
Matahari bahkan belum muncul dari tongkrongannya, namun Alan sudah bersiap dengan setelan baju training olahraga yang terlihat kedodoran. Tidak ada kesan sporty sama sekali yang terlihat dari penampilan Alan.
Hal itu wajar... Baju baju Alan semua adalah baju sebelum Alan masuk rumah sakit, baju yang begitu pas dengan tubuh atletis nan berotot Alan dulu. Bukan baju yang pas dengan tubuh kering kerontang milik Alan saat ini.
Alan mendapati Toni masih terbaring dengan helm VR menempel di kepalanya. Tanpa membangunkan sahabatnya tersebut, Alan keluar dari kamar asramanya untuk menuju ke White Eagle Dojo.
Dengan headset menempel di kepalanya, Alan memutar salah satu lagu kesukaannya.
I saw you there again
With your head hanging low
Seemed all the world was weighing you down
Like a heavy stone
Finding out that it's hard not to fall when you stumble
Here it goes again
Iringan lagu yang keluar dari headset Alan menjadi pengiring langkah lari kaki Alan. Langkah lari kaki yang begitu mantap untuk bisa mengembalikan kondisi tubuhnya seperti dulu lagi.
"Hah... Hah..." Nafas Alan terdengar memburu ketika dirinya sampai di bawah anak tangga yang menjulang tinggi hingga ke atas bukit. Alan membetulkan nafasnya sebentar untuk kembali melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga.
Anak tangga yang biasanya terasa biasa saja, kini terasa bagaikan sebuah tanjakan berduri bagi Alan. Satu tahun lebih tidak melatih tubuhnya, benar benar berefek pada staminanya saat ini.
"Hah... Hah..." paru paru Alan seakan ingin lepas dari dadanya bersama dengan iringan nafas beratnya ketika dirinya sampai di puncak bukit.
"Aku salut dengan niatmu..." Suara Andre dari depan dojo mengalihkan pandangan Alan yang tadinya tertunduk menatap tanah.
"Hah... Hah... Pagi Pak Andre... Lain kali... Buatlah eskalator di sini..." Sapa Alan pada pria paruh baya berambut sebahu tersebut.
"Hahaha.... Untuk apa eskalator? Bisa kita mulai?" Tanya Andre tanpa basa basi.
"Biarkan saya istirahat dulu sepuluh menit. Lama tidak berolahraga benar benar berefek pada stamina saya..." Pinta Alan pada instrukturnya tersebut.
__ADS_1
"Ok... Istirahatlah dulu... Lagipula kopi pagiku belum habis... Panggil aku jika kamu sudah siap..." Andre kembali masuk ke dalam Dojo, membiarkan Alan terbaring lemas di lantai teras Dojo.
"Hah... Apa benar aku harus seperti ini setiap hari?" Gumam Alan sembari berbaring. Rasanya tidak sanggup jika harus menjalani pelatihan seperti ini.
"Ah... Baru juga di mulai... Aku harus bisa..." Gumam Alan sekali lagi. Mengumpat pada diri sendiri yang seakan terlihat lemah.
"Yosh... Ayo kita mulai..." Alan bangkit dari tidurnya, dan memanggil Andre yang ada di dalam Dojo.
###
Meskipun matahari di New World sudah terbenam, Toni tidak memilih untuk log out. Dirinya masih harus disibukkan dengan laporan pertanggung jawaban mengenai apa yang terjadi di Kerajaan Demon God dan lenyapnya Kuil Cahaya yang ada di Kerajaan tersebut.
Light Guardian yang menjadi kaki tangan Kuil Cahaya bertanggung jawab atas keamanan Kuil Cahaya, dan Toni sebagai salah satu Kapten Light Guardian harus memberikan pertanggung jawaban atas apa yang terjadi pada Kuil Cahaya di Kerajaan Demon God.
Mungkin... Kuil Cahaya tidak akan terlalu menuntut kepada Light Guardian jika hanya bangunan mereka saja yang hancur. Tapi yang menjadi masalah adalah, ikut hilangnya Tara beserta 1600 Angel yang ada di sana. Kuil Cahaya perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi di tempat tersebut. Suatu hal yang mustahil jika dari 1600 Angel yang ada di sana, tidak ada satupun yang bisa pergi menyelamatkan diri sendiri.
"Sudah saya katakan... Mereka memasang Prison Dimension di area pertarungan." Toni sedikit menaikkan intonasinya pada perkataannya barusan. Dirinya sudah berulang kali menjelaskan kepada ketujuh tetua Light Guardian mengenai hal yang terjadi, namun mereka seakan tidak mempercayai perkataannya.
"Jika memang mereka memasang Prison Dimension, kenapa kamu bisa kabur dari tempat itu?" Tanya salah satu tetua Light Guardian yang berambut serba putih, jenggot putihnya yang panjang dirinya elus elus seakan sedang mengelus barang kesayangannya.
"Maafkan kelancangan saya Tuan Tuan... Tapi apa yang terjadi di sana sebenarnya murni kesalahan saya. Saya terlalu menganggap remeh kekuatan Bangsa Demon yang menyerang Kuil Cahaya." Poska yang berdiri di samping Toni menyela untuk membela Toni.
Toni langsung menatap ke arah Poska, berterima kasih kepada Commandernya tersebut yang telah membela dirinya. Menyelamatkan dirinya dari mencari cari alasan yang jelas dan masuk akal.
