
***
Satu malam berlalu, Kalingga masih mempertahankan dirinya di depan pintu apartement Ailee. Ia yakin jika Ailee akan kesini. Meskipun itu belum tentu juga. Kalingga hanya berharap Ailee memaafkannya dan menarik kata katanya. Kalingga tidak mau mengakhiri hubungannya dengan Ailee. Sampai kapan pun dia tidak akan setuju.
Udara dingin malam tentu saja akan mempengaruhi kesehatan Kalingga. Ini memang di dalam gedung, tapi bukan di dalam ruangan dalam. Angin rawan masuk apalagi cukup banyak ventilasi. Baju yang dikenakan Kalingga hanya kaos pendek dengan celana levis. Tidak ada yang lainnya lagi.
Kalingga menenuk kedua kakinya dan memeluknya. Ia menenggelamkan wajahnya di atas lututnya. Tubuhnya kedinginan semalaman, namun ia tidak peduli. Ia bertahan demi kekasihnya dan demi hubungannya. Wajah Kalingga sudah pucat, bahkan suhu tubuhnya juga hangat. Sepertinya ia demam. Matanya terasa sangat berat, lambat laun kesadarannya mulai hilang. Tubuhnya tergeletak ke arah samping.
Tak berselang lama setelah Kalingga pingsan, muncul dua orang pria dan satu orang wanita.
"Bawa dia ke keluarganya," perintahnya.
"Baik bos."
***
Sejak kejadian kemarin, hubungan Ashel dan suaminya jadi kurang baik. Apalagi semalam anak laki lakinya tidak pulang. Ashel sudah meminta bantuan Adrian untuk mencari keberadaan anaknya, tapi tidak membuahkan hasil.
Kavin juga tidak tinggal diam, dia meminta bawahannya untuk mencari keberadaan anaknya itu. Berkali kali dia mencoba untuk berdamai dengan istrinya, namun istrinya masih menolaknya. Bahkan semalam dia tidur sendirian karena istrinya tidur di kamar anak bungsu mereka.
Semalaman Kavin tidak tidur. Dia terus dihantui rasa bersalah sekaligus rasa takut. Takut istrinya berpikiran sempit karena masalah ini. Tidak ada gunanya juga menyesalinya, Kavin sudah melangkah sejauh ini. Dia sangat bersalah dan dia mengakuinya.
Bagaimana pun jika ada di posisi Kavin, mungkin kebanyakan seorang kakak akan membela adiknya meskipun itu salah. Terlihat egois memang, namun mau bagaimana lagi. Kavin terpaksa mengikuti skenario yang dibuat oleh papanya. Menyembunyikan kebenaran agar tidak ada yang dirugikan selain keluarga Fox.
__ADS_1
Namun sayang, sedalam apapun dia menyembunyikan bangkai, lambat laun bau dari bangkai tersebut akan tercium juga. Dan inilah saatnya. Kavin terlalu meremehkan keluarga Fox yang jelas jelas bukan orang sembarangan. Dia bahkan tidak bisa meredam media yang terus menyerangnya. Selain media, dia juga diserang beragam pertanyaan dari rekan kerja dan pekerjanya di kantor. Ia yakin secepatnya dia harus kembali ke Boston untuk menyelesaikan masalah ini. Meskipun iya, masalahnya hanya menarik nama keponakannya. Tapi tetap saja dia akan terkena sasarannya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Kavin.
Pagi ini keluarganya disambut dengan kedatangan dua bodyguard yang membawa anaknya dalam kondisi tidak sadarkan diri.
"Apa pertanyaan mu perlu dijawab? Seharusnya kamu tahu ini semua gara gara kamu," seloroh Ashel kesal. Terdengar nada ketus bahkan dia tidak melihat suaminya saat mengatakan hal tersebut.
"Aku hanya ingin tahu keadaan anak ku," ucap Kavin.
"Keadaannya sudah pasti tidak baik. Hubungannya dengan Ailee hancur gara gara kamu. Bukan hanya hubungan Kalingga saja, tapi hubungan Briella juga aku. Kamu hanya mementingkan reputasi dan hubungan darah."
"Berhenti mengatakan omong kosong. Semua masalah ada jalan keluarnya. Aku tahu aku salah, dan aku akan menangani semuanya."
