop. Nonton apa lo?" Tanya Briella.
"Nonton yang enggak enggak nih pasti," tuding Kairav.
"Gak boleh kayak gitu. Gue masih sakit woi,jangan nistain gue kali," ucap Ailee.
"Hai Ailee, gimana kabar kamu?" Tanya Ashel ramah.
"Baik tante. Sore ini Ailee dibolehin pulang, demamnya udah reda," ucap Ailee.
"Wah, bagus dong. Nanti bisa satu mobil sama kita," ucap Ashel.
"Boleh. Tapi Ailee udah minta tolong Magi buat jemput nanti," ucap Ailee.
"Nah makan cok, gue bawain bubur. Semalem gak jadi kesini lagi soalnya," ucap Kairav.
"Jahat lo, gue kelaperan semalam," ucap Ailee.
"Ya maap," ucap Kairav.
__ADS_1
Ailee menerima bungkusan itu dan membukanya kemudian memakannya. Laptop di pangkuannya sudah beralih pada Briella. Entah apa yang ia lihat disana. Ailee tidak peduli.
Tak berselang lama, masuk Kalingga dan Kavin. Ailee yang terkejut pun langsung tersedak bukan main karena kedatangan Kalingga. Ashel yang berada di sebelah Ailee pun langsung bangun dan menepuk nepuk punggung Ailee kemudian memberikannya minum.
"Pelan pelan makannya. Om gak bakalan minta kok," ucap Kavin.
"Hehe, kaget om. Ada masa depan jengukin Ailee lagi," ucap Ailee. Kavin hanya tersenyum menanggapinya. Ia memang sudah terbiasa dengan sikap polos dan ceplas ceplos Ailee.
"Iya, tadi tante ajak Kalingga kesini. Tahunya dia langsung mau tanpa dipaksa lebih dulu," ucap Ashel.
"Wah, suatu kemajuan yang patut diapresiasi," ucap Ailee tertawa.
Mereka pun kembali mengobrol santai disana. Ailee sangat senang sekali karena ia tidak kesepian lagi. Kehadiran keluarga Kalingga selalu membuatnya bahagia juga senang bukan main. Ashel, tipe seorang ibu yang mudah berbaur meskipun umurnya tidak lagi muda. Bahkan dia bisa mengerti topik pembicaraan yang sedang dibahas Ailee dan Briella.
"Ling, gak nyapa Ailee?" Tanya Ailee. Sejak tadi ia melihat Ling yang hanya diam saja memainkan ponselnya.
"Buat apa? Emang harus?" Ucap Ling ketus.
"Lee, lo dapet dari mana foto foto masa kecil kita?" Tanya Kairav.
"Ngepoin album laptop gue ya lo berdua," ucap Ailee.
"Iye. Disini kok banyak foto foto anak motor juga. Lo anak motor?" Tanya Kairav.
Ailee terdiam, "Enggak. Gue anak orang tua gue."
"Maksudnya kagak gitu ya anjir. Maksudnya lo kayak punya komunitas motor gitu?" Tanya Kairav.
"Kenapa emangnya? Mau gabung?" Tanya Ailee santai.
"Mau lah," ucap Kairav.
"Tapi sayangnya gue bukan anak motor," ucap Ailee tertawa membuat Kairav mendengus. Tak sengaja matanya melirik ke arah Ling yang ternyata pria itu sedang menatap ke arahnya. Tawa Ailee seketika berhenti saat melihat tatapan Ling yang berbeda dari biasanya.
__ADS_1
"Gue minta dong foto foto ini, kayaknya belum ada di album gue deh," ucap Briella.
"Ambil aja."
Kehadiran keluarga Kalingga menurut Ailee merupakan anugerah selain mengenal dan mencintai Kalingga. Keluarga Kalingga menerimanya begitu saja sejak dulu. Bahkan melalui Ashel, sedikit sedikit Ailee merasakan kasih sayang seorng ibu. Sebenarnya bukan maksud Ailee ingin ketus dan dingin terhadap kedua orang tuanya. Hanya saja dia sudah kecewa dengan sikap mereka. Apalagi malam dimana mereka akan membawa Ailee pergi ke Jerman. Tentu saja Ailee menolaknya.
"Orang tua kamu ada di rumah gak?" Tanya Ashel.
"Enggak. Katanya mereka berangkat ke Thailand sore tadi siang," ucap Ailee.
"Kamu sudah perbaiki hubungan kamu dengan mereka kan?" Tanya Ashel membuat ketiga anaknya menoleh.
"Ya gitu deh. Biarin aja dulu tan, Ailee sukanya kayak gini," ucap Ailee.
"Ya sudah, itu terserah kamu. Tante hanya bisa menengahi disini. Sekarang kita pulang ke rumah tante, disana tante udah siapin kejutan buat kamu. Tante sudah kirim pesan pada Magi untuk tidak menjemput kamu kesini," ucap Ashel.
"Wah, beneran? Beneran ada kejutan? Asik, mau dong tan mau," ucap Ailee semangat.
"Ceilah semangat bener besti gue. Yuk kita pulang," ucap Briella.
Mereka memang sengaja datang untuk menjemput Ailee. Ailee berjalan digandeng Briella sedangkan Kairav membawa tas yang berisi perlengkapan Ailee selama di rumah sakit. Kavin dan Ashel berjalan duluan.
Saat masuk ke dalam mobil, Ling duduk di bagian belakang diikuti Ailee. Kai dan Bri di bagian kedua dan kedua orang tua mereka duduk di depan.
Ailee mendepetkan duduknya ke dekat Ling. Cukup menempel dan Ling juga tidak menggeser duduknya. Ailee menyandarkan kepalanya pada bahu Kalingga.
"Makasih," ucap Ailee pelan. Lingga tidak mengeluarkan suara apapun ia justru malah memejamkan matanya. Ailee tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia mengeluarkan ponselnya dan beberapa kali memotret Kalingga. Bahkan Kalingga tidak marah ketika Ailee menautkan tangannya pada jari jari panjang Kalingga. Ailee memotretnya dan menjadikannya wallpaper di ponselnya.
"Ailee bahagia banget Ling. Semoga saja kebahagiaan ini tidak cepat berakhir," gumam Ailee. Ia memeluk tangan Ling dengan senang. Jarang jarang Kalingga jinak seperti ini padanya.
Jarak cinta dan benci itu sangat dekat. Makanya jika membenci seseorang jangan terlalu dalam, takutnya benci itu berubah menjadi cinta begitu juga sebaliknya.
Tbc.
__ADS_1