
***
Di sebuah ruangan, duduklah dua orang yang sedang sama sama berkutat dengan laptopnya masing masing. Ruangan ini bukan ruangan tertutup. Jelas saja karena ini ruang tengah rumah Kavinder.
Ashel dan Kavin sedang sibuk dengan pekerjaan masing masing. Kavin sibuk mengerjakan berkas berkas dari kantornya sedangkan Ashel sibuk melihat pembukuan cafe, restoran dan butiknya. Kebetulan dia memang rutin mengeceknya setiap satu minggu sekali. Sebab dia tidak ingin usaha yang sudah lama dia bangun hancur seketika.
Ketiga anaknya juga sedang sibuk dengan urusan masing masing hari ini. Mereka bertiga bahkan kompak tidak masuk sekolah dan akan masuk nanti sekitar tiga harian lagi untuk mengambil rapot. Tentunya dengan dampingan Ashel dan Kavin selaku orang tua.
"Mas," panggil Ashel.
"Kenapa mami sayang?" Tanya Kavin. Pria itu menghentikan ketikannya di keyoard laptop dan menoleh ke arah suaminya.
"Menurut kamu aku naikin gaji karyawan gak? Soalnya di pembukuan dari lima tahun terakhir uang yang dihasilnya terus meningkat," ucap Ashel.
"Mana coba lihat dulu," ucap Kavin. Pria itu menyimpan laptop miliknya dan mengambil laptop istrinya. Ashel terdiam memperhatikan suaminya yang sedang memeriksa laporan keuangan cafe dan restorannya. Sedangkan keuangan butik meningkat, namun tidak se-signifikan seperti uang penghasilan cafe dan resto.
"Menurut aku gak usah naikin gaji, mending kamu kasih mereka sebagai bonus aja. Iya memang keuangan cafe sama resto kamu meningkat tinggi dan cukup stabil. Tapi kita gak tahu kan besok lusa kayak gimana. Mau kita emang bertahan di angka ini bahkan meningkat, tapi kita gak bisa target itu semua sayang. Karena yang menarget itu semua adalah pelangga tetap dan baru," jelas Kavin.
Ashel mengangguk paham. Benar juga dengan apa yang dikatakan oleh suaminya ini. Lebih baik dia memberi karyawan karyawannya uang tambahan berupa bonus, bukan kenaikan gaji.
"Bukannya dua tahun lalu kamu juga udah naikin gaji mereka? Masa mau naik lagi yang, untungnya buat kamu sebagai owner mana? Bukannya kamu bilang ke Sergio buat bikin lagi cafe baru di Indonesia?" Tanya Kavin. Kalian masih ingat Sergio? Iya, Sergio adalah tangan kanan Ardian dulunya. Tapi sekarang dia bekerja pada Ashel, adik sepupu dari Ardian.
__ADS_1
*kalo lupa baca novel MY LITTLE WIFE lagi.
"Ya iya sih mas, progresnya juga udah tujuh puluh persen pembangunan cafe barunya. Pas kita kesana kayaknya udah nambah kali. Kayaknya saran kamu bener juga, mendingan aku sering kasih bonus aja. Soalnya yang namanya bisnis kadang naik turun," ucap Ashel.
"Good wife. Jatah jangan lupa, aku udah kasih saran loh mi," ucap Kavin.
"Udah tua, inget umur," ucap Ashel sinis.
"Tua tua gini juga masih mampu buat kamu gak bisa jalan. Inget waktu kita alibi ke anak anak kalo ada pekerjaan tambahan waktu di Melbourne? Itu kan bukan pekerjaan tambahan tapi karena kamu gak bisa jalan loh yang," ucap Kavin mengingatkan. Satu bulan yang lalu memang Kavin harus pergi ke Melbourne untuk melakukan perjalanan bisnis. Dia tentu saja meminta istrinya ikut dan meninggalkan ketiga anaknya. Ashel kira hanya akan perjalanan bisnis biasa, ternyata dia di jebak. Kavin sengaja beralibi alias beralasan perjalanan bisnis, karena yang aslinya dia ingin melakukan bulan madu lagi dengan Ashel, istrinya.
