New World

New World
Chigaza


__ADS_3

Chigaza, sesosok Demon yang hanya memiliki tulang tanpa daging telah berdiri di ujung benteng yang menjadi pembatas antara istana dengan tanah datar nan gersang. Tulang tanpa daging tersebut memakai jubah hitam yang terlihat sangat longgar. Mungkin jubah tersebut akan terlihat sangat bagus jika dipakai oleh seorang Demon atau pria yang kekar. Tapi dipakai oleh sebatang tengkorak tanpa daging? Pastinya jubah tersebut sangat tidak proporsional.


Lubang mata tengkorak tanpa daging tersebut menatap ujung cakrawala. Tidak adanya bola mata di dalam lubang tersebut membuat ekspresi tengkorak tanpa daging tersebut menjadi tidak bisa dipastikan. Hanya ada sebuah titik merah di tengah tengah lubang mata tersebut, membuat siapapun yang melihat kedua lubang mata tersebut pasti langsung akan bergidik ngeri.


Di tangan tengkorak tanpa daging tersebut tergenggam segelas cairan merah yang kental. Baunya amis... Namun itu adalah cairan yang sangat disukai oleh para Demon, darah merah. Diteguknya secara langsung cairan merah amis tersebut, membuat gelas yang tergenggam tangan tak berdaging tersebut langsung kosong. Cairan amis pun masuk ke dalam sela mulut tengkorak. Meluncur bebas ke bawah, melewati tenggorokan serta perutnya. Dan akhirnya jatuh ke lantai batu di bawah kaki tengkoraknya. Beberapa tetes darah merembes dari sela sela mulut tengkoraknya, membuat Chigaza harus membersihkan bagian mulutnya dengan jubahnya.


"Ahh... Lagi lagi..." Tengkorak tanpa daging merasa kesal, melihat darah merah berceceran di atas lantai batu. Dihentakkannya kakinya ke atas darah yang berceceran tersebut, membuat darah merah tersebut semakin menyebar.


"Sampai kapan aku akan hidup seperti ini?" Chigaza menatap ke langit merah kekuningan di atasnya. Jika saja kedua lubang matanya memiliki bola mata, pasti semua orang bisa melihat tatapan tajamnya. Dirinya seakan menyalahkan sang pencipta karena telah memberikannya kekuatan seperti ini. Kekuatan yang bisa membuatnya seakan dirinya hidup abadi.


Bukan tanpa alasan kekuatan Chigaza disebut sebagai kekuatan yang memberikan kehidupan abadi. Chigaza pernah mati, namun hidup kembali karena kekuatannya tersebut. Tidak peduli berapa kali pun dirinya mati, dirinya akan selalu hidup kembali dengan kondisi tubuh tanpa daging seperti ini.


Seharusnya orang orang pasti menginginkan kehidupan yang abadi. Tapi tidak dengan Chigaza, dirinya sudah muak dengan kehidupannya yang hampa. Untuk apa hidup abadi tapi tidak bisa menikmati nikmat nikmat yang ada di dunia? Bahkan untuk sekedar menikmati makanan dan minuman saja dirinya tidak bisa.


Pandangan Chigaza langsung terarah ke arah timur. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya dari ujung cakrawala tersebut. Chigaza bisa merasakan jika para Litch Demon yang dirinya hidupkan kembali telah berkurang dengan drastis di daerah yang dirinya pandangi tersebut. Tulang mulutnya pun bergerak perlahan, jika saja tulang mulut tersebut memiliki kulit dan tulang. Pasti senyuman Chigaza akan terlihat dengan jelas saat ini.


Diangkatnya tangan kanan Chigaza, dan tanah di depan istananya pun mulai retak secara perlahan. Retakan tersebut terus melebar, hingga cukup ada ruang untuk jalan keluar sesuatu dari dalam tanah. Tulang tulang yang saling terpisah mulai keluar dari dalam tanah dan terbang di depan istana Chigaza. Tulang tulang tersebut terbang berputar putar, seakan membentuk lingkaran tulang yang saling berkesinambungan.


Secara perlahan tulang tulang yang terbang mulai bersambungan satu sama lain. Hingga akhirnya membetuk sebuah kerangka berbentuk naga tanpa daging.


