New World

New World
Markas Death Mask


__ADS_3

Tidak banyak percakapan terjadi di atas punggung Chiro yang sedang terbang menuju markas Death Mask. Cleo hanya memberikan arahan kemana Chiro harus membawa mereka terbang.


Cleo harus tertunduk malu ketika menaiki punggung Naga. Harus dirinya akui, kecepatan terbang Naga milik tamu undangannya jauh lebih cepat daripada Winged Lion miliknya. Lagipula sikap Winged Lion miliknya, semakin menambah malu dirinya.


Bagaikan seekor kucing pemalas dan bukannya terbang sendiri, Willi hanya duduk meringkuk dengan kedua sayap terlipat di atas punggung Naga. Membuat Cleo merasa telah gagal menjadi seorang tamer bagi partnernya.


Dua jam terbang sudah cukup bagi Chiro untuk sampai pada pinggiran hutan yang lebat. Cleo pun memberi tanda kepada sosok pemilik Naga untuk mendaratkan Naganya sebelum memasuki hutan.


Markas Death Mask begitu rahasia, mustahil bagi orang lain untuk mengetahui lokasi markas tersebut. Apalagi jika terbang menelusuri hutan, sudah pasti markas Death Mask tidak akan pernah ditemukan.


"Kita harus berjalan kaki dari sini..." Kata Cleo sembari turun dari punggung Naga yang tadi membawa dirinya.


"Baiklah..." Alan ikut turun dari punggung Chiro, meminta kepada Chiro agar kembali ke ukuran semulanya. Chiro pun melepaskan aura kegelapan yang langsung kembali diserap oleh Alan. Tubuhnya yang besar langsung kembali mengecil seperti ukuran semula. Menjadi seekor Naga berwana hitam putih yang imut sekali lagi.


"Jangan sampai kehilangan jejakku. Disini penuh dengan jebakan yang sudah dipersiapkan." Cleo memperingatkan kedua tamu undangannya tersebut.


"Tentu..." Alan hanya tersenyum kecil, mendengar peringatan dari Cleo. Dirinya sudah menyempatkan diri untuk melepaskan Shadow Zone guna mendeteksi hutan di hadapannya.


Dan tidak heran jika Cleo memberikannya peringatan. Hutan di hadapannya benar benar penuh dengan jebakan. Membuat siapa pun yang mencoba menelusuri hutan ini untuk mencari markas Death Mask pulang kembali tanpa nyawa.


Jalur yang Cleo tunjukkan merupakan jalur teraman, yang sengaja dibuat khusus untuk para anggota Death Mask. Sama sekali tidak ada jebakan yang menjadi perintang perjalanan Alan dan yang lainnya.


Langkah rombongan tersebut berhenti di sebuah pohon besar. Tidak ada yang special sama sekali dari pohon tersebut, membuat siapapun tidak akan mencurigai jika pohon besar tersebut adalah markas dari sebuah Organisasi pembunuh bayaran bernama Death Mask.


Cleo mengambil sebuah benda dari tas penyimpanannya, sebuah batu berwarna hijau tua. Dilemparkannyaa batu tersebut ke arah pohon besar. Batu tersebut pun melayang dan memancarkan cahaya hijau, lalu dengan perlahan pohon besar di hadapan mereka berlima langsung terangkat dengan sendirinya.


"Luar biasa..." Alan sedikit terkejut dengan apa yang dirinya lihat. Dirinya pernah melihat sebuah pintu masuj ruang rahasia di bawah tanah. Namun apa yang dirinya lihat kali ini benar benar berbeda kualitasnya.


Dua tahun New World berjalan, dan para player benar benar memanfaatkan waktu tersebut untuk membuat semua yang ada di New World semakin mengesankan.


"Mari masuk..." Ajak Cleo setelah pintu rahasia terbuka seutuhnya. Batu hijau yang melayang tadi pun terbang kembali kepada Cleo untuk dirinya simpan.

