
***
Gail menghela nafasnya. Ternyata kisah cinta dari anak majikannya ini cukup menyedihkan. Kalingga tidak bersalah namun dia tetap jadi sasarannya. Bodohnya lagi yang telibat bukan hanya kakeknya saja tapi papanya juga. Jadi wajar saja jika Ailee mengambil tindakan seperti ini. Jika hubungan keeduanya diteruskan mungkin saja akan menimbulkan masalah yang cukup serius.
Dunia prcintaan ternyata tidak selamanya indah. Kadang harus berakhir dengan tragis dan menyedihkan. Untungnya Gail tidak pernah jatuh cinta. Selama ini dia hanya sibuk bekerja.
"Aku akan mengurus semuanya. Lebih baik istirahat disini, tidak akan ada yang menemukan mu. Aku harus pergi sebentar. ingat ucapan dokter barusan, jangan banyak bergerak dulu," peringat Gail.
Beberapa menit setelah Ailee memberinya perintah, dokter pun tiba. Ailee diobati dengan cepat karena anak itu yang tidak sabaran meminta dokter tersebut segera pergi. Mungkin karena suasana tinya yang sedang buruk. Untungnya dokter tersebut mengerti.
Gail pun pergi meninggalkan Ailee sendirian di apartement ini. Ailee kembali membuat ruangan kamarnya gelap gulita. Tidak ada cahaya sama sekali. Sepertinya ia memang sengaja melakukan itu. Ia ingin pikirannya tenang dan tidak berisik. Semoga saja dengan area yang gelap seperti ini mampu membuatnya beristirahat sejenak.
Lain halnya di apartement Ailee yang lain. Kalingga sudah berdiri di depan pintu sejak beberapa jam yang lalu. Tidak ada tanda tanda pintu akan dibuka. Namun pria itu masih mempertahankan posisinya disana.
Kalingga duduk diatas lantai dengan punggungnya yang bersandar pada pintu. Satu kakinya di tekuk dan satunya lagi dibiarkan lurus. Tangannya memegang cincin yang diberikan oleh Ailee tadi. Tatapan Kalingga tidak berekspresi sama sekali alias datar. Namun mata tajamnya terus menatap cinci tersebut.
Belum genap satu hari cincin tersebut sudah terlepas dari sang pemilik. Entah ini nyata atau hanya mimpi. Kejadiannya begitu cepat. Rasanya Kalingga tidak bisa mencerna kejadian ini semua. Bolehkah dia berharap jika ini semua hanyalah mimpi? Jika bukan pun Kalingga berharap ini semua hanya main main. Tidak sungguhan.
Sayangnya, ini semua kenyataan. Berkali kali Kalingga menampar dirinya. Menyadarkan pikirannya.
"Aku gak pernah setuju buat pisah sama kamu..."
Jangan salah, Kalingga sudah berputar putar mencari Ailee ke berbagai tempat. Rumah keluarga Atmaja, rumah sakit, tempat yang sering mereka datangi dan terakhir di apartement ini. Semuanya tidak menghasilkan. Dia tidak menemukan keberadaan kekasihnya.
"Yang salah keluarga aku, tapi yang kamu hukum aku," gumam Kalingga pelan.
__ADS_1
***
Rumah yang tadinya bersih dan tertata rapih kini berubah dalam sekejap mata. Semua barang yang ada disana di lempar ke sembarang arah. Alasannya untuk meluapkan emosi. Di sudut ruangan, duduk dua orang perempuan yang amat sangat Rafello kecewakan. Rasanya dia sudah tidak bisa mengungkapkan kata kata lagi saking sudah sangat kecewanya. Dia hanya bisa melampiaskannya pada barang barang yang ada disana.
Ia tidak lagi memikirkan perusahaannya. Karena sudah pasti keadaan perusahaan kembali menurun karena berita yang sedang tranding. Anaknya seorang kriminal.
"Cukup mas! Kamu gila pecahin semua ini?"
Rafello tidak mendengar ucapan istrinya. Dia sudah sangat muak dengan wanita ini. Ia kira selama ini Ayu diam dan tidak bertingkah karena sudah berubah jadi baik. Nyatanya tidak. Dia salah besar sudah berprasangka seperti itu.
