
Alan masuk lagi ke halaman Universitas. Asrama kampus terletak di belakang kampus hanya terpisah dinding setinggi 10 meter, tapi ada koridor yang menghubungkan antara gedung perkuliahan dan asrama.
Dua gedung berhadap hadapan setinggi 10 lantai menjulang di belakang kampus. Asrama untuk laki laki di sebelah kiri, dan wanita di sebelah kanan. Taman yang indah dan sangat terawat menghiasi antara dua gedung ini. Terlihat banyak mahasiswa sedang duduk dan mengobrol satu sama lain.
"Hem... Women is always in the right possition." Gumam Alan setelah melihat bangunan asrama wanita yang terletak di sebelah kanan.
Alan menelusuri koridor di asrama laki laki lantai 6. Sesekali dia bertemu dengan mahasiswa laki laki dan perempuan. Ini menandakan pengawasan di asrama ini tidak terlalu ketat. Laki laki bisa pergi ke asrama wanita, dan wanita bisa pergi ke asrama laki laki.
"Apa gunanya di pisah bangunan kalau seperti ini?" Batin Alan.
Akhirnya Wlan menemukan kamarnya, kamar nomer 666. Alan masuk ke kamar, terlihat 2 tempat tidur, 2 lemari pakaian di masing masing pojok ruangan. Kamar asrama di lengkapi dengan dapur kecil dan kamar mandi.
"Wah... kamar yang bagus." Teriak Alan.
Alan langsung merebahkan badannya di kasur. Rasa lelah yang dia dapat dari kemarin rasanya lumer di atas kasur ini. Tanpa Alan sadari matanya mulai tertutup dengan sendirinya.
Cekrek.... Nguak...
Terdengar pintu kamar terbuka. Dari pintu yang terbuka masuk pria pria berjas hitam seperti bodyguard profesional. Masing masing membawa kardus kardus besar.
Isi kardus itu pun di keluarkan, ada TV, komputer, lemari pendingin, baju baju. Semua langsung di tata dengan rapi oleh pria pria berjas hitam tersebut.
Alan yang terbangun karena mendengar suara berisik hanya bisa duduk melongo di atas tempat tidurnya.
"Apa apaan ini? Apakah teman sekamarku memindahkan seisi rumahnya kesini?" Kata alan dalam hati.
Selang 30 menitan pria pria itu selesai menata barang dan membersihkan kamar dari debu debu hasil pemindahan barang.
"Tuan... Sudah siap." Kata seorang pria berjas pada handy talky yang dia pegang.
__ADS_1
"Good!" Terdengar balasan dari handy talky itu.
Pria pria itu langsung keluar kamar setelah mendengar balasan dari handy talky itu. Alan hanya bisa mengira ngira siapa teman sekamarnya, sampai sampai barang yang dibawa sebegitu banyaknya.
Cekrek.... Nguaaaak....
pintu kamar terbuka lagi. Alan langsung menoleh ke pintu. Ingin melihat siapa yang datang kali ini.
Seorang laki laki seumuran Alan dan seorang pria yang kira kira berumur 50an tahun dengan jas hitam masuk ke kamar.
Alan langsung bangun dari tempat tidur, dia takut kalau saja teman sekamarnya adalah salah satu anak bangsawan dan akan tersinggung kalau Alan tidak langsung menyapanya.
"Hai... Namaku Alan, apakah kamu teman sekamarku?" Tanya Alan
"Wooohohoho.... Halo Alan. Namaku Toni, senang berkenalan denganmu." Balas Toni.
Toni berperawakan tegap dan tinggi. Rambut pirangnya sungguh sangat matching dengan bentuk wajahnya. Mata coklatnya tajam dan juga badannya sungguh atletis, menunjukkan dia rajin pergi ke tempat pelatihan kebugaran. Sungguh menjadi laki laki idaman semua wanita dan pecinta sesama jenis.
Pria tua ini adalah Milton. Dia adalah kepala pelayan keluarga Toni. Milton adalah orang kepercayaan keluarga Toni. Semua urusan urusan yang penting keluarga Toni pasti tidak pernah luput dari pengawasan Milton.
"Terima kasih banyak Milton. Kembalilah kalian semua. Biar aku menikmati kesendirianku, dan usahakan untuk tidak selalu menggangguku." Jawab Toni.
"Baik tuan muda." Balas Milton.
Tapi Milton tidak langsung pergi, Milton menghampiri alan.
"Oermisi Alan, saya harap kamu bersedia untuk menjaga tuan muda Toni." kata Milton pada Alan.
"Baik Pak Milton... Saya usahakan semampu saya." Alan tidak berani berjanji yang berlebih lebihan, karena dia masih tidak tahu menahu tentang silsilah keluarga Toni. Dia takut akan ikut terseret dalam masalah yang tidak dia harapkan.
__ADS_1
"Ahh.... Apa apaan kamu Milton. Aku sudah besar, sudah saatnya aku hidup mandiri." Toni ketus pada Milton karena merasa masih di anggap anak kecil yang perlu dijaga.
"Maaf tuan muda? Saya hanya menjalankan prosedur tugas saya. Kalau begitu saya undur diri." Milton membungkuk dan keluar dari kamar.
Setelah Milton pergi suasana ruangan jadi hening. Alan merasa Toni masih dalam keadaan bad mood karena Milton. Dia pun mencoba membuka percakapan.
"Hai Toni... Aku Alan Scraft, boleh aku tahu nama keluargamu?" Tanya Alan.
"Toni Wellington." jawab toni singkat yang masih bad mood.
"Ooohhh.... Kamu berasal darimana?" Tanya Alan lagi.
Toni sedikit terkejut dengan pertanyaan Alan. Nama keluarganya begitu terkenal di negara ini karena keluarganya merupakan salah satu keluarga bangsawan. Memegang banyak perusahaan besar, terutama perusahaan di bidang perdagangan dan tekhnologi.
"Kamu tidak tahu dari mana aku berasal?"
"Ehm... Maaf? Tapi aku benar benar belum tahu."
"Ah... Baiklah. Aku berasal dari kota ini saja Lan. Kalau kamu darimana berasal?"
Alan melongo dengan jawaban Toni. Toni berasal dari kota Mediteran tapi memilih tinggal di asrama. Alan tidak habis pikir ada orang yang memilih tinggal pisah dengan keluarganya padahal hidup satu kota.
"Aku dari Middlemist. Desa di ujung perbatasan."
Toni akhirnya mengerti kenapa Alan bisa tidak tahu tentang keluarganya. Karena Alan memang baru pertama kali keluar dari desanya.
Mereka berdua pun saling bercerita satu sama lain. Alan menceritakan tentang keindahan, kesuburan desanya. Tentang hubungan keluarganya dengan ayah ibunya.
Toni bercerita tentang hobi, wanita, olahraga. Tapi tidak sekalipun menceritakan tentang keluarganya. Alan pun juga sungkan untuk bertanya kepada Toni karena tidak sopan untuk bertanya masalah keluarga.
__ADS_1
Walaupun baru hari pertama mereka bertemu, tapi mereka bisa sangat cocok. Toni mengenalkan kepada Alan hal baru buat Alan.
Game Virtual Reality.