New World

New World
Rea Vizgraf


__ADS_3

“Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” Tanya Toni sembari


meminum wine yang disuguhkan oleh pelayan Istana Kerajaan Demon God.


“Banyak hal yang ada di dalam pikiranku. Tapi yang pertama


aku akan menjadikan Kerajaan ini menjadi Kerajaan yang bisa ditinggali Bangsa


Demon dengan nyaman.”


“Apa kamu tidak takut mendapat serangan dari banyak pihak?


Tidak sedikit Kerajaan yang sudah berpihak pada Kuil Cahaya. Tidak akan mudah


bagimu untuk mendirikan Kerajaan untuk Bangsa Demon.”


“Aku tahu itu…Tapi aku sudah berhutang janji pada mereka.”


“Hah… paling tidak aku sudah memperingatkanmu…” Toni


menghela nafas panjang akan jalan yang diambil Alan. Sahabatnya satu ini memang


terkesan aneh, tidak pernah mau mengambil jalan hidup yang terkesan mudah. Namun itulah


yang membuat Alan special, dirinya selalu menyukai hal bernama tantangan. Mungkin


Alan akan merasa hidupnya hampa jika sudah tidak ada lagi tantangan di dalam


hidupnya.


“Ada apa kamu memanggilku?” Selene tiba tiba masuk ke dalam


ruangan tempat Alan dan Toni berbincan bincang. Dari raut wajahnya saja Alan


sudah bisa menebak jika Selene begitu tidak suka waktunya diganggu oleh Alan.


“Itu…” Toni sedikit terkejut, melihat siapa yang datang. Bukan


karena sosok tersebut adalah seorang Demon, melainkan karena siapa yang ikut


bersama Selene.


“Vizgraf…” Toni langsung bangkit dari kursinya. Bersiap


menyelamatkan temannya tersebut.


“Tenanglah…” Alan mencegah Toni untuk bertindak. Toni


bukanlah lawan yang seimbang untuk selene, jika Toni gegabah menyerang Selene,


maka hanya kematian yang akan Toni dapatkan.


“Alan…” Toni mempertanyakan akan apa yang dilakukan oleh Alan.


“Tenang… biar aku yang urus..” Alan hanya menganggukkan kepala, memberi tanda kepada Toni untuk percaya kepada dirinya.


“Duduklah Selene… Ada hal yang ingin aku bicarakan kepadamu…”


Dengan enggannya Selene menuruti perkataan Alan, Vizgraf


yang masih dalam kendali selene pun mengikuti Selene dan berdrii di belakang


kursi Selene. “Aku tidak punya banyak waktu… Cepat katakan…”


“Aku akan mengangkat Kakakmu sebagai Raja Kerajaan Demon


nantinya. Apa kamu keberatan?”


“Tidak masalah… Aku pikir kamu yang akan menjadi Raja


nantinya…”Selene sedikit terkejut akan perkataan Alan, perkataan Alan jauh dari


perkiraannya selama ini yang mengira Alan akan menjadi Raja.


“Aku tidak terlalu tertarik dengan hal seperti itu. Lagipula


aku tidak cakap untuk menjadi seorang Raja.”


“terserah kamu saja… Aku tidak tertarik dengan posisi Raja


atau Ratu.”

__ADS_1


“Baiklah… Satu masalah selesai. Ada satu hal lagi…”


“Kamu memang selalu merepotkanku…Cepat katakan!” Selene


mendengus kesal kepada Alan.


“Aku ingin kamu bebaskan wanita itu dari pengaruh The Command milikmu…”


“Apa katamu? Aku tidak salah dengar kah?” selene memeriksa


telinganya, apakah perkataan Alan barusan benar benar keluar dari mulut Alan.


Selama ini Alan tidak pernah mengurusi urusannya akan apapun, namun kenapa kali


ini Alan memintanya membebaskan boneka barunya.


“Tidak… Dan aku tidak akan mengulangi perkataanku!”


“Kalau aku tidak mau?” Selene memincingkan matanya, tidak


takut akan peringatan Alan.


“Kamu tentu tahu artinya jika kamu menolak… Aku akan dengan


senang hati menelan jiwa Demon milikmu…”Alan mengeluarkan aura kegelapan dari


dalam tubuhnya. Memperingatkan Selene jika dirinya sama sekali tidak menerima


satu hal berrnama penolakan.


“Kau…” Selene menggigit giginya sendiri, merasakan tekanan yang diberikan oleh aura kegelapan yang Alan keluarkan.


“Kurasa kamu cukup pintar untuk mengerti kan?” Senyum Alan


melihat wajah tertekan Selene. Dirinya sudah memberikan peringatan kepada


Selene, jika Selene tetap menolak maka tidak ada tawaran lain dari Alan selain


kematian bagi Selene. Masalah dirinya harus menjelaskan apa pada Asmodias


nantinya, itu masalah belakangan. Bagi dirinya yang utama saat ini adalah


Selene melapaskan wanita bernama Vizgraf tersebut.


dirinya tidak mengetahui secara pasti sebesar apa kekuatan yang dimiiki alan,


pasti dirinya sudah menyerang Alan saat ini. Namun tentu dirinya sadar, batas


kekuatan maksimalnya tidak akan berarti di hadapan Alan. Selene pun terpaksa


menuruti perkataan Alan.


