New World

New World
Terlarut


__ADS_3

Poska nyatanya tidak bermain main dengan niatannya. Dirinya benar benar berangkat ke Kerajaan Demon God untuk mempertanggung jawabkan kesalahan yang dirinya buat.


Bukan ratusan atau ribuan pasukan Light Guardian yang Poska bawa untuk ikut bersama dirinya. Melainkan hanya 7 orang Kapten Light Guardian. Kekalahan pada pertempuran pertama mengajarkan satu hal pada Poska. Jika kualitas akan lebih diuntungkan dari pada kuantitas untuk menghadapi Bangsa Demon.


"Kita akan memeriksa kondisi di sana terlebih dahulu. Ingat! Jangan bertindak gegabah... Kita hanya akan bergerak jika memang kita sudah mengetahui kondisi secara pasti." Penjelasan dari Poska sebelum rombongan delapan orang tersebut memasuki gerbang teleportasi untuk menuju ke Ibukota Kerajaan Demon God.


Rombongan tiga orang Elf, satu orang orc, satu orang centaur, dan dua orang manusia yang mereka semua merupakan Kapten bawahan Poska hanya menjawab dengan anggukan kepala mereka. Mereka semua percaya pada Poska, jika Poska tidak akan gegabah dalam mengambil suatu rencana.


Dengan iringan mantra dari penjaga gerbang teleportasi, dan hancurnya mana stone yang menjadi sumber tenaga gerbang teleportasi. Menghilanglah rombongan delapan orang tersebut dari gerbang teleportasi Ibukota Kerajaan Hidden Forest.


Mata Poska mengerjap sekali dua kali, melihat Ibukota Kerajaan Demon God dari sisi gerbang teleportasi.


"Kenapa disini ramai sekali? Bukan kah Kerajaan Demon God hanya sebuah Kerajaan kecil?" Poska begitu terheran melihat begitu banyak player dan NPC ikut berdatangan dari gerbang teleportasi seperti dirinya.


Setahu dirinya, Kerajaan Demon God tidak memiliki komoditas berharga apapun yang bisa diandalkan. Mereka hanya mengandalkan lokasi mereka yang menjadi jalur perdagangan antar tiga kerajaan di sisi wilayah mereka.


Melihat begitu banyak player maupun NPC yang berdatangan tentu terasa aneh bagi Poska. "Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kemunculan Bangsa Demon?" Gumam Poska mencoba menerka nerka alasan kedatangan para player maupun NPC tersebut.


"Lebih baik kita langsung mencari tahu Commander..." Salah satu Kapten Light Guardian bernama Hiscopt memberi saran pada Commandernya tersebut.


Tidak ada yang terlalu memperhatikan kedatangan rombongan delapan orang berbeda ras tersebut. Merupakan suatu hal yang wajar di Kerajaan Demon God, jika suatu rombongan terdiri dari berbagai macam ras.


"Melihat semua ras bisa hidup berdampingan seperti ini sungguh menyenangkan ya?" Gumam Gorin secara perlahan yang merupakan Kapten Light Guardian yang memiliki ras Orc.


"Kamu benar Gorin... Jika saja semua Kerajaan di Dunia ini melakukan hal seperti ini..." Hiscopt ikut menjawab argumen dari Gorin. Mereka berdua sama sama memiliki ras yang cukup terbilang minoritas. Perlakuan diskriminatif sering mereka dapatkan kala mereka belum bergabung dengan Light Guardian.


"Ingat tujuan kita... Jangan sampai lengah..." Poska mengingatkan kedua Kaptennya tersebut untuk terus waspada. Mereka kini berada di wilayah musuh, mereka harus ekstra hati hati untuk menghindari masalah yang tidak diperlukan.

__ADS_1


"Baik Commander..." Jawab Gorin dan Hiscopt serentak.


Tujuan utama rombongan delapan orang tersebut tentu adalah tempat Kuil Cahaya berdiri dulu. Namun mereka semua tercengang setelah melihat tempat Kuil Cahaya telah berubah menjadi sebuah bangunan oval raksasa setinggi 20 meter.


"Apa ini?" Poska tidak bisa berkata kata... Melihat tempat Kuil Cahaya dulu berdiri, kini telah berganti menjadi satu bangunan megah nan menjulang.


"Sepertinya ini yang telah menarik perhatian para Player dan NPC datang ke Kerajaan ini." Ucap salah satu Kapten bawahan Poska yang memiliki ras Elf bernama Blue Spirit. Blue Spirit adalah salah satu Kapten Light Guardian yang merupakan seorang player selain Toni. Kepiawaian dirinya sebagai Elementalist air menjadikan dirinya sebagai salah satu Kapten di Light Guardian.


"Kamu tahu tentang ini?" Lirik Poska pada Blue Spirit. Dirinya merasa heran melihat bangunan yang begitu besar dan megah bisa dibangun dalam hitungan hari. Bahkan seorang elementalist tanah terhebat pun tidak akan sanggup melakukannya dengan pengendalian tanahnya.


"Aku hanya mendengar kabar angin... Jika ada satu tempat di Kerajaan Demon God yang bisa dijadikan ajang pertarungan demi mendapatkan senjata senjata yang hebat." Jawab Blue Spirit tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Poska. Dirinya sibuk memperhatikan sekitar di mana para merchant player maupun NPC sedang sibuk menawarkan barang dagangannya.


