
***
Virendra tertegun mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh papanya. Sejauh ini, baru kali ini papanya mengatakan hal tersebut. Lebih tepatnya, baru kali ini papanya menanyakan hal tersebut padanya. Apa mungkin papanya sudah lelah? Atau mungkin papanya ingin menyerah pada mamanya? Tanpa Viren katakan pun, mamanya memang sangat keterlaluan. Bahkan Viren sangat tidak habis pikir.
Utuh tidaknya keluarganya ini, Virendra tidak peduli lagi. Toh selama ini dia tidak pernah merasakan kehangatan kelurga. Yang ia rasakan hanya belas kasihan dari keluarga besar Natapraja. Hidupnya sudah cukup lama menyedihkan seperti ini, jadi mau orang tuanya bercerai atau tidak, sepertinya tidak akan merubah apapun. Kehidupannya tetap akan sepi seperti biasanya.
"Untuk urusan itu, mending papa putuskan sendiri. Viren gak mau komentar apa apa, mau papa sama mama tetep bersama atau pun berpisah, Viren gak peduli. Toh mau kalian seperti apapun, kehidupa Viren tidak akan berubah," ucap Viredra.
"Kamu gak peduli sama keluarga kecil kita?" Tanya Rafello.
Virendra menggelengkan kepalanya. Kenyataannya dia memang tidak peduli, bahkan dai tidak mau ikut campur apapun lagi. Selagi masih ada keluarga Natapraja yang mau menampungnya, Virendra sangat bersyukur dengan hal itu.
"Viren gak pernah tahu seperti apa rasnya disayang oleh ibu kandung sendiri, begitu pun dengan kasih sayang seorang papa. Papa hanya ada waktu beberapa hari terakhir ini saat ada masalah dengan mama. Papa sebelumnya juga sama kayak mama. Cuma mementignkan kemauan dan kepentingan kalian saja. Mungkin di kehidupan kalian hanya ada Vanesha saja. Tapi ya udah mau gimana lagi, masih ada pak Andrew yang mau mengambil rapot Viren setiap kenaikan kelas," ucap Virendra.
Lagi lagi hati Rafello menccelos mendengarnya. Selama ini memang dia atau pun Ayu tidak pernah bisa meluangkan waktunya hanya untuk sekedar mengambil rapot atau pun rapat orang tua ke sekolahan Virendra. Jarak usia Virendra yang berbeda satu tahun dengan Vanesha membuatnya tidak bisa berada satu kelas. Karena memang sejak awal dia sendiri yang memilih untuk berbeda sekolah dengan adinya itu. Ditambah Ayu juga tidak mendaftarkan Vanesha di sekolah yang sama dengan anak pertamanya.
Adrew adalah asisten sekaligus sekretaris Rafello. Selama ini hanya pria itu yang selalu mewakilkan kehadiran orang tua ke sekolah Virendra. Bahkan teman teman Virendra juga berasumsi jika Andrew adalah ayah kadung Virendra. Marga Natapraja hanyalah hiasan saja pada nama belakangnya.
__ADS_1
"Kamu kecewa sama papa?" Tanya Rafello.
"Anak mana yang gak kecewa pa disaat mendapatkan kasih sayang yang berbeda dengan saudaranya? Padahal jelas jelas aku juga anak kandung kalian, tapi kalian gak pernah sedikit pun menoleh ke arah ku," ucap Virendra.
"Aku sudah terbiasa dengan kesendirian dan kesepian pa. Jadi aku harap papa tidak melarang aku untuk pindah sekolah sekaligus pindah rumah. Aku hanya ingin mencari kenyamanan dan kasih sayang yang tulus. Jika aku tidak bisa mendapatkannya dari kedua orang tua ku, setidaknya aku akan mencari orang yang mengasihani aku," sambung Virendra.
"Maafkan papa," ucap Rafello. Tidak ada lagi yang bisa ia utarakan selain kata maaf. Rasanya dia memang sudah jahat sekali dengan anak sulungnya ini. Dia bahkan tidak pernah memperhatikannya. Sebenarnya pernah, namun sangat jarang sekali.
