
Lahir dan dibesarkan tanpa adanya sosok seorang ibu. Membuat kasih sayang yang harus diterimanya tidaklah lengkap. Pola pengasuhan tanpa adanya seorang ibu pun akan sangat jauh berbeda jika harus dibandingkan dengan seseorang yang dibesarkan dengan pendampingan seorang ibu.
Hal itulah yang terjadi pada seorang Selene... Ibunya meninggal ketika dirinya dilahirkan. Selene tumbuh besar menjadi seorang Demon yang kuat hanya berbekal didikan dan asuhan dari ayahnya. Seorang ayah mungkin memang kepala keluarga, tapi seorang ayah belum tentu bisa menggantikan peran ibu sebagai sosok pembentuk karakter seseorang.
Menjadikan Selene cenderung lebih berkarakter sebagai seorang laki laki yang mengikuti ayahnya sebagai panutan daripada seorang ibu yang seharusnya dirinya ditakdirkan. Hal dasar itulah yang menjadi modal Marry dalam menjalankan rencananya.
Hanya kalangan kalangan tertentu saja yang mengetahui akan satu rahasia yang selama ini Selene simpan. Rahasia yang hanya diketahui oleh para pelayan Selene yang setiap hari menemani dan mempersiapkan segala kebutuhannya. Bahkan ayahnya sekalipun tidak mengetahui rahasia Selene selama ini.
Dan disinilah satu bagian dari rahasia tersebut sedang terjadi, di dalam tenda terbesar diantara tenda tenda lainnya yang dibangun untuk sementara waktu. Satu tenda berwarna ungu dengan sedikit corak merah di bagian tepinya. Di bagian dalam tenda tersebut terdapat sebuah meja berukuran 2x2 meter lengkap dengan empat kursi di setiap sisinya, dan ada satu ranjang berukuran besar yang dapat digunakan untuk beristirahat oleh sang pemilik tenda.
Selene terlelap di atas ranjang tersebut. Keringat keringat di tubuhnya masih belum juga kering, menandakan bekas kenikmatan yang baru saja dirinya rasakan. Tubuh polosnya yang tanpa busana bisa sedikit terlihat karena hanya tertutup secarik selimut.
Dua Demon wanita tidak luput ikut tertidur di samping Selene. Hampir sama dengan Selene, Keringat masih membasahi tubuh kedua Demon wanita yang juga polos. Wajah ketenangan dan kepuasan tidak luput dari kedua Demon wanita di samping Selene, ikut menyertai tidur tenang setelah petualangan di atas ranjang.
Senyap dan tenang... Begitulah suasana di dalam tenda tersebut. Sampai sebuah lingkaran dimensi tiba tiba muncul di dekat meja kotak di tengah tenda. Lingkaran tersebut tidak menimbulkan suara apapun, sehingga tidak ada satu pun penjaga yang menjaga keamanan tenda mengetahui akan kemunculan sebuah lingkaran dimensi di dalam tenda.
Sosok Marry perlahan keluar dari dalam lingkaran dimensi tersebut. Senyum kepuasan tergambar di ujung bibir Marry, melihat tiga orang Demon wanita sedang tidur berpelukan di atas ranjang berukuran king size. Perlahan Marry mendekati ketiga Demon tersebut. Tidak ingin menimbulkan masalah di tengah tengah eksekusi rencananya.
"Kalau dilihat lihat... Kamu cantik juga..." Gumam Marry di dalam hati, melihat wajah Selene yang kini sedang tidur diapit dua Demon. Marry tidak menyangka, dibalik sifat keras dan ketegasan yang selalu Selene tunjukkan, terdapat bentuk tubuh Demon wanita yang bisa dikatakan hampir sempurna. Tapi tentu saja Marry tidak akan menganggap Selene lebih sempurna daripada dirinya. Bagi dirinya... Hanya dirinya seorang yang pantas menyandang kata sempurna untuk kategori kecantikan.
Dibelainya rambut hijau Selene yang menutupi kepalanya secara perlahan. Membelainya seakan dirinya sedang membelai seekor kucing peliharaan yang penurut. "Bagunlah cintaku..." Bisik Marry setelah dirinya membelai rambut kepala Selene beberapa kali.
