
***
Ailee menatap jendela yang berada di sampingnya. Bukan pemandangan sejuknya waktu menuju sore hari melainkan pemandangan hamparan putih yang tersebar di atas langit. Iya, hamparan pemandangan berwarna putih itu adalah awan yang ada di langit. Saat ini Ailee sedang dalam perjalanan menuju ke Boston. Dia harus pergi kembali kesana karena urusan mendadak.
Setelah mendapatkan telepon, Ailee tidak menunggu lagi. Dia langsung pergi menghubungi asisten papinya untuk menyiapkan jet milik papinya itu. Ia akan menggunakan jet itu untuk sampai ke Boston. Sebab tidak ada lagi waktu untuknya jika harus memakai pesawat umum. Ailee tidak berpamitan pada siapa pun termasuk kedua orang tuanya dan juga Kalingga, kekasihnya. Ailee hanya menginggalkan pesan singkat yang ia kirim melalui whatsapp. Kedua orang tuanya sudah tahu alasan anak semata wayangnya itu pergi, sementara Kalingga belum. Nomor pria itu tidak aktif, untungnya. Sebab jika aktif kemungkinan Kalingga akan menanyakan Ailee akan pergi kemana, dan parahnya lagi pria itu akan menyusulnya pergi.
Ailee memijat pelan kepalanya. Berita hari ini cukup membuatnya pening. Entah apa yang sudah terjadi secara spesifiknya disana. Lagi lagi sirkuit miliknya yang jadi sasaran. Padahal sirkuit itu tidak salah, namun ada saja orang yang ingin menghancurkannya. Entah apa sebabnya dan entah apa mau orang tersebut.
Umur Ailee masih muda, namun dia sudah dihadapkan pada masalah seperti ini. Namun masih ada untungnya juga orang tersebut hanya mengincar sirkuit miliknya bukan orang orang terdekatnya. Bayangkan jika iya, mungkin Ailee akan menutup sirkuit itu.
"Nona muda."
Ailee menoleh ke arah sumber suara. Disana berdiri seorang wanita dengan setelan jas dan celana hitam. Nampak seperti seorang wanita kantoran.
"Waktunya anda makan. Pramugari akan segera membawakannya untuk anda, lebih baik setelah makan anda juga beristirahat di kamar. Jangan duduk seperti ini," ucapnya.
"Gail, apa kabar?" Tanya Ailee tersenyum.
Dia adalah Gail. Ruth Abigail. Seorang bodyguard wanita yang selalu memantau keadaan Ailee dari jarak jauh. Namun itu dulu, sekarang Gail diminta untuk mengelola perusahaan cabang papinya yang ada di bagian timur.
"Kabar ku baik, bagaimana kabar mu?" Tanya Gail.
"Menurut mu," ucap Ailee.
__ADS_1
Gail tersenyum dan duduk di samping Ailee. Wanita itu tiga tahun lebih tua dari Ailee. Namun Ailee tidak memanggilnya kakak sebab Gail melarangnya. Gail lebih suka dipanggil nama.
"Aku sudah tahu semuanya, Max menceritakan semuanya. Kenapa kau tidak mencari ku?" Tanya Gail.
"Urusan mu bukan lagi tentang ku, Gail. Lagi pula aku yakin urusan mu di perusahaan lebih membuat mu pusing," ucap Ailee.
"Setidaknya kau punya teman untuk bercerita," ucap Gail.
"Kau tahu aku tidak suka bercerita," ucap Ailee. Terlalu pendiam juga tidak, namun Ailee tidak terlalu suka menceritakan kisah yang sudah ia lewati. Menurutnya tidak penting, lagi pula tidak akan ada yang mendengarkannya. Jadi lebih baik diam saja.
"Baiklah. Aku hanya ingin memberitahu, tuan Fox tidak lagi mempekerjakan aku di perusahaan," ucap Gail.
"What? Why?" Tanya Ailee terkejut.
Ailee hanya menghela nafasnya. Ia pun kembali memejamkan matanya. Dasar Gail, sejak dulu tidak pernah berubah. Selalu cepat bosan dengan sesuatu hal yang sedang dijalani.