"Massss."
Ayu bangkit dari duduknya dan menarik lengan suaminya untuk berhenti menonjok tembok di depannya. Namun Rafello menepisnya. Bahkan Ayu terhempas sampai terduduk ke atas lantai. Vanesha datang membantunya. Bagaimana pun Ayu adalah ibunya.
"Cukup papa, Vanesha takut," cicitnya.
"Jangan bentak anak aku!"
"Iya, dia anak kamu. Sifatnya sama persis seperti kamu. Aku benar benar menyesal karena tidak bisa mendidik anak kamu," ucap Rafello.
Sorot matanya benar benar telihat sangat kecewa. Vanesha tertunduk saat di tatap seperti itu oleh papanya. Ini kali pertamanya papanya menatapnya dengan tatapan seperti itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam sejak tadi.
"Dia juga anak kamu mas."
"Anak aku gak mungkin melakukan hal sampah kayak kemarin. Anak aku gak mungkin gak dengerin ucapan aku. Sedangkan dia apa? Dia sering membantah ucapan ku dan sering seenaknya sendiri. Apa dia anak ku?"
__ADS_1
"Dia masih muda dan belum mengerti apa apa. Kamu gak seharusnya bentak bentak dia mas. Ajari dia dengan baik, dia pasti akan mengerti lambat laun."
"Kapan? Kapan dia akan mengerti? Apa selama ini aku tidak pernah memperhatikannya? Apa selama ini fasilitas yang aku berikan untuknya kurang? Sampai sampai dia kurang ajar seperti ini?"
Ayu tertohok. Dia tidak mampu menjawab ucapan suaminya lagi.
Rafello bersimpuh di hadapan anak dan istrinya. Air matanya mengalir begitu saja. Dia menangis. Dia sangat tidak tahan dengan sikap anak dan istrinya ini. Lama lama dia akan gila jika terus seperti ini.
"Kenapa kamu melakukan hal sampah seperti kemarin?" tanya Rafello pelan pada anaknya. Dia memang emosi. Namun dia tidak pernah melampiaskan emosinya dengan bertindak kasar pada anak dan istrinya. Bagaimana pun itu tidak baik.
"Papa tahu alasannya. Aku suka kak Lingga tapi dia malah suka Ailee. Aku benci Ailee. Dia punya apa yang aku mau. Aku gak suka lihat dia bahagia. Makanya aku kayak kemarin," jawab Vanesha.
"Tindakan kamu itu bodoh. Kamu bisa dipenjara. Masa depan kamu akan hancur," ucap Rafello.
"Aku gak peduli. Aku masih punya mama sama papa. Kalo pun aku kehilangan masa depan, aku gak peduli. Yang penting aku gak kehilangan kak Lingga."
Plakk..
"Massss!!" jerit Ayu saat suaminya menampar anaknya. Bahkan sudut bibir anaknya sedikit mengeluarkan darah saking kencangnya tamparan tersebut.
"Kamu gila?! Kamu mau bunuh anak aku?! Iya?!" cecar Ayu pada suaminya. Dia menarik anaknya dan memeluknya. Vanesha terlihat syok karena di tampar oleh papanya. Ini kali pertama dalam hidupnya, sang papa menamparnya.
"Urus anak kamu. Aku udah gak bisa mendidik kamu dan anak ini. Rumah tangga kita hancur di tangan anak kesayangan kamu. Kamu selalu membelanya dan tidak pernah peduli dengan kebenaran. Aku benar benar sudah muak. Aku ingin kita pisah," putus Rafello. Pria itu bangkit dari atas lantai dan menatap ke arah istrinya.
Ayu tentu saja terkejut. Belum sempat ia melayangkan ucapannya, Rafello kembali berbicara.
__ADS_1
"Aku akan mengurus semuanya. Hak asuh Vanesha ada di tangan kamu sedangkan hak asuh Virendra ada pada ku. Tenang saja aku akan tetap memberikan nafkah bulanan sesuai ketentuan hukum. Aku harap kamu tidak mempersulit prosesnya. Aku pamit."
Tbc.