"Ini pasti ada kaitannya dengan Bangsa Demon. Tapi darimana Bangsa Demon bisa memiliki kemampuan seperti ini? Kita benar benar telah meremehkan perkembangan mereka..." Poska menggigit giginya sendiri. Jika benar Bangsa Demon yang telah membangun bangunan megah yang digunakan untuk ajang pertarungan ini dalam hitungan hari, maka bukan suatu hal yang mustahil Bangsa Demon akan membentuk sebuah Kerajaan yang begitu kuat.


"Lalu bagaimana Commander? Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Blue Spirit pada Commandernya, menunggu instruksi lanjutan dari Commandernya tentang langkah yang akan diambil.


"Ini yang aku tunggu..." Gumam Blue Spirit perlahan, dirinya sebenarnya sudah gatal untuk bisa melihat lihat item item apa saja yang dijual oleh para merchant di tempat tersebut. Gelora berbelanjanya kini sedang menggelora tidak karuan di dalam hatinya.


Namun tetap saja Blue Spirit mencoba menutupi rasa senangnya, dirinya tidak ingin sifat doyan belanjanya diketahui oleh Kapten Light Guardian lainnya. Dirinya tidak ingin di cap sebagai pria maskulin yang doyan belanja oleh para Kapten Light Guardian lainnya.


"Aku tahu kamu sedang bahagia..." Bisik Gorin di dekat telinga Blue Spirit, sembari dirinya menjajarkan langkah kakinya di samping Blue Spirit.


"Diam kamu..." Bentak Blue Spirit dengan pelan. Merasa sedikit malu karena Gorin mengetahui isi pikirannya.


"Hahaha...." Tawa Gorin puas melihat wajah Blue Spirit yang terkesan malu.


Pintu masuk ke dalam Colloseum ada dua, satu adalah pintu masuk untuk para petarung yang akan ikut bertarung. Satu lagi adalah pintu masuk untuk para penonton yang akan ikut pertandingan.

__ADS_1


Kedelapan orang tadi masuk melalui pintu masuk penonton, mengingat tujuan mereka hanya untuk mencari informasi terlebih dahulu. Dengan membayar 3 Silver untuk setiap orangnya, mereka berdelapan mendapatkan akses masuk ke dalam tribun penonton selama 12 jam ke depan.


Ke delapan orang tersebut begitu berhati hati dalam setiap langkah mereka. Pengamanan di dalam Colloseum bukanlah suatu pengamanan berlevel sembarangan. Ada lebih dari seratus Bangsa Demon yang berjaga di setiap sisi Colloseum. Hal itu semakin menguatkan persepsi Poska jika Colloseum benar benar dibangun oleh Bangsa Demon.


Duduk berjajar dengan rapi, ke delapan orang tadi memperhatikan setiap pertarungan yang di suguhkan di dalam Colloseum. Tidak lupa pula mereka semua mengamati sekitar, mencoba mencari celah celah yang bisa mereka manfaatkan jika terjadi pertarungan dengan Bangsa Demon.


Tanpa mereka sadari, melihat pertarungan satu persatu membuat mereka ikut larut dalam suasana Colloseum yang meriah. Tanpa sadar akhirnya mereka ikut bersorak sorak untuk membela setiap jagoan yang menjadi jagoan mereka masing masing. Bahkan Gorin dan Hiscopt sampai melakukan suatu taruhan antar mereka berdua untuk setiap pertarungan yang terjadi. Membuat mereka semua lupa akan tujuan utama mereka masuk ke dalam Colloseum.


"Ahh... Gawat... Kita jadi ikut terlarut dalam suasana tadi..." Keluh Poska ketika keluar dari Colloseum.


"Ya Commander... Tapi di dalam sana memang merubah segalanya. Atmosfer di dalam Colloseum benar benar membuat darah ku mendidih dengan sendirinya." Gorin menepuk nepuk tangannya di dada. Masih terasa seperti apa kuatnya atmosfer bertarung di dalam Colloseum tadi.


"Dasar kamunya saja yang memang suka dengan pertarungan." Keluh Blue Spirit, dirinya merasa sedikit kecewa karena gagal melihat lihat barang dagangan yang dijual oleh para merchant di stand stand yang ada. Suasana di dalam Colloseum membuat dirinya lupa untuk menyempatkan waktu melihat ke area stand stand merchant.


"Lalu kenapa? Apa menjadi masalah bagimu?" Gorin yang masih terbawa atmosfir pertarungan langsung mencoba mencari pelampiasan.


"Boles saja kalau kamu mau menjadikannya masalah..." Blue Spirit dengan senang hati jika Gorin ingin mengajaknya bertarung. Dirinya juga sedang butuh pelampiasan untuk rasa kecewanya.


"Sudah... Sudah... Ingat tujuan kita... Kita masih kekurangan informasi akan Bangsa Demon..." Cegah Poska pada kedua Kaptennya yang saling berdebat.


"Lebih baik kita cari tempat menginap... Kita akan kembali lagi kesini besok..." Ajak Poska pada semua bawahannya.


"Kembali lagi?" Tanya semua Kapten secara serentak.


"Ya... Kita akan ikut bertarung di sana besok... Kita harus bisa mendapatkan informasi mengenai kekuatan Bangsa Demon yang sesungguhnya. Jika kita hanya menonton seperti tadi, yang ada kita hanya akan terbawa suasana seperti tadi." Jawab Poska sembari melangkahkan kaki meninggalkan area Colloseum.


"Aku tahu kamu sedang bahagia..." Bisik Blue Spirit pada Gorin, sembari meninggalkan Gorin yang masih terdiam. Membalas perlakuan Gorin yang sempat dilakukannya kepada dirinya tadi pagi.

__ADS_1


__ADS_2