
Hari berlalu begitu cepat. Sampai tidak terasa, hari ini adalah hari dimana rapot akan diberikan. Ashel dan Kavin beserta ketiga anaknya berangkat bersama menuju ke sekolahan. Sebenarnya tadi Kalingga ingin berangkat sendirian saja, sebab sejak semalam dia tidak bisa menghubungi Ailee. Lebih tepatnya telepon dan chat yang ia kirim tidak ada balasan satu pun dari Ailee. Entah kemana gadis itu. Sebenarnya semalam Kalingga sudah berniat ingin mengunjungi Ailee ke rumahnya, namun karena semalam dia sibuk dengan lima berkas yang diberikan papinya, Kalingga tidak jadi mengunjungi Ailee. Awas saja jika nanti bertemu, Kalingga pasti akan memarahinya.
Kemarin keadaan Ailee sudah lebih baik dari sebelumnya. Gadis itu sudah bisa kembali berakitivitas seperti biasanya. Bahkan Ailee sudah kembali makan dengan lahap. Kalingga sebenarnya ingin bertanya kemarin pada Ailee soal luka sayat yang sering dilakukan Ailee ketika Ailee mendapatkan tekanan yang dia tidak bisa menahannya. Tapi Kalingga menahannya, lidahnya terasa kelu untuk bertanya. Karena bagaimana pun, hal seperti itu tidak bisa ia kulik begitu saja. Mengingat itu salah satu dari dampak gangguan mental.
Setelah mengetahui itu, bukannya menjauh dan memutuskan hubungan dengan Ailee, Kalingga justru malah semakin ingin menemani gadis itu. Menemani selama yang ia bisa, bahkan Kalingga juga ingin menemani Ailee ketika gadis itu sedang terluka. Sayangnya, dia selalu tidak mendapatkan kesempatan itu. Ailee selalu sendirian ketika sedang dilanda rasa sakit yang cukup berlebih.
Sejak kejadian dimana dia mengetahui luka itu, Kalingga terus memikirkannya tanpa henti. Ailee benar benar pintar menyembunyikan luka. Luka fisik ia tutupi dengan kain karena dia menyayatnya telat di atas paha. Jelas saja tidak akan terlihat, sebab akan tertutuo celana. Dan luka batin yang ia tutupi dengan senyuman. Ternyata setelah mengenal cukul jauh, Kalingga jadi tahu Ailee tidak hanya memiliki satu kepribadian. Seolah gadis itu memang memiliki kepribadian ganda. Misalnya.
"Kakak kenapa diem aja? Mikirin Ailee ya?" Tanya Briella.
"Kamu tahu dia kemana? Semalaman gak ada kabar," ucap Kalingga.
"Emang dia gak bilang kalo semalam dia di suruh papinya buat beresin berkas? Banyak banget katanya sampe dia gak keburu pegang ponsel, bahkan dia kurang tidur kayaknya," ucap Briella.
"Kok gitu dek? Kenapa di suruh? Emang Ailee udah tahu soal bisnis kayak gitu?" Tanya Ashel.
"Yee, mami gak tahu aja Ailee kan pinter. Dia tahu soalnya hampir tiap hari dia baca baca soal bisnis di ponselnya. Selain itu juga dia sering ikut rapat kecil kecilan sama papi sama mamanya juga. Masalah dia disuruh, entah lah. Briella gak tahu pasti cuma semalam dia nanyain kak Lingga kemana. Ya Bri jawab aja jujur," ucap Briella.
"Jadi kepastiannya di suruh atau mau dia itu belum pasti gitu?" Tanya Kairav.
"Iya bang. Itu dugaan Briella aja sih, tapi gak tahu juga," ucap Briella.
"Kenapa adek menduga kayak gitu?" Tanya Kavin.
__ADS_1
"Ya gimana gak menduga kayak gitu pi, Briella waktu itu gak sengaja baca notif yang muncul di ponsel Ailee waktu Bri pinjem. Disana ada beberapa file berkas yang harus di beresin Ailee. Itu dari papinya. Tapi pas Bri tanya ke Ailee soal dia udah paham bisnis apa enggaknya, dia cuma berdalih aja kalo itu bukan berkas asli. Itu berkas buat dia latihan," ucap Briella.
