Mengejar Cinta Mr. Ling

Mengejar Cinta Mr. Ling
236. Ulat Bulu


__ADS_3

***


Perlahan namun pasti, dengan lembut Kalingga menidurkan Ailee diatas kasur miliknya. Gadis itu memang tertidur sejak keluar dari dalam rumah sakit. Bahkan tidurnya sangat lelap, sepertinya dia memang sangat kelelahan sekali. Kaki gadis ini sangat lecet, bahkan darah juga sudah mengering disana.


"Bandel banget jadi cewek gue," ucap Kalingga saat melihat luka lecet di kaki Ailee. Pria itu pun lantas mengambil kotak p3k untuk mengobati kaki Ailee. Untunglah gadis ini sedang tidur, jika bangun mungkin dia tidak akan mau di obati. Alasannya hanya karena tidak mau menahan sakit akibat obat merah yang dioleskan. Padahal sakitnya tidak seberapa.


Ailee lebih suka menahan rasa sakitnya sampai sakit itu sembuh sendiri, jarang sekali gadis ini berobat ke dokter. Itu pun harus dipaksa dulu dengan beberapa anacaman.


"Kenapa kakinya?"


Kalingga menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk kamarnya yang terbuka. Disana berdiri sosok maminya yang sedang menatap ke arahnya.


"Lecet mi," ucap Kalingga.


"Ada yang mau mami tanyakan sama kamu tentang kejadian kecelakaan tadi. Mami sama papi tunggu di kamar," ucap Ashel.


"Iya, bentar lagi kok mi," ucap Kalingga. Ashel hanya mengangguk sekilas dan pergi dari sana. Meninggalkan Kalingga yang masih mengobati kaki Ailee.


"Tidur nyenyak," ucap Kalingga pelan. Pria itu pun bangkit dari sana dan berjalan ke arah luar kamarnya. Namun sebelum itu Kalingga tentu saja mencuri kecupan di bibir Ailee. Bahkan dengan sengaja menghis*pnya.


Memang pria mesum yang suka mencuri curi kesempatan.


Tak lama setelah itu, Kalingga pun pergi dari sana menuju ke kamar kedua orang tuanya. Tadinya Ashel memang ingin membicarakan hal itu di kamar anaknya saja. Namun melihat disana ada Ailee, dia pun mengurungkan niatnya dan memilih kamarnya sebagai tempat untuknya.


"Mi," panggil Kalingga seraya masuk ke dalam kamar mami dan papinya.


"Kamu gak papa nak? Mami denger kamu kecelakaan?" Tanya Ashel. Wanita itu menarik kedua lengan anaknya dan memintanya duduk di sampingnya.


Ashel memeriksa tubuh anaknya. Ada luka di kening dan beberapa baret di tangannya.


"Kaki kamu gak papa? Gak patah kan?" Tanya Ashel.


"Mami, Lingga gak papa. Lingga baik baik aja, ya cuma pilar jalan sama mobil aja yang gak bisa diselamatin. Supir juga langsung meninggal di tempat," ucap Kalingga.

__ADS_1


"Perihal supir sudah papi tangani. Semua biaya kehidupan keluarganya papi tanggung," ucap Kavin.


"Baguslah. Terima kasih pi," ucap Kalingga.


"Kepala kamu bagaimana? Luke bilang kamu minta dia buat berita bohong sama Ailee kalo kamu kehilangan ingatan," ucap Kavin.


"Jangan percaya dia pi. Luke cuma bilang kalo Lingga kena geger otak ringan sama Ailee. Itu pun enggak Kalingga yang minta. Dia sendiri yang berinisiatif," ucap Kalingga.


"Benar begitu? Terus kenapa kaki Ailee sampe lecet banyak?" Tanya Ashel.


"Dia lari buat sampe ke rumah sakit waktu dapet kabar dari rumah sakit kalo Kalingga dirawat disana," ucap Kalingga.


"Oh," ucap Ashel menganggukan kepalanya. Namun tak lama dia kembali mendelik.


"Terus kenapa leher sama lidahnya lecet juga?!" Tanya Ashel sewot.


"Anak muda mi. Yang penting Kalingga gak bertindak lebih," ucap Kalingga.


