New World

New World
Kota Morelia 5


__ADS_3

Serangan bola api putih Naga Yang begitu dahsyat. Naga Yin tidak menduga sama sekali jika serangan bola api Naga Yang akan begitu dahsyat. Tubuh Naga Yin sampai tidak bisa melanjutkan terbangnya. Terjatuh bebas dari ketinggian, hingga berhenti menabrak bangunan bangunan yang ada di Kota Morelia.


"Yin... Sadarlah..." Teriak Naga Yang, dirinya terbang mendekati kepulan asap yang menyelimuti tempat mendaratnya Naga Yin. Naga Yang tahu betul jika Naga Yin yang sekarang tidak bisa mengendalikan kekuatan Naga Yin yang sebenarnya. Terlihat jelas dari bagaimana Naga Yin menerima serangan Naga Yang.


Jika saja itu Naga Yin yang sesungguhnya, tentu Naga Yin bisa menghalau serangan bola api putih yang dikeluarkan oleh Naga Yang dengan sempurna. Semua karena keberadaan mereka berdua adalah bentuk keseimbangan. Sekuat apapun Naga Yang menyerang Naga Yin, Naga Yin akan bisa mengimbangi serangan Naga Yang. Jika Naga Yin yang dikendalikan oleh Selene memang benar benar bisa menggunakan kekuatan Naga Yin yang sesungguhnya. Tentu serangannya tadi tidak akan membuat Naga Yin terkapar di atas tanah.


Duar...


Sebuah semburan api hitam langsung menyembur ke arah Naga Yang, membuat reruntuhan bangunan dan kepulan asap yang menyelimuti Naga Yin menyingkir seketika.


"Dasar..." Naga Yang menggerutu, melihat partnernya masih juga belum sadar dari pengaruh The Command.


Dengan Semburan api putihnya, Naga Yang menyingkirkan api hitam yang menuju ke arahnya. Membuatnya hilang seketika. Naga Yang memanfaatkan jeda waktu yang ada dari pertukaran serangan untuk memberikan serangan lanjutan. Mencoba menyadarkan Naga Yin dari kebodohannya.


"Dasar bodoh! Kenapa kamu masih belum sadar!" Naga Yang melesat cepat ke arah Naga Yin. Dengan cakar di kedua kaki belakangnya yang siap mencabik tubuh Naga Yin.


Bruk...


Kedua cakar Naga Yang mendarat sempurna di kedua pundak Naga Yin. Membuat tubuh Naga Yin harus sekali lagi mencium kerasnya tanah Kota Morelia.


"Bodoh! Sadar!"


"Sadar!"


Berkali kali Naga Yang menghajar kepala Naga Yin di kepalanya. Mencoba membenarkan fungsi otak Naga Yin yang sedang terpengaruh oleh The Command.


"Uargh..." Naga Yin mencoba memberontak sekuat tenaga. Tapi berat tubuh Naga Yang benar benar telah mengunci Naga Yin tepat di titik keseimbangannya. Membuat Naga Yin tidak bisa menggerakkan badannya dengan leluasa. Ditambah lagi, ekor Naga Yang melilit kedua kaki Naga Yin, membuat Naga Yin benar benar harus pasrah diberi pelajaran oleh Naga Yang.


###


"Harus ku akui... Kamu lawan yang merepotkan!" Azazel tidak bisa mempungkiri, Selene beserta keenam duplikat tubuhnya benar benar merepotkan untuk dilawan. Walaupun bukan seorang Jenderal Besar Demon, namun kekuatan yang ditunjukkan oleh Selene hampir mengimbangi seorang Jenderal Besar Demon.


"Jangan terlalu banyak bicara! Kamu sudah membuang waktuku terlalu banyak!" Selene menyerang kembali Azazel dengan cambuknya. Dirinya merasa begitu kesal, melihat Azazel bisa begitu hebat dalam memainkan pedangnya. Menangkis setiap lesatan cambuk yang dirinya maupun keenam duplikat tubuhnya berikan. Padahal dirinya sedang tidak ingin berlama lama bertarung dengan Azazel, rasa rindu kepada sosok Marry benar benar telah memenuhi isi hatinya. Membuat Selene tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Butuh seribu duplikat tubuhmu untuk bisa melukaiku!" Azazel memperbesar aura kecokelatannya dan menyebarkan kekuatan cahaya yang ada di dalam tubuhnya.

__ADS_1


Wuing...


Hempasan angin langsung menyebar ke segala penjuru. Melemparkan duplikat tubuh Selene yang mengepung dirinya. Untung saja Selene tahu apa yang akan dilakukan oleh Azazel, dirinya masih sempat untuk membuat jarak dan menghindarkan dirinya dari terlempar seperti duplikat tubuhnya.


