
Alan dan Clara sampai di depan sebuah rumah kecil di pinggiran desa. Di halaman depan rumah tampak tanaman tanaman herbal yang terawat.
Clara mengajak Alan untuk masuk ke dalam rumah.
"Kakek... Clara pulang..." Clara membuka pintu sambil memanggil kakeknya.
Namun setelah beberapa kali Clara memanggil tidak juga ada jawaban dari kakeknya.
"Kakek... Kakek..." Clara langsung berlari ke arah kamar kakeknya. Begitu membuka kamar kakeknya, Clara mendapati kakeknya tergeletak di lantai kamar. Ada darah di bawah kepala kakeknya.
"Kakek... Kakek kenapa?" Teriak Clara sambil menangis.
Alan yang mendengar suara clara yang panik langsung menyusul Clara di kamar kakeknya. Terlihat Clara sedang memangku kepala kakeknya di paha Clara, sambil terus menangis.
Alan melihat ada noda darah di ujung meja sebelah Clara dan kakeknya berada.
"Clara.. Biar aku bantu pindahkan kakekmu ke atas ranjang." Kata Alan sambil mendekati Clara dan kakeknya.
Clara melepaskan pelukannya ke kakeknya dan membiarkan Alan mengangkat kakeknya ke ranjang.
"Apakah kamu memiliki perban atau sejenisnya untuk membalut luka?" Tanya Alan.
Clara hanya mengangguk, sepertinya pikirannya masih syok.
"Tolong sekalian air hangat ya Clara... Luka kakekmu perlu dibersihkan terlebih dahulu." Kata Alan.
Selang beberapa saat clara datang membawa wadah berisi air dan perban. Alan pun membersihkan luka kakek Clara dan membalutnya dengan perban.
Alan mencoba memegang pergelangan tangan kakek Clara. Dia terkejut mendapati adanya denyut nadi lemah yang dia rasakan dari tangan kakeknya. "NPC juga memiliki denyut nadi?" Batin Alan.
"Kakak AS... Apakah kakek baik baik saja?" tanya Clara. Clara merasa kalau Alan mengerti soal ilmu medis. Karena memegang pergelangan tangan kakeknya, Clara berpikir Alan sedang memeriksa kondisi kakeknya.
"Kakekmu tadi terjatuh dan kepalanya mengenai ujung meja sehingga kepala kakekmu berdarah. Biarkan kakekmu beristirahat dulu sampai kondisinya membaik." Kata Alan.
"Apakah kakek bisa sembuh?" Kata Clara.
"Harusnya bisa Clara... Luka kakekmu tidak terlalu dalam." Jawab Alan.
Luka yang Alan maksud adalah luka di kepala kakeknya. Sedangkan yang Clara khawatirkan adalah penyakit dalam kakek Clara. Beberapa tahun ini kakek Clara memang menderita penyakit yang misterius.
Sebenarnya tidak hanya kakeknya Clara saja. Orang orang di desa Middlemist yang sudah berusia 50 tahun keatas juga menderita penyakit misterius ini.
__ADS_1
Di Middlemist village hanya ada 1 orang tabib. Itupun tabib yang masih dalam kelas Apprentice. Tabib sekelas Naster atau Grand master hanya ada di kota besar atau di ibukota.
Penduduk pun tidak ada yang berani untuk pergi membawa keluarganya yang sakit ke kota. Karena jarak yang jauh dan rintangannya terlalu berbahaya.
Alan dan Clara pun meninggalkan kamar kakeknya agar kakek Clara bisa beristirahat. Mereka duduk di meja makan sambil berkenalan lebih dekat.
Clara pun bercerita kalau kakek Clara adalah seorang Master Alchemist. Kakek Clara selama beberapa tahun ini mencoba membuat obat untuk penyakit misterius yang menimpa dirinya dan warga desa. Tapi hanya bisa membuat obat yang meringankan rasa sakitnya.
"Clara... Tanaman apa yang kamu cari di hutan tadi?" Tanya Alan.
"Aku mencari tanaman Moon Grass." Kata Clara.
"Apakah tanaman itu begitu penting? Sampai sampai kamu pergi sendirian kedalam hutan?"
"Moon Grass adalah bahan utama yang kakekku butuhkan untuk membuat obat penyakitnya."
"Aku lihat di depan rumahmu banyak tanaman herbal, kenapa kakekmu tidak menanamnya?"
"Hah... Kakekku sudah mencoba menanamnya. Tapi entah kenapa Moon Grass yang kakek tanam tidak pernah mau hidup. Hanya di dalam hutan saja Moon Grass bisa bertahan hidup."
Alan jadi penasaran dengan tanaman bernama Moon Grass. Harusnya struktur tanah di desa ini dengan di dalam hutan tidak jauh berbeda. Mengingat lokasinya tidak terlalu jauh. Pasti ada faktor dari luar yang mempengaruhi Moon Grass tidak bisa hidup di desa ini.
"Tentu." Clara lalu mengeluarkan Moon Grass yang tadi dia petik dari dalam tasnya. Clara mencabut tanaman Moon Grass secara utuh. dari ujung daun sampai ujung akar. Clara memang bermaksud mencoba menanamnya kembali. Siapa tahu kalau Clara yang menanam Moon Grass akan hidup.
[Tanaman Moon Grass, common plant.
Rerumputan liar yang hidup di dalam hutan dimana tidak ada angin yang berhembus.
dapat digunakan sebagai obat penahan rasa nyeri.]
"Hem... Jadi begitu..." Gumam Alan setelah melihat atribut dari Moon Grass.
"Apakah kamu mempunyai tempat yang terkena sinar matahari di dalam rumahmu?" tanya Alan pada Clara.
"Ada... Di belakang rumah ada lahan kosong tapi masih di dalam rumah. Sinar matahari juga cukup banyak disana." Jawab Clara.
"Bagus... Tanamlah ini disana. Kemungkinan Moon Grass ini akan tumbuh jika kamu menanamnya disana." Kata Alan.
Clara menuruti perintah Alan. Dia menanam Moon Grass di belakang rumah. Berharap kali ini Moon Grass akan bisa hidup.
Setelah menanam Moon Grass clclara kembali menemani Alan. Alan banyak bertanya tentang desa Middlemist kepada Clara. Dari sini Alan bisa tahu kalau Middlemist termasuk wilayah dari kerajaan South Mountain. Di Midland terdapat 15 kerajaan. 3 kerajaan besar dan 12 kerajaan kecil. South Mountain adalah salah satu kerajaan kecil.
__ADS_1
Jarak Middlemist ke kota terdekat pun sangat jauh, terpisahkan pegunungan yang membentang dari barat ke timur. itu sebabnya middlemist menjadi desa yang sangat terpencil.
Menurut cerita dari clara, nenek moyang penduduk desa Middlemist bukan berasal dari Midland. Tapi sekumpulan nelayan yang terdampar di pinggir pantai. Mereka pun membangun Middlemist ini sebagai tempat tinggal.
"clara... Clara..." Suara rintihan kakek Clara mengejutkan Alan dan Clara. Mereka berdua pun berlari ke kamar kakek Clara.
"kakek... Kakek sudah sadar... Apakah masih terasa sakit?" Tanya Clara yang terlihat panik.
"Ahh..." Kakek Clara yang mencoba untuk duduk merasakan sakit di kepalanya.
"Pelan pelan kek..." Clara membantu kakeknya untuk duduk bersandar pada ranjang.
"Clara... Siapa dia?" Tanya kakek Clara setelah melihat Alan.
"Pemuda ini bernama AS kakek. Dia tadi menyelamatkanku di hutan, dan membantu mengobati kakek."
"Terima kasih banyak AS. Namaku Vincent, Kakek sangat berhutang budi kepadamu."
[Selamat player telah membantu keluarga Vincent.
membuka hidden atribut Honor.
Honor + 100]
Alan sempat terpaku karena mendengar notifikasi. Tapi dengan cepat dia sadar masih dalam percakapan dengan Vincent.
"Tidak perlu sungkan kek. Saya hanya melakukan apa yang mesti saya lakukan."
"Kau sungguh rendah hati nak. Jarang sekali anak muda sepertimu. Kalau ada yang kamu inginkan agar aku bisa membalas budi katakanlah. Selama itu bisa kupenuhi akan kupenuhi."
"Terima kasih banyak kakek Vincent. Tapi aku benar benar tidak menginginkan apa apa."
"Sungguh beruntung sekali aku bertemu denganmu nak. Tapi aku juga orang yang tidak suka berhutang budi."
"Tidak perlu dipikirkan kek. Yang penting sekarang kakek beristirahat agar cepat sembuh."
"Hahaha..." Tawa Vincent pelan.
"Begini saja. Bagaimana kalau kau menjadi muridku?" Tawar Vincent
"Murid ?"
__ADS_1