"Kamu inget aja terus kejadian itu," gerutu Ashel. Kavin terkekeh pelan melihat raut kesal wajah istrinya, lalu dia memeluk istrinya serta mengecupnya.
"Sayangnya Kavin jangan marah dong," ucap Kavin.
Briella setengah berlari dan langsung duduk diantara kedua mami dan papinya. Briella memang sangat hobby sekali mengacau waktu romantis mami dan papinya.
"Apa sih dek, kamu ganggu papi aja. Papi lagi mesra mesraan sama mami kamu loh," ucap Kavin.
"Bodo amat pi. Awas aja Briella punya adik, Briella bakalan bener bener gak mau ketemu mami papi lagi. Pokoknya Briella bakal tinggal di rumah oma Sarah atau gak oma Anna," ancam Briella.
Ashel tersenyum kecil dan mengelus pelan kepala anaknya yang sedang merajuk ini. Briella memang selalu mengatakan jika dia tidak ingin memiliki adik. Jangankan memiliki, membayangkannya saja Briella tidak mau. Briella bukan tidak suka anak kecil. Dia suka, hanya saja untuk menjadi seorang kakak, dia sangat tidak siap seumur hidup pun.
__ADS_1
"Bri sayang, mami gak mungkin punya anak lagi. Mami udah tua, mami harusnya punya cucu bukan anak lagi," ucap Ashel memberitahu. Sejam dulu Briella memang selalu ingin jadi anak bungsu. Bukan apa apa, dia hanya ingin kasih sayang kedua orang tua serta kedua abangnya terbagi. Sama sekali tidak ingin.
"Suruh kak Ling aja. Dia kan udah ada cewek, yaitu Ailee. Dia pasti mau kok kasih mami sama papi cucu. Briella belum kepikiran nikah, mau jadi wanita independent dulu. Biar nanti kita lihat laki laki mana yang bisa mendapatkan Briella," ucap Briella.
"Like mother, like daughter," ucap Kavin pelan.
Briella adalah copyan maminya. Bahkan wajah keduanya sangat mirip sekali. Mereka bagai anak kembar beda versi. Ashel versi berumur sedangkan Briella versi muda. Bahkan tak jarang jika keduanya keluar rumah bersama, semisal jalan ke mall. Pasti orang orang akan mengira mereka adik dan kakak.
"Mi, Bri mau jalan jalan. Ayo keluar," ajak Briella.
"Mandiri dong adek. Kamu keluar sama abang kamu, dja dari semalam di kamar mulu. Bahkan makan pun diantar ke kamarnya," ucap Kavin.
"Abang kan princess, papi. Jadi dia harus dilayani terus," ucap Briella.
"Ngawur kamu dek," ucap Ashel.
Briella tertawa mendengarnya. Dia sangat suka sekali waktu seperti ini ketika sedang bersama mami dan papinya. Entah kenapa dia sangat menghargai waktu seperti ini. Dia hanya merasa jika suatu saat nanti dia pastinya akan pergi jauh dari kedua orang tuanya untuk mengejar cita citanya. Rasanya tidak ingin, namun Briella tidak boleh egois untuk kesuksesan dirinya sendiri.
"Adek jadinya ambil bisnis, pi. Sama kayak kakak sama abang," ucap Briella.
"Papi gak masalah kamu mau ambil jurusan apapun. Katanya dulu kamu mau jadi model?" Tanya Kavin. Briella memang dulu selalu berkata jika dia ingin jadi seorang model papan atas.
__ADS_1
"Gak mau pi, hiruk pikuk dunia permodelan gak seindah yang dibayangkan. Sekarang banyak scandal tentang model yang muncul ke publik. Briella jadi takut, lagian waktu kecil kan gak bisa mutusin apa apa."
Tbc.