"Makan Brixy. Baru tidur, apa kau mau aku laporkan pada kekasih mu yang tampan itu?" Tanya Gail.
"Jaga mata mu jika masih ingin melihat dunia ini," ucap Ailee.
"Rrrr, menakutkan sekali sycho ini," ucap Gail dengan ketakutan yang dibuat buat. Wanita itu pun tertawa pelan lalu menarik lengan Ailee untuk pergi makan di kabin belakang yang lebih luas.
***
__ADS_1
Sementara itu dilain tempat, tawa seseorang menggelegar tiada hentinya sejak tadi. Setiap dia mengingat laporan yang diberikan anak buahnya, dia tertawa keras. Rasanya ternyata menyenangkan juga bermain main dulu sebelum rencana besarnya terwujud. Membuat musuhnya misuh misuh dan tertekan seperti itu ternyata mampu membuatnya senang bukan kepalang.
"Rencana rencana kecil yang aku buat ternyata berhasil. Bahkan hasilnya lebih dari yang aku harapkan," ucapnya.
"Selamat nona, anda akan segera mendapatkan apa yang anda inginkan," ucap seorang pria yang ada di depan wanita itu.
"Tenanglah, ini masih belum apa apa. Aku senang karena dia belum tahu dalang sebenarnya. Aku hanya berpikir, dia benar benar bodoh atau hanya pura pura? Bahkan kejadian seperti itu sudah pernah terjadi. Namun dia tidak mengindahkan ancamannya," ucapnya.
"Jelas dia bodoh nona, dia bukan tandingan anda," ucap bawahannya.
"Kau benar. Baiklah, sekarang kau bisa pulang. Tunggu aba aba yang akan aku berikan lagi untuk rencana selanjutnya," ucapnya.
"Baik nona." Pria itu pun meninggalkan wanita yang menjadi bosnya. Dia pergi ke tempatnya, sedangkan wanita itu masih duduk di kursinya. Tatapannya tiba tiba teralih pada sebuah album foto. Tangannya terulur untuk mengambilnya. Dengan pelan, jari jemarinya mengusap bagian kaca frame foto tersebut.
Disana ada sebuah foto keluarga lengkap. Ayah, ibu dan dua orang anak. Salah satu anaknya berjenis kelamin wanita, dan anak itu adalah wanita ini. Foto di frame itu adalah foto keluarganya yang sudah hancur. Hancur karena keegoisan seseorang. Untungnya dia sudah besar sekarang. Dan sekarang adalah waktunya untuk membalaskan dendam itu.
"Gue gak rela lihat lo bahagia bersama keluarga lo. Apalagi cowok itu sekarang milik lo. Keluarga gue hancur gara gara bokap lo. Dan lo harus menanggung semuanya. Bahkan lebih dari apa yang gue rasakan," ucapnya. Wanita itu menghela nafasnya dan kembali menyimpan frame itu. Tak lama tatapannya tertuju pada sebuah foto lain yang sengaja di tempel di dinding.
Di selembar foto itu banyak tertancap sebuah anak panah kecil yang sengaja dilempar saat ia kesal. Foto itu adalah foto Ailee dengan keluarganya. Sasarannya bukan lagi kedua orang tua Ailee, namun Ailee. Dulu memang iya, dia mengincar kehancuran keluarga itu melalui kedua orang tua Ailee. Namun kini rencananya berubah, dia ingin menyerang Ailee. Cepat atau lambat rencananya akan berjalan sesuai dengan rencananya.
"Lo terlalu beruntung. Keluarga lengkap, fisik yang sempurna, ditambah lo juga seorang pembalap. Belum lagi cowok lo boleh juga. Tapi lo gak berhak dapat keuntungan itu semua. Lo harusnya menderita. Dan gue, akan menggiring lo dalam derita itu," ucapnya tersenyum licik. Tangannya mengambil anak panah kecil lalu melemparkannya ke arah foto Ailee. Sayangnya selalu meleset. Yang terkena bukan foto Ailee melainkan orang di sisi kiri dan kanan Ailee.
Tbc.
__ADS_1