
"Dasar anak tidak tahu diri!" Chris Wellington melemparkan gelas wine yang sedang di genggamnya. Gelas wine yang membentur dinding pun langsung pecah menjadi kepingan kepingan kaca.
Steven yang berdiri di depannya pun hanya bisa terdiam mematung. Dirinya sudah menduga jika ayahnya akan sangat marah. Steven lebih memilih diam daripada dirinya harus menjadi korban kemarahan ayahnya.
"Dimana anak itu? Suruh dia pulang sekarang!" Bentak Chris Wellington sambil mencoba mengatur nafasnya. Dirinya tidak ingin penyakit jantung yang dideritanya langsung kambuh hanya karena satu berita tentang ulah anaknya.
"Dia masih di asrama Univertsitas Ayah... Lebih baik Ayah tenangkan diri Ayah dulu. Tidak baik buat kesehatan Ayah jika Ayah marah marah seperti ini."
"Aku tidak tahu jalan pikiran anak itu." Chris menyandarkan dirinya pada kursi yang ada di ruang kerjanya tersebut. Setelah duduk emosinya berhasil sedikit mereda.
"Apa yang dia katakan padamu?"
"Aku tidak tahu pasti Ayah... Tapi katanya dia ingin menolong temannya."
"Temannya?" Criss Wellington mengerutkan dahi setelah mendengar penjelasan dari Steven. Chriss Wellington pun terdiam cukup lama, memikirkan apa yang terbaik bagi dirinya dan anaknya satu itu. Steven juga tidak berani menganggu diamnya Ayahnya tersebut. Suasana ruangan pun menjadi hening untuk beberapa saat.
"Baiklah kalau dia ingin seperti itu... Aku ijinkan dia... Tapi aku tidak akan memberikan dukungan kepadanya."
"Maksud Ayah?" Steven mesti berpikir keras untuk mengerti perkataan Ayahnya tersebut.
"Hentikan pasokan dana kepadanya. Bekukan seluruh kartu kreditnya!"
"Ayah..." Steven ingin membela Toni, tapi langsung terdiam setelah mendengar bentakan dari Ayahnya.
"Cukup... Biarkan dia hidup sesukanya. Kalau dia ingin kebebasan... Akan kuberikan kebebasan kepadanya."
Steven pun tidak berani melawan lagi setelah emosi Ayahnya kembali naik. Ayahnya adalah tipikal orang yang tidak akan merubah keputusan yang sudah dirinya buat. Kini Steven hanya bisa merasa kasihan kepada Toni yang harus hidup tanpa sokongan dari orang tuanya. Steven pun meninggalkan ruang kerja ayahnya sebelum dirinya mendapat masalah lainnya.
"Hah... Dasar adik tukang bikin masalah..." Steven menggelengkan kepalanya sambil terus berjalan menelusuri koridor rumahnya.
Dirinya sudah menduga jika Ayahnya akan bertindak pada hal yang paling frontal seperti ini. Mengingat dulu Ayahnya sudah pernah mengancam Toni satu kali.
Memang apa yang terjadi pada Toni tidak akan berefek terlalu besar kepadanya. Namun tetap saja... Nalurinya sebagai kakak terus bekerja. Kakak akan selalu berusaha untuk melindungi adiknya, dan Steven selalu berusaha untuk menjadi kakak yang baik untuk adik satu satunya tersebut. Oleh sebab itu dirinya tidak bisa membiarkan begitu saja pada masalah yang menimpa Toni.
"Milton... Bisa kamu urus dokumen dokumennya? Aku perlu hari ini juga." Steven menutup panggilan teleponnya setelah selesai berucap, tanpa menunggu respon dari Milton yang ada di seberang panggilan. Steven percaya jika Milton akan langsung melakukan apa yang dirinya pinta tanpa mempertanyakan alasannya.
Ayahnya boleh saja menghentikan dana dan membekukan seluruh kartu kredit Toni. Tapi paling tidak dirinya bisa menyiapkan sesuatu sebagai pegangan Toni untuk sekedar bertahan hidup.
###
Malam harinya di dunia nyata, atau siang hari di New World. Toni beserta Red Ascend telah bersiap untuk meninggalkan Ibukota Royal Empire. Dirinya telah melepas statusnya sebagai Wakil Guild Master yang dirinya pegang sebelumnya.
Kereta kuda yang dirinya sewa tengah bersiap untuk berangkat di depan markas Guild. Lebih dari 30 player mantan anggota divisi Toni berbaris rapi di depan kereta kuda. Entah apa yang akan dilakukan mereka, Toni hanya bisa memberikan senyum tipis kepada mereka.
"Commander... Apa kamu yakin?" Blue Shark memastikan sekali lagi keputusan Toni untuk meninggalkan Guild Supernova.
__ADS_1
"Kenapa kalian begitu murung? Aku hanya pergi ke Kerajaan lain. Kita masih bisa bertemu lagi nantinya..." Toni tidak menanggapi pertanyaan Blue Shark tapi lebih memilih mengomentari raut wajah para mantan anggota divisinya tersebut.
"Kami tentu akan merindukanmu Commander..." Blue Shark tidak bisa menahan rasa sedihnya. Walaupun mereka baru saling mengenal beberapa bulan, namun tetap saja. Dirinya telah bertarung dalam pertarungan hidup dan mati bersama Toni selama beberapa bulan ini. Dan harus dirinya akui juga, Toni merupakan pemimpin yang sangat bijak. Dirinya tidak yakin jika akan memiliki Commander seperti Toni lagi.
"Hem..." Toni yang melihat wajah sedih dari para mantan anggota divisinya menjadi ikut terbawa suasana. Toni pun memilih untuk segera naik ke kereta kuda, takut jika dirinya tidak kuasa menahan kesedihan dan meneteskan air mata. Akan sangat memalukan jika para mantan anggota divisinya melihat mantan Commander mereka menangis.
"Suatu kehormatan bagi kami sempat menjadi anggota divisi Anda..." Blue Shark memberi hormat ala ala militer kepada Toni yang sudah naik ke kereta kuda bersama Red Ascend.
Toni hanya bisa memberikan senyum tipisnya, tidak bisa berkata kata. Dirinya begitu terharu melihat para player mantan anggota divisinya begitu menghargainya.
Pintu kereta kuda pun ditutup oleh sang kusir, Kedua kuda yang berdiri di depan kereta pun mulai menghentakkan kakinya. Memaksa kereta di belakangnya untuk mengikuti langkah kaki kedua kuda.
Para player mantan anggota divisi Toni tidak berhenti memberi hormat sampai kereta kuda yang membawa mantan Commander mereka menghilang di keramaian Ibukota Royal Empire.
"Kamu beruntung memiliki teman teman seperti mereka." Red Ascend menepuk pundak Toni yang terlihat begitu murung.
"Ya... Mereka sudah seperti keluarga bagiku. Tapi kepergianku juga untuk menyelamatkan salah satu saudaraku." Toni menggenggam erat tangan Red Ascend yang ada di pundaknya. Seakan akan dirinya berkata jika dirinya sangat beruntung memiliki pendamping seperti Red Ascend.
Toni sudah bersiap siap dengan mengumpulkan informasi yang mungkin akan berguna baginya selama perjalanan. Berdasarkan informasi yang dirinya dapat dari intelijen guild, Perjalanan ke Kerajaan South Mountain akan memakan waktu kurang lebih 2 bulan. Itupun jika tidak ada halangan. Toni dan Red Ascend mesti melewati satu kerajaan lagi sebelum bisa menginjakkan kaki di Kerajaan South Mountain, yaitu Kerajaan Hidden Forest. Kerajaan asli tempat tinggal para bangsa Elf. Toni harap dirinya dan Red Ascend tidak akan mendapat halangan selama perjalanan kesana.
Sebuah panggilan tiba tiba masuk dari sistem Toni. Toni segera mengangkatnya setelah melihat panggilan sistem tersebut berasal dari kakaknya, Bug Fire.
"Ada apa Kak?"
"Aku sudah berangkat dengan kereta kuda... Maaf kalau aku tidak berpamitan kepadamu?"
"Hah... Dasar..."
"Ada apa mencariku? Kamu sudah bertemu dengan ayah?"
"Justru itu aku mencarimu."
Toni langsung merasakan hal yang tidak wajar, karena Bug Fire sampai ingin bertemu dengannya untuk bicara tentang Ayahnya. Toni hafal dengan kelakuan kakaknya satu ini. Jika kakaknya itu akan menyampaikan berita baik, pastinya Bug Fire hanya akan langsung memberitahukannya lewat pesan. Berbeda cerita jika itu berita buruk, Bug Fire pasti akan memilih untuk bertemu langsung dengannya.
"Aku tahu... Pasti Ayah marah kan?"
"Tadinya dia marah, tapi setelah aku jelaskan... Dia membebaskanmu dari semua tanggung jawab."
"Bagus lah kalau begitu..." Toni sempat tersenyum mendengar penjelasan kakaknya.
"Tapi..."
"Tapi apa?"
"Dia juga membebaskanmu dari sokongan keuangan keluarga."
__ADS_1
Toni pun terdiam tidak bisa berkata apa apa. Hal yang paling dirinya khawatirkan akhirnya terjadi juga. Memang dirinya sudah siap untuk menanggung semua resiko dari keputusannya, tapi mendengar berita seperti ini tetap saja membuat Toni sedikit berpikir keras.
Tanpa dukungan keuangan keluarga? Itu artinya Toni harus mencari uang untuk biaya hidupnya sendiri. Namun yang paling Toni khawatirkan bukan tentang dirinya sendiri. Dirinya bisa saja bekerja paruh waktu atau berdagang item di New World untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya. Toni lebih khawatir pada Red Ascend atau May.
Dojo yang dikelola oleh Andre, ayahnya May menggunakan fasilitas yang disediakan oleh keluarga Toni. Akan sangat berpengaruh pada kelangsungan operasional dojo jika keluarga Wellington menarik semua fasilitas yang mereka siapkan.
"Begitukah? Tidak bisakah kamu membantuku?"
"Aku sudah menyiapkan beberapa hal untuk membantumu. Besok Milton akan datang ke asrama."
Toni sedikit merasa lega setelah kakaknya telah menyiapkan sedikit bantuan. Kakaknya itu memang selalu terbaik dalam mengantisipasi segala kemungkinan.
"Terima kasih banyak kak... Kamