
HARI INI AKU CRAZY UP. RAMEIN GAK MAU TAUUUU
***
"Papi kamu bilang, kamu harus hati hati. Bahaya terus mengintai kamu kapan pun dan dimana pun," ucap Max.
"Bener Queen, lo belum go public tentang siapa lo aja udah banyak yang mau jatuhin dan celakain lo. Gimana kalo lo udah kasih tahu siapa lo yang sebenarnya," ucap Rici.
Ada benarnya juga dengan apa yang dikatakan oleh Rici dan bang Max. Ailee harus lebih hati hati lagi. Apa yang dilakukan oleh orang ini sudah pastinya sebagai peringatan untuknya. Ailee benar benar harus waspada mulai sekarang.
"Jangan terlalu dipikirkan. Papi kamu gak akan tinggal diam soal ini, dia pasti akan selalu melindungi kamu. Begitu juga abang, abang akan selalu mengusahakan yang terbaik dan keselamatan untuk kamu. Tanpa pertolongan papi kamu dulu, mungkin abang sudah tidak melihat indahnya dunia," ucap Max.
"Bang, stop bahas hal itu. Itu sudah masa lalu, jika pun papi menolong abang, mungkin itu sudah seharusnya. Stop, okey?" Tanya Ailee.
Max tersenyum dan mengangguk. Ailee dan Alex memiliki sifat yang cukup sama. Mereka paling tidak suka membahas kebaikan apa yang telah mereka perbuat untuk orang lain.
"Ya sudah, abang tinggal ke depan dulu. Gimana pun abang harus tetap memantau," ucap Max.
"Selamat bekerja," ucap Ailee. Max hanya mengangguk sekilas.
Di ruangan itu, hanya menyisakan Ailee dan Rici saja. Ailee terdiam memikirkan masalah ini sedangkan Rici diam memperhatikan Ailee. Anak ini terlihat berbeda.
"Queen," panggil Rici.
"Hm?"
"Queen," panggil Rici lagi.
"Apa sih Ci, tinggal ngomong aja gue dengerin kok," ucap Ailee.
"Doi lo nelpon tuh. Ponsel lo berdering dari tadi," ucap Rici.
Ailee melirik ponselnya yang ia simpan di meja yang ada di depannya. Disana tertera nama Kalingga.
"Gue ke luar dulu. Jangan terlalu dipikirin, bener kata bang Max," ucap Rici.
"Y."
__ADS_1
"Bangsyat," umpat Rici. Ailee hanya terkekeh pelan dan mengambil ponselnya. Padahal sudah pukul sembilan malam, kenapa Kalingga masih belum tidur?
"Kenapa sayang?" Tanya Ailee.
Jika saja Ailee tahu, di sebrang sana Kalingga tersenyum senang mendengar suaranya. Namun sayangnya mereka berada di tempat yang berbeda. Tetapi, meskipun berada di tempat yang sama pun, tidak menjamin Ailee akan melihat senyum merekah di bibir Kalingga.
Menenangkan sekali mendengar suara lembut nan halus itu. Biasanya Ailee selalu berbicara ngegas jika dengan orang lain. Namun entah mengapa ketika bersama dengannya, Ailee seakan berubah jadi jinak.
"Dimana lo?" Tanya Kalingga.
"Diluar," jawab Ailee.
"Ngapain? Anak cewek ngelayap mulu, pulang! Udah malem ini," ucap Kalingga mengomel.
"Lagi open b* mas, soalnya kamu gak ngasih apa yang aku mau," ucap Ailee.
Terdengar umpatan dari Kalingga. Mungkin pria itu mendekatkan ponselnya sehingga dia bisa mendengar dengan jelas suara Kalingga.
"Jangan gila, pulang. Besok gue kasih apa yang lo mau," ucap Kalingga.
"Sekarang Ailee Fox," ucap Kalingga.
"Sebentar dulu Ling, ini beneran ada urusan banget. Urgent," ucap Ailee.
"Udah mulai gak nurut?"
Nah kan. Menyesal Ailee mengatakan jika dia sedang diluar saat ini. Seharusnya dia tidak bilang saja pada Kalingga. Pria pemaksa yang selalu seenaknya memerintah.
"Bukan gitu cinta. Iya nanti Ailee pulang, sekarang masih ada urusan," ucap Ailee.
"Ck."
Tut.
