
Bukan perkara sulit bagi Behemout dan Zepar untuk meninggalkan Mischurine, tidak seperti ketika mereka memasukinya yang harus berjalan kaki. Ketika meninggalkan Mischurine mereka berdua cukup menaiki Naga Yin yang kini telah menjadi budak monster Behemout.
"Bagaimana bisa kamu membiarkan Naga putih itu kabur?" Pandangan Behemout tidak beralih dari bentangan cakrawala yang menghiasi pemandangan dari atas punggung Naga Yin yang sedang terbang.
Namun tanpa memperlihatkan tatapan matanya pun Zepar bisa tahu jika Behemout begitu kesal kepada dirinya. Terbukti dengan lilitan Hell Chain yang kini tidak hanya melilit di kaki Zepar, melainkan telah menyebar sampai ke seluruh tubuh Zepar. Membuat Zepar hanya bisa pasrah diperlakukan layaknya hewan hasil buruan, tergeletak, terikat, tidak bisa melawan di atas punggung Naga Yin.
"Hah.... Sudahlah... Paling tidak aku sudah mendapatkan benda ini." Walaupun marah dan kecewa karena ulah Zepar, Behemout bisa sedikit mengampuni Zepar saat ini. Semua karena satu jam pasir yang kini tergenggam erat di tangan kirinya. Menemani Hell Schyte yang dirinya genggam di tangan kanan.
Jam pasir tersebut telah terisi bagian bawahnya, butiran butiran pasir terus turun secara perlahan menuju bagian yang hampir penuh. Namun anehnya... Walaupun jam pasir tersebut di balik, pasir yang mengisi bagian dalam jam tersebut tidak berbalik arah. Pasir pasir tersebut terus menuju ke bagian yang sudah terisi hampir penuh, seakan akan pasir di dalam jam tersebut menolak adanya gravitasi yang menarik semua benda untuk jatuh ke bawah.
"Marry pasti akan senang dengan benda ini... Dan cintanya pasti akan menjadi milikku seutuhnya." Behemout tersenyum puas, mendapati benda yang bisa digunakan untuk membuka pintu keluar dari Dunia Abyss.
Walaupun Behemout belum mengetahui bagaimana cara kerja jam tersebut untuk membuka pintu keluar Dunia Abyss. Tapi paling tidak dirinya sudah mendapatkan kuncinya. Dirinya yakin jika pasir yang ada di dalam jam pasir tersebut telah berpindah secara seutuhnya, pintu keluar dari Dunia Abyss akan terbuka dengan sendirinya. Ya... Seperti itulah yang Behemout yakini. Keyakinan yang tidak berdasar sama sekali.
###
Marry tengah berdiri di salah satu balkoni bangunan tertinggi yang ada di Kota Morelia, Kota yang menjadi wilayah kekuasaannya. Kedua bola Mata lentiknya menunjukkan ketajaman seperti biasanya, memandang ke arah seluruh penjuru kota yang kini dipenuhi oleh para Demon yang hampir semua berada di bawah kendalinya.
Para Demon yang berbaris rapi di sekeliling bangunan tertinggi tersebut memiliki satu kesamaan. Mereka memuja akan kecantikan Marry, rela melakukan apapun demi mendapatkan cinta dari Marry. Termasuk mengorbankan dirinya sendiri.
Bibir tipisnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Kepuasan diri jelas tergambar di balik senyuman Marry melihat para Demon yang ada di sekitar Istananya.
"Dengan ini aku bisa menjadi Ratu para Demon yang sesungguhnya." Marry tentu sangat yakin jika rencananya akan berjalan dengan lancar. Tidak ada lagi sosok yang bisa menghalangi dirinya untuk mentitahkan dirinya sendiri menjadi Ratu para Demon.
Hilangnya Asmodias, tunduknya Selene pada kekuatan specialnya. Semuanya berjalan seperti yang Marry inginkan.
