Mengejar Cinta Mr. Ling

Mengejar Cinta Mr. Ling
267. Virendra Natapraja


__ADS_3

***


Berhari hari berlalu, keadaan perusahaan Rafello sudah lebih membaik dan mulai stabil lagi setelah dibantu oleh kakaknya. Rafello benar benar berterima kasih sekali pada kakaknya itu. Beberapa hari terakhir ini hubungannya dengan kakaknya memang tidak membaik akibat ulah anak dan istrinya, namun untungnya hati dan pikiran kakaknya ini lapang dan luas, sehingga kakaknya tidak mempermasalahkan hal itu. Justru dengan tangan terbukanya kakanya itu membantu dirinya dalam menstabilkan keadaan perusahaannya yang diambang kehancuran.


Beberapa waktu ini, kehidupan Rafello seakan sedang di uji terus menerus. Rasanya dia tidak memiliki lagi semangat hidup. Iatri dan anak perempuannya sudah tidak bisa lagi ia tur seperti dulu. Mereka berdua memberontak bersama sama. Mungkin saat ini yang mampu menguatkan dirinya elain keluarga yaitu anak sulungnya, Virendra.


Liburan sekolah yang seharusnya berjalan lancar dan menggembirakan justr mlah berahir seperti ini. Rafello merasa tidak enak hati dengan anak sulungnya itu. Selama ini selain dia dan keluarga Natapraja, tidak ada lagi yang memperhatikannya. Ayu yang statusnya senagai ibu kandungnya tidk pernah menolehkan matanya pada anak sulung itu. Ayu lebih mengedepankan tentang anak perempuan mereka. Padahal baik Virendra atau pun Vanesha, keduanya sama sama darah dagingnya. NAmun Ayu benar benar menutup mata dan hatinya pada anak itu.


Terkadang, Rafello juga tdak memperhatikan anak itu karena kesibukan pekerjaanya. Anak itu kesepian, namu dia tidak pernah komplain apapun.


Sampai hari ini, Viren masih tetap tinggal di kediaman keluarag besar Natapraja. Anak itu bahkan tidak mau ikut mamanya ke rumah ereka yang ada disana. Baahkan sejak kedatangannya ke Indonesia, Viren sama sekali bellum menemui kakek dan nenek dari mamanya. Viren memang tidak deat dengan mereka, dia lebih dekat engan keluarga papanya.


Langkah kaki Rafello membawanya kembali ke kediaman Natapraja. Selain untuk menginap disini, Rafello juga sengaja datang untuk menemu anak sulungnya.


Tok... tok... tok...


Rafello mengetuk pintu kamar anaknya dan membuka pintu kamar tersebut. Terlihat anaknya yang sedang bermain game.


"Papa boleh masuk?" Tanya Rafello.


"Masuk aja pah," ucap Virendra, Pemuda itu sama sekali tidak mengalihkan atensinya pada pintu kamarnya, nanggung sebentar lagi dai akan segera memenngkan game tersebut.


Rafello tersenyum kecil lalu msuk ke dalam kamar anaknya. Dia berjalan menuju ke dekat anaknya yang sedang duduk di kasur miliiknya.


"Kamu sibuk?" Tanya Rafello.

__ADS_1


"So sibuk pah, soalnya kalo diem bengong tkutnya kesambet," ucap Viren.


"Kamu seneng tinggal disini?" Tanya Rafello.


"Seneng banget, disini aku gak kesepian. Ada opa Faraz sama opa Praja yang sesekali nemenin aku," ucap Viren.


"Kamu gak mau berkunjung ke rumah rang tua mama?" Tanya Rafello.


"Males, mau ngapain juga. Toh selama ini mereka cuma anggap Vanesh aja. Mending disini," jawab Viren.


Selama ini, bahkan mungkin selama Virendraa hidup, kedua kakek dan nenek dari mamanya tiidak pernah menganggap kehadrannya. Dulu saat ia kecil, ia tidak pernah mengerti hal itu, namun setelah dewasa seperti sekarang, dia paham jika kehadirannya memang tidak pernah diharapka di keluarga itu. Tak jarang juga jika ada acara keluarga, Virendra memilih absen dan tdak pergi. Selain membosankan dia juga tidak akan dianggap disana. Berbeda ketika keluarga Natapraja mengadakan acara, Virendra selalu hadir tanpa mau absen.


