Mengejar Cinta Mr. Ling

Mengejar Cinta Mr. Ling
289. Kebun Teh


__ADS_3

***


Seperti kata pepatah, jangan terlalu membenci takut ujungnya jadi cinta. Dan sepertinya pepatah itu menjadi kutukan untuk Kalingga.


Dulu, dia sangat membenci kehadiran Ailee. Menurutnya Ailee hanyalah benalu yang selalu mengganggu kebersamaan keluarganya. Bahkan Kalingga juga sering berpikiran jika Ailee sengaja bersikap baik pada adiknya agar adiknya ini mau berteman dengannya.


Namun seiring berjalannya waktu, perasaan benci itu mulai berubah. Perjuangan Ailee untuk mendapatkan Kalingga membuahkan hasil. Meskipun Ailee harus terus merasakan sakit pada hatinya kala mengejar pria batu ini. Tapi semuanya terbayar kontan saat Kalingga balik menyukainya.


Rasa senang jelas saja Ailee rasakan. Bagaimana tidak, lelahnya cinta sendiriannya kini sudah berakhir. Kalingga mencintainya, rasa cintanya terbalas.


"Sebenarnya kamu mau ngajak aku kemana?" Tanya Ailee. Keduanya kini tengah berada di dalam mobil Kalingga. Entah kemana mereka akan pergi, Kalingga sampai saat ini masih bungkam.


"Nanti kamu akan tahu sayang, bersabarlah." Seulas senyum terpatri di bibir Kalingga saat kekasihnya terus bertanya sejak tadi.


Kalingga memang sengaja tidak memberitahu Ailee kemana mereka akan pergi. Anggaplah ini sebagai kejutan kecil kecilan untuk kekasinnya. Beberapa hari ini kekasihnya sedang tidak enak hati, bahkan moodnya naik turun. Kalingga sengaja meminta ijin pada maminya untuk pergi membawa Ailee jalan jalan. Tentunya tanpa sepengetahuan Ailee.


Mobil lamborgini aventador berwarna putih melesat melewati jalanan yang tidak terlalu ramai. Kalingga fokus menyetir sedangkan Ailee hanya diam. Dia tidak mengantuk meskipun diminta tidur dulu oleh kekasihnya. Ailee mengedarkan pandangannya ke luar kaca mobil. Karena penasaran, ia pun membuka kaca mobil. Hawa sejuk menerpa wajah cantiknya. Sejenak Ailee memejamkan matanya menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Ailee menyimpan kedua tangannya pada bagian kaca mobil yang terbuka sepenuhnya. Rambutnya berterbangan ke sembarang arah karena tertiup angin yang berasal dari alam.


Kalingga tersenyum dalam diamnya. Ini yang ia inginkan. Membawa kekasihnya ke suatu tempat yang akan membuatnya rileks. Lagi pun Kalingga juga butuh refresh otaknya. Setiap hari melihat hurup dan angka ditambah juga kurva dan teman temannya yang harus ia pelajari di kantor.


Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sekitar dua jam lamanya mereka menempuh perjalanan. Kini keduanya berhenti di depan sebuah papan nama.


Ailee mengernyit saat membaca tulisan di papan tersebut. Entah mengapa lidahnya sedikit sulit menyebutkannya.


"Kita keluar dulu," ajak Kalingga tersenyum. Pria itu melepas seat belt miliknya kemudian melepas seat belt milik Ailee. Keduanya turun bersamaan dari dalam mobil. Tadinya Kalingga berniat membukakan pintu mobil untuk kekasihnya, tapi ternyata Ailee lebih dulu keluar.


"Sejuk," komentar Ailee saat ia sudah berada di luar mobil. Pandangannya menyapu ke segala penjuru. Dimana ini Ailee tidak tahu, yang jelas sekelilingnya dipenuhi dengan tamanan daun teh. Sangat hijau sekali. Matanya terasa dimanjakan dengan pemadangan seindah ini.


__ADS_1


"Suka?" Tanya Kalingga.


"Sangat. Tapi, ini dimana?"


"Salah satu tempat wisata di Bandung. Mami yang rekomendasikan tempat ini," jawab Kalingga. Pria itu menarik lengan kekasihnya dan menggandengnya menuju ke pintu masuk kebun teh di depannya.