"Mami gak mau tahu kamu pokoknya harus nikahin Ailee nantinya. Awas aja kalo enggak! Dia udah kamu sosor mulu. Mami kasihan sama dia harus melulu lecet bibirnya gara gara kamu," ucap Ashel kesal.


"Mi, kami melakukan itu atas sama sama mau," ucap Kalingga.


"Gak mungkin, mami kenal Ailee betul. Dia kecil juga sempet mami urus walaupun gak intens kayak ngurus kamu sama kedua sodara kamu. Ailee anak baik baik, jangan kamu pengaruhi otak suci anak itu," ucap Ashel.


"Sudahlah sayang. Bahas masalah yang lebih penting sebelum semuanya berkumpul," ucap Kavin menengahi.


"Masalah apa?" Tanya Kalingga.


"Kamu dan Vanesha."


***


"Bangun lo!"

__ADS_1


"Bangun anj-, lo gak berhak tidur di kasur calon suami gue!!"


Sialan. Tidur nyaman Ailee terganggu gara gara tarikan pada tangannya. Parahnya lagi dia disiram oleh air putih yang ada di dalam gelas.


Selama ia hidup, tidak pernah ada yang berani melakukan ini padanya. Bahkan kedua orang tuanya pun tidak pernah melakukan hal ini. Dan iblis yang tiba tiba datang ke kamar ini langsung menyiramnya. Benar benar cari mati!


Ailee terpaksa bangun. Tatapan dingin dan sinisnya langsung dilayangkan ke arah depannya. Disana berdiri sosok manusia berjenis kelamin wanita yang sayangnya sifatnya sangat mirip dengan ulat bulu.


Gatal.


Yap, Ailee kadang memanggil wanita ini dengan sebutan ulat bulu bahkan parahnya dia memanggilnya dengan sebutan jal*ng. Saking sudah kesalnya.


"Lo cuma orang luar, gak pantes tidur di kamar ini apalagi sampe masuk ke dalam rumah ini," ucap Vanesha.


Yah, siapa lagi orangnya jika bukan manusia satu ini. Dia mengetahui Ailee ada di kamar ini saat dia terbangun dari tidurnya dan langsung berjalan ke kamar Kalingga untuk bertemu dengan pria itu. Tidak disangka jika yang tidur disini bukanlah Kalingga, melainkan wanita yang selalu ia tidak sukai.


"Hak lo apa?" Tanya Ailee.


"Hak gue? Lo nanya hak gue?! Lo beg*? Harusnya sebelum lo nanya gitu lo udah tahu kalo gue ini cucu dari keluarga Natapraja. Cucu. CUCUNYA!" Teriak Vanesha di akhir ucapannya.


"Cucu? Kayak gini modelannya? Setahu gue keluarga Natapraja adalah keluarga terhormat yang tidak pernah memaki apalagi melakukan tindakan bodoh kayak lo," ucap Ailee.


Vanesha terkekeh, "Lo gak berhak kasih penilaian. Lo bukan tuhan!"


"Nice. Lo bawa bawa tuhan disaat sikap lo kayak gini. Gak malu?" Tanya Ailee menohok.


"F*CK!!! KELUAR LO DARI RUMAH INI!!!"


Vanesha benar benar sudah dikuasai emosinya. Melihat bibir Ailee dan lehernya yang dilapisi plester sudah benar benar membuat darahnya mendidih. Dia bukan anak kecil yang tidak tahu arti itu semua.


Vanesha langsung menarik tangan Ailee dan menghempaskannya ke lantai, namun tentu saja Ailee tidak akan membiarkan dirinya di injak begitu saja. Ailee tidak terbanting ke lantai, melainkan dia yang langsung menendang perut Vanesha.


"Keluarga gue bahkan kedua orang tua gue gak pernah sekali pun berani siram gue apalagi sampe teriak di depan gue. Sedangkan lo, lo cuma manusia yang gak guna. Yang beruntungnya terlahir dari keluarga terhormat, makanya lo punya nama. Tapi gue pastiin gak akan lama lagi lo bakalan buat malu keluarga lo sendiri karena menyandang nama besar Natapraja."

__ADS_1


Tbc.


Hihiledeun si panesa mah🫥🫥🫥


__ADS_2