New World

New World
Dimana ada pertemuan, Disana ada perpisahan!


__ADS_3

[Nama : AS


Level : 62


Ras : Half elf, Half demon


Class : Wind Archer


Tittle : Honnoured Guest, Tallented Alchemist


Credit : 78 gold, 37 silver, 18 choper


Hp : 6300


Mp : 847


Str : 893


Agi : 1136


Int : 547


Deff : 661


Hidden atribut


Honor : 400


Senjata : Windbow, Black poison Dagger, Wind Short Blade, Hand of Death.]


Alan memandang statusnya dengan cukup terheran, terutama memandang status rasnya. Half elf, half demon? Meskipun tidak mendapati perubahan yang terjadi di dalam tubuhnya, namun nampaknya darah demon tetap mengalir di tubuhnya. Membuat rasnya kini berubah setengah elf dan setengah demon.


'Joker... Apa keuntungan bagiku dari perubahan ras ini?'


Alan tidak tahu menahu tentang fungsi dari perubahan ras, dirinya hanya bisa bertanya kepada Joker untuk mendapatkan jawabannya.


[Perubahan ras pada player sangat jarang terjadi, tetapi ras player menentukan pada class yang dimiliki oleh player. Semestinya kamu dapat mengambil class lainnya dari setengah ras demon yang kamu miliki.]


'Class lainnya?' Alan tidak terpikirkan sampai kepada hal tersebut. Dirinya juga baru mengetahui jika setiap ras hanya bisa memiliki satu class.


"Apapun itu baguslah... Paling tidak aku bisa memiliki Class baru dari ras demon ini." Alan tidak ingin terlalu mempermasalahkan tentang perubahan rasnya. Yang paling dirinya khawatirkan adalah kondisi tubuhnya di dunia nyata. Apa gunanya jika dirinya bisa begitu kuat di dunia maya tetapi dirinya mati di dunia nyata?


Apa yang dirinya bangun di dunia maya ini pun akan menghilang seutuhnya jika tubuh utamanya mati di dunia nyata sana.


'Joker... Bagaimana bila aku mati dalam kondisiku kali ini? Apakah aku bisa kembali ke dunia nyata?'


[Tidak AS... Player hanya akan mendapatkan penalti kematian dan di teleportasi di titik awal kedatangan di dunia ini. Player hanya bisa kembali ke dunia nyata jika mati di Main New World.]


"Begitu..." Alan yang tengah duduk di ranjang kamar pribadinya termenung sejenak setelah mendengar perkataan Joker.


"Untuk saat ini aku hanya bisa fokus pada apa yang di depanku. Semoga saja Toni membantu tubuh utamaku disana." Alan tidak bisa berbuat apa apa lagi. Dirinya hanya bisa berharap besar pada sahabatnya satu itu untuk saat ini.


Thok...


Thok...


Suara pintu diketuk membangunkan Alan dari pikiran panjangnya. Alan pun bangun dari ranjangnya untuk membukakan pintu.

__ADS_1


"Apa anda sudah siap Tuan AS?" Sapa Flyin yang sudah menunggu di depan pintu ruangan pribadi Alan.


Alan hanya menjawab dengan anggukan kepala. Melangkahlah kedua orang tersebut menelusuri koridor panjang yang hanya diterangi beberapa lampu di dindingnya, membuat koridor tersebut nampak remang remang.


"Tuan Flyin..."


"Cukup panggil saya Flyin saja Tuan." Flyin membenarkan sebelum Alan menyelesaikan ucapannya.


"Ah... Baiklah... Flyin... Apa kalian cuma tinggal berdua di istana sebesar ini?" Alan yang telah tinggal beberapa hari di istana Azazel ini, sama sekali tidak pernah bertemu dengan makhluk lain selain Azazel dan Flyin. Baginya cukup aneh jika Istana sebesar ini hanya dihuni oleh dua orang saja.


"Anda benar Tuan... Tuan Azazel sangat tidak suka dengan keramaian. Itulah sebabnya dirinya hanya tinggal berdua dengan saya."


"Bukannya Azazel salah satu Jenderal dari tujuh Jenderal besar Demon? Lalu dimana pasukannya?"


"Anda belum mengetahui secara keseluruhan tentang Tuan Azazel... Tuan Azazel adalah satu satunya Jenderal yang tidak memiliki pasukan."


"Maksudmu?" Alan sedikit bingung dengan penjelasan Flyin. Bagaimana mungkin Jenderal besar Demon tidak memiliki pasukan? Flyin pasti bercanda.


"Tuan Azazel dulunya bukanlah bangsa Demon seperti sekarang. Dulunya dia adalah salah satu dewa yang hidup di dunia atas. Karena suatu alasan, Tuan Azazel diturunkan ke dunia bawah ini."


"Dewa?" Alan langsung mengerutkan dahi mendengar penjelasan dari Flyin.