__ADS_1


Alan tidak berekspektasi lebih pada Markas Death Mask, mengingat lokasinya yang tersembunyi di bawah tanah. Namun rupa rupanya apa yang dirinya lihat jauh lebih dari ekspektasinya. Markas Death Mask tersusun begitu rapi, meskipun di dalam tanah. Lantai dan dinding yang digunakan untuk menyusun setiap lorong dan ruangan merupakan batu granit kualitas terbaik. Alan tidak bisa membayangkan, berapa uang yang dikeluarkan oleh organisasi bernama Death Mask tersebut untuk membangun markas seperti ini.


"Saya membawakan apa yang Anda minta Commander." Salam Cleo pada seorang wanita yang tengah duduk manis di salah satu sofa dalam ruangan. Sekali melihat Alan bisa tahu jika ruangan tempatnya berdiri ini khusus digunakan untuk menyambut tamu Death Mask.


Alan sedikit terkesima melihat apa yang dirinya lihat, seorang player wanita berpakaian serba minim nampak sedang menikmati teh. Baju biru langitnya hanya menutupi sebagian tubuhnya, memperlihatkan sebagian besar belahan yang menjadi penghias dadanya. Lekuk tubuhnya pun jelas terlihat, sebuah lubang pusar di tengah tengah perut pun menjadi pemandangan tersendiri yang tidak boleh dilewatkan.


Wanita tersebut pun berdiri untuk menyambut tamunya. Belahan rok yang memperlihatkan kaki panjangnya pun kini bisa Alan temukan.


"Selamat datang saya ucapkan... Perkenalkan, saya Atlantik... Maaf dengan sebutan apa saya harus memanggil Anda berdua?" Atlantik berkata dengan sopan, dirinya masih belum mengetahui kedua sosok di hadapannya merupakan laki laki atau perempuan. Jubah yang menutupi semua tubuh mereka benar benar menjalankan tugasnya dengan sempurna.


"Cukup panggil aku AS... Dan ini pelayanku, Flyin." Jawab Alan pada wanita berambut hitam yang baru saja memperkenalkan diri tersebut.


"Silahkan duduk Tuan AS..." Atlantik menggestur tangannya untuk mempersilahkan duduk kedua tamunya. "Teh? Atau Wine?" Tawar Atlantik yang berjalan ke meja di sudut ruangan. Di atas meja tersebut sudah disiapkan beberapa macam minuman. Menandakan Atlantik sudah siap untuk menyambut kedua tamunya tersebut.


"Apa saja..." Alan tidak terlalu berharap untuk mendapat sajian. Dirinya kesini hanya ingin memastikan apa yang Commander Death Mask inginkan.


"Silahkan..." Atlantik memberikan dua gelas Wine kepada tamunya. Meskipun Alan tidak meminta, tentu sudah menjadi kewajiban Atlantik untuk menyiapkan sajian yang terbaik.


Dan... Wuek... Rasanya tidak enak... Alan bingung kenapa orang orang rela membayar mahal untuk suatu minuman yang rasanya campur aduk tidak karuan. Campuran rasa antara basi, masam, dan sedikit rasa manis. Untung saja tudung hitamnya berhasil menutupi wajah ketidaksukaannya. Kalau saja tidak, mungkin Atlantik dan Cleo langsung akan tahu jika Alan adalah seorang anak kampung yang baru pertama kali minum Wine.


"Tidak usah buru buru... Sepertinya pelayan Anda begitu menikmati Wine yang saya hidangkan..." Bibir kecil Atlantik tersenyum kecil, menambah kesan cantik yang dimiliki oleh Atlantik langsung meningkat berkali kali lipat.


"Flyin..." Alan sedikit terkejut, melihat gelas yang Flyin bawa sudah habis.


"Ada apa Tuan? Bukankah ini enak?" Balas Flyin dengan polosnya. Flyin juga baru pertama kali minum Wine. Dan hasilnya... Wine tidak kalah lezat dari darah. Begitulah menurut Flyin.


"Ah... Sudahlah..." Alan tidak mau mempermasalahkan apa yang Flyin lakukan, lagipula minuman itu sudah disajikan. Terserah Alan dan Flyin akan menghabiskannya atau tidak.