"Maaf tidak akan merubah segalanya. Waktu yang sudah pergi dan juga rasa sakit yang terus terasa. Viren sudah terbiasa, jadi tidak perlu meminta maaf lagi. Lebih baik papa selesaikan masalah keluarga kecil papa. Viren memang masih termasuk dalam satu keluarga dengan papa dan mama bahkan Vanesha. Tapi kehadiran Viren hanya seutas nama yang tertulis, tidak dengan perannya," ucap Viren.
Pria itu kembali mengambil ponselnya dan memainkannya lagi. Dia belum selesai bermain game. Bermain game adalah pelariannya. Pelarian dari kehidupannya yang sangat pelik ini. Selama ini dia tidak pernah menangis untuk mengekspresikan rasa sedih dan kecewanya. Dia hanya diam dan bermain game untuk mengalihkannya.
"Papa boleh keluar, Viren masih mau main game sama Kairav," ucap Viren.
"Baiklah," ucap Rafello.
***
__ADS_1
Dua jam setelah selesai makan pagi bersama, Ailee dibawa pulang oleh mamanya. Ailee tidak menolak dan tidak mengiyakan kemauan Kalingga untuk menemaninya. Untungnya ada alasan logis untuk menolaknya. Hari ini Ailee pulang ke rumahnya sedangkan Kalingga harus ikut papinya ke perusahaan milik kakek Natapraja bersama dengan Kairav juga. Sedangkan Briella, gadis itu harus menjemput omanya dari Bandung.
Siang hari ini, Ailee tidak memiliki rencana apapun. Dia hanya diam di kamarnya, sesekali menonton drama dan membaca beberapa buku tebal. Isi buku itu bukan novel seperti biasanya, namun isinya tentang ilmu bisnis. Yap, Ailee ditantang papinta untuk menguasainya dalam waktu dekat ini. Ailee sudah memiliki satu bisnis yaitu sirkuit. Meskipun dalam mengelolanya dia masih dibantu beberapa orang, tapi Ailee mampu membuat bisnisnya itu tetap berdiri.
Brixy Circuit adalah nama asli dari sirkuit yang dimiliki Ailee. Namun untuk menyamarkannya, Ailee hanya memasang papan nama bertuliskan BRX Circuit saja. Bahkan di dunia sikuit, dia dikenal sebagai Queen, bukan Ailee.
Ailee sengaja melakukan ini, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menutupi dirinya dari dunia. Meskipun suatu saat nantj, semuanya pasti akan terungkap.
Sampai saat ini, Ailee masih menyembunyikan tentang kebenaran dirinya dari Kalingga bahkan dari keluarga Natapraja. Entah kapan dia akan mengatakan yang sebenarnya. Mengatakan jika dia adalah seorang pembalap profesional bahkan memiliki sikuit sendiri. Sirkuit Ailee selalu dipakai oleh beberapa turnamen motor, dari situlah pundi pundi rupiah selalu masuk ke dalam kartu debitnya. Selain turnamen motor, sirkuitnya juga selalu disewa untuk latihan dan sejenisnya.
Beberapa hari ini, Ailee terus memikirkan tawaran sekolah yang akan meluluskan dirinya terlebih dahulu dari teman teman seangkatannya. Syaratnya hanya dia mengikuti ujian tingkat akhir saja. Namun sampai saat ini dia masih belum mengambil keputusan. Padahal hari terus berganti, yang artinya liburan sekolahnya akan segera berakhir.
"Makin dipikirin makin gak dapet jalan keluarnya. Apa gue aja yang jalan jalan keluar?" Tanya Ailee. Gadis itu tengah duduk di kursi balkon yang ada di kamarnya.
"Kalo gue ambil tawaran itu, itu sama aja gue bakalan LDR sama mamas Lingga. Tapi gue juga harus kejar cita cita gue," ucapnya.
Bimbang bagaikan buah simalakama. Ailee benar benar belum bisa memutuskan antara Kalingga dan cita citanya. Semakin lama rasanya dia malah semakin sulit untuk memutuskannya. Kalingga memang sudah meminta Ailee untuk mengambil apapun kemauan Ailee. Namun masalahnya, Ailee masih bingung harus memilih yang mama.
__ADS_1
Tiba tiba teleponnya berbunyi, Ailee mengangkat telepon yang masuk. Namun tak berselang lama dia mengangkat telepon itu, matanya sudah membulat sempurna sekaligus terkejut.
Tbc.