
Tubuh Marry perlahan berubah dengan masuknya kekuatan cinta yang pernah dirinya tanamkan pada para Demon yang ada di Dunia Abyss. Kuku indah Marry berubah memanjang, berubah dari yang tadinya indah menjadi nampak begitu tajam. Tanduknya memanjang dan melengkung, hingga menutupi kedua telinganya.
Sekilas mungkin perubahan Marry hampir sama dengan perubahan wujud Selene. Namun ada satu hal yang berbeda, di punggung Marry keluar sepasang sayap hitam dengan warna merah darah di bagian dalamnya. Berbeda dengan sayap para Dewa maupun Angel yang nampak indah, sayap yang dimiliki Marry mewujudkan satu kata, kengerian.
"Itu..." Rendemiz sampai tidak bisa berkata kata. Melihat perubahan wujud Marry yang tidak pernah dirinya bayangkan.
Sepasang sayap yang dimiliki oleh Marry menandakan Marry tidak lagi pada kelas High Demon. Melainkan telah naik satu kelas yang lebih tinggi, Super Demon. Sosok yang diyakini hanya ada menjadi mitos di Dunia Abyss.
"Kamu tahu tentang itu?" Alan yang tidak tahu mengenai kemampuan perubahan wujud seorang Demon pun bertanya pada Rendemiz.
"Itu... Itu Super Demon..." Rendemiz tergagap gagap dalam menjawab pertanyaan Alan. Kini dirinya benar benar telah menyesal mengikuti Alan selama ini. Tidak pernah dirinya bayangkan akan berhadapan dengan sosok seorang Super Demon.
"Super Demon?" Alan langsung mengerutkan dahi mendengar jawaban Rendemiz. Untuk memastikan dirinya penjelasan dari Joker.
"Yang benar saja?" Mata Alan seakan ingin keluar dari matanya. Melihat atribut yang dimiliki Marry hampir naik sepuluh kali lipat dari awal mulanya.
"Tuan..." Suara yang begitu Alan kenal mengembalikan pikiran Alan dari keterkejutannya.
"Flyin..." Alan tidak menduga Flyin akan muncul saat ini. Setahu dirinya Flyin sedang bersama Naga Yang untuk mengalihkan perhatian pasukan Marry dan Demon yang ada di Kota Morelia.
"Ini gawat Tuan... Kita harus segera pergi dari sini..." Ajak Flyin setelah melihat sosok Marry yang tengah berubah menjadi seorang Super Demon. Dirinya tidak menduga sama sekali jika Marry merupakan seorang Super Demon yang diyakini hanya menjadi mitos di Dunia Abyss.
"Itu yang akan kita lakukan..." Alan menghela nafas panjang, tanpa Flyin peringatkan pun dirinya juga sedang berencana untuk kabur. Dirinya tidak memiliki kekuatan lagi untuk bisa menghadapi Marry yang tengah berubah menjadi seorang Super Demon.
Namun nampaknya itu semua hanya menjadi rencana Alan. Marry yang sudah begitu marah kepada Alan tidak akan pernah membiarkan Alan pergi dari hadapannya, tidak sebelum Alan telah mati. Bahkan mati pun sepertinya belum cukup untuk membuat Marry mengampuni Alan.
"Awas Tuan..." Flyin yang bisa membaca isi pikiran Marry pun langsung memperingatkan Alan dan Rendemiz untuk menghindar.
Boom...
Sebuah serangan gelombang energi hitam langsung menghancurkan tempat Alan dan yang lainnya tadi berdiri. Tanah yang tadinya datar pun kini terdapat lubang yang cukup besar.
"Gila..." Sontak Alan terkagum dengan efek serangan yang begitu dahsyat. Jika saja Flyin tadi tidak berteriak untuk memperingatkan Alan dan yang lainnya. Mereka semua pasti sudah binasa seperti tanah tempat mereka tadi berpijak.
"Bagaimana kita akan menghadapinya Tuan?" Flyin nampak bingung. Dirinya tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi Marry yang nampak begitu kuat.
__ADS_1
"Satu satunya cara adalah membawanya ke The Forgotten World." Alan sudah tidak memiliki cara lain lagi untuk menghadapi Marry. Staminanya telah terkuras habis, dirinya tidak bisa lagi memaksakan diri untuk menggunakan Real Counter. Kecuali jika Alan mau untuk tidak sadarkan diri lagi di tengah game.
"Tapi..." Flyin mencoba menyanggah, dirinya tahu sesulit apa untuk membawa Marry ke dalam The Forgotten World. Alan harus berada cukup dekat dengan Marry yang begitu kuat. Tanpa adanya pengalihan yang cukup kuat, tentu rencana Alan tidak akan bisa berjalan.
"Aku tahu... Tapi hanya itu yang bisa kita lakukan."
"Jika saja Tuan Azazel tidak sedang menghadapi Selene..." Flyin menghela nafas panjang, mungkin jika ada Azazel di tempat ini dirinya bisa sedikit lebih tenang. Kerjasama Alan dan Azazel tentu bisa diandalkan untuk melawan Marry.
"Azazel? Dia sudah datang? Baguslah..." Alan merasa masih ada harapan dengan mendengar berita Azazel sudah datang dari Flyin. Dengan bantuan Azazel tentu dirinya bisa membuat celah untuk membuka gerbang The Forgotten World.
Marry nampak tidak membiarkan Alan selat begitu saja. Dari ketinggian, dirinya berulang kali menyerang Alan dengan gelombang energi yang dirinya lepaskan. Menghancurkan tanah dan bangunan yang ada di sekitar Istana Marry.
Alan pun memilih memisahkan diri dari Flyin dan Rendrmiz. Dirinya tahu jika sasaran utama Marry adalah dirinya, Alan tidak ingin sampai Flyin dan Rendemiz ikut terkena serangan dari Marry. Lagipula tujuan Alan adalah untuk mengulur waktu, dirinya hanya bisa berharap Azazel segera mengalahkan Selene dan datang kesini.
Flyin tahu jika tujuan Alan memisahkan diri dari dirinya dan Rendemiz adalah untuk mengulur waktu. Walaupun dirinya memiliki kesempatan untuk menyerang Marry, namun dirinya juga tidak cukup gegabah untuk langsung menyerang Marry. Dirinya sadar jika kekuatannya tidak terlalu kuat untuk sekedar memberikan luka ringan pada tubuh Marry.
"Apa?" Mata Flyin seakan ingin lepas dari matanya. Dirinya menyadari akan kedatangan seseorang yang nampak tidak asing.
"Tidak mungkin... Tuan Azazel..." Melihat sosok Selene berdiri di atas salah satu bangunan, membuat Flyin kehilangan akal sehatnya. Satu satunya kesempatan untuk mengalahkan Marry kini telah hilang. Malah masalah yang ada bertambah semakin banyak dengan kemunculan Selene.
###
"Kekuatan macam apa itu?" Selene tidak percaya sama sekali, dirinya belum pernah merasakan kekuatan yang begitu menekan seperti ini.
Namun dirinya juga sadar, di balik bangunan tersebut ada kakaknya yang sedang dalam bahaya. Dengan menguatkan keteguhan hati, Selene melompat ke atas bangunan tersebut, melihat apa yang sebenarnya telah terjadi di Istana Marry.
"Ini..." Selene menelan ludahnya dalam dalam, melihat sosok Marry yang tengah terbang dengan sepasang sayap di punggungnya. Dirinya seakan tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat.
Selene segera menelisik seluruh tempat sekitar Istana Marry. Mencari tahu keselamatan kakaknya, Rendemiz. Dirinya takut jika Rendemiz sudah terbunuh oleh sosok Marry yang sudah berubah menjadi Super Demon.
"Untunglah..." Melihat Rendemiz baik baik saja, Selene menghela nafas lega. Namun melihat kondisi sekitar Istana Marry yang hancur berantakan, dirinya tentu berpikir ulang untuk keselamatan Rendemiz nantinya.
Selene memperhatikan dengan seksama apa yang tengah Marry lakukan, terlihat jelas jika Marry sedang mengincar seseorang dengan terus menembakkan energi hitam. "Jadi dia yang dimaksud Azazel..."
Selene bisa menilai sekilas, siapa yang sedang Marry hadapi. Dirinya tentu segera turun dari atas bangunan untuk menjemput Rendemiz. Mencoba mengajak Rendemiz untuk pergi dari Istana Marry, sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
__ADS_1
"Kakak..."
Kemunculan Selene yang tiba tiba membuat Rendemiz terkejut, dirinya masih terfokus pada sosok Marry dan Alan, sehingga tidak menyadari kemunculan Selene.
"Selene..." Wajah Rendemiz menunjukkan keterkejutan, dirinya tidak menduga sama sekali akan bertemu dengan adiknya di tempat ini.
Belum lengkap Rendemiz mengembalikan pikirannya, Flyin telah muncul di dekatnya. Berusaha memisahkan Selene dari Rendemiz. Selene yang memiliki reflek cepat pun langsung menghindar ke belakang, membuat serangan cakar tajam Flyin hanya menebas udara.
"Apa yang kamu lakukan?" Rendemiz memperingatkan Flyin yang tiba tiba menyerang Selene.
"Hati hati... Dia di bawah pengaruh Marry." Flyin memberitahu Rendemiz tentang kondisi Selene saat ini.
"Pengaruh Marry?" Rendemiz seakan tidak percaya, dirinya tahu jika Marry memiliki kekuatan Absolute Love. Tapi dirinya tidak menduga jika Selene juga bisa ikut terpengaruh Absolute Love, padahal Selene adalah seorang Demon wanita.
"Kamu mungkin tidak akan percaya... Tapi itulah yang aku ketahui tadi..." Flyin mencoba menjelaskan pada Rendemiz.
"Tunggu..." Selene merasa Flyin bukanlah sebuah ancaman, melihat Flyin dan Rendemiz berbicara selayaknya teman.
"Jadi begitu..." Flyin menghela nafas lega, setelah membaca isi pikiran Selene. Mengetahui Selene sudah tidak lagi berada di bawah pengaruh Marry.
"Maafkan atas sikap terburu buru saya?" Flyin kini malah berbalik memberi hormat pada Selene.
"Ada apa?" Rendemiz nampak bingung dengan perubahan sikap Flyin, dua detik yang lalu dirinya melihat Flyin mencoba menyerang Selene, dua detik kemudian dirinya melihat Flyin meminta maaf.
"Tidak apa... Aku juga akan begitu jika menjadi kamu... Terima kasih sudah menjaga kakakku..." Selene menerima permintaan maaf dari Flyin. "Kita harus segera pergi dari sini..." Selene mengajak kedua Demon di hadapannya untuk segera meninggalkan Istana Marry.
"Tidak... Kita harus membantu dia!" Rendemiz segera menolak ajakan Selene, dirinya tidak ingin meninggalkan Alan seorang diri menghadapi Marry.
"Kita tidak akan bisa mengalahkannya..." Selene mencoba memaksa Rendemiz, begitu juga dengan Selene. Dirinya tentu tidak ingin meninggalkan kakaknya dalam bahaya.
"Tidak... Mungkin kita masih bisa..." Flyin sedikit tersenyum, menyadari datangnya bala bantuan lainnya.
"Maksudmu?" Selene tidak habis pikir, bagaimana mungkin mereka berempat bisa menghadapi sosok Super Demon. Kekuatan mereka berempat jauh di bawah Marry yang telah berubah menjadi Super Demon.
"Lihatlah ke atas!"
__ADS_1
Selene dan Rendemiz pun menuruti perkataan Flyin. Dua ekor Naga hitam dan putih nampak terbang mengitari Istana Marry. Dua ekor Naga yang memberikan harapan baru bagi mereka berempat.
"Apa rencanamu?" Selene merasa memiliki kesempatan dengan adanya Naga Yin dan Yang. Namun dirinya juga tidak mau menyerang Marry tanpa adanya rencana yang matang.