
2 bab dulu untuk mengawali awal bulan. Aku usahain crazy up, doain akunya sehat whl afiat buat hadapin komentar yg cukup kiddddd ke ati😀👍
***
Sementara itu di kediaman Natapraja, Rafello dan Virendea sudah sampai disana. Pria itu hanya berbeda tiga jam dari pemberangkatan abangnya. Kakinya dengan berat melangkah masuk ke dalam rumah masa kecilnya ini. Apalagi perasaannya terus dihinggapi rasa was was sekaligus ketakutan. Dia takut menghadapi abangnya, Kavin memang tidak mungkin akan menghajarnya. Namun Rafello cukup tahu abangnya itu akan seperti apa saat menghadapinya.
"Pah," panggil Viren. Anak itu menepuk pelan bahu tangan papanya. Dia tahu seperti apa perasaan papanya saat ini sebab dia juga merasakannya.
Tadinya Viren dilarang ikut bersama, namun dia ngotot ingin pergi bersama dengan papanya. Dia tidak mau menetap bersama dengan mama dan adiknya. Viren masih marah, dia akan kesal jika masih berada disana dengan mama dan adiknya yang selalu saja membuat emosinya meninggi.
Memang setelah mendapatkan pesan dari omanya, Viren dan papanya langsung bergegas pergi. Mereka tidak menggunakan pesawat umum, jelas sebab Fello juga memiliki jet pribadi.
"Viren nemenin papa, papa gak usah khawatir. Uncle gak akan marah," ucap Viren.
"Uncle kamu gak pernah marah, bahkan sejak papa kecil. Hanya saja papa bingung harus seperti apa menghadapinya," ucap Fello.
"Percaya sama Viren, semuanya akan baik baik saja. Ayo masuk, kasihan oma udah nunggu dari tadi. Beliau gak berhentinya teleponin Viren," ucap Virendra.
Rafello mengangguk. Pria itu pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah besar milik keluarga besarnya bersama dengan anak laki lakinya. Helaan nafas Rafello memang terdengar cukup berat. Bahkan pria itu berkali kali menarik nafasnya lalu menghembuskannya.
Di dalam rumah, semua keluarga sudah bangun. Mereka melakukan aktivitas mereka masing masing seperti biasanya. Di ruang keluarga, ada Kavin, Faraz juga Praja. Ketiga pria itu sedang berbicara sembari menikmati kopi.
Yang pertama kali melihat kedatangan Fello dan Viren adalah Sarah. Wanita itu baru saja datang ke area ruang keluarga dengan senampan cemilan.
"Fello, Viren. Kok diem disitu, sini" ucap Sarah. Virendra tersenyum dan berlari ke arah omanya dan memeluknya setelah mengecup tangan wanita paruh baya itu.
"Gimana kabar kamu nak? Baik kan?" Tanya Sarah pada Viren.
"Im okay oma. Oma sendiri apa kabar?" Tanya Viren.
"Baik. Kamu sekarang naik ke atas, istirahat ya? Ada Kairav disana," ucap Sarah.
"Um, bang Kai emang gak marah sama Viren? Kan gara gara Vanesh..,"
"Enggak. Dia gak akan marah sama kamu, ayo naik," ucap Sarah. Virendra pun mengangguk. Namun sebelum itu dia bersalaman dan berpelukan dengan yang lainnya. Semuanya nampak biasa saja, bahkan om Kavin juga masib bersikap biasa saja. Seolah tidak ada yang terjadi.
__ADS_1
"Fello," panggil Faraz. Rafello melirik ke arah papanya. Papanya itu mengkode padanya untuk duduk di kursi sebelah abangnya yang kosong. Cukup tidak berani, namun Fello tetap menuruti perintah papanya. Pria itu pun duduk disana.
"Gimana kabar kamu?" Tanya Faraz.
Rafello menggelengkan kepalanya. Dia bahkan tidak tahu jelasnya seperti apa perasaannya saat ini. Dia bingung dengan apa yang dia rasakan. Namun yang paling jelas adalah rasa sesalnya karena tidak becus dalam mengurus anak perempuannya.
"Bagaimana perusahaan kamu? Apa berjalan lancar?" Tanya Praja.
"Semuanya masih ditangani," ucap Fello.
"Pah, mas, Fello baru aja sampe. Biarin dia istirahat dulu," ucap Sarah.
