
***
Tangan Ailee mengepal saat mendengar penuturan dari Gail. Awalnya dia menolak kenyataan itu, tapi saat melihat beberapa bukti dia pun terpaksa menerima kenyataan pahit itu.
Beberapa menit saat Ailee berada di kamar mandi, Gail datang. Wanita itu sempat berbincang dulu dengan papinya sebelum dengannya. Saat ini Ailee dan Gail tengah duduk di kursi panjang yang ada di depan ruangan rawat papinya. Ia sengaja berbicara di belakang papinya mengenai hal ini. Karena ia tidak ingin kesehatan papinya kembali terganggu.
"Jangan bertindak gegabah dulu, aku tahu kamu sangat kecewa dengan mereka," tutur Gail menenangkan Ailee.
"Gak bisa, sampe detik mana pun gue gak bisa diem aja kayak gini. Bukti udah ada di depan mata, tolong urus semuanya. Gue gak mau lama lama lagi," tegas Ailee.
"Lalu bagaimana dengan hubungan mu? Apa itu akan mempengaruhi?" tanya Gail.
"Lihat bagaimana nanti. Secara tidak langsung mereka semua terlibat," ucap Ailee. Gadis itu pun memejamkan matanya sembari menyandarkan kepalanya ke dinding yang ada di belakangnya.
Antara syok, marah dan tidak percaya dengan bukti yang dibawa oleh Gail. Ailee benar benar tidak menyangka jika orang yang kemarin mengatakan akan membantunya mengungkap kejanggalan ini semua, ternyata malah jadi orang yang menyembunyikan buktinya. Untungnya Ailee memiliki orang orang berpengalaman.
"Cari tahu keberadaan wanita gila itu. Aku ingin membantunya menemui ajalnya."
"Sudah aku coba berkali kali setelah aku mendapatkan bukti bukti ini. Tapi aku masih belum menemukan titik keberadaannya," jawab Gail.
"Apa mungkin dia disembunyikan?" tanya Ailee.
"Entah, aku tidak tahu dan tidak mau menebaknya. Aku tidak ingin memperkeruh suasana dengan opini ku," ujar Grace.
"Aku akan mencarinya sendiri. Jaga papi," ucap Ailee. Gadis itu menyambar map yang ada di tangan Gail beserta dengan ipadnya.
"Brixy, tunggu. Jangan gegabah seperti itu, mereka bukan orang sembarangan," cegah Gail.
"Kau tahu seperti apa sifat ku." Aura Ailee yang biasa ramah dan selalu tersenyum seketika berubah. Hal ini benar benar sangat menyinggungnya. Dia tidak bisa diam saja menunggu pemulihan kedua orang tuanya disaat dia sudah tahu siapa yang menjadi penyebab kecelakaan ini semua. Ailee pastikan mereka akan mendapatkan hal serupa. Bahkan mungkin lebih.
Ailee tidak pendendam. Namun kesalahan fatal dibalas kata maaf tidaklah sepadan. Setidaknya mereka harus merasakan seperti apa rasanya menjadi Ailee yang kemarin.
***
Dua jam lamanya Ailee memutar mutar ke beberapa tempat yang diberitahu oleh Gail. Namun ditempat tempat itu dia tidak menemukan orang yang ia cari. Mungkin saja orang itu ada disuatu tempat. Hanya satu tempat lagi yang belum Ailee kunjungi. Dan entah mengapa instingnya mengarah ke tempat itu.
__ADS_1
Ailee melajukana mobil miliknya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dia tidak peduli jika dia akan mengalami kecelakaan atau sejenisnya. Yang jelas saat ini emosinya sedang memuncak. Dengan berkendara cepat seperti ini setidaknya bisa sedikit sedikit menurunkan emosinya.
Tak butuh waktu lama mobil aventador hitam memasuki area perumahan elit. Ailee mematikan mesin mobilnya dan keluar dari dalamnya. Ia berjalan masuk tanpa ada yang menghalangi. Bodyguard yang berjaga disana mempersilahkannya. Toh ini calon cucu mantu keluarga Natapraja.
"Nona, mari masuk. Semua keluarga sedang berkumpul di taman belakang," tutur seorang Maid yang menyambut kedatangan Ailee.
"Ada acara apa?" tanya Ailee.