Chigaza melompat dari atas ujung benteng, hingga mendarat di punggung kerangka naga tanpa daging tersebut. Naga tanpa daging langsung mengepakkan sayapnya yang tanpa kulit dan daging, membuat tubuh kerangkanya perlahan terangkat dari atas tanah. Terus... Terus... Dan terus... Butuh usaha yang keras bagi kerangka naga tersebut untuk bisa melayangkan dirinya dan Chigaza yang ada di punggungnya, namun naga memang sudah ditakdirkan untuk bisa terbang, entah itu hanya menyisakan tulang tulangnya saja, mereka tetap akan bisa terbang. Kerangka naga dan Chigaza pun akhirnya terbang ke arah timur. Tempat dimana Chigaza merasakan harapan baru untuk dirinya.


###


"Berapa banyak sebenarnya pasukan yang dimiliki Chigaza ini?" Alan mengerutkan dahinya, dirinya terus menerus melihat barisan Litch Demon yang berusaha mendekatinya. Padahal Alan dan yang lainnya sudah berjalan lebih dari 4 jam. Namun jumlah Litch Demon bukannya semakin berkurang malah seakan bertambah semakin banyak.

__ADS_1


Alan sebenarnya tidak mempermasalahkan jumlah Litch Demon yang begitu banyak, dirinya hanya mempermasalahkan akan seberapa lama dirinya harus menggunakan kekuatan specialnya. Sudah lebih dari 4 jam dirinya harus terus menerus menggunakan Shadow Zone. Walaupun tingkat konsentrasi yang dibutuhkan untuk mengontrol Shadow Zone tidak setinggi ketika Alan menggunakan Shadowing, namun tetap saja. Empat jam tanpa istirahat sudah cukup bagi Alan untuk merasa lelah di saat pertama kali menggunakan Shadow Zone.


"Bersabarlah Tuan. Kira kira 4 jam perjalanan lagi kita akan bisa melewati tempat ini." Flyin tidak menjawab pertanyaan Alan tentang jumlah pasukan yang dimiliki Chigaza. Flyin bisa membaca pikiran Alan yang intinya Alan mengeluhkan berapa lama lagi Alan harus menggunakan Shadow Zone.


"Empat jam?" Alan menelan ludahnya dalam dalam. Tidak bisa membayangkan dirinya harus tetap seperti ini selama empat jam ke depan.


"Benar Tuan... Kita tidak bisa beristirahat disini. Jadi saya harap Anda bisa bertahan." Flyin mencoba menyemangati Tuannya yang seperti kehilangan semangat.


Alan tentu hanya mengumpat sendiri di dalam hatinya. Jujur saja dirinya merasa iri kepada Flyin dan Rendemiz. Mereka berdua hanya berjalan dengan santai di tengah kepungan Litch Demon yang siap untuk memakan jiwa mereka. Namun Alan? Harus terus berjalan sambil memastikan tidak ada Litch Demon yang berhasil mendekati mereka bertiga.


Sementara Flyin dan Alan berdebat, Rendemiz terus terdiam sambil terus berjalan di belakang. Empat jam melihat kekuatan special yang dimiliki Alan, rasa rasanya masih belum cukup baginya untuk tidak merasa takjub.


"Siapa sebenarnya dia?" Rendemiz tidak bisa untuk tidak bertanya kepada dirinya sendiri. Kekuatan special yang dimiliki oleh Alan bukanlah kekuatan special biasa. Kekuatan special Alan tidak terbatas untuk dirinya sendiri tetapi juga pada area di sekitarnya.


Jujur saja Rendemiz mengakui jika kekuatan special yang dimiliki Alan jauh lebih hebat dari miliknya, bukan... Bahkan jauh lebih hebat dari milik adiknya, The Command.


Flyin yang mengerti akan isi pikiran Rendemiz hanya tersenyum kecil. Dirinya sudah menduga jika Alan akan menjadi sosok yang sangat menarik perhatian jika kekuatan specialnya sampai diketahui secara luas di dunia Abyss. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika nantinya akan muncul Jenderal besar ke delapan. Dan Alan lah orangnya.


[AS... Ada bahaya mendekat.]


Peringatan dari Joker membuat Alan mengerutkan dahi. Selama ini Alan memang meminta kepada Joker untuk terus mengawasi peta di sekitarnya dan memperingatkan dirinya jika sekiranya akan ada bahaya di dekatnya. Dan Joker melakukan apa yang Alan minta dengan sangat baik.