"Kamu sayang sama mama?" Tanya Rafeello.


"Menurut papa, dengan apa yang selama ini aku terima, apa aku sayang sama mama?" Bukannya menjawan, Virendra justru malah bertannya balik pada paanya.


"Kaatanya hubungan anak sama orang tua apalagi ibu gak akan pernah putus sampe kapan pun, bahkan sampaikita mati nanti. Tapi gak tahu kenapa Viren gak pernah tahu seperti apa kasih sayang dari mama. Papa ttahu sendiri, yang ada di mata dan pikiran mama dan keluarganya hannya Vanesha saja. Virendra bukan cemburu, Virendra hanya merasa mama gak pernha sayang sama Viren, jadi untuk apa Viren sayang sama dia," ucp Virenda.


Hati Rafello terasa ditikam dengan belati tajam saat mendengar ucapan anaknya iini. Tanpa dai mengatakan pun Rafello sudah tahu jika anak ini benar benar kecea dengan mamanya. Kesepian yang selama ini daii rasakan selalu dia sembunyikan.


"Maafin papa, seharrsnya papa bisa memberikan hak itu pada kamu. Hak untuk disayangi ibu kandung sendiri. Papa agal membuat keluarga kita harmonis," ucsp Rafello.


"Papa gak gagal. Papa buukan gak becus dalam urus keluarga kita. pah, yang namanya akeluarga itu bukan hanya papa atau pun aku sebagai anak yang harus saling mengerti dan paham agar keluarga kita harmonis, tapi mama juga harus. Sementara selama ini papa tahu sendiri, mama tidak pernah peduli dengan keutuhan kelurag, yang ia pedulikan hanya keinginan dan kebahagiaan Vaneha. ibaratnya mobil, kalo cuma ada dau atau tiga oda saja, mobil itu gak akan pernaha sampai ke tjuannya," ucap Virendra.


Selama ini, Virendra selalu menelan semuanya sendiri. Kesepian, sedih, bhkan frusasi tidak pernah dai eksprsikan. Menurutnya diam lebih baik ari pada bercerita tentang keadaannya namun tidak ada yang mau mendengar. Selama ini, Viren sudah terbiasa dengan hal itu.

__ADS_1


"Viren sayang mama, tapi sikap dan perilaku mama selalu bat Viren berpikkir jika sayang yang Viren punya buat mama itu udah gak perlu lagi. Mama tetap baik baik ja selama Vanesh baik dan bahagia. Virendra tahu diri, Virendra memang mungkin tidak pernah ditakdirkan untuk disayangi mama," ucap Virendra.


Mulut Rafello terdiam, tidak mampu lagi untuk mengluarkan kata kata setelah mendengr ucappan anak sulungnya saat ini. Mungkin kekecewaan anaknya ini sudah sangat mendalam pada mamanya.


"Papa gak salah. Papa kerja buat hidupi kehidupan Viren, papa juga rela kerja keras buat mencukupi kehidupan dan kebutuhan Viren. Viren gak pernnah nyakahin papa, meskipun kita jarang bicara kayak gini, Viren tetap bangga memiliki papa seperti papa," ucap Virendra.


"Viren punya permintaan buat papa, boleeh Viren katakan?" Taanya Viren.


"Apa?" Tanya Rafello.


"Setelah dipikir pikir, selesai liburan semester ini, Viren pengen pindah skolah dan menetap di rumah ini saja pah. Disini ada oma dan opa yang bisa menemani Viren. Viren harap papa mengizinkan hal itu," ucap Viren.


"Bagaimana jika mama kamu tidak setuju?" Tanya Rafello.


"Viren gak peduli, toh mama juga gak pedduli," jawabnya.


Rafello kembali terdiam. Anaknya sudah memiliki pilihannya sendiri, dia juga mrmiliki pilihannya sendiri.


"Menurut kamu, mama akna berubah?" Tanya Fello. Viren menggelengkan kepalanya.


"Menurut kamu, kalo papa cerai dengan mama, kamu siap?"


tbc.


ceraiiiiiii berderaiiiiiii.

__ADS_1


sepi anjayyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy


__ADS_2