"Begini Tuan... Saya ingin membeli item yang Anda miliki." Atlantik langsung pada pokok permasalahan. Sekali melihat, dirinya tahu jika Alan bukanlah orang yang suka dengan basa basi.


"Item apa yang kamu maksud?"

__ADS_1


"Item yang bisa melipatgandakan penalti kematian. Saya siap membayar berapa pun yang Anda minta."


"Oh... Bagaimana kalau aku tidak mau?"


"Ayolah Tuan... Saya yakin jika Anda sadar dimana saat ini Anda berada." Atlantik tetap tersenyum kecil. Mengingatkan Alan jika dirinya tidak menerima satu hal yang bernama penolakan.


"Ohh... Ayolah... Bukankah kamu tahu, kenapa aku dan temanku ini mau kesini? Apa kamu pikir kami tidak bisa keluar dari sini begitu saja?" Jawab Alan tanpa kehilangan rasa khawatir.


"Tentu saya paham. Oleh sebab itu saya menawarkan untuk membelinya. Bukan dengan merebutnya." Atlantik mengambil cangkir tehnya, tetap tidak merasa khawatir akan peringatan dari Alan.


"Aku tidak bisa memberikan item itu padamu. Item itu terlaku berharga bagiku." Alan meletakkan gelasnya, menandakan tidak ada lagi hal yang perlu didiskusikan di tempat ini.


Atlantik sedikit menahan geramnya, baru kali ini ada orang yang tetap bersikukuh menolak tawarannya. Padahal dirinya sudah sangat berbaik hati pada orang tersebut. Atlantik pun ikut meletakkan cangkir tehnya di atas meja.


"Apa Anda benar benar serius dalam hal itu?" Atlantik sekali lagi memastikan jawaban dari Alan. Sekali lagi dirinya mendapatkan penolakan, maka semua yang berjaga di dalam ruangan tersebut akan langsung bergerak.


"Apa kamu pikir semua yang sedang memandangku cukup menakutiku?" Senyum Alan di balik tudungnya. Dirinya sudah tahu jika dirinya sedang diawasi lebih dari 20 orang di dalam ruangan tersebut.


"Hem... Anda yang memaksa kami kalau begitu..." Atlantik melambaikan tangannya, memberi tanda kepada semua anggota Death Mask di dalam ruangan tersebut untuk bergerak.


Cleo tahu jika perundingan ini tidak akan berjalan lancar. Tadinya Cleo ingin memperingatkan Commandernya, namun nampaknya semua tidak bisa dihindarkan. Dirinya sadar kedua belah pihak tidak mau saling mengalah. Mundur dan mengamankan diri sendiri adalah pilihan yang terbijak. Dirinya sadar seperti apa kekuatan yang dimiliki oleh AS. Semua anggota Death Mask bergerak pun belum tentu bisa menghabisinya.


Lebih dari 20 player yang bersembunyi di kegelapan ruangan langsung keluar untuk menyerang Alan. Kedua puluh player itu semua adalah Assassin yang terlatih, memberikan serangan cepat dan mematikan adalah spesialisasi mereka.


"Kau juga yang memaksaku kalau begitu..." Alan mengeluarkan aura kegelapan yang begitu kental dari dalam tubuhnya. Membuat sosok Alan yang masih duduk terlihat begitu mengerikan.


Wuing...


Alan mengaktifkan Shadow Zone, mengatur semua yang tadinya bergerak langsung menjadi berhenti. Semua yang di dalam Shadow Zone pun langsung berhenti seketika.


"Harusnya kalian sadar... Siapa sebenarnya yang kalian lawan..." Alan melihat wajah Atlantik yang terlihat begitu terkejut. Wajah cantik yang tadinya begitu percaya diri pun kini terlihat begitu ketakutan karena ulah Alan.

__ADS_1


"Matilah kalian..." Alan menembakkan jarum beracun dari gauntletnya ke arah Assassin yang mengincar dirinya. Semua yang terkena jarum beracun Alan pun hanya bisa meratapi nasib mereka sembari merasakan sakitnya terkena racun dari Alan.


__ADS_2