
“Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?” Tanya Toni sembari
meminum wine yang disuguhkan oleh pelayan Istana Kerajaan Demon God.
“Banyak hal yang ada di dalam pikiranku. Tapi yang pertama
aku akan menjadikan Kerajaan ini menjadi Kerajaan yang bisa ditinggali Bangsa
Demon dengan nyaman.”
“Apa kamu tidak takut mendapat serangan dari banyak pihak?
Tidak sedikit Kerajaan yang sudah berpihak pada Kuil Cahaya. Tidak akan mudah
bagimu untuk mendirikan Kerajaan untuk Bangsa Demon.”
“Aku tahu itu…Tapi aku sudah berhutang janji pada mereka.”
“Hah… paling tidak aku sudah memperingatkanmu…” Toni
menghela nafas panjang akan jalan yang diambil Alan. Sahabatnya satu ini memang
terkesan aneh, tidak pernah mau mengambil jalan hidup yang terkesan mudah. Namun itulah
yang membuat Alan special, dirinya selalu menyukai hal bernama tantangan. Mungkin
Alan akan merasa hidupnya hampa jika sudah tidak ada lagi tantangan di dalam
hidupnya.
“Ada apa kamu memanggilku?” Selene tiba tiba masuk ke dalam
ruangan tempat Alan dan Toni berbincan bincang. Dari raut wajahnya saja Alan
sudah bisa menebak jika Selene begitu tidak suka waktunya diganggu oleh Alan.
“Itu…” Toni sedikit terkejut, melihat siapa yang datang. Bukan
karena sosok tersebut adalah seorang Demon, melainkan karena siapa yang ikut
bersama Selene.
“Vizgraf…” Toni langsung bangkit dari kursinya. Bersiap
menyelamatkan temannya tersebut.
“Tenanglah…” Alan mencegah Toni untuk bertindak. Toni
bukanlah lawan yang seimbang untuk selene, jika Toni gegabah menyerang Selene,
maka hanya kematian yang akan Toni dapatkan.
“Alan…” Toni mempertanyakan akan apa yang dilakukan oleh Alan.
“Tenang… biar aku yang urus..” Alan hanya menganggukkan kepala, memberi tanda kepada Toni untuk percaya kepada dirinya.
“Duduklah Selene… Ada hal yang ingin aku bicarakan kepadamu…”
Dengan enggannya Selene menuruti perkataan Alan, Vizgraf
yang masih dalam kendali selene pun mengikuti Selene dan berdrii di belakang
kursi Selene. “Aku tidak punya banyak waktu… Cepat katakan…”
“Aku akan mengangkat Kakakmu sebagai Raja Kerajaan Demon
nantinya. Apa kamu keberatan?”
“Tidak masalah… Aku pikir kamu yang akan menjadi Raja
nantinya…”Selene sedikit terkejut akan perkataan Alan, perkataan Alan jauh dari
perkiraannya selama ini yang mengira Alan akan menjadi Raja.
“Aku tidak terlalu tertarik dengan hal seperti itu. Lagipula
aku tidak cakap untuk menjadi seorang Raja.”
“terserah kamu saja… Aku tidak tertarik dengan posisi Raja
atau Ratu.”
__ADS_1
“Baiklah… Satu masalah selesai. Ada satu hal lagi…”
“Kamu memang selalu merepotkanku…Cepat katakan!” Selene
mendengus kesal kepada Alan.
“Aku ingin kamu bebaskan wanita itu dari pengaruh The Command milikmu…”
“Apa katamu? Aku tidak salah dengar kah?” selene memeriksa
telinganya, apakah perkataan Alan barusan benar benar keluar dari mulut Alan.
Selama ini Alan tidak pernah mengurusi urusannya akan apapun, namun kenapa kali
ini Alan memintanya membebaskan boneka barunya.
“Tidak… Dan aku tidak akan mengulangi perkataanku!”
“Kalau aku tidak mau?” Selene memincingkan matanya, tidak
takut akan peringatan Alan.
“Kamu tentu tahu artinya jika kamu menolak… Aku akan dengan
senang hati menelan jiwa Demon milikmu…”Alan mengeluarkan aura kegelapan dari
dalam tubuhnya. Memperingatkan Selene jika dirinya sama sekali tidak menerima
satu hal berrnama penolakan.
“Kau…” Selene menggigit giginya sendiri, merasakan tekanan yang diberikan oleh aura kegelapan yang Alan keluarkan.
“Kurasa kamu cukup pintar untuk mengerti kan?” Senyum Alan
melihat wajah tertekan Selene. Dirinya sudah memberikan peringatan kepada
Selene, jika Selene tetap menolak maka tidak ada tawaran lain dari Alan selain
kematian bagi Selene. Masalah dirinya harus menjelaskan apa pada Asmodias
nantinya, itu masalah belakangan. Bagi dirinya yang utama saat ini adalah
Selene melapaskan wanita bernama Vizgraf tersebut.
dirinya tidak mengetahui secara pasti sebesar apa kekuatan yang dimiiki alan,
pasti dirinya sudah menyerang Alan saat ini. Namun tentu dirinya sadar, batas
kekuatan maksimalnya tidak akan berarti di hadapan Alan. Selene pun terpaksa
menuruti perkataan Alan.