"Fello baik baik aja ma," ucap Rafello tersenyum. Dia bersni membohongi perasaannya namun dia tidak berani membohongi sikap abangnya yang terlihat tidak bersahabat.
"Kamu mending mandi terus makan baru istirahat nak. Oma gak tega lihat kamu, apa istri kamu tidak mengurus kamu? Bahkan kamu terlihat agak kurusan," ucap Nata.
"Fello baik kok oma. Mungkin karena sibuk urus kerjaan aja," ucap Fello
"Sibuk urusan kerja? Terus kenapa masih banyak kerjaan yang belum beres? Lo kerjain gak?" Tanya Kavin.
Tiba tiba Kavin menyodorkan sebuah ipad yang sejak tadi dia pegang pada Rafello. Pria itu pun bangkit begitu saja dari duduknya dan berjalan naik ke lantai dua. Rafello sendiri kebingungan dengan maksud abangnya itu. Kenapa ipadnya di berikan padanya?
"Abang kamu sudah menghandel semua urusan kamu di kantor cabang. Semuanya sudah clear dan sudah berjalan sebagai mana mestinya. Kamu bisa istirahat sekarang," ucap Faraz menjelaskan ketidak mengertian Rafello.
Rafello pun melirik ke arah ipad di tangannya. Disana ada beberapa file berkas yang sudah ditangani dan hanya memerlukan tanda tangannya saja sebagai CEO.
"Abang masih peduli ya sama Fello?" Tanya Fello.
"Yang gak bener itu anak kamu, bukan kamu. Abang kamu bukan orang yang memiliki pemikiran sulit. Kamu tetap adiknya," ucap Sarah.
Rafello terdiam. Dia benar benar tidak tahu sekarang harus seperti apa lagi berhadapan dengan kakaknya itu. Kakaknya ternyata tidak pernah berubah. Tetap sama dan masih dengan mode coolnya.
***
"Grand, nanti kita makan di angkringan yang biasa yuk? Masih buka gak?" Tanya Ailee.
__ADS_1
Saat ini kedua cucu dan kakek itu sedang dalam perjalanan pulang kembali ke rumah. Keduanya sudah puas bercerita di depan pusara Rozz, nenek sekaligus istri dari Atmajaya. Bahkan tadi keduanya sesekali tertawa disana. Seolah menghiraukan jika disana adalah area pemakaman.
"Masih nak, kayaknya malam ini juga buka. Grand sering makan disana, sendirian," ucap Atma.
"Maaf," ucap Ailee.
"Gak papa, kamu kan disana juga sekolah. Oh iya, bener kamu dapet tawaran buat lulus lebih awal? Artinya kamu gak akan wisuda?" Tanya Atma.
"Tetap wisuda grand, hanya saja wisuda sendirian tanpa yang lain. Wisudanya juga cuma sumpah sama penyerahan tanda kelulusan, katanya. Tapi Brix belum pikirkan itu semua. Brix masih memikirkannya," ucap Ailee.
"Apapun pilihan kamu, grand akan tetap mendukungnya. Beberapa bulan lagi grand akan pindah ke luar negeri untuk mengurusi beberapa perusahaan cabang yang akan grand serahkan pada papi kamu," ucap Atma.
"Berapa lama?" Tanya Ailee.
"Belum bisa dipastikan. Sebab itu bukanlah perkara mudah," ucap Atma.
"Ooo," ucap Ailee manggut manggut. Keduanya pun kembali terdiam. Fokus menatap ke arah depan dimana jalanan berada. Sekitar sepuluh menit lagi mereka akan sampai.
Ailee hendak memejamkan matanya namun terhenti karena ponselnya yang berdering. Ailee pun melihatnya. Sebuah panggilan dari nomor asing?
"Angkat aja, siapa tahu itu penting," ucap Atma.
Ailee mengangguk. Dia pun mengangkat telepon dari nomor asing itu. Namun sedikit heran juga, siapa yang meneleponnya? Idnya itu nomor sim card orang Indonesia.
"Siapa?" Tanya Ailee.
"..."
"Iya benae, saya sendiri. Ada apa? Ini siapa?" Tanya Ailee.
"..."
Tiba tiba tubuh Ailee serasa melemas tidak berdaya saat mendapatkan telepon asing itu.
Tbc.
__ADS_1