
***
Ailee menghela nafasnya setelah mematikan ponselnya. Seperhatian apapun keluarganya kepada dia, tetap dia tidak akan pernah terlena dengan perhatian itu. Sebab yang sudah sudah juga, Ailee mendapatkan rasa sakit di ujungnya. Jadi lebih baik Ailee mengontrol dirinya untuk tidak terbawa perasaan akibat perhatian itu. Ailee akui, dia memang sangat haus dengan kasih sayang. Tapi setelah di pikir pikir, lebih baik dia seperti ini saja dari pada dia seperti dulu, mengemis perhatian kepada kedua orang tuanya dan Alvaro sebagai abang sepupunya.
Kecewa tetap ada, rasanya sulit untuk melupakan namun ini bukan dendam. Ailee sama sekali tidak dendam, dia hanya kecwa saja dengan sikap mereka. Meskipun sudah sebesar sekarang, Ailee tetap haus akan kasih sayang. Rasanya kasih sayang itu tidak akan pernah cukup sebelum dia benar benar di treat baik layaknya dia me-treat baik ke orang lain selama ini.
"Masih pagi udah ngelamun aja kayak banyak beban," ucap Kalingga yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Dih, Ailee gak ngelamun Ling. Ailee nungguin kamu, lama banget di kamar mandi. Semedi?" Tanya Ailee. Gadis itu bangun dan berjalan ke arah kamar mandi namun Kalingga menahannya. Ailee menoleh ke arah pria yang ada di depannya ini, memperhatikan wajah tampannya yang tidak pernah pudar. Ailee benar benar jatuh dengan pesona pria ini. Selain tampan, pria ini juga memiliki daya tarik sehingga Ailee merasa harus selalu mencintainya. Padahal dia tidak pernah mendapatkan feedback yang baik. Miris sekali.
"Udah puas mandangin wajah gue?" Tanya Kalingga. Ailee seketika tersadar. Untuk menutupi dirinya yang terciduk, Ailee lantas berjinjit dan mengecup pelan bibir Kalingga. Namun saat akan melepaskan kecupan itu, Kalingga menahannya dan kembali mendekatkan bibirnya. Sedikit memainkannya namun makin lama ciumannya semakin menuntut. Entah kenapa, apa Kalingga tidak merasa jijik? Ailee belum sikat gigi, ia baru minum air putih saja.
"Hmmmptt, lepas ih. Bibir Ailee dower nanti," ucap Ailee setelah mendorong tubuh Kalingga agar ciumannya terlepas. Namun tangan pria itu masih anteng melingkar di pinggang ramping Ailee. Terlihat dari wajah kalemnya jika Kalingga masih mengiginkan ciuman itu, namun karena Ailee mendorongnya, mau tak mah Kalingga melepaskan ciuman itu.
"Gak papa, bibir lo bakalan lebih seksi dari biasanya kalo dower," ucap Kalingga. Ailee mendelik kesal, gadis itu pun memukul pelan dada Kalingga karena kesal. Tiba tiba pandangannya turun ke tangan kiri Kalingga, ia melihat tidak ada infusan disana. Ailee kembali menengok ke arah belakangnya dimana ada tiang infus Kalingga yang tidak terpakai. Namun dengan cepat Kalingga menarik kepala Ailee agar tidak melihat ke arah sana.
__ADS_1
"Kapan lepas infusan? Di tarik sendiri? Udah ngerasa jago? Kalo jago kenapa nambrak banner sponsor di arena?" Tanya Ailee beruntun. Wanita itu melayangkan tatapan tajamnya pada Kalingga. Bukan apa apa, Ailee tentu saja kesal dengan sikap pria ini. Bagaimana pun infus adalah yang terbaik untuk kepulihan kondisi Kalingga saat ini. Apalagi waktu kemarin ketika pria ini jatuh lalu bersimbah darah yang cukup banyak, Ailee benar benar takut kemarin. Tapi manusia di depannya ini dengan santainya melepaskan kabel infusan pada lengannya. Tentu saja Ailee marah!