"Ya Tuan... Para Demon yang hidup di dunia bawah ini pada mulanya sangat membenci Tuan Azazel. Mereka pun berkali kali mencoba membunuh Tuan Azazel. Namun tidak ada yang pernah berhasil. Hingga akhirnya..."


"Dia diangkat jadi salah satu Jenderal Demon?"


"Benar sekali Tuan... Kita sudah sampai..." Flyin berhenti tepat di depan pintu setinggi 5 meter. Hiasan ukiran demon pun tidak luput tersemat di permukaan pintu tersebut.


Flyin membuka ruangan tersebut, isi ruangan tersebut kosong. Tidak ada hiasan atau apapun yang tersemat di dinding dindingnya. berbeda dengan ruangan lainnya yang selalu redup, ruangan seluas lapangan sepak bola ini begitu terang. Seakan akan mendapatkan sinar matahari secara langsung. Tapi setelah Alan melihat ke atap ruangan, rupa rupanya hanyalah sebuah bola crystal putih yang menjadi sumber pencahayaan ruangan tersebut.


"Apa yang akan kita lakukan?" Alan bingung sendiri melihat apa yang Flyin lakukan.


"Kita akan bertarung disini!" Flyin langsung menghilang dari tempatnya tadi berada, dan sudah muncul di samping Alan. Kepalan tangan kanan Flyin sudah terarah ke ulu hati Alan.


Bruk...


Alan yang tidak siap langsung terpental puluhan meter ke belakang, darah tipis langsung keluar dari mulutnya.


"Ah... Itu sakit Flyin..." Alan mencoba bangkit.


Namun belum sampai Alan bangkit, Flyin sudah melayangkan tendangannya ke perut Alan lagi. Membuat tubuh Alan kali ini terlempar ke atas.


Tubuh Alan pun terjatuh beberapa meter di tempatnya tadi. Darah lumayan banyak kini keluar dari mulutnya.


"Anda harus belajar menggunakan kekuatan Demon Anda!" Sekali lagi Flyin melancarkan pukulannya ke arah Alan. Kali ini wajah Alan yang menjadi sasarannya.


Bruk...


Bagaikan terhantam mobil, tubuh Alan langsung terlempar puluhan meter hingga menabrak dinding ruangan. Dinding ruangan pun sampai retak, akibat benturan dengan tubuh Alan. Alan pun terkapar tidak sadarkan diri.


"Sepertinya aku terlalu berlebihan..." Flyin memiringkan kepalanya melihat Alan tidak kunjung bangkit. Dirinya pun mengangkat tubuh Alan untuk dirinya bawa ke ruang pribadi Alan.


###


Tiga hari setelah menghilangnya Alan di Ibukota Kerajaan South Mountain, terjadi hal yang diluar nalar bagi seluruh warga Kerajaan South Mountain.


Ratusan angel bersayap putih turun dari langit, angel angel tersebut membantu memulihkan kondisi Ibukota seperti sedia kala. Mereka membantu membenarkan rumah rumah warga yang rusak dan menyembuhkan warga yang terluka. Meskipun terkesan sedikit terlambat, tapi bantuan dari para angel tersebut begitu berarti bagi warga South Mountain.

__ADS_1


Puteri Leoni yang sekarang menjadi Ratu di Kerajaan South Mountain pun mengucapkan terima kasih yang sangat besar kepada para angel yang datang membantu.


Namun para angel tersebut tidak hanya membantu para warga, mereka juga mengajarkan kepada para warga sebuah kepercayaan. Hal yang tidak dimiliki warga Kerajaan South Mountain dulunya. Mereka mengajarkan kepada para warga untuk memuja Dewa Helios, Sang Dewa Matahari. Warga Ibukota yang merasa terbantu dengan kedatangan para angel pun menyambut hangat kepercayaan yang diajarkan para angel.


Kedatangan para angel tersebut berkaitan dengan skill yang digunakan Shoote Sun sewaktu menghadapi Sander. Shoote Sun yang memiliki special class sebagai Hand of Helios, menandai Kerajaan South Mountain untuk mendapatkan berkat dari Dewa Helios. Dan Dewa Helios pun menurunkan berkatnya dengan mengirim para angel untuk membantu para warga Ibukota South Mountain.


Selang dua hari setelah kedatangan para angel, kondisi Ibukota South Mountain pun sudah pulih seperti sedia kala. Bahkan bisa dibilang lebih baik malahan. Salah satu hal yang membuat Ibukota South Mountain terlihat lebih baik adalah, karena kini berdiri sebuah bangunan megah berbentuk kuil di tempat yang dulunya taman tengah Ibukota. Para angel membangun sebuah kuil yang dikhususkan untuk tempat pemujaan Dewa Helios.


"Apa benar kalian akan pergi?" Clara memasang wajah haru setelah mendengar Shoote Sun dan Jonta mengucapkan kata pamitan kepadanya.


