
***
Dengan perasaan senang, Ailee melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan rawat papinya diikuti oleh kekasihnya, Kalingga. Saat membuka pintu tadi, ternyata papinya sedang diperiksa oleh dokter dan satu orang suster. Ailee hanya tersenyum sekilas kepada dokter yang sedang memeriksa papinya.
"Syukurlah kamu datang, pagi hari tadi sekitar jam lima papa kamu sudah bangun."
"Benarkah?" Ujar Ailee senang, gadis itu mendekat ke arah brankar papinya. "Lalu bagaimana keadaannya?"
"Keadaannya sudah lebih stabil. Tapi pasien masih membutuhkan banyak istirahat. Saat sadar nanti, usahakan jangan terlalu banyak bertanya dulu. Biarkan pasien menyesuaikan dirinya dulu," ucap sang dokter.
"Baik dokter, terimakasih."
Dokter tersebut mengangguk sekilas dan berlalu dari sana setelah selesai memeriksa Alexander. Ailee menoleh ke arah Kalingga yang juga melihat ke arahnya.
"Sudah aku bilang bukan? Om Alex orang yang kuat, beliau pasti akan segera sembuh secepatnya."
"Kamu benar. Waktu itu aku hanya takut saja. Otak dan pikiran ku benar benar tidak bisa aku kendalikan," jawab Ailee.
Kalingga mengambil duduk di sofa yang ada disana sedangkan Ailee duduk di kursi yang berada di samping brankar tempat Alex dirawat. Sebelum datang ke ruangan rawat papinya, Ailee terlebih dahulu menjenguk mamanya yang masih setia berada di ruangan UGD.
Semalaman suntuk Ailee berpikir sembari membaca baca beberapa file yang diberikan oleh Gail. Selain itu juga Gail memberikan beberapa penjelasan pada Ailee. Tidak jauh jauh tentang perusahaan. Untungnya dulu papinya sempat melatih Gail sama seperti asisten Han. Jadi ketika hal genting seperti ini terjadi, Ailee memiliki tangan untuk menuntunnya belajar.
"Sayang, kemari."
Ailee mengalihkan atensinya ke arah Kalingga. Terlihat pria itu menepuk nepuk bagian sofa yang ada di sampingnya. Ailee pun bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Kalingga. Sesampainya di dekat Kalingga, Ailee lantas mendudukan bokongnya di samping Kalingga. Kepala gadis bersandar pada pundak Kalingga.
__ADS_1
"Maaf, harusnya kita seneng seneng."
"Kenapa ngomong gitu hm? Gak masalah sayang, siapa yang tahu akan ada kejadian seperti ini? Kita manusia, tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan," ucap Kalingga. Tangan pria itu bergerak memeluk Ailee dengan sebelah tangannya yang tadi menjadi sandaran bagi Ailee.
"Aku gak tahu harus kayak gimana lagi. Rasanya hidup aku hancur banget waktu lihat mama sama papi ada di ruangan UGD. Pikiran aku terus terusan negatif," ujar Ailee. Gadis itu sepertinya sudah terbiasa mengutarakan apa yang ia rasakan pada kekasihnya ini.
Kalian masih ingat? Dulu Ailee pernah mengatakan jika Kalingga adalah luka sekaligus obat untuknya. Dan nyatanya itu semua benar benar terbukti.
"Aku tahu sayang. Tanpa kamu mengatakan pun aku sudah tahu, kita tumbuh bersama sejak kecil. Ya meskipun dulu sikap ku benar benar sangat jahat, tapi aku masih memiliki hati dan perasaan."
"Kalau di ingat ingat lagi, lucu yah."
Pikiran Ailee berkelana pada kejadian yang sudah bertahun tahun berlalu. Jika di ingat ingat, memang cukup lucu. Dulu, mati matian ia mengejar Kalingga. Bahkan dia mengesampingkan perasaan sakit yang ia dapatkan dari Kalingga.
"Aku jahat banget ya dulu?" Tanya Kalingga.
