
***
"Om gimana sih, katanya tadi jangan manggil pake kosa kata 'saya' tapi sekarang om kayak gitu," ucap Briella.
Klein terkekeh pelan mendengarnya, "Maaf. Tapi saya suka memakai bahasa formal. Namun entah kenapa saya tidak suka mendengar kamu memanggil saya dengan sebutan 'saya'."
"Gak jelas, gak pendirian, plin plan banget jadi cowok," ucap Briella.
Klein tersenyum kecil. Rasa lelahnya akibat semalaman suntuk mengerjakan berkas terbayar sudah saat mendengar celotehan dari mulut gadis yang sudah sejak lama ia temui. Hanya dia, karena mungkin Briella tidak mengingatnya. Seingatnya Briella sangat gampang sekali melupakan sesuatu, apalagi akibat tragedi itu.
"Jadi gimana? Mau jajan gak?" Tanya Klein.
"Boleh deh, pengen makan kebab om. Ayo pergi," ucap Briella.
"Om?" Ulang Klein.
Briella cengengesan, "Iya deh kak, iya. Ayo jalan."
Klein mengangguk dan berjalan mengikuti langkah kaki Briella menuju ke mobil gadis ini. Klein hanya mengkode pada bawahannya untuk tetap mengikuti mobil Briella, dia hanya jaga jaga keselamatan saja. Mengingat banyak yang ingin menjatuhkannya karena kekuasaannya.
Klein mengendarai mobil Briella dengan Briella di sampingnya. Akhirnya satu per satu keinginan Klein terwujud. Bertemu Briella, berbicara dengannya, bahkan sekarang menjadi supir untuk Briella. Memang ini semua hanyalah hal kecil. Namun Klein sangat menghargai hal hal sekecil ini.
"Kebab khas timur tengah ada di perempatan pas belok dikit di sebelah kiri om. Jangan lebih," ucap Briella.
"Iya Bri," ucap Klein. Dia ingin kembali menyela saat Briella menyebutkan dengan sebutan om lagi, namun sepertinya gadis itu belum terbiasa. Sudahlah tidak apa, yang penting kan Briella baik padanya dan juga welcome. Awalnya Klein kira untuk mendekati Briella akan sulit, mengingat gadis ini terlalu pemilih dalam mengenal beberapa orang. Bahkan temannya hanya itu itu saja.
Klein tahu karena dia mencari tahu tentang Briella. Meskipun tidak menemukan banyak informasi, tapi tak apa. Sebab informasi detail tentang kehidupan Briella sengaja disembunyikan Kavin, papinya. Klein tahu itu, jadi dia tidak banyak bertindak. Menurutnya baru segitu saja sudah cukup. Sisanya dia akan tahu setelah bersama dengan Briella.
Wait, bersama? Bahkan Klein tidak tahu sampai kapan Briella welcome padanya. Semoga saja akan tetap seperti ini.
"Mau makan di dalem om?" Tanya Briella.
__ADS_1
"Boleh, kebetulan saya juga belum makan," ucap Klein.
"Ya udah ayo," ucap Briella.
"Tunggu dulu, kamu gak kekenyangan? Tadi udah makan burger, kentang goreng, sama nugget?" Tanya Klein.
"Space di perut Briella masih luas. Santai aja om," ucap Briella.
Klein mengangguk sembari terlihat terkejut, ternyata gadis ini banyak makan. Pantas saja pipinya cukup gembul. Terlihat lucu sekali.
***
Sementara itu di area restoran mall, Kalingga dan Ailee baru saja keluar. Seperti biasa saat membayar di kasir keduanya merusuh gara gara berebut untuk membayar. Padahal menurut Kalingga apa salahnya jika dia membayar semua tagihan makanan yang dipesan Ailee. Toh Ailee kan pacarnya. Wajar saja jika Kalingga membayarnya. Namun Ailee sangat keras kepala. Alhasil kembali ke alternatif cara pertama yaitu meminta kasir memilih kartu debit. Untungnya kartu debit milik Kalingga lagi yang dipilih kasir.
"Mas, kenyang?" Tanya Ailee.
"Banget. Lo kalo pesen gak kira kira banget sumpah, gue harus gym lagi nanti malem," ucap Kalingga.