“Bagus… Jadilah Demon yang baik hati…” Alan tersenyum puas
melihat Selene menganggukkan kepalanya. Mengiiyakan permintaan dirinya untuk
melepaskan Vizgraf.
Toni yang melihat apa yang dilakukan oleh Alan sedikit
terkagum. Melihat Alan dengan mudahnya mengendalikan seorang Demon wanita yang
begitu kuat bernama Selene tersebut. Tidak heran jika Alan pernah sesumbar bisa menghancurkan Guild keluarganya dengan satu ayunan tangan. Para Bangsa Demon begitu menuruti perkataan Alan. Jika Alan ingin para Bangsa Demon menyerang suatu Guild, tentu para Bangsa Demon akan dengan senang hati melakukannya.
“The Command! Release!”
Satu kata dari Selene langsung membuat wanita yang berdiri
di belakangnya langsung terjatuh di atas lantai. Irish mata yang tadinya
berwarna gelap seutuhnya kini telah kembali menjadi biru lagi. Sama seperti
sebelum wanita itu jatuh ke dalam kendali The Command milik Selene.
“Kau tidak apa?” Toni langsung mencoba membantu Vizgraf
untuk berdiri.
“Toni… Apa yang telah terjadi?” Vizgraf memegangi kepalanya
yang terasa sedikit pusing.
__ADS_1
“Tenang… Kamu aman sekarang…” Jawab Toni mencoba menenangkan
temannya tersebut.
“Bagaimana pertarungannya?” Vizgraf langsung teringat akan
terakhir kali dirinya sadar dirinya berada di dalam suatu pertarungan.
Toni hanya menggelengkan kepala, memberi tanda kepada
Vizgraf jika di tempat ini bukanlah tempat yang tepat untuk membahas soal
pertarungan yang telah terjadi.
Tanpa sepatah kata yang keluar dari Toni pun Vizgraf tahu jika
hasil pertarungan tadi tidaklah bagus. Vizgraf pun sedikit bersyukur melihat
dirinya dan Toni selamat tanpa kematian.
“Lalu di mana ini?” Vizgraf mencoba untuk berdiri dengan
dibantu oleh Toni.
“Kita ada di Istana kerajaan Demon God…” Jawab Toni sembari
membantu temannya berdiri.
“Ahh…” Vizgraf pun menghela nafas lega. Jika dirinya berada
di Istana Kerajaan Demon God, maka dirinya dan Toni memang berada di tempat
yang aman. Para Demon yang menyerang Kuil Cahaya pasti tidak akan mengejar
mereka sampai ke dalam Istana Kerajaan.
Namun kelegaan yang Vizgraf rasakan langsung sirna begitu
melihat sosok Selene yang berdiri di dekatnya. “Dia…” Vizgraf hafal betul
dengan sosok Demon yang menjadi lawannya dalam pertarungan tadi.
Selene tida menanggapi keterkejutan Vizgraf, dirinya memilih
untuk acuh pada satu objek yang gagal dirinya dapatkan sebagai boneka mainannya
tersebut.
“Tidak usah khawatir, dia tidak akan menyerangmu… Rea…”
Satu kata nama panggilan yang tidak pernah dirinya dengar
selama di New World memaksa Vizgraf untuk menoleh ke asal suara. Seorang Elf
dengan wajah yang tidak asing kini nampak sedang berjalan mendekatinya.
“Alan?” Vizgraf terkejut bukan main, melihat sahabatnya
sedari kecil kini berdiri di hadapannya. Sudah begitu lama dirinya tidak
bertemu dengan salah satu sahabat yang begitu dirinya rindukan tersebut. Tanpa basa
basi Vizgraf langsung memeluk tubuh Alan, meluapkan rasa rindu yang telah
menumpuk selama bertahun tahun.
“Kamu baik baik saja? Maaf aku tidak ada saat kamu terpuruk…”
Bisik Vizgraf sembari merekatkan pelukannya kepada Alan. Menyesali dirinya
tidak ikut berada di samping Alan ketika kedua orang tua Alan meninggal. Tanpa kuasa
air matanya menetes keluar dari matanya, jatuh meninggalkan irish biru yang
menghiasi kedua matanya.
"Ya... Aku selalu baik baik saja... Jangan khawatir..." Alan membalas pelukan sahabatnya tersebut. Dirinya jjuga senang bisa bertemu dengan Rea saat ini.
“Ehem… Kalian saling mengenal?” Toni mencoba menyela adegan
yang terkesan begitu di dramatisir tersebut.
__ADS_1
“Ya… Dia sahabatku…” kata Alan dan Vizgraf serempak.