Tubuh Selene pun bergerak dengan sendirinya, kedua bola matanya masih tetap terpejam. Seakan akan tubuh Selene adalah seonggok boneka yang sedang dimainkan oleh anak kecil.
"Buka matamu sayang... Aku datang kepadamu..." Sekali lagi bisikan Marry keluar dari bibir tipisnya. Kali ini Marry membisikkan tepat di samping telinganya, yang tentunya pasti akan membuat siapapun bergidik geli jika menerima perlakuan yang Marry berikan.
Dengan perlahan Selene membuka matanya. Tatapan matanya seakan kosong, tanda jiwanya masih belum pulih sepenuhnya ke dalam raganya. Selene memandang datar Marry yang berdiri di dekatnya.
"Kenapa tidak tersenyum sayang? Aku sudah datang..."
__ADS_1
Sebuah senyuman kecil langsung tergambar di bibir Selene. Menuruti apa yang Marry inginkan.
"Bagus sayang... Kamu bahagia melihatku?"
Pertanyaan Marry langsung mendapat jawaban anggukan kepala dari Selene. Mengiyakan maksud dari pertanyaan Marry.
"Aku juga bahagia sayang... Hari ini hari kita... Tidak ada yang lainnya..." Marry kembali membisikkan rayuan rayuan cintanya. Mencoba membuat Selene untuk dapat tunduk sepenuhnya ke dalam lingkaran cintanya.
Marry harus sangat berhati hati dalam urusan menundukkan Selene. Marry tahu pasti kekuatan special yang dimiliki oleh Selene. The Command bukanlah sebuah kekuatan special biasa. Pemilik kekuatan dapat memberikan perintah tak terbantahkan pada siapapun yang menatap matanya.
Itulah sebabnya Marry harus memilih waktu yang tepat untuk memasukkan Selene dalam jeratan cinta Marry. Dan waktu Selene tertidur adalah waktu yang sangat tepat. Marry bisa menanamkan rasa cinta di dalam alam bawah sadar Selene secara sempurna. Bahkan jika rencana ini berhasil, rasa cinta Selene kepada Marry akan jauh lebih besar daripada jika Marry menggunakannya di waktu Selene sadar.
Marry mendekatkan bibirnya ke bibir Selene. Membuat hangatnya nafas Marry dapat dirasakan menyentuh kulit wajah Selene. Selene pun bereaksi dengan sedikit membuka mulutnya. Seakan meminta agar bibir Marry segera mendarat di bibir empuk Selene.
"Jangan terburu buru sayang... Waktu kita masih banyak..." Marry mengacungkan jarinya ke bibir Selene. Mengoleskannya perlahan, menelusuri bentuk bibir Selene yang indah.
Wajah Selene nampak kecewa mendengar perkataan Marry. Namun selayaknya kucing peliharaan yang sedang meminta jatah makan, Selene tetao terdiam. Mencoba bersikap manis agar majikannya segera memberikan apa yang dirinya inginkan.
"Apa kamu akan selalu berada di sisiku?" Marry mengelus pipi Selene, yang tentunya langsung diikuti dengan gerakan anggukan kepala dari Selene. Mengiyakan segala perkataan Marry kepadanya.
"Bagus sayang... Kamu selalu menjadi milikku... Dan aku milikmu..." Marry mendaratkan bibirnya ke bibir Selene.. menuntaskan satu langkah rencana yang dirinya susun selama ini.
###
"Selamat... Kalian telah resmi menjadi anggota Light Guardian." Suara Poska begitu tegas. Memberikan gambaran kebanggaan akan apa yang dirinya ucapkan. Tidak lama setelah Poska berucap, Poska menyematkan sebuah pin berbentuk sayap enam pasang berwarna emas di dada Toni dan Red Ascend yang berdiri tegak di halaman latihan.
"Terima kasih Commander. Suatu kebanggaan bisa menjadi anggota Light Guardian." Jawab Toni tidak kalah bangga.
Apa yang Toni lakukan bukan tanpa alasan, dirinya dan Red Ascend harus menjalani ujian kelayakan menjadi anggota Light Guardian yang sulit. Tadinya Toni berpikir jika ujiannya akan mudah, namun rupa rupanya semuanya bertentangan dengan pemikiran Toni.