"Gak usah marah, kita cuma temen," ucap Ling menohok.
Hati Ailee rasanya benar benar remuk jika saja terlihat. Memang seharusnya dia tidak seperhatian itu dengan Kalingga. Apalagi dengan datang ke arena lalu menolong pria ini sampai luka di kedua tangannya kembali sakit. Seharusnya memang tidak perlu membantu pria tidak tahu diri ini dari kecelakaan. Menyesal? Entahlah.
"Oke," ucap Ailee singkat. Gadis itu pun melepaskan rangkulan Kalingga dari pinggangnya dan berjalan ke kamar mandi.
"Tolong keluar, kamu punya ruangan sendiri. Kita cuma temen, jadi tahu batasan," ucap Ailee.
Blamm.
Sementara di dalam kamar mandi, Ailee mencengkram kuat pinggiran wastafel. Gadis itu menatap ke arah cermin di depannya. Terlihat wajahnya yang memerah menahan amarah. Ia sangat kesal sekali, benar benar kesal.
"Lo harus tahu diri Ailee, lo cuma temen Kalingga. Enggak lebih! Harusnya tahu batasan. Udah cukup selama ini lo dapetin perlakuan kasar sama omongan yang bikin sakit. Move on!! Lo pasti bisa Ailee," ucap Ailee pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Move on? Apa Ailee bisa? Lalu move on jalur apa? Dia kan tidak pernah berpacaran dengan Kalingga. Kenapa harus move on? Move on Ailee berbeda dengan wanita kebanyakan. Dia harus move on dari Kalingga tanpa adanya hubungan sebelum itu. Move on jalur melupakan perasannya untuk Kalingga. Ternyata, mencintai sendirian itu sangat tidak enak sekali. Ailee harus mencintai sendirian lalu melupakan juga sendirian.
"Kasihan banget idup lo. Udah mah kurang kasih sayang kedua orang tua, abang sepupu gak bisa di andelin, kakek di Indo. Sekarang harus move on dari cinta sendirian dan sepihaknya. Bener bener miris banget idup lo Lee," ucap Ailee sembari memamdangi wajahnya dibalik pantulan cermin.
***
Kedatangan Alvaro ke rumah sakit adalah untuk menjenguk adiknya sekaligus membawakan perlengkapam yang dibutuhkan oleh Ailee. Saat datang tadi, Alvaro membawa banyak makanan untuk Ailee dan semuanya habis di lahap oleh gadis ini. Benar benar gadis rakus. Tapi peduli setan, perutnya lapar sejak kemarin karena belum diisi apa apa. Minta makanan rumah sakit sama saja bohong. Karena makanan rumah sakit itu hambar dan tidak enak apalagi mengenyangkan.
Selesai melahap habis semua makanan yang dibawa oleh Alvaro, Ailee langsung mandi sebab tubuhnya sudah terasa lengket sekali. Belum lagi kemarin luka di area depan tubuhnya terkena darah pria itu. Ailee harus segera mandi meskipun memang tidak menimbulkan bau angyir disana. Sepertinya suster sudah membersihkannya.
"Ayo pulang," ucap Ailee. Tadi memang dia mendesak dokter untuk mengijinkan dia pulang hari ini meskipun belum waktunya, mengingat kondisinya yang masih membutuhkan perawatan. Namun dengan seribu alasan yang dia berikan, akhirnya dokter mengijinkannya pulang.
Alvaro mengangguk dan merangkul Ailee kemudian keluar dari dalam kamar rawatnya. Sebelum pulang, Ailee harus pamitan dulu pada om Kavin dan tante Ashel. Karena mereka berdua yang sudah membayar tagihan rumah sakit. Sebelum masuk ke dalam ruangan Kalingga, Ailee mengetuk pintunya. Tidak jauh karena ruangan mereka sebelahan.
Perlahan Ailee mendorong pintu kamar rawat Ling. Disana ada keluarga Rafello juga ternyata.
__ADS_1
"Om, tante," sapa Ailee membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara.
Tbc.