
ramein dong🤸♀️🤸♀️🤸♀️ kasih vote juga heheeeeee...
***
Awalnya memang so jual mahal, tapi makin lama Kalingga merasa sangat nyaman berada di dekat Ailee. Entah kenapa dia merasakan hal seperti ini, padahal seharusnya tidak kan? Mengingat sejak mereka kecil sampai kemarin kemarin, Kalingga selalu mengatakan kata kata yang buruk untuk Ailee. Kalingga tidak tahu kenapa ia bisa sampai seperti ini pada Ailee, padahal Ailee tidak pernah mengusik dan mengganggu kehidupannya dulu. Namun setelah mereka SMP sampai SMA saat ini, gadis itu benar benar selalu membuatnya jengkel karena terus menempelinya kemana mana. Alternatifnya, Kalingga selalu mengatakan hal yang menyakitkan agar gadis itu tidak terus terusan mendekatinya.
Namun ternyata salah. Semakin Kalingga mengatakan hal hal buruk pada Ailee, gadis itu semakin mendekatinya. Bahkan tak jarang hampir saja Kalingga akan berbuat kasar padanya. Entah itu mendorong tubuh Ailee atau bahkan hampir menampar, namun untungnya selalu ada Kairav dan Briella yang menahannya. Saat itu, emosi Kalingga selalu meledak ledak dan Ailee dengan tingkah centil dan tengilnya selalu membuat Kalingga emosi. Apalagi yang namanya anak remaja puber, sudah pasti sulit mengontrol emosinya.
Kalingga terusik dalam tidurnya, ia meraba sekitarnya. Tidak ada siapa pun disana. Kalingga pun membuka matanya, ia tidak menemukan Ailee. Kemana perginya gadis pendek itu?
"Nyari siapa?"
Kalingga menaikan atensinya saat ia mengenali suara itu.
"Ngapain mami disini?" Tanya Ling. Yap, yang bertanya tadi adalah Ashel, mami Kalingga.
"Salah mami ngunjungin anak bujang mami yang bawa cewek ke apartementnya hm?" Tanya Ashel. Wanita itu berjalan mendekat ke arah ranjang Kalingga dan duduk disana. Di susul oleh Kavin, papinya. Kedua orang tua Kalingga kenapa ada disini? Lalu dimana si pendek?
"Ailee pulang tadi, dia ada urusan mendadak katanya," ucap Ashel.
"Ck. Udah dibilang jangan pergi," gumam Kalingga.
"Kamu suka sama Ailee?" Tanya Kavin.
"Enggak," ucap Ling cepat.
"Kenapa? Bukannya selama ini kamu sering sama dia? Bahkan mami sudah melihat kamu sering mencium dia," ucap Ashel.
"Beda konteks mi, Ling kayak gitu karena pengen bukan karena suka. Lagian masa iya Lingga punya cewek pendek, hobi makan, cerewet, gak bisa diem. Cukul Bri aja yang buat Kalingga pusing. Belum lagi Ailee ngeselin banget," ucap Ling.
"Wow, berapa kata yang kamu keluarkan sayang? It's amazing, kamu berbicara cukup panjang loh. Mami speechless," ucap Ashel. Kalingga mendengus kesal dan kembali tiduran. Yang ia mau si pendek bukan kedua orang tuanya.
"Kamu mau tidur disini atau pulang?" Tanya Kavin.
"Si pendek punya urusan apa? So sibuk banget," ucap Ling. Ia mengabaikan pertanyaan papinya.
__ADS_1
"Lingga, dia punya nama loh. Bahkan namanya juga bagus, terus kenapa kamu abaikan pertanyaan papi kamu?" Tanya Ashel lembut.
"Kesel mi, Lingga udah bilang sama si pendek temenin sampe jam sepuluh. Kok malah pergi," ucap Ling.
Ashel dan Kavin saling pandang. Tidak ada yang mengerti arti tatapan kedua orang tua tersebut. Hanya mereka yang tahu.
"Kan Ailee-nya ada urusan sayang, udah yuk pulang. Besok kan sekolah, nanti ketemu juga kan sama Ailee," ucap Ashel. Ia berusaha membujuk anaknya yang sedang merajuk ini. Baru kali ini Ashel melihat anaknya yang super cool dan irit bicara ini merajuk. Biasanya dia tidak akan seperti ini. Dia akan terkesan acuh, tapi sekarang...