"Mandang fisik? Emang masih zaman?" Tanya Kalingga
"Masih lah, kalo enggak ngapain cewek cewek diluaran sana lomva lomba buat jadi lebih cantik juga badan yang body goals kalo bukan karena orang orang mandang fisik," ucap Ailee.
Benar, zaman sekarang banyak sekali wanita yang berlomba lomba untuk glow up agar dipandang oleh lawan jenis, bahkan dianggap special juga. Tak jarang banyak yang menghalalkan segala cara untuk menjadi lebih cantik dan lebih sexy lagi.
Tak jarang juga Ailee jadi takut dan parno. Takut Kalingga terpincut wanita diluar sana yang lebih cantik darinya. Bahkan yang lebih sexy, sebab pria ini mesum. Wanita sexy sudah pasti kesukaannya.
"Gitu ya? Tapi kenapa dari banyaknya cewek di dunia ini, gue cuma suka sama lo. Bahkan gue sering banget turn on gara gara lo," ucap Kalingga.
"Alah, itu mah kamunya aja yang lemah. Ailee bahkan gak ngapa ngapain kamu udah berdiri aja. Kayaknya nanti di Indonesia kamu harus dibawa ke ustad yang dulu ajarin Ailee ngaji deh. Takutnya tubuh kamu di rasuki iblis mesum berkedok jahat," ucap Ailee.
"Ngomongnya. Gue gak dirasuki iblis. Apalagi iblis mesum, emang ada? Ngadi ngadi. Gue kayak gini tuh gara gara lo kali yang," ucap Kalingga.
__ADS_1
"Oh, jadi nyalahin aku gitu? Kok bisa aku yang disalahin, kan posisinya kamu yang mesum aja. Gak usah nyari nyari kesalahan aku deh," ucap Ailee.
Oke, sudah cukup. Kalingga harus mengalah. Dia tidak bisa terus keras kepala, mengingat Ailee juga keras kepala. Oke kali ini dia mengalah.
Kalingga menghela nafasnya lalu merangkul pinggang Ailee dan tersenyum, "Udah ya jangan bahas soal tadi. Gue gak mau kita marahan lagi gara gara masalah sepele kayak gitu."
Ailee menatapnya sekilas dan kembali menatap ke arah lain. Entah lah, dia harus berkata apa lagi pada Kalingga jika Kalingga sudah mengalah seperti ini. Mungkin diam dan tidak menjawabnya adalah jawaban dan tindakan yang benar.
"Woah, mau itu," ucap Ailee sembari menunjuk ke arah mesin capit boneka. Gadis itu menempel pada kaca mesin capit itu.
"Mas, mau yang itu," ucap Ailee sembari menunjuk sebuah boneka kecil berbentuk beruang hitam.
"Kok hitam? Kenapa enggak yang putih?" Tanya Kalingga.
"Turutin aja sih Ling, protes mulu dari tadi," ucap Ailee.
Kalingga seketika kicep mendengarnya. Tunggu dulu, dia tidak salah dengar kan? Ailee memarahinya? Bahkan sangat ketus dan sangat tidak ramah seolah Kalingga ini sudah membuat kesalahan lagi.
"Yang," panggil Kalingga.
"Apa sih?! Kamu kalo gak mau ambilin gak papa. Aku masih bisa ambil sendiri," ucap Ailee. Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan menscan barcode disana untuk melakukan pembayaran agar dia mendapatkan beberapa koin untuk main.
Sedangkan Kalingga masih terdiam karena speechless. Ailee memarahinya lagi?
"Sayang," panggil Kalingga. Namun Ailee tidak menyahut. Gadis itu malah sibuk bermain mesin capit.
Tunggu dulu, ini ada apa dengan gadisnya? Kenapa Ailee sangat sensitif sekali saat ini? Bahkan Kalingga tidak melakukan kesalahan apa apa, tapi kenapa Ailer sangat ketus padanya.
"Sayang," panggil Kalingga.
"Ah, kamu ngajak ngomong mulu kan jadi gak ketangkep tuh bonekanya," gerutu Ailee kesal. Lagi lagi Kalingga terdiam karena speechless.
__ADS_1
Tbc.