"Tinggal satu langkah lagi..." Marry membayangkan sosok Behemout yang mungkin bisa mengganggu rencananya. Jika dirinya berhasil menyingkirkan Behemout, maka tidak ada lagi sosok Demon di Dunia Abyss ini yang bisa menggagalkan rencana Marry.
Walaupun masih ada tiga Jenderal Besar Demon lainnya, yaitu Vlad, Ereboz dan Azazel. Tapi Marry tidak terlalu memusingkan ketiganya. Ketiga Jenderal Besar Demin tersebut boleh saja kuat. Tapi mereka seakan hidup dalam pengasingan di Dunia Abyss ini. Mereka sama sekali tidak peduli dengan masalah, siapa yang akan berkuasa di Dunia Abyss!
__ADS_1
"Ratu..." Suara Varta mengejutkan Marry yang masih menikmati lantunan pujaan dari para Demon yang ada di sekitar Istananya.
"Ada apa Varta?" Marry tidak perlu melihat siapa yang datang. Dirinya hafal betul dengan suara yang sering tiba tiba muncul tersebut.
"Behemout dan Zepar telah berhasil mengambil segel pintu keluar Dunia Abyss. Dan mereka sedang menuju kesini."
"Ohh.... Baguslah... Kita tidak perlu mendatangi mereka. Segera siapkan semuanya. Kita tidak boleh menyambut tamu special dengan tangan kosong bukan?" Marry memberikan senyum liciknya sambil menoleh ke arah bayangan hitam yang merupakan pecahan jiwa Varta.
"Segera Ratu..." Sosok bayangan hitam langsung menghilang begitu saja. Segera melakukan apa yang Marry inginkan sebelum mendengar perintah dari Marry untuk yang kedua kalinya.
Dengan hilangnya Varta, Marry pun ikut meninggalkan balkon tempatnya berdiri. Dirinya harus berdandan semaksimal mungkin dan tentunya harus mempersiapkan penyambutan kedatangan Behemout dan Zepar. Marry tentu tidak ingin membuat kecewa kedua tamunya yang telah jauh jauh membawakan segel pintu keluar dari Dunia Abyss dengan hanya menampilkan kecantikan yang biasa saja.
###
Naga Yin mendarat tepat di halaman Istana Marry. Kemunculan Naga hitam yang besar tentu mengundang perhatian seisi kota. Membuat para Demon yang berada di sekitar Istana Marry bertanya tanya, siapa yang tengah berkunjung ke dalam Istana Marry.
Sosok Behemout pun turun dari pundak Naga. Dengan gagahnya dirinya berjalan menuju ke pintu masuk menuju ke ruangan dalam Istana.
"Bagus... Kamu rawat dia... Jangan kamu bunuh! Dia masih bisa berguna nantinya." Behemout menarik Hell Chain yang mengikat Zepar. Membuat tubuh Zepar harus terjatuh dari atas punggung Naga Yin.
"Ini..." Varta nampak terkejut, melihat Behemout memperlakukan Zepar selayaknya binatang hasil buruan. Tidak berani membantah, Varta pun menuruti perintah Behemout untuk segera merawat Zepar yang masih terikat.
Behemout tidak terlalu memperdulikan Varta. Dirinya sudah dirasuki kerinduan yang mendalam untuk segera bertemu dengan Marry, Demon tercantik yang menjadi pujaan hatinya.
Behemout menelusuri koridor panjang yang sebagian besar dihiasi dengan warna ungu di kanan dan kirinya. Walaupun tidak terkesan menyeramkan, namun tetap saja... Koridor koridor tersebut memberikan kesan yang menekan bagi orang biasa yang melewatinya.
"Sayang... Aku datang..." Behemout berteriak kencang begitu dirinya membuka pintu berdaun kembar yang menjadi pembatas antara ruangan tempat Marry berada dengan koridor yang tadi dirinya lalui.
Namun apa yang Behemout dapati tidaklah seperti yang dirinya bayangkan. Bukanlah senyuman maupun pelukan dari Marry yang menyambutnya. Melainkan sebuah tatapan menusuk dari seorang Demon wanita yang berdiri tepat di depan pintu masuk.