Ternyata Indonesia seluas ini. Ailee bahkan tidak menyangka jika di Indonesia ada tamanan daun teh seluas ini. Pantas saja dulu almarhum neneknya sangat suka tinggal di Indonesia. Mendengar kabar juga katanya neneknya itu banyak menjelajahi daerah daerah yang ada di Indonesia.


Ailee melirik ke arah Kalingga saat pria itu berbicara bahasa Indonesia. Tidak terlalu fasih, bahkan logatnya masih seperti orang Boston. Ailee terkekeh pelan mendengarnya. Apalagi saat melihat seorang bapak bapak yang terlihat kebingungan dengan nada bicara kekasihnya.


"Maaf pak, kekasih saya tidak terlalu fasih berbahasa Indonesia. Kami disini mau masuk, berapa biaya tiketnya?" Tanya Ailee ramah. Bapak penjaga tiket masuk itu pun memberikan dua lembar kertas pada Ailee. Disana tertera nominalnya. Ailee pun meminta uang pada kekasihnya lalu membayar jumlah uang tiket masuk.


Setelah mendapatkan tiket, Kalingga kembali menggandeng lengan kekasihnya untuk masuk. Sejak tadi Kalingga ikutan tersenyum saat melihat kekasihnya tersenyum lebar. Tujuannya berhasil.


"Kenapa kamu ajak aku kesini?" Tanya Ailee. Keduanya kini tengah berjalan bersama menelusuri area tanaman daun teh. Selain mereka, ada juga beberapa orang lain. Entah siapa mereka, yang jelas mereka warga lokal.


"Maaf," ujar Ailee merasa bersalah.


"Aku sengaja bawa kamu kesini. Gimana pun kamu perlu tempat untuk tenang. Aku tahu, gak mudah melewati semua ini sendirian. Tapi sayang, jangan pernah merasa sendiri. Ada aku."


Ailee mengangukan kepalanya dan memeluk Kalingga dari samping kanan. "Aku beruntung punya kamu."


"Aku yang lebih beruntung sayang. Untungnya aku tidak terlambat menyadari perasaan ku. Jika saja iya, mungkin kamu sudah bersama pria lain."


"Gak ada yang lain. Kalo pun dulu aku gak dapet kamu, mungkin aku akan tetap sendiri. Cinta dan rasa sayang aku semuanya udah sama kamu," ucap Ailee tersenyum.


"Sebesar itu cinta kamu sama aku?"


"Iya. Bahkan aku lebih mencintai kamu dibandingkan dengan diri ku sendiri."

__ADS_1


"Makasih." Hati Kalingga menghangat mendengar ucapan gadisnya. Ternyata memang tidak salah dengan apa yang pernah ia dengar dari kakek Adi.


Cinta gadis yang menyukai pria duluan itu lebih besar dibandingkan dengan gadis yang kita sukai terlebih dahulu. Ucapan ucapan yang dulu sempat ia dengar kini terbukti ketika sudah bersama dengan Ailee.


"Tante Ashel tahu tempat sebagus ini, tapi kenapa beliau gak ikut?" Tanya Ailee.


"Mami gak mau ganggu waktu kita mungkin. Lagi pula mami kayaknya ke rumah sakit lagi sama oma Sarah buat jenguk dan pastiin keadaan om sama tante."


Kebaikan keluarga Natapraja padanya benar benar sangat besar. Dalam keadaan seperti ini saja salah satu dari mereka selalu menyempatkan waktu untuk berkunjung.


"Setelah kamu puas disini, kita pergi ke tempat lain lagi ya? Sekalian makan," ajak Kalingga.


"Kemana?"


"Nanti kamu tahu."


"Itu terus jawabannya, kayak gak ada jawaban lain aja. Padahal kasih tahu apa susahnya sih?" Heran Ailee.


Kalingga tersenyum kecil mendengar kekesalan yang keluar dari mulut kekasihnya ini.


"Anggaplah ini sebagai hadiah kecil dari aku. Kamu berhasil mendapatkan nilai tertinggi dari satu angkatan. Bahkan kamu bisa lulus cepat."


"Mungkin lagi ada rezeki aja. Pinter gak di ukur dari siapa dia, tapi dari ketekunan dan rajin belajar."


Kalingga mengangguk membenarkan ucapan kekasihnya. Ailee memang berasal dari keluarga terpandang, tapi hal itu tidak menjadikannya anak manja dan pembangkang.


Tbc.


up nanti malem 1 lagi, soalnya belum beres bbrp paragraf lagi hehe.

__ADS_1


__ADS_2