New World

New World
aksi alan 2


__ADS_3

Pemanah itu tidak bisa berkutik, dengan pisau menempel di lehernya. Bahkan untuk mengeluarkan pedang pendeknya.


"Tidak usah melakukan usaha yang sia sia. Cukup panggil temanmu keluar." Kata Alan sambil menekan pisaunya.


Pemanah itu pun menuruti Alan dan memanggil temannya. Melihat seorang pengguna pedang keluar dari semak semak, Alan pun tersenyum. Dengan cepat dia menebas leher pemanah.


"Akhirnya kau keluar, ayo kita selesaikan ini."


"Jangan terlalu percaya diri bocah sombong, Kamu kira aku sendirian disini?" Kata pengguna pedang.


"Ahh... Apakah yang kamu maksud kedua temanmu yang bersembunyi di pohon?" Alan dengan senyum penuh kemenangan.


"Kau... Bagaimana bisa?" Pengguna pedang itu tidak menyangka kalau Alan sudah membunuh kedua temannya. Dia tadi berpikir Alan langsung kabur setelah membunuh magical player temannya.


"Tenang saja. Sebentar lagi kamu juga akan menyusul mereka." Alan langsung menarik busurnya.


Ciiuuu... Thang...


Panah meluncur dengan cepat, tapi bisa di tangkis dengan mudah oleh pengguna pedang.


Serangan Alan tidak berhenti sampai di situ. Dia terus berpindah tempat sambil melancarkan serangan panahnya.


Satu dua anak panah bisa di tangkis oleh pengguna pedang, tapi serangan Alan semakin lama semakin cepat. Pengguna pedang itu pun tak bisa mengimbangi kecepatan Alan.


jleb...


Anak panah menancap ke tangan kanan pengguna pedang tersebut. Pedang yang dia genggam pun terlepas. Alan yang melihat peluang emas tidak mensiasiakan.


Dengan satu tembakan panah tepat ke kepalanya, Alan mengakhiri pertarungan tersebut.


"Alan, kita sudah di depan benteng, tapi tidak ada satupun musuh terlihat. Apa rencana kita selanjutnya?" Toni menghubungi Alan lewat grup chat.


"Bagus, sepertinya kelima sisa musuh di dalam benteng semua." Balas Alan.


"Kelima sisa? Kelima yang lain dimana?"


"Aku sudah mengurusnya."


Anggota squat yang lain hampir tidak percaya Alan mengurus kelima musuh seorang diri.


"Apakah dia seorang master gamer?" Gumam salah seorang rekan Alan.


Alan pun menyusul keenam rekannya yang sudah menunggu di depan benteng. Di atas benteng terlihat ada 2 orang berdiri mengawasi area sekitar.


"Ada 2 magical player di atas benteng, sepertinya akan sulit untuk memasuki benteng." Kata Toni.


Magical player bisa membuat serangan sihir dengan area serangan yang luas. Sangat cocok untuk menjaga sekitar area benteng. Belum lagi posisi mereka yang berada di atas benteng, membuat mereka susah di jangkau serangan.

__ADS_1


"Tenang... Serahkan kedua orang itu padaku, kalian fokuslah menghancurkan gerbang benteng." Kata Alan dengan santai.


Alan langsung menyiapkan busur dan anak panahnya. Dengan cepat dia berlari secara zig zag.


"Apa dia mau bunuh diri?" Salah satu rekan alan terheran dengan tingkah laku alan.


"Kita tunggu saja. Sepertinya dia tidak bicara omong kosong." Rekan yang lain menimpali.


Tapi obrolan mereka benar benar terkunci setelah melihat pergerakan Alan. Dengan pola lari yang tidak bisa di tebak, Alan selalu menghindari setiap tembakan bola bola api musuh.


Alan menembakkan panahnya ke dinding benteng secara berulang ulang. Membuat pijakan yang bisa dia gunakan untuk memanjat dinding.


Dia melompat ke anak panah satu ke anak panah yang lain dengan mulusnya, bagaikan seorang tupai yang sedang melompati pohon satu ke pohon yang lainnya.


Dengan cepat Alan sudah sampai di atas benteng. Kedua magical player itu pun terkejut Alan bisa naik ke atas benteng yang tingginya 10 meteran. Alan langsung menarik panahnya, mengarahkan ke magical player yang bersiap menyerangnya. Anak panah itu begitu cepat menyerang tangan magical player tersebut, sampai sampai magical player itu belum menyelesaikan rapalan mantranya.


Jleb....


Tongkat sihir magical player itu pun terlepas, sehingga sihirnya gagal keluar. Alan tidak berhenti di situ. Dia langsung menyerang pemain yang satunya dengan panahnya. Kali ini serangannya dengan telak menusuk ke leher musuh. Membuat musuh mati seketika.


Melihat rekannya dengan cepat mati membuat magical player yang tersisa panik, dia langsung berlari menjauh dari Alan.


"Ahh.... Kenapa orang orang suka melakukan tindakan yang sia sia." Guman Alan.


Alan menarik busurnya. Anak panahnya langsung meluncur menembus kepala magical player dari belakang. Magical player yang mencoba kabur itu pun langsung tumbang seketika.