"Mami jangan nangis," ucap Briella. Anak itu memang sudah berada di dalam kamar kakaknya. Bahkan menyaksikan perdebatan kecil kedua orang tuanya. Selama ini dia tidak pernah melihat hal tersebut, tapi kini karena masalah yang ditimbulkan satu orang, dia jadi melihatnya.
"Mami bingung sayang. Mami gak tahu lagi harus kayak gimana. Papi kamu benar benar sudah membuat kesalahan yang cukup fatal. Mami gak bisa bayangin kalo nanti kakak kamu sadar, dia bakalan kayak apa marahnya," tutur Ashel.
"Kakak pasti ngerti mi. Kakak cuma emosi sesaat, Briella juga sama kayak kakak. Tapi Briella bisa apa, bahkan sahabat Briella sudah pergi," kata Briella sembari menundukan kepalanya.
Bukan hanya maminya, dia juga sudah tidak memiliki muka untuk bertemu Ailee. Sahabat terbaiknya sudah dikecewakan karena keegoisan keluarganya.
"Ailee pasti benci banget sama Briella," ucapnya pelan.
__ADS_1
Ashel mengusap pelan pundak anak bungsunya lalu menariknya ke dalam pelukannya. Ia tahu, selama ini anaknya hanya bergaul baik dengan Ailee seorang. Dan kini Ailee mungkin akan meninggalkannya. Tapi semoga saja tidak. Ashel masih mengharapkan sebuah keajaiban. Keajaiban dimana Ailee tidak akan meninggalkan anak anaknya.
Lain halnya di suatu negara lain, lagi dan lagi wanita itu tidak henti hentinya menyunggingkan senyum lebarnya. Melihat kekacauan yang berjalan baik. Bahkan tidak perlu repot repot, mangsanya sendiri yang membocorkan masalah ini pada public. Sayangnya dia hanya mengatakan jika Vanesha saja yang terlibat, tidak dengan keluarganya. Padahal dia sangat ingin memonopoli kejadian ini. Memanfaatkannya untuk keuntungannya sendiri.
"Bagaimana bisa gadis dungu itu bisa mendapatkan banyak bukti yang mengarah pada jal*ng kecil itu? Padahal aku sudah susah payah menghapus video aslinya," tuturnya sembari menyesap rokok di tangannya.
"Dia memiliki beberapa orang yang mengerti soal IT, nona. Jadi wajar saja jika dia bisa mendapatkan banyak informasi," jawab bawahannya.
"Lalu bagaimana keadaan jal*ng kecil itu? Apa dia masih mengangkat wajahnya setelah kejadian ini terungkap?" tanyanya.
"Sifatnya sudah seperti itu. Dia tidak akan merendah begitu saja meskipun dia yang bersalah. Kabarnya juga dia di usir dari kediaman Rafello Natapraja. Orang suruhan kita berasumsi Rafello dan istrinya bercerai."
"Sepertinya drama ini akan memasuki babak baru lagi. Tidak perlu susah susah membuat mereka menderita, hanya dengan satu lemparan puntung rokok saja sudah mampu melalap habis hubungan harmonis keluarga Fox dan Natapraja."
"Selamat nona, rencana anda berhasil. Tapi kita tidak boleh berpuas hati dulu, kita tidak bisa menebak kejadian selanjutnya. Kita masih harus mempersiapkan rencana lain untuk membuat mereka semua semakin jatuh," hasut bawahannya.
"Tentu saja. Dendam masa lalu harus terbalas dengan tuntas. Jika pun perlu, aku sangat ingin nyawa mereka semua melayang agar keluarga ku bisa tenang. Mereka menghancurkan keluarga ku, sudah tentu aku harus membalasnya. Bahkan harus lebih dari apa yang mereka lakukan."
"Hubungi orang orang kita, tambahkan rekaman cctv dan penyadap suara yang kita simpan saat Faraz merencanakan ini semua. Aku ingin menambah kobaran api untuk memanasi masalah ini," titahnya.
Tbc.
Kayaknya bakalan ada S2 cerita ini tp beda novel. Masih rencana, semoga aja terealisasi wkwk.
__ADS_1