__ADS_1
Toni dan Red Ascend harus menjalani berbagai ujian yang menguji kemampuan bertarungnya. Ujian yang menguji kekuatan, kecepatan, dan ketepatan pengambilan keputusan. Dan yang paling sulit adalah bagian terakhir dari ujian tersebut.
Toni dan Red Ascend diminta menutup sebuah dungeon berskala kecil berdua, tanpa bantuan siapapun. Untung saja Toni dan Red Ascend bisa menyelesaikannya, walaupun juga terhitung Toni dan Red Ascend beruntung pada waktu itu.
Setelah menyematkan pin pada masing masing anggota baru, Poska mengajak Toni dan Red Ascend untuk memasuki sebuah bangunan. Poska akan menjelaskan tentang dasar dasar mengenai Light Guardian beserta tugas tugas utamanya.
"Aku berharap besar pada kalian berdua... Kali ini aku akan menjelaskan tentang tujuan utama Light Guardian."
Poska menatap Toni dan Red Ascend dengan serius. Menekankan jika apa yang akan dirinya katakan bukanlah suatu permainan.
"Tugas utama kita adalah menutup semua dungeon yang ada. Kalian tahu kenapa?"
Toni dan Red Ascend serempak menggelengkan kepala mereka berdua. Memilih untuk diam dan mendengarkan penjelasan selanjutnya dari Poska.
"Dungeon dungeon itu sebenarnya adalah suatu ruang dimensi penghubung antara dunia kita dengan dunia para Demon, atau lebih dikenal sebagai dunia Abyss."
"Abyss?" Kata terakhir dari Poska langsung menarik perhatian Toni. Itu karena dunia Abyss merupakan dunia yang membuat Alan terjebak dan tidak bisa keluar dari New World.
"Sepertinya kamu sudah tahu tentang dunia Abyss..." Poska memandang heran ke arah Toni. Melihat reaksi terkejut dari Toni setelah mendengar kata Abyss disebut.
"Tidak Commander... Saya hanya tahu jika dunia Abyss adalah dunia para Demon." Toni mencoba menutupi kebenaran jika tujuan utama dirinya selama ini adalah pergi ke dunia Abyss untuk mencari Alan. Sebuah tujuan yang sangat bertentangan dengan tujuan utama Light Guardian, yang mencoba menutup semua akses keluar dari Dunia Abyss melalui menutup semua Dungeon yang ada.
"Hem..." Poska menganggukan kepalanya. "Dungeon dungeon yang ada itu akan berkembang seiring berjalannya waktu. Kita harus benar benar menutup semua dungeon yang ada sebelum pintu keluar dari Dunia Abyss benar benar telah terbuka seutuhnya."
"Maksud Anda? Pintu keluar dari Dunia Abyss belum terbuka?" Toni menangkap suatu pesan tersendiri dari perkataan Poska. Jika benar benar pintu keluar dari Dunia Abyss belum terbuka. Lalu sampai kapan Alan harus berada di Dunia Abyss? Sampai kapan tubuh Alan harus terus mendekam di atas ranjang rumah sakit?
"Benar... Tapi mungkin pintu keluar dari dunia Abyss tetap akan terbuka dengan sendirinya nantinya. Tepatnya setelah segel penutup dimensi telah melemah. Aku yakin para Demon akan menggunakan kesempatan itu untuk bisa keluar dari dunia Abyss. Oleh sebab itu kita harus menutup semua Dungeon yang ada. Bangsa Demon tidak akan bisa keluar dari Dunia Abyss selama tidak ada Dungeon yang tersisa."
"Kapan itu Commander?" Toni lebih tertarik kepada kapan segel penutup dimensi itu akan bisa dibuka. Paling tidak dirinya memiliki gambaran berapa lama lagi Alan harus terus terbaring di atas ranjang rumah sakit.
__ADS_1
"Seribu tahun setelah perang besar antara bangsa Demon dengan para Dewa. Kalau tidak salah satu setengah tahun dari sekarang."
Perkataan Poska membuat seluruh tubuh Toni terasa lemas. Satu setengah tahun? Siapa yang mau terbaring di atas ranjang rumah sakit selama satu setengah tahun? Bayangan akan menyalahkan dirinya sendiri pun semakin membesar di dalam pikiran Toni.