'Tampilkan peta Joker!'


Alan melihat peta yang ditampilkan oleh Joker, kecuali titik titik merah yang jumlahnya sangat banyak, Alan tidak mendapati adanya hal yang ganjil. "Memang sangat tidak efektif melihat peta di tengah kepungan para Litch Demon seperti ini." Gumam Alan yang tidak bisa membedakan bahaya apa yang dimaksud oleh Joker.

__ADS_1


Alan pun mengaktifkan zoom, melihat ke arah sekitarnya. Mencari tahu bahaya apa yang dimaksud oleh Joker. Alan pun mendapati adanya suatu sosok putih yang terbang di kejauhan dari arah barat. Secara perlahan sosok putih tersebut terbang mendekati tempat Alan dan yang lainnya berada.


"Kita kedatangan tamu." Alan memperingatkan Flyin dan Rendemiz yang masih tetap tenang berjalan. Flyin langsung mengawasi ke sekitarnya untuk melihat siapa yang datang. Sedangkan Rendemiz langsung menggunakan kekuatan specialnya untuk membuat dirinya tidak terlihat. Bersiap siap kabur jika tamu yang datang merupakan tamu yang sangat tidak ingin dirinya jumpai saat ini.


"Itu..." Flyin yang sudah bisa melihat sosok kerangka naga mendekatinya tentu langsung tercengang. Tidak dirinya sangka hal yang paling dirinya takutkan malah benar benar terjadi.


"Gawat Tuan... Itu Chigaza..." Flyin memperingatkan Alan yang terkesan masih santai menunggu kedatangan kerangka naga yang terbang mendekati mereka bertiga.


"Chigaza?" Alan langsung menoleh ke arah Flyin. Memastikan jika Flyin benar benar sedang tidak dalam kondisi bercanda.


"Benar Tuan... Kita harus segera pergi dari sini." Flyin menarik paksa tangan Alan. Dan segera melompat dari tempatnya berada. Membawa Alan pergi secepat mungkin dari tempat tersebut. Alan tentu terkejut dengan apa yang Flyin lakukan, Shadow Zone yang sedari tadi dirinya pertahankan pun akhirnya hilang karena harus menyeimbangkan tubuhnya yang ditarik paksa oleh Flyin.


Bagaikan terbang... Itulah yang Alan rasakan ketika ditarik paksa oleh Flyin. Dirinya sama sekali tidak menyentuh tanah karena saking cepatnya Flyin melompat dari satu kepala Litch Demon ke kepala Litch Demon lainnya. Alan pun hanya bisa pasrah, mengikuti kemana Flyin akan membawanya, bagaikan sebuah bendera yang tertancap di pesawat yang sedang terbang, berkibar dan mengikuti kemana angin membawanya.


Sementara Rendemiz yang sudah tidak terlihat karena menggunakan kekuatan specialnya hanya bisa mengumpat di dalam hati. Dirinya tidak menyangka jika Alan dan Flyin akan langsung kabur secepat itu setelah melihat kedatangan Chigaza.


Rendemiz pun hanya bisa berjalan perlahan ke arah Alan dan Flyin pergi. Dirinya harus tetap mempertahankan kekuatan specialnya agar tidak menjadi santapan para Litch Demon yang ada di sekitarnya. "Kenapa aku ditinggal lagi?" Rendemiz menyesalkan dirinya terlalu terburu buru menggunakan kekuatan specialnya. Jika saja dirinya tidak terburu buru, mungkin saja Alan dan Flyin bisa membawanya pergi dari tempat ini.


Namun semua itu tentu hanya penyesalan Rendemiz seorang. Penyesalan akan selalu datang di belakang.


*** **Hai pembaca semua...


Merasa kesulitan gak baca arc 2?


Maaf banged kalau ceritanya sering lompat sana sini. Karena saya berusaha menyeimbangkan alur waktu dari semua kejadian.

__ADS_1


Kalau ada saran untuk saya... saya akan dengan senang hati membaca saran kalian, saran kalian adalah batu loncatan untuk saya bisa menulis lebih baik.


Terima kasih sudah terus membaca cerita saya. Saya harap pembaca tetap berkenan meninggalkan like di setiap chapter yang kalian baca. Terima kasih banyak atas waktu dan jempol kalian*.**


__ADS_2