"Tuan Rafello berhasil menstabilkan keadaan perusahaannya. Bahkan katanya perusahaannya sudah kembali maju," jawab Maid.
"Jadi disana ada keluarga om Fello?" tanya Ailee. Maid tersebut mengangguk. "Termasuk Vanesha?"
"Benar."
Tepat sasaran. Instingnya tidak pernah meleset.
Dari ruang tengah yang menghadap ke arah taman belakang, terlihat sorak gembira yang terpancar dari semua orang yang ada disana. Fokus Ailee hanya pada satu orang. Dan dia sangat muak melihat orang tersebut.
"Hai," sapa Ailee.
"Baru aja mau aku jemput," ujar Kalingga sembari memeluk Ailee.
"Bilang aja gak mau aku gabung. Buktinya kalo aku gak dateng kamu gak akan jemput aku kan?" tanya Ailee terkekeh.
"Enggak sayang," kilah Kalingga.
Ailee tidak lagi berucap dan beralih memeluk Ashel, Nata, Sarah dan berakhir pada Briella. Kedatangannya benar benar disambut. Ailee kira akan terjadi kecanggungan saat ia datang.
"Duduk sayang," titah Nata.
"Makasih oma," ucap Ailee. Gadis itu duduk di antara Ashel dan Briella. Mereka semua tengah duduk di sebuah sofa yang berbentuk melingkar.
"Tante baru aja mau suruh Kalingga jemput kamu," ucap Ashel.
"Oh ya? Harusnya gak usah tante, kan aku cuma pacarnya Kalingga, bukan istri."
__ADS_1
"Mana ada Lee, lo itu udah jadi bagian keluarga gue," tutur Briella.
"Bagian keluarga ya?" gumam Ailee pelan. "Maaf ya opa, oma, Ailee datang tanpa undangan," ucapnya pada Faraz dan Sarah.
Sarah tersenyum dan memberikan segelas jus pada Ailee, "Gak papa sayang. Jangan bicara kayak gitu loh, kamu itu cucu oma juga."
"Lebih tepatnya cucu mantu," sambung Nata.
"Mereka masih pacaran oma, gak seharusnya ngomong kayak gitu," celetuk Vanesha. Ayu menyenggol lengan anaknya.
"Ah iya, untung lo ingetin. Ngomong ngomong, selamat ya om Fello atas kemajuan perusahaannya. Semoga om bisa mempertahankannya," tutur Ailee tersenyum.
"Tentu Ailee, ini semua juga berkat bantuan perusahaan papi kamu. Kemarin kakek kamu menerima kontrak kerja sama perusahaan om. Bahkan beliau mau jadi investor," jelas Rafello.
Ailee mengangguk. "Aku harap ke depannya hubungan kedua perusahaan tetap baik ya."
Obrolan pun berlanjut. Namun sejak tadi fokus Ayu terus mengarah pada Ailee. Dari kata kata yang terucap dari mulut gadis itu, seolah menyiratkan sesuatu. Tapi jika dilihat dari ekspresinya, gadis itu terlihat tenang. Ayu harus tetap hati hati, dia tidak boleh lengah. Bisa bisa perusahaan suaminya kembali menurun.
"Oh iya, bagaimana keadaan orang tua kamu?" tanya Praja.
"Papi sudah lebih baik, hanya saja mama belum melewati masa kritisnya," jawab Ailee.
"Jadi sampai sekarang Cya belum menunjukan kemajuan?" tanya Faraz.
"Belum opa, mungkin akan segera sadar setelah orang yang menyebabkan kecelakaan itu tertangkap-,"
"Mungkin aja nyokap lo udah mati," potong Vanesha tanpa rasa bersalahnya.
Tangan Ailee terasa gatal apalagi emosinya benar benar belum mereda. Dan sekarang telinganya mendengar ucapan yang tidak pantas terlontar dari mulut wanita gila ini. Tak ambil pusing, Ailee lantas mengangkat gelas yang ada di depannya dan menyiramkannya pada Vanesha. Tepat sekali, siraman wine itu mengenai mata Vanesha.
"WHAT THE F*CK!! DASAR JAL*NG," umpat Vanesha.
Semua yang ada disana tentu saja terkejut melihat hal tersebut.
Tbc.
__ADS_1