Rasa cintanya begitu besar. Banyak yang bilang, jangan pernah menyia-nyiakan gadis yang menyukai kebih dulu. Karena rasa cintanya begitu besar. Dan itu benar benar terbukti pada Ailee dan Kalingga. Kalingga beruntung bisa mendapatkan cinta setulus Ailee.
"Aku gak bisa lama lama disini. Pulang nanti aku jemput kamu," ucap Kalingga.
"Belajar di perusahaan lagi?" Tanya Ailee.
Kalingga menganggukan kepalanya, "Hari ini papi pulang ke Boston. Otomatis aku harus belajar lagi sekaligus terjun langsung ke perusahaan bareng bang Kai."
"Pergilah. Untuk pulang nanti, tunggu saja kabar dari aku. Aku belum bisa memutuskan untuk pulang atau tidak nanti malam. Hari ini aku ingin menunggu papi bangun," ujar Ailee.
__ADS_1
"Jaga kesehatan kamu, jangan lupa makan. Sedih boleh tapi jangan sampai sakit, aku gak suka kamu sakit."
"Iya sayang. Hati hati di jalan ya? Perlu aku antar ke lobby?"
"Jangan, terlalu melelahkan. Aku bisa sendiri, ingat ucapan ku."
Ailee mengangguk patuh. Gadis itu memeluk Kalingga lalu mengecup pelan rahang tegas sang kekasih. Kalingga juga tidak tinggal diam, selain mencuri kecupan sekilas di bibir Ailee, pria itu juga mengecup kening Ailee cukup lama. Setelah puas, Ailee mengantar Kalingga sampai ke depan pintu ruangan papinya.
Setelah kepergian Kalingga, Ailee duduk di sofa tadi. Ia mengeluarkan laptop untuk menyelesaikan tugasnya yang semalam belum ia selesaikan. Sesekali Ailee melirik ke arah ranjang di depannya. Barang kali papinya sudah membuka matanya. Tapi sayangnya belum.
Ditengah kefokusan, tiba tiba ponselnya berdering. Satu pesan masuk ke ponselnya. Ailee mengeceknya. Itu dari pihak sekolahnya. Mereka mengirimkan beberapa universitas yang akan menerimanya.
Ailee memang sudah direkomendasikan pihak sekolah pada beberapa universitas bergengsi yang ada di beberapa negara. Ailee menghela nafasnya, ia belum memberikan jawaban. Untuk saat ini fokus utamanya hanya kedua orang tuanya. Tidak apa jika nanti dia kehilangan kesempatan itu, yang jelas Ailee hanya ingin kedua orang tuanya kembali seperti sedia kala.
***
"Menurut lo, siapa yang berani lakuin hal rendahan kayak di pesta kemarin?" Tanya Kairav pada adiknya, Kalingga.
Saat ini keduanya tengah beristirahat setelah menyaksikan proses rapat di kantor papinya. Keduanya di bimbing oleh Sergio. Kalian masih ingat Sergio?
"Gak tahu."
"Ye si bajing*n! Gue serius nanya, lo beneran gak punya dugaan gitu sama siapa?" Lagi lagi Kairav menanyakan hal yang sama pada Kalingga. Bahkan saat di rumah pun, Kairav mengatakan hal tersebut. Bukan pada Kalingga saja, tetapi pada keluarganya yang lain.
"Gue beneran gak tahu dan gak punya dugaan apa apa. Bukti gak ada gimana gue bisa punya dugaan," sahut Kalingga. Belum ada bukti apapun sampai saat ini, jadi Kalingga tidak mau menduga duganya. Karena jika ia seperti itu, jelas saja akan mempengaruhi pikiran kekasihnya.
__ADS_1
"Ya iya sih. Tapi masa iya lo gak punya curiga sama siapa gitu. Om Alex itu punya bisnis yang banyak. Lagi, perusahaannya sangat berpengaruh juga. Bahkan perusahaan keluarga kita berada di urutan nomor dua setelah keluarga Fox. Parahnya lagi om Alex sama istrinya kecelakaan di pesta keluarga Natapraja."
Tbc.