"Loh, halo. Halo," ucap Ailee. Ia melihat ponselnya saat mendengar bunyi tersebut. Ternyata pria itu mematikan ponselnya sepihak.
"Kebiasaan banget deh, main marah mulu. Kalo tua Ailee gak mau sama kamu," gumam Ailee sembari melihat lockscreen ponselnya. Itu adalah foto Kalingga sewaktu kecil.
__ADS_1
Ailee menyimpan ponselnya dan menyandarkan kepalanya pada bahu sofa. Kalingga tidak mengangkat teleponnya saat Ailee kembali menghubunginya. Kalingga benar benar pria pemarah. Tapi marahnya pria itu selalu aneh. Ailee bahkan selalu tidak mengerti kenapa prianya seperti itu.
Ailee belum bisa pergi. Ada beberapa hal yang harus ia urus disini. Selain itu dia juga sedang mengerjakan beberapa rincian dana yang keluar untuk ia laporkan pada papinya nanti. Ailee memang bisa saja meminta orang lain untuk mengerjakan ini, namun dia tidak mau. Ini pekerjaannya, jadi dia yang harus menyelesaikannya. Selain itu juga dia harus banyak belajar lagi, beberapa hari yang lalu dia sudah memiliki niat untuk mendirikan bisnis. Mungkin bisnisnya itu akan kecil kecilan dulu, mengingat Ailee masih belum terlalu pandai mengelola bisnis.
Ailee terpikirkan tawaran papinya beberapa waktu yang lalu. Saat itu dia baru saja naik ke kelas sebelas, papinya menawarkan Ailee untuk mulai belajar bisnis. Tawaran pertama yaitu mengelola salah satu restoran milik kakeknya yang ada disana. Ailee belum menyetujuinya, bahkan saat itu dia menolaknya. Tapi untuk saat ini ia jadi terpikirkan untuk mengambilnya saja. Mungkin setelah liburan semester nanti dia akan membicarakannya dulu dengan kakeknya baru pada papinya. Restoran itu memang milik kakeknya, namun papi Ailee yang mengelolanya. Sebab jarak dari Indonesia ke Boston cukup jauh.
Ailee menghela nafasnya dan memejamkan matanya. Ia menyimpan laptop miliknya. Entah kenapa rasa kantuk sudah kembali menyerangnya. Padahal ini baru jam setengah sepuluh malam. Mungkin karena Ailee sudah jarang begadang akhir akhir ini. Dia menjaga tidurnya karena anjuran dokter. Ailee tidak mau drop lagi.
Cup...
Ailee terkesiap bahkan terkejut saat ada seseorang yang mengecup bibirnya. Ailee membuka matanya dan langsung mendorong orang di depannya. Berani sekali dia mencium Ailee, sialnya Ailee tidak sadar saat ada yang masuk bahkan berada di depan tubuhnya.
“Ooo, santai sayang.”
“IH MAS LING!! KEBIASAAN TAHU GAK SUKA NGAGETIN! UNTUNGNYA APA KAMU KAYAK GITU HA?!” Ucap Ailee kesal. Bahkan tadi dorongan tanganya hampir membuat Kalingga terjungkal ke belakang.
Kalingga tersenyum kecil melihat raut kesal pada wajah Ailee. Salahnya memang karena dia tiba tiba datang lalu mengukung tubuh Ailee dan menciumnya saat gadis ini memejamkan matanya. Kalingga masih mempertahankan posisinya, yaitu menekuk satu kakinya ke atas sofa yang digunakan duduk oleh Ailee, sementara kedua tangannya berada pada kedua sisi tubuh Ailee.
"Kenapa kesini? Dari mana kamu tahu aku disini?" Tanya Ailee.
"William," jawab Kalingga.
Mulut ember!
William benar benar menyebalkan sekali. Awas saja, Ailee akan membuat perhitungan pada pemuda itu.
"Sejak kapan lo disini? Dan ngapain lo disini?" Tanya Lingga.
"Kan aku bilang ada urusan Ling. Masa lupa aku ngomong gitu," ucap Ailee.
"Maksudnya, kenapa urusan lo disini. This Brixy Circuit is yours?" Tanya Kalingga.
Ailee terdiam mendengarnya. Ia harus jujur atau tidak pada Kalingga?
"Gue gak suka cewek gue gak jujur," ucap Kalingga.
Tbc.
__ADS_1