"Terserah mi, pokoknya Lingga gak bakalan pulang sebelum Ailee kesini. Biarin besok bolos sekolah juga," ucap Ling.
"Astaga sayang, kamu gak boleh kayak gini dong. Gimana kamu bisa lulus kalo gak sekolah?" Tanya Ashel.
"Bolos beberapa kali gak akan bikin aku gak lulus mami. Lagian aku punya papi, mereka gak mungkin berani buat gak lulusin aku. Sekarang aku mau tidur, pokoknya si pendek harus udah disini saat aku bangun," ucap Kalingga final.
Ashel menghela nafasnya. Ia hendak menyela lagi namun Kavin melarangnya. Ia membawa istrinya pergi dari sana untuk menghindari anak mereka.
"Kalingga kepentok apa sih mas? Kok dia kayak gini, gak biasanya," ucap Ashel.
"Anak kamu udah suka sama Ailee sayang. Kamu gak lihat sikapnya tadi?" Tanya Kavin.
"Anak kita, dia sudah memiliki perasaan lain selain teman dengan Ailee. Namun karena ego dia terlalu tinggi jadi ya seperti itu, kamu paling tahu karakter Lingga seperti apa," ucap Kavin.
"So jual mahal?" Tanya Ashel.
"Maybe yes," ucap Kavin acuh.
"Ya udah aku hubungin Ailee dulu. Dari pada berabe anak kamu uring uringan gak jelas kayak gitu," ucap Ashel.
"Ling emang gak jelas, cuma cintanya dia ke Ailee hampir jelas," celetuk Kavin.
***
Sementara itu di arena balap, Ailee sudah bersiap memakai baju balap demi keamanan. Ia juga memakai motor kesayangannya seperti biasa. Bahkan sejak tadi nama panggilannya terus dipanggil oleh para penonton.
"QUEEN!!"
__ADS_1
"QUEEN IS BACK."
Ailee hanya terkekeh pelan. Ia pun memakai helm miliknya. Disampingnya sudah ada Albert yang terlihat sudah sangat siap. Ailee pun melakukan tos dengan Albert seperti biasa.
"Kalo lo kalah lo jadi milik gue," ucap Albert.
"Kalo lo yang kalah, lo stop ganggu gue dan anggota lo itu harus berhenti ganggu anggota gue," ucap Ailee.
"Deal," ucap Albert.
Seorang gadis berpakaian seksi maju ke tengah tengah. Ia membawa sebuah bendera hitam. Bendera itu sejak tadi diayunkan oleh dia. Seorang pria yang menghitung juga sudah bersiap. Dalam hitungan ketiga, Ailee dan Albert akan mulai bertanding.
"SATU."
BRUMM.. BRUM..
"DUA."
BRUMMMMMM
"TIGA."
SRETTTT.. BRUMMM
Kedua motor yang tadinya bersebelahan kini sudah melajukan motornya menuju ke garis finish. Baik Ailee atau pun Albert sama sama melaju dengan kecepatan tinggi. Arenanya cukup berliuk liuk, untungnya Ailee sudah terbiasa. Namun sudah cukup lama ia tidak bermain disini, ia jadi sedikit kesusahan.
Meskipun begitu, gadis itu yang memimpin di depan. Ia tidak memberikan sedikit pun celah pada Albert untuk menyalipnya. Bahkan Ailee melakukan gerakan liuk kiri kanan.
Albert sendiri berdecak kesal. Ia ingin sekali menabrak motor di depannya ini, namun itu melarang peraturannya.
Sementara itu di sisi arena, anak anak SBA dengan gaduhnya terus berteriak. Bahkan anak anak inti juga sama gaduhnya. Max, selaku pelatih sekaligus orang yang bertanggung jawab di sirkuit ini hanya tersenyum saja. Akhirnya Queen kembali ke arena.
"Bang, menurut gue makin kesini Queen makin hebat soal bawa motor di arena. Lo lihat aja, Albert kesusahan buat nyalip," ucap asisten Max.
"Dia emang anak didik gue. Untungnya bokap dia kasih ijin buat turun ke lapangan."
__ADS_1
Tbc.