Rekan rekan Alan tidak menjawab. Mereka semua masih terpaku melihat aksi Alan. Mulai dari menghindari semua serangan musuh, adegan memanjat tembok dengan anak panahnya sebagai tumpuan, sampai membunuh 2 magical player dengan sangat cepat. Mereka bertujuh termasuk Toni sampai melupakan instruksi Alan untuk menghancurkan gerbang.


"Apakah kamu manusia?" Kata salah seorang rekan Alan dalam grup chat.


Alan hanya melongo mendengar jawaban dari rekannya. Dia tidak mengira kalau rekan rekannya ternyata masih terdiam di tempat menonton Alan beraksi.


"Cepatlah buka gerbangnya. Kita selesaikan ini dengan cepat." Kata Alan.


Rekan rekan Alan pun terbangun dari lamunan mereka. Mereka langsung bergerak ke arah gerbang benteng untuk menghancurkan gerbang benteng.


Duar....


Gerbang benteng dihancurkan dengan tembakan bola api.


Dari asap hasil ledakan itu rekan rekan Alan masuk kedalam benteng. Alan yang masih berada di atas benteng bersiap memberikan bantuan jika ada serangan tiba tiba.


Musuh yang berjaga di dalam benteng terkejut dengan ledakan gerbang. Musuh yang tersisa adalah 3 orang, yang terdiri dari 2 pengguna pedang dan 1 healer.


Karena kalah jumlah musuh pun dengan mudah dikalahkan tanpa Alan harus turun tangan. Toni dengan mudahnya merebut bendera musuh.


Selesai bertarung squat Alan berkumpul kembali. Mereka saling menambahkan teman satu sama lain, terutama Alan. Semua squat berusaha untuk menjadi teman Alan setelah mengetahui kemampuan Alan. Toni pun hanya cekikikan sendiri melihat seisi squat berebut konfirmasi pertemanan dengan Alan.

__ADS_1


###


"Ton... Apa yang akan kamu lakukan dengan rekaman ini?" Tanya Alan pada Toni.


Toni yang sedang sibuk mengedit video hasil rekaman Alan dengan laptopnya menoleh ke Alan. "Masih belum jadi Alan. Besok kita perlu ketempat Pak Andre. Ada hal lain yang perlu kita rekam."


Keesokan harinya Toni dan Alan pergi ke dojo tempat Pak Andre. Alan terkejut bukan main setelah masuk ke tempat latihan. Kemarin saat pergi meninggalkan dojo ini tempat latihan masih kosong. Hanya berselang semalam tempat latihan sudah penuh dengan alat alat untuk latihan.


Andre yang melihat alan dan toni datang langsung menyambut mereka. "Kalian berdua sudah datang. Siap untuk latihan hari ini?" Kata Andre


"Maaf Pak Andre. Tapi hari ini kami sedikit ada urusan untuk pemasaran kelas. Boleh kami pinjam dojo ini sehari penuh?" Kata Toni.


"Urusan pemasaran? Apa yang akan kalian lakukan?" Andre penasaran dengan Toni dan Alan.


"Nanti bapak juga tau. " Tata Toni sambil mengambil handphonenya lalu menelepon seseorang.


Selang 30 menitan rombongan 15an orang datang ke dojo tempat pak Andre. Mereka membawa kotak kotak hitam besar. Setelah isi dari kotak kotak itu dikeluarkan Alan, Pak Andre dan May terkejut bukan main. Lebih dari satu set perlengkapan syuting tertata rapi di halaman dojo.


"Tuan muda semua sudah siap." Kata salah satu pria.


Pria itu adalah pimpinan dari rombongan tersebut. Dia adalah sutradara yang pernah menyutradarai banyak pembuatan film.


"Bagus... Kalian bisa mulai. Bintangnya adalah dia." Sambil menunjuk Alan.


Sutradara itu pun mengangguk dan mendekati Alan.


"Tuan muda... Mohon bantuannya..." Kata sutradara tersebut. Alan yang merasa canggung dipanggil tuan muda hanya melongo.


"Tidak usah panggil tuan muda pak... Panggil saja saya Alan." kata Alan.


"Tapi tuan muda..."


"Tidak apa apa. Saya malah tidak enak sendiri dipanggil seperti itu." Tolak Alan.


"Baiklah..." Sutradara itu pun mengangguk dan memberi instruksi kepada Alan apa yang harus dia lakukan.


Selama syuting Alan diminta untuk melakukan semua adegan yang hampir sama dengan hasil rekaman Alan di Gun in Fire. Bedanya adalah sekarang semuanya di setting seperti Alan sedang latihan dan memperlihatkan dimana dia berlatih.


Alan yang merasa gugup di depan kamera tidak bisa menampilkan semua keahliannya. Alhasil adegan pun harus di ulang sampai beberapa kali.


Kegiatan syuting pun baru bisa selesai setelah sore hari. Hampir seharian Alan hanya melakukan hal hal yang sama. Sampai sampai alan hafal semua dengan gerakannya.


"Tuan muda... Pengambilan rekaman sudah selesai. Kami usahakan besok pagi hasil rekaman sudah siap." Kata sutradara itu kepada Toni.


"Bagus... Gabungkan juga dengan video dalam disk ini." Kata Toni sambil menyerahkan sekeping disc.


"Baik tuan muda saya mohon undur diri." Sutradara itu pergi bersama semua rombongannya.

__ADS_1


__ADS_2