Clara tidak bisa untuk tidak menunjukkan rasa sedihnya saat ini. Setelah ditinggal Alan tanpa kabar, kini dirinya harus rela ditinggal Shoote Sun dan Jonta yang akan melanjutkan petualangan mereka.


Shoote Sun berencana untuk pergi ke Black Dessert Empire. Dirinya perlu menyelesaikan Quest jangka panjang yang dirinya dapat dari special classnya. Sudah terlalu lama dirinya menunda quest tersebut karena ikut berpetualang dengan Alan.


Dengan menghilangnya Alan, tidak ada alasan lagi bagi Shoote Sun untuk menunda Questnya tersebut. Meskipun tidak memiliki jangka waktu bagi Questnya tersebut, Shoote Sun tentu tidak ingin menunda nunda lagi terlalu lama. Semakin cepat dirinya menyelesaikan Questnya, tentu akan semakin baik reward yang dirinya dapat nantinya.


Sementara Jonta, Jonta masih tidak tahu dirinya akan kemana. Dirinya merasa canggung jika harus berpetualang berdua dengan Shoote Sun. Sepertinya kesendirian akan kembali menjadi teman Jonta sebentar lagi. Yang pasti adalah, Jonta ingin bertambah kuat. Agar dirinya tidak merasa malu jika bertemu dengan Alan lagi suatu hari nanti.


"Maafkan aku Clara? Tapi aku tidak bisa hanya berdiam disini dengan terus menunggu kepulangan AS." Shoote Sun memeluk Clara yang tampak sangat sedih. Clara pun membalas pelukan Shoote Sun dengan erat. Baginya Shoote Sun sudah seperti kakaknya sendiri selama ini. Ditinggal pergi tentu membuat hatinya teriris iris.


"Kakak Sun benar Clara... Kita perlu berpetualang agar menjadi lebih kuat. Aku yakin kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti." Jonta yang melihat Shoote Sun sudah melepaskan pelukannya kini berganti ingin memberikan pelukan kepada Clara.


Cethak...


"Jangan cari cari kesempatan!" Sebuah jitakan tepat di kepala Jonta diberikan oleh Clara yang melihat Jonta mencoba memeluknya. Jonta pun langsung terkapar di tanah, Hpnya langsung turun 500 poin.


Shoote Sun dan Freya langsung tertawa geli melihat kelakuan kedua sejoli tersebut.


"Berhati hatilah kalian berdua..." Berbeda dengan Clara yang nampak sedih. Freya yang sudah dewasa tahu jika ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Dirinya pun bisa menerima kepergian kedua temannya tersebut.


"He'em..." Anggukan Shoote Sun. "Apa yang akan kalian lakukan setelah ini?"


"Mungkin aku akan bergabung dengan pasukan Kerajaan. Membantu Tuan Olsen membenahi pasukan Kerajaan." Clara langsung menyahut pertanyaan Shoote Sun.


"Kalau kamu?" Shoote Sun mengalihkan pandangannya ke arah Elf cantik yang ada di samping Clara.


"Aku akan kembali ke desa Wood Elf. Ayahku pasti sudah sangat khawatir kepadaku."


"Baiklah... Aku rasa sudah waktunya. Susah rasanya berpisah jika kita terus seperti ini." Shoote Sun memberi tanda kepada Jonta.


Jonta pun mengangguk dan segera melakukan tugasnya. Sebuah Monster gagak langsung muncul di samping Jonta.


"Tunggu..." Cegah Freya...


"Ini untukmu!" Freya memberikan Dimesional Bagnya kepada Jonta. Freya tahu jika Jonta akan sangat memerlukan Dimensional Bag yang dirinya miliki.


"Tapi Kak..." Jonta tahu jika Dimensional Bag tersebut sangat berharga bagi Freya, dirinya pun enggan menerimanya.


"Kamu lebih membutuhkannya, anggap saja ini pengganti keberadaan kami berdua." Freya memasang senyum tercantiknya, yang pastinya membuat Jonta langsung lumer dan tidak bisa menolak perkataaan Freya.


"Terima kasih banyak Kak... Akan aku jaga barang ini seperti nyawaku sendiri." Jonta merasa sangat terharu dengan apa yang dilakukan oleh Freya.


"Kami berangkat kalau begitu." Shoote Sun dan Jonta langsung naik ke punggung monster gagak. Dengan beberapa kali kepakan sayap, Monster gagak tersebut sudah terbang tinggi. Meninggalkan tanah Ibukota South Mountain.


"Apa kita bisa bertemu lagi dengan mereka?" Clara memandang haru pada monster gagak yang semakin lama semakin mengecil karena termakan cakrawala. Tidak kuasa air matanya menetes dari ujung kedua matanya.


"Aku juga tidak tahu... Hanya waktu yang bisa menjawabnya." Freya menghela nafas panjang. Meskipun sudah mencoba untuk nampak kuat, tetap saja kesedihan ditinggal pergi kedua temannya tersebut begitu terasa di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2