Mendengar ucapan adiknya membuat Kalingga terdiam. Antara speechless dan tidak mengerti. Ternyata gadisnya itu memiliki banyak kejutan yang sengaja ia sembunyikan. Entah kejutan apalagi yang akan dia ketahui dalam waktu dekat ini.
"Ailee emang gak pernah expose keahlian dia. Yang orang lain tahu dia cupu, padahal aslinya suhu," komentar Briella.
"Udah jangan gibahin ceweknya kakak lo, dek. Tuh liat dari tadi dia overthinking gara gara chatnya gak di bales," ucap Kairav.
Briella menoleh ke arah kakaknya. Pria itu ada di sebelahnya. "Kakak kangen Ailee?" Tanyanya.
"Enggak."
"Halah boong banget. Ti ati loh kak, dia cakep banyak yang ngejar juga. Sayang kalo kakak sia siain dia, kakak putusin dia aja semisalnya, gak butuh waktu lama buat Ailee gandeng pengusaha pengusaha muda kenalan papinya," ucap Briella.
"Diem gak?" Ucap Kalingga sinis.
Seketika tawa Briella pecah mendengarnya. Ia berhasil membuat kakaknya overthinking sampai kepanasan sendiri mendengar ucapannya. Padahal Briella sama sekali tidak benar benat mengatakannya jika itu semua fakta. Itu semua hanya kata kata rangkaiannya. Ia memang sengaja membuat kakaknya ini seperti ini agar dia overthinking.
"Udah, udah," lerai Ashel.
"Hahaha, abisnya kakak lucu, mi. Kelihatan banget kalo takut Ailee di embat cowok lain," ucap Briella.
Ashel hanya menggelengkan kepalanya. Ada ada saja anak gadisnya ini. Briella memang paling suka membuat kakak dan abangnya overthinking berlebih. Giliran di balas oleh salah satunya, dia akan menangis dan mengadu pada papinya.
__ADS_1
"Oh iya kak, gimana keadaan Ailee kemarin? Mami belum sempet nanya soal itu sama kamu," ucap Ashel. Memang semalam sepulang Kalingga dari rumah Ailee, pria itu langsung mandi dan makan sendiri di kamarnya sembari mempelajari sisa pelajaran bisnisnya bersama papinya di kantor tadi. Sedangkan Kairav sudah mengerjakannya.
"Lebih baik mi. Dia datang bulan kemarin," ucap Kalingga.
"Loh kok kakak tahu? Kakak ngintipin Ailee ya?" Tuduh Briella.
"Diem dek, mau kamu kakak dorong dari mobil?" Ancam Kalingga.
"Papiiiii," adu Briella.
"Lo berdua yang diem elah, pengang kuping gue dengernya," ucap Kairav. Pria itu memang duduk sendirian di kursi paling belakang. Sengaja, dia memang suka duduk disana, sebab dia bisa rebahan disana.
"Lo juga diem bang," ucap Briella dan Kalingga bersamaan.
Kompak sekali, tapi terkadang ketiganya sering cek cok dan menyebabkan Kavin serta Ashel harus turun tangan untuk melerai mereka. Tidak waktu bayi bahkan sampai dewasa, ketiganya tetap saja sama sama suka cari masalah satu sama lain. Tapi dengan begitu rumah jadi terasa ramai. Ini lah salah satu hal yang membuat Ashek tidak ingin anak anaknya tinggal di apartement mereka.
Tiga puluh menit berlalu, rombongan keluarga Kavinder sudah sampai di parkiran sekolah si kembar tiga. Semuanya turun tanpa terkecuali. Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka semua, tentu saja sebab keluarga sultan baru saja datang.
"LINGGA."
Suara itu, Kalingga tersenyum saat melihat wujud orangnya.
Tbc.
__ADS_1