"Mari serius..." Azazel mengincar keenam duplikat tubuh Selene terlebih dahulu. Kecepatan dan kekuatan Azazel langsung meningkat dengan pesat, dengan cepat Azazel menghabisi dua dari enam duplikat tubuh Selene yang masih tergeletak di atas tanah.


"Ini?" Selene terkejut melihat peningkatan kekuatan Azazel. Dirinya memang pernah mendengar kehebatan dari sang Fallen Angel, Azazel. Namun dirinya tidak menduga jika kecepatan dan kekuatan Azazel jauh lebih hebat daripada yang dirinya bayangkan.


"Jangan harap kamu bisa bertindak sesuka hatimu. Bukan hanya kamu yang bisa meningkatkan kekuatanmu!" Selene menggigit giginya sendiri. Melihat kekuatan dan kecepatan Azazel, tidak ada jalan lain untuk menang dari Azazel selain menggunakan skill terkuat dari Cambuknya.


"Head Sacrifice!"


Dengan satu bisikan dari Selene, keempat duplikat tubuhnya yang terpencar perlahan memudar. Keempat duplikat tubuh Selene tersebut secara perlahan berubah menjadi partikel cahaya kecil berwarna keunguan. Setiap partikel cahaya kecil tersebut menuju ke tubuh Selene yang asli, berkumpul menjadi satu untuk memberikan kekuatan tambahan bagi Selene.


"Ini gawat..." Azazel mencoba menghentikan apa yang sedang Selene persiapkan. Dirinya tahu akan sulit menghadapi Selene jika Selene telah berhasil mengumpulkan kekuatannya.


Namun Selene juga tanpa persiapan. Dirinya tahu jika Azazel tidak akan membiarkan dirinya begitu saja mengumpulkan kekuatan dari tubuh duplikatnya. Dengan tatapan jahat dari kedua bola matanya, Selene bersiap mengaktifkan The Command.


"Apa ini?" Azazel tahu dirinya akan dalam bahaya jika terus maju menyerang Selene. Melihat sekilas tatapan mata Selene, pikirannya bagaikan mendapat serangan yang begitu kuat, langsung menusuk ke dalam inti pikirannya. Untung saja Azazel memiliki insting bertarung yang telah terlatih. Membuat dirinya bisa menyadari akan bahaya yang bisa menimpa dirinya, jika dirinya tetap melanjutkan menyerang Selene.


"Tapi semuanya akan berakhir sampai disini!" Selene berhasil mengumpulkan kekuatan dari keempat tubuh duplikatnya. Tubuh Selene perlahan berubah, cakar keluar dari ujung jari jarinya. Tanduk di kedua kepalanya pun semakin memanjang, membuatnya melengkung hingga menutupi kedua telinganya.


Meskipun demikian, sebenarnya Selene agak sedikit kecewa dengan kekuatan yang didapatnya saat ini. Jika saja keenam tubuh duplikatnya Selene korbankan maka dirinya akan mendapatkan peningkatan 300% kekuatan.


Namun... Selene merasa 200% peningkatan kekuatan yang dirinya dapatkan dari mengorbankan keempat tubuh duplikatnya sudah dirasa cukup untuk menghadapi Azazel.


Slash...


Kecepatan lesatan cambuk Selene meningkat begitu pesat, dengan sekejap saja ujung cambuk Selene sudah mendarat di salah satu bahu Azazel. Jika saja bukan karena kualitas baju zirah yang dipakai Azazel, tentu bahu Azazel sudah akan bernasib sama dengan tangan kiri Flyin.


Azazel tidak mengira... Peningkatan kekuatan Selene jauh dari yang dirinya bayangkan, lesatan cambuk yang baru saja dirinya dapatkan menjadi buktinya. Namun Azazel juga tidak bisa berlama lama meratapi sakit di bahunya. Selene telah muncul di dekatnya, cakar tangan kirinya siap untuk mengoyak dada Azazel.


Thang...


Azazel berhasil menangkis cakar Selene dengan pedangnya, namun dari sekali pertukaran serangan tersebut. Azazel tahu jika kekuatan Selene berada di atasnya. Azazel terpaksa harus mundur beberapa langkah ke belakang untuk menyeimbangkan tubuhnya.

__ADS_1


Azazel pun sedikit mengumpat di dalam hati, membiarkan Selene berhasil mengumpulkan kekuatannya. Namun pilihan Azazel terbukti lebih bijak. Lebih baik menghadapi Selene dengan peningkatan kekuatan yang luar biasa, daripada dirinya harus terperangkap di dalam kekuatan The Command milik Selene.


"Kenapa? Terkejut?" Selene memasang senyum licik di wajah mulusnya. Dengan satu pertukaran serangan yang baru saja terjadi, Selene tahu jika dirinya bisa mengalahkan Azazel dengan cepat. Keinginan untuk segera bertemu dengan Marry pun nampaknya akan segera terwujud.


###


Setelah menghabisi semua Demon yang ada di depan Istana Marry, Alan merasakan Shadow Blood di dalam dirinya bertambah jauh lebih kuat. Bahkan kini terasa Shadow Blood berusaha keluar dengan sendirinya di dalam tubuh Alan.


"Untung saja Naga Yang sempat mengikat Shadow Blood..." Alan bergumam sendiri, beruntungnya dirinya telah membiarkan Naga Yang mengikat Shadow Blood. Jika saja tidak... Mungkin kini Shadow Blood sudah lepas kendali, dan mengambil kendali tubuh Alan seutuhnya.


"Kamu baik baik saja?" Rendemiz menghilangkan kekuatan specialnya, dan muncul di dekat Alan. Rendemiz bisa melihat jika Alan sedang mencoba untuk mengatur nafasnya. Seakan akan Alan sedang bertarung susah payah dengan seseorang.


"Ya... Masih bisa aku atasi..." Alan mengatur nafasnya agar bisa teratur, menenangkan jiwa Shadow Blood yang begitu kuat bukanlah hal yang mudah bagi dirinya. Ditambah lagi stamina dirinya juga sudah terkuras, efek menggunakan Real Counter tadi.


"Ayo... Kita segera masuk!" Alan mengajak Rendemiz untuk memasuki Istana Marry. Berusaha segera menuntaskan kepentingan dirinya mendatangi Istana Marry.


Pintu gerbang Istana Marry pun terlihat dengan jelas. Dua buah daun pintu hitam besar tersemat diantara dinding batu yang kokoh. Ukiran ukiran berbentuk mawar menghiasi setiap daun pintu tersebut. Dari sekali melihat saja... Alan sudah yakin, jika pintu tersebut tidak akan hancur jika diserang dengan sihir berskala sedang.


Ketika Alan telah sampai di depan pintu gerbang, tanpa disangka kedua pintu gerbang tersebut terbuka dengan sendirinya dari dalam. Seakan akan kedatangan Alan dan Rendemiz telah disambut oleh si pemilik Istana.


"Terbuka?" Alan sedikit heran, melihat pintu gerbang yang terbuka secara perlahan, tadinya dirinya menyangka jika perlu usaha ekstra untuk bisa membuka pintu gerbang tersebut. Namun nyatanya... Pintu gerbang terbuka dengan sendirinya.


Pemandangan di dalam Istana Marry pun bisa mulai Alan dan Rendemiz lihat. Taman berwarna hijau menjadi penghias kanan kiri jalan bebatuan yang menghubungkan pintu gerbang dengan pintu bangunan Istana. Sebuah taman hijau yang sangat jarang sekali bisa terlihat di dunia Abyss, dunia yang dipenuhi dengan warna hitam dan merah.


Namun Alan tidak terlalu terfokus pada taman hijau tersebut. Alan lebih tertarik pada seseorang yang tengah berdiri di atas jalan bebatuan. Sosok seorang Demon pria dengan bekas luka bakar di sekujur tubuhnya, sebuah pedang yang tidak diragukan lagi kualitasnya tergenggam erat di tangan kanannya.


"Zepar?" Satu kata dari Rendemiz membuat Alan mengalihkan pandangannya dari sosok Zepar. Membuat dirinya melihat ke arah Rendemiz, memastikan apakah yang dikatakan Rendemiz tersebut benar adanya.


Melihat reaksi wajah Rendemiz, Alan pun tersenyum puas. "Baguslah... Aku tidak perlu repot repot mencari dirimu!" Alan menggenggam erat The Forgotten Dagger dan Black Poison Dagger, bersiap bertarung dengan Zepar. Dirinya tahu... Satu satunya cara untuk bisa mendapatkan kembali Timeless Blade dari tangan Zepar adalah dengan bertarung dengan Zepar.


*****Maaf kemarin tidak update... Padahal weekend ya... Pasti banyak yang nungguin...


Maaf sekali? Musim pancaroba sudah datang... Ingat... Angin pancaroba jahat... Sejahat perlakuan dia kepadamu...


Eya...

__ADS_1


Tetep jaga kesehatan*...**


__ADS_2