
***
Perih dan rasa sakit seolah selalu menemani Ailee setiap saat. Hanya kedua rasa itu yang tidak pernah meninggalkannya. Berbeda dengan orang orang yang dia sayangi, mereka selalu pergi tanpa pamitan dan datang tanpa di undang. Ailee sudah sangat lelah. Dia tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia tidak mau dirinya yang dulu kembali datang. Namun tekanan demi tekanan selalu menghampirinya. Ailee sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukannya lagi, namun rasanya tidak nyaman jika dia tidak merasakan sakit pada fisiknya.
Ailee memang memiliki self harm, hanya dia yang tahu jika dirinya yang memiliki gangguan mental itu. Tidak ada yang tahu bahkan kedua orang tuanya. Ailee memang tidak dibuat trauma dalam. Hanya saja itu semua berawal dari rasa sakit dan kecewa yang diberikan orang orang. Awalnya Ailee hanya coba coba saja, namun dari hal itu dia seolah mendapatkan sesuatu hal yang bisa membuatnya melampiaskan rasa sakit dan kecewanya.
Ailee tersenyum melihat lima sayatan cutter di atas pahanya. Ailee tidak melakukannya di tangan sebab itu terlalu terekspos. Beberapa orang menganggap apa yang dilakukan Ailee adalah hal tabu. Namun mereka tidak tahu seperti apa rasanya ada di posisi Ailee.
"Gue harus ketemu Ethan. Tapi gue gak mau di ceramahin lagi," ucap Ailee pelan. Ia memang terlihat biasa saja bahkan terlihat sangat normal, namun jauh dari itu semua Ailee adalah orang yang memiliki gangguan mental. Bukan gila. Gangguan mentalnya hanya berupa menyakiti dirinya sendiri.
"Gak ada salahnya kan kalo gue nyakitin diri gue sendiri? Orang orang aja seenaknya nyakitin gue," ucap Ailee.
Gadis itu bangkit dari atas kasur dan berjalan mengganti pakaiannya. Langit di luar sudah berganti jadi gelap, namun waktu masih sedikit sore dan belum terlalu malam. Ailee mengganti pakaiannya, tanpa mandi apalagi make up. Bare face sudah biasa di wajah Ailee. Ailee memakai celana levis serta kaos crop top tang mencetak tubuh atasnya. Ia membalut baju crop topnya dengan jaket levis. Ailee mengikat rambutnya dan mengambil kunci motor kesayangannya.
Motor itu adalah motor yang biasa ia gunakan di circuit. Mendirikan sirkuit memang alasan Ailee agar dia bisa melampiaskan emosinya pada balapan. Berkendara kencang bahkan diluar batas, melewati lika likunya jalanan sikuit buatannya. Itu semua bisa membuatnya sedikit meredam emosinya.
Ailee pergi dari rumahnya. Entah akan pulang lagi atau menginap di sirkuit, entah di rumah SBA. Ia bahkan meninggalkan ponselnya. Ia tidak memerlukan benda pipih itu. Untuk apa, dia tidak memiliki seseorang yang akan menghubunginya.
Sementara itu di kediaman Kavinder. Kalingga hanya beralibi jika dia akan menemui wanita lain selain Ailee. Dia sebenarnya sangat sangat tidam tega melihat gadisnya galau dan sakit hati. Namun Kalingga sengaja melakukannya agar Ailee tidak lagi mengulangi kata putus. Kalingga sangat tidak suka.
Orang orang menyalahkannya sebab dia memang terlihat menyakiti Ailee. Padahal sebenarnya dia tidak menyakiti Ailee, justru Ailee yang menyakitinya dengan memintanya putus. Sampai kapan pun Kalingga tidak akan mau putus dengan Ailee.
Kalingga sengaja beralibi sebab dia harus mempelajari satu proyek bisnis yang akan dia pegang. Tentunya masih dibawah pengawasan Kavin, papinya. Sejak pulang tadi Kalingga diam di dalam ruangan kerja papinya. Dia hanya keluar saat makan. Berkali kali Kalingga mengecek ponselnya, ia pikir akan ada notif dari Ailee. Tapi ternyata tidak ada. Apa gadis itu marah karena sikapnya?
__ADS_1
"Telepon aja kali, kangen kok di pendem," ucap Kavin berniat menyindir.
"Lingga boleh keluar gak?" Tanya Kalingga.
"Keluar aja, bawa calon mantu kesini. Sekalian makan malam bareng," ucap Kavin.
"Oke," ucap Kalingga. Dia tidak bisa berlama lama menunggu Ailee menghubunginya. Sepertinya tidak akan ada niatan gadis itu menghubunginya. Kalingga akan menemuinya dan menculiknya ke rumahnya. Alibinya menginap dan tidur di kamar Briella. Tapi nanti malam dia akan memastikan Ailee tidur dengannya.
Kalingga mengambil kunci motornya dan bergegas keluar rumah. Dia pergi ke garasi rumahnya dan menaiki motornya menuju ke rumah Ailee. Sepertinya gadis itu sedang tidur. Buktinya teleponnya tidak diangkat oleh gadis itu.
***
Ailee dengan cepat sampai ke circuit. Sesampainya disana dia langsung turun ke arena. Tidak ada yang balapan, dia memang meminta pihak sirkuit untuk menutupnya malam ini. Sebab Ailee ingin menggunakannya. Tiga putaran sudah Ailee lewati dengan mulus. Tidak ada rintangan apa apa, bahkan dia memacu motornya dengan cepat. Richi, William dan Willem memperhatikannya. Ailer tidak pernah seperti itu, bedanya ketika sedang ada yang menganggu pikirannya. Ailee sudah pasti akan melampiaskannya pada balapan.
"Dia rumit, itu yang dibilang bang Max," ucap Richi.
"Queen bahagia kelihatannya, tapi kita gak tahu kehidupan yang sebenarnya kayak apa. Dia pinter banget nyembunyiin masalah," ucap Willem.
"That's right," ucap William.
Brumm... brum...
Ketiganya seketika diam saat Ailee berhenti di depan ketiganya. Ailee mematikan mesin motornya namun tidak turun dari sana.
__ADS_1
"Gue balik dulu," pamit Ailee.
"Kita anter," ucap Richi.
"No. Gue bisa sendiri, gue bisa bela diri, kalian gak perlu khawatir. Gue pengen night ride," ucap Ailee.
"Hati hati," ucap Richi.
"Jaga diri lo," ucap Willem.
"Besok abang anterin makan," ucap William.
Ailee hanya mengangguk sekilas. Dia malas berdebat dengan William. Pria itu selalu menggodanya, dan Ailee sudah terbiasa. Ailee pun kembali melajukan motornya. Entah menuju ke mana yang jelas dia hanya ingin melupakan masalahnya saat ini. Dia tidak berminat apa apa, apalagi bertemu Kalingga. Dia masih sakit hati, Kalingga memilih menemui wanita lain dibandingkan bersamanya.
"Gue gak nerima putus sama lo Kalingga, tapi gue gak bisa narik lo lagi. Lo udah kedistrack omongan gue tadi," ucap Ailee pelan.
Menyesal, iya memang dia menyesal karena sudah mengatakan hal itu. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi dan dia tidak bisa apa apa lagi. Dia hanya bisa diam sembari menunggu keputusan Kalingga. Sebenarnya tidak perlu menunggu, Ailee hanya perlu sadar diri dan pergi dari hidup pria itu. Sejak awal Kalingga memang tidak terlihat bersungguh sungguh. Dia menerima Ailee hanya karena nafsu, mungkin.
Cukup jauh Ailee berjalan, sampai ia berhenti di sebuah taman yang sepi. Tidak ada siapapun disini. Taman ini seperti berada di bukit. Ailee turun dari motornya dan berjalan melangkah ke depan. Sinar bulan malam ini menyorot cukup terang.
"Kangen mas Ling," gumam Ailee pelan. Gadis itu memejamkan matanya, menikmati semilir angin malam yang menerpa wajahnya.
Tbc.
__ADS_1