"Kekuatan Bangsa Demon bukanlah suatu hal yang bisa diremehkan. Kejadian ini memberikan pelajaran pada kita semua, jika Bangsa Demon telah kembali ke Dunia ini!" Salah satu Tetua yang duduk di paling tengah memberikan arahan. Dari perkataannya saja bisa terlihat jika sosok tetua itu adalah yang paling bijak dari semua tetua yang ada.
"Tetua Rotach..." Salah satu Tetua yang duduk paling ujung menyela, melihat Tetua Rotach mulai melunak dan terlihay tidak akan memberi hukuman pada Toni dan Poska.
"Aku tahu Tetua Pavlich... Tapi kita juga tidak bisa mengulang apa yang telah terjadi. Kita hanya bisa menyalahkan diri kita yang kurang persiapan."
"Tapi Tetua..." Sanggah Tetua Pavlich sekali lagi. Bagi dirinya ini adalah kesempatan untuk dirinya bisa melepas Poska dari jabatan Commander dan menggantikannya dengan kandidat pilihannya.
"Cukup..." Bentak Tetua Rotach, tidak ingin masalah ini malah menjadikan pepecahan internal di dalam Light Guardian.
"Toni... Kamu dan divisi yang kamu pimpin dilarang untuk ikut terjun dalam misi apapun selama satu bulan ke depan. Berlatih dan tingkatkan kemampuan kalian." Tetua Rotach menjeda kalimatnya, dan mengalihkan pandangannya pada Poska yang ada di samping Toni.
__ADS_1
"Sedangkan kamu Poska... Aku ingin kamu bertanggung jawab sepenuhnya atas kejadian ini... Perbaiki! Aku tidak mau Kuil Cahaya terus menuntut pertanggung jawaban pada kita."
"Keputusanku sudah final... Jika ada yang keberatan... Aku akan dengan senang hati mendengarkan keberatan kalian..." Sosok Tetua Rotach yang tadinya duduk di kursi paling tengah langsung menghilang begitu saja. Seakan akan Tetua Rotach memang tidak pernah ada disana.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Tetua Rotach, tidak ada satupun dari keenam Tetua yang menambahkan. Tetua Rotach adalah pimpinan dari para Tetua Light Guardian, sebagai pimpinan Tetua Rotach pasti akan memutuskan hal terbaik.
"Cuih... Dasar tua bangka sok kuasa..." Umpat Pavlich pelan sembari berdiri dan meninggalkan kursinya.
Keenam Tetua pun satu persatu meninggalkan ruangan tempat Toni dan Poska di sidang. Menyisakan kedua sosok yang wajahnya terlihat sedikit lega saat ini.
"Maafkan saya Commander... Anda jadi ikut terbawa dalam masalah ini..."
"Jangan dipikirkan... Ini memang salahku... Seharusnya aku tidak meremehkan kekuatan para Bangsa Demon." Poska mengajak Toni untuk keluar dari ruangan tersebut. Dirinya perlu bertanya beberapa informasi yang bisa membantunya mengurus masalah Bangsa Demon.
###
"Apa aku tidak salah dengar?" Poska mengorek telinganya, memeriksa apakah telinganya sedang tersumbat sesuatu. Sehingga apa yang Toni katakan langsung berubah ketika memasuki telinganya.
"Tidak Commander... Mereka hanya berempat. Saya yakin sekali dengan hal itu..." Jawab Toni sekali lagi mengulangi perkataannya tadi.
"Lalu bagaimana bisa empat orang Demon menghabisi ribuan Angel dan anggota divisimu?" Poska menangkupkan tangannya pada dagunya. Berpikir tentang semua kemungkinan yang terjadi.
"Mengenai hal itu saya kurang bisa mengerti. Saya kehilangan kesadaran di tengah pertarungan dengan pimpinan mereka. Dan ketika saya bangun, saya sudah berada di Istana Kerajaan Demon God bersama Vizgraf." Toni mencoba menutup nutupi apa yang telah terjadi dengan mengatakan apa saja yang dirinya lalui, bukan apa saja yang anggota divisinya lalui.
"Ah... Sungguh membingungkan... Lalu seperti apa kekuatan pimpinan mereka? Apa kamu bisa memberikan gambaran tentang kekuatannya?"
"Percayalah Commander... Saya pun tidak ingin lagi melawan dia. Dia membunuh Angel Prioda dengan mudahnya." Toni tidak berbohong dalam hal ini. Di samping dirinya tidak ingin melawan sahabatnya sendiri, dirinya juga mengakui jika kekuatan Alan benar benar di luar nalar para player. Mustahil bagi Poska untuk bisa menang melawan Alan.
"Membunuh Angel Prioda dengan mudah? Aku jadi semakin penasaran..." Bukannya merasa takut, Poska justru merasa sedikit tertantang. Sudah begitu lama dirinya ingin merasakan pertarungan yang menegangkan. Dirinya ingin tahu seberapa jauh batas kekuatan yang dimilikinya.
"Commander... Jangan..." Toni mencoba mencegah apa yang hendak Poska lakukan.
"Ssstt..." Poska menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya. Menghentikan semua kata kata yang hendak Toni katakan.
"Aku tahu apa yang aku lakukan. Jadi tenanglah..." Poska meninggalkan Toni begitu saja. Dirinya perlu bersiap siap untuk melakukan semua rencananya.
__ADS_1
"Hah... Ini gawat..." Toni bingung sendiri menghadapi apa yang terjadi. Di satu sisi dirinya ingin membantu Alan untuk membangun Kerajaan Bangsa Demon. Tapi di sisi lain dirinya juga tidak ingin Light Guardian luluh lantah karena menyerang Kerajaan Bangsa Demon.