“Bagus… Jadilah Demon yang baik hati…” Alan tersenyum puas


melihat Selene menganggukkan kepalanya. Mengiiyakan permintaan dirinya untuk


melepaskan Vizgraf.


Toni yang melihat apa yang dilakukan oleh Alan sedikit


terkagum. Melihat Alan dengan mudahnya mengendalikan seorang Demon wanita yang


begitu kuat bernama Selene tersebut. Tidak heran jika Alan pernah sesumbar bisa menghancurkan Guild keluarganya dengan satu ayunan tangan. Para Bangsa Demon begitu menuruti perkataan Alan. Jika Alan ingin para Bangsa Demon menyerang suatu Guild, tentu para Bangsa Demon akan dengan senang hati melakukannya.


“The Command! Release!”


Satu kata dari Selene langsung membuat wanita yang berdiri


di belakangnya langsung terjatuh di atas lantai. Irish mata yang tadinya


berwarna gelap seutuhnya kini telah kembali menjadi biru lagi. Sama seperti


sebelum wanita itu jatuh ke dalam kendali The Command milik Selene.


“Kau tidak apa?” Toni langsung mencoba membantu Vizgraf


untuk berdiri.


“Toni… Apa yang telah terjadi?” Vizgraf memegangi kepalanya


yang terasa sedikit pusing.

__ADS_1


“Tenang… Kamu aman sekarang…” Jawab Toni mencoba menenangkan


temannya tersebut.


“Bagaimana pertarungannya?” Vizgraf langsung teringat akan


terakhir kali dirinya sadar dirinya berada di dalam suatu pertarungan.


Toni hanya menggelengkan kepala, memberi tanda kepada


Vizgraf jika di tempat ini bukanlah tempat yang tepat untuk membahas soal


pertarungan yang telah terjadi.


Tanpa sepatah kata yang keluar dari Toni pun Vizgraf tahu jika


hasil pertarungan tadi tidaklah bagus. Vizgraf pun sedikit bersyukur melihat


dirinya dan Toni selamat tanpa kematian.


“Lalu di mana ini?” Vizgraf mencoba untuk berdiri dengan


dibantu oleh Toni.


“Kita ada di Istana kerajaan Demon God…” Jawab Toni sembari


membantu temannya berdiri.


“Ahh…” Vizgraf pun menghela nafas lega. Jika dirinya berada


di Istana Kerajaan Demon God, maka dirinya dan Toni memang berada di tempat


yang aman. Para Demon yang menyerang Kuil Cahaya pasti tidak akan mengejar


mereka sampai ke dalam Istana Kerajaan.


Namun kelegaan yang Vizgraf rasakan langsung sirna begitu


melihat sosok Selene yang berdiri di dekatnya. “Dia…” Vizgraf hafal betul


dengan sosok Demon yang menjadi lawannya dalam pertarungan tadi.


Selene tida menanggapi keterkejutan Vizgraf, dirinya memilih


untuk acuh pada satu objek yang gagal dirinya dapatkan sebagai boneka mainannya


tersebut.


“Tidak usah khawatir, dia tidak akan menyerangmu… Rea…”


Satu kata nama panggilan yang tidak pernah dirinya dengar


selama di New World memaksa Vizgraf untuk menoleh ke asal suara. Seorang Elf


dengan wajah yang tidak asing kini nampak sedang berjalan mendekatinya.


“Alan?” Vizgraf terkejut bukan main, melihat sahabatnya


sedari kecil kini berdiri di hadapannya. Sudah begitu lama dirinya tidak


bertemu dengan salah satu sahabat yang begitu dirinya rindukan tersebut. Tanpa basa


basi Vizgraf langsung memeluk tubuh Alan, meluapkan rasa rindu yang telah


menumpuk selama bertahun tahun.


“Kamu baik baik saja? Maaf aku tidak ada saat kamu terpuruk…”


Bisik Vizgraf sembari merekatkan pelukannya kepada Alan. Menyesali dirinya


tidak ikut berada di samping Alan ketika kedua orang tua Alan meninggal. Tanpa kuasa


air matanya menetes keluar dari matanya, jatuh meninggalkan irish biru yang


menghiasi kedua matanya.


"Ya... Aku selalu baik baik saja... Jangan khawatir..." Alan membalas pelukan sahabatnya tersebut. Dirinya jjuga senang bisa bertemu dengan Rea saat ini.


“Ehem… Kalian saling mengenal?” Toni mencoba menyela adegan


yang terkesan begitu di dramatisir tersebut.

__ADS_1


“Ya… Dia sahabatku…” kata Alan dan Vizgraf serempak.


__ADS_2