__ADS_1
"Kau..." Behemout menggigit giginya sendiri. Mengetahui siapa sosok Demon wanita yang ada di hadapannya. Namun apa yang ingin Behemout lakukan seakan tertahan. Seluruh tubuhnya terasa berat, seakan dirinya sedang dihimpit batu besar dari segala arah.
"Apa yang?" Behemout mencoba melawan sekuat tenaga. Namun dirinya tidak bisa berbuat apa apa.
"Dengan titahku... Aku memintamu untuk bersujud di hadapanku. Kamu akan setia kepadaku... Menjadi pelayanku..." Suara Demon wanita tersebut terdengar begitu lantang. Setiap kata yang keluar dari mulut Demon wanita tersebut menusuk ke dalam jiwa Behemout. Membuat Behemout tidak bisa menolak apa yang dikehendaki Demon wanita tersebut.
Dengan perlahan Behemout bersujud di hadapan wanita tersebut. Memberi hormat seakan dirinya sedang berada di hadapan Ratu para Demon.
"Saya Behemout... Akan selalu setia menjadi pelayan Anda... Nona Selene..." Suara Behemout terdengar jelas. Menandakan Behemout telah tunduk sepenuhnya di dalam pengaruh kekuatan The Command yang dimiliki oleh Selene.
Selene mengalihkan pandangannya pada Marry yang tengah duduk manis di singgasananya. Memberi tanda apakah ada hal lainnya yang diinginkan oleh pujaan hatinya tersebut.
"Bagus sayang... Kekuatanmu memang sangat hebat..." Marry berdiri dan melangkah mendekati Selene, memberikan sebuah kecupan bibir di pipi kanan Selene.
"Apapun untukmu..." Selene hanya memasang wajah datar. Memang sangat jarang menemui sesuatu hal yang bisa memaksa Selene untuk menampilkan ekspresi.
Marry mendekati tubuh Behemout yang masih bersujud. Tidak dirinya sangka, sosok Jenderal besar para Demon yang terkenal perkasa bisa tunduk di hadapan Selene dengan mudahnya. Kekaguman Marry akan kekuatan special yang Selene miliki pun semakin membesar, tidak salah jika Asmodias menjagokan Selene sebagai penerusnya.
Behemout bisa saja menang jika bertarung dengan Selene secara adil. Tapi tentu saja... Serangan penerapan The Command yang tiba tiba, memaksa Behemout untuk tunduk pada perintah Selene.
"Bisa kamu singkirkan dia? Aku tidak ingin lagi melihatnya..." Marry memasang wajah manjanya kepada Selene. Meminta kepada Selene untuk melenyapkan Behemout sesegera mungkin.
"Sudah aku bilang... Apapun yang kamu mau..." Selene membelai pipi kanan Marry yang begitu halus dengan tangan kanannya. Menandakan tidak bisa menolak permintaan dari Marry.
"Tinggalkan segel itu disini. Dan bunuh dirimu sendiri! Aku sudah tidak ingin melihatmu lagi!"
"Laksanakan Nona..." Sosok Behemout yang begitu tinggi dan perkasa langsung berjalan mundur secara perlahan, tidak meninggalkan kesan bersujud selama dirinya berjalan. Dan dengan ditutupnya pintu ruangan, sosok Behemout tidak lagi akan terlihat oleh Selene. Seperti yang Selene perintahkan kepada dirinya.
"Aku sudah menyingkirkan pengganggu waktu kita... Sekarang waktunya kita melanjutkan waktu kita." Selene memeluk pinggang ramping Marry. Memeluk dengan erat seakan tidak ingin kehilangan waktu bersama Marry sedetikpun. Marry pun membalas pelukan Selene dengan membelai wajah Selene.
__ADS_1
"Tentu sayang... Semua yang kamu mau..." Marry mendekatkan bibirnya ke arah bibir Selene. Memberikan sentuhan kepada Selene yang akan semakin memperkuat kekuatan specialnya yang sudah ditanamkan di dalam tubuh Selene, Absolute Love.