
Meskipun tidak ada yang menginginkan tapi waktu tetap berjalan, matahari tetap harus mengikuti porosnya untuk terbenam di bagian langit barat. Pertandingan 32 besar turnamen Abyss Colloseum pun akhirnya terselesaikan setelah matahari terbenam seutuhnya.
Pertandingan 16 besar akan dilaksanakan esok hari, mengingat para peserta juga memerlukan waktu untuk istirahat. Tapi bukan untuk itu tujuan utama sebenarnya kenapa babak 16 besar dilanjutkan esok hari. Ada satu kepentingan tersendiri yang Alan rencanakan mengenai hal itu.
Di samping Alan menginginkan adanya pemasukan tambahan koin emas untuk tiket masuk. Ada satu hal lain lagi yang mesti Alan pastikan untuk bisa membuat perkembangan Abyss Colloseum berjalan dengan lancar.
"Selamat datang Tuan Greatest, atau mesti saya panggil Tuan Philips?" Alan menyapa kedatangan seorang tamu di ruang VIP Abyss Colloseum.
"Tidak perlu sungkan Tuan AS... Saya dengan Anda memiliki posisi yang sama di sini..." Jawab Greatest dengan sungkan, setelah mendapat perlakuan yang begitu sopan dari Alan.
Tamu yang sedang Alan temui adalah orang yang tengah membeli Sagitarian Trident, sosok seorang Werebeast singa yang memakai jubah hijau. Tudung jubahnya yang kini telah dibuka, membuat Alan bisa melihat tiga pasang kumis beserta bulu halus yang tersemat di wajah Werebeast tersebut.
Greatest adalah salah satu anak dari seorang dari keluarga bangsawan bernama Foden. Keluarga Foden merupakan sebuah keluarga yang bergerak di bisnis properti di dunia nyata. Sejak New World mulai berjalan, Keluarga Foden mulai melirik pasar yang ada di New World. Dan mereka mempercayakan sepenuhnya bisnis tersebut kepada anak mereka, Philips Foden.
"Mari... Silahkan duduk... Atlantik sudah mengabari saya jika Anda akan datang kesini..." Alan mempersilahkan tamunya tersebut untuk duduk di sofa yang tersedia. Alan pun memberi tanda kepada Karolina untuk menyiapkan minuman penyambut kedatangan tamu specialnya.
"Baguslah kalau Atlantik sudah mengabari Anda... Kalau begitu kita langsung ke topik utama kita..." Werebeast tersebut duduk di sofa yang di arahkan Alan dan menyandarkan punggungnya di bantalan sofa.
"Tentu saja... Kebetulan saya juga tidak suka berbasa basi..." Canda Alan sembari ikut mendudukkan kursi di sofa. Posisi mereka kini saling berhadap hadapan, terpisahkan satu meja kotak yang busa digunakan untuk meletakkan minuman.
"Akan lebih mudah jika Anda langsung melihatnya..." Greatest mengatur sistemnya untuk mengirimkan sesuatu kepada Alan melalui pesan sistem. Sebuah pesan yang berisi proposal pengajuan kerja sama untuk Abyss Colloseum.
Tidak perlu waktu lama bagi Alan untuk bisa menerima proposal yang dikirim oleh Greatest. Dirinya langsung membaca semua isi proposal tersebut dengan teliti.
"Maaf Tuan Greatest, tapi saya rasa angka di proposal tersebut kurang memuaskan saya..." Setelah membaca dengan teliti, Alan merasa ada yang sedikit janggal dengan angka yang tertera di proposal tersebut.
Proposal yang dikirim Greatest adalah proposal pengajuan untuk membuka sebuah loket taruhan untuk setiap pertarungan yang ada di Abyss Colloseum. Dalam proposal tersebut tertera jika Abyss Colloseum akan mendapatkan 50% bagi hasil dari pendapatan yang diterima dari loket taruhan. Sementara 50% sisanya akan masuk ke dalam Keluarga Foden.
__ADS_1
"Hem... Saya tahu jika Anda akan berpikir seperti itu... Tapi Abyss Colloseum hanya akan menyediakan tempat, dan kami akan menyediakan modal sepenuhnya untuk mendirikan loket taruhan tersebut. Tentu modal untuk mendirikan loket taruhan tidaklah kecil Tuan AS..."
"Saya tahu Tuan Greatest... Tapi saya tidak ingin apapun yang ada di Abyss Colloseum jatuh ke tangan pihak lain. Saya ingin semua yang ada di Abyss Colloseum berada di bawah kendali kami semua..." Alan tidak mencoba menyanggah pendapat Greatest. Dirinya tahu perlu modal yang fantastis untuk bisa mendirikan sebuah bisnis lahan judi.
"Hem... Baiklah... Berapa yang Anda minta?" Greatest mulai mengerti alasan Alan. Pembagian 50 : 50 yang tertera di proposal tersebut memang membuat Keluarga Foden memiliki kuasa yang sama dengan Abyss Colloseum.
"Saya tidak minta terlalu banyak... Cukup turunkan 5% dari jumlah yang Keluarga Foden minta." Alan tersenyum dengan ramah, menganggap apa yang dirinya katakan adalah suatu hal yang wajar.
"Hah..." Greatest menghela nafas panjang. Angka 5% mungkin terlihat sedikit, tapi bayangkan jika bisnis judi ini sudah berkembang, dan penghasilan dari loket taruhan sudah begitu besar. Angka 5% tersebut tentu akan menjadi sebuah angka yang cukup besar untuk tambahan penghasilan.
"Apa Anda keberatan Tuan Greatest?" Alan kembali bertanya kepada Werebeast di hadapannya.
"Jika Anda keberatan... Saya tidak akan mempermasalahkannya... Masih banyak perusahaan yang akan datang kepada kami nantinya." Lanjut Alan sembari menyandarkan pundaknya ke sandaran sofa, dirinya merasa sudah menang dalam negosiasi saat ini.
Greatest pun tersenyum canggung, memang apa yang dikatakan oleh Elf di hadapannya benar semua. Jika saja kerja sama antara Keluarga Foden dan Abyss Colloseum tidak tercapai hari ini. Mungkin akan ada pihak lain yang mendapatkan kesempatan emas ini.
"Hah... Baiklah... Sepertinya saya juga tidak bisa menolaknya..." Greatest pun tersenyum kecut. Lebih baik dirinya sedikit mengurangi keuntungan setiap bulannya, daripada harus kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya.
Bersamaan dengan itu, Karolina datang membawakan dua gelas minuman berwarna ungu. Dua buah gelas minuman yang belum pernah Greatest rasakan. Karena minuman itu hanya ada di Dunia Abyss.
"Mari... Silahkan dicoba... Anda pasti belum pernah merasakannya..." Tawar Alan pada Greatest.
Greatest pun melakukan apa yang Alan pinta, dirinya mencicip sedikit minuman yang Karolina bawakan.
"Ini..." Greatest terkejut sendiri, dirinya merasakan sebuah sengatan listrik kecil ketika dirinya meminum cairan berwarna ungu tersebut. Rasa sedikit manis tapi lebih banyak cenderung ke asam dengan sedikit sengatan listrik kecil, kini menjadi candu untuk Greatest.
"Saya tahu Anda terkejut... Tapi saya harap Anda tidak meminum satu gelas secara langsung..."
__ADS_1
Peringatan Alan terlambat untuk Greatest lakukan. Sensasi rasa minuman di hadapannya begitu nikmat, membuat dirinya kini telah menghabiskan isi gelas yang dirinya pegang.
"Ahh..." Greatest tersenyum puas, merasakan sensasi sedikit sengatan listrik yang terus mengalir di tubuhnya. Namun efek minuman tersebut mulai dirinya rasakan. Pandangannya kini mulai berputar, seakan akan dirinya kini sedang terpengaruh alkohol di dunia nyata. Pandangan yang terus berputar, membuat kepala Greatest terasa pening. Perlahan lahan Greatest pun kehilangan kesadaran dengan sendirinya.
"Hah... Paling tidak sudah kukatakan tadi..." Alan tersenyum kecut, mendapati Greatest kini terduduk tanpa kesadaran akan tubuhnya. Kini dirinya harus memindahkan Greatest ke tempat yang lebih nyaman untuk berbaring.
"Apa dia baik baik saja Tuan?" Tanya Karolina yang masih bingung melihat Greatest tiba tiba kehilangan kesadaran. Karolina masih tidak tahu minuman apa yang dirinya berikan kepada Werebeast tersebut. Tadinya dirinya berpikir jika minuman tersebut adalah wine yang biasa ada di Kerajaan Demon God.
"Jangan khawatir... Nanti dia akan sadar lagi... Siapkan satu botol untuk dia nantinya..." Kata Alan sembari mengaktifkan Shadow Zone. Dengan bantuan Shadow Zone, Alan bisa lebih mudah memindahkan tubuh Greatest ke tempat yang lebih layak untuk beristirahat.
Tentu Alan lebih memilih menggunakan Shadow Zone, daripada dirinya harus menggendong seorang pria yang tengah mabuk dan kehilangan kesadaran. Berbeda cerita jika Greatest adalah seorang wanita cantik, mungkin Alan akan dengan senang hati menawarkan bantuan untuk menggendong tubuhnya tanpa diminta.
###
"Kita berkumpul lagi besok di sini... Ingat! Jangan sampai terlambat..." Kata Poska setelah dirinya dan semua Kapten Light Guardian yang tersisa kembali ke penginapan. Mereka harus berisitirahat untuk bisa memulihkan kondisi tubuhnya untuk pertandingan 16 besar esok hari.
"Baik Commander..." Setiap Kapten Light Guardian langsung menuju ke kamarnya masing masing, hanya Blue Spirit saja yang mengatur sistemnya untuk bisa log out dari New World.
Poska pun juga ikut kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Poska langsung mengeluarkan Crystal Link dari saku bajunya.
"Maaf? Tapi saya belum mendapat petunjuk..." Kata Poska pada Crystal Link di hadapannya.
"Jangan terburu buru... Pastikan semuanya terlebih dahulu... Kita tidak boleh gegabah dalam bertindak..." Suara seorang wanita keluar dari Crystal Link yang Poska genggam.
"Baik... Saya akan menghubungi Anda jika saya sudah mendapat petunjuk..." Jawab Poska setelah suara wanita di Crystal Link tersebut berhenti.
Clap...
__ADS_1
Crystal yang tadinya bersinar putih pun kini tak lagi memancarkan sinarnya. Tanda lawan bicara Poska telah memutuskan hubungan antar Crystal Link.
"Hah... Sosok itu... Aku sangat yakin itu dia..." Poska masih ingat dengan jelas, bagaimana merindingnya dirinya ketika merasakan hentakan energi di dalam Abyss Colloseum tadi. Dirinya yakin seratus persen jika sosok di dalam ruang VIP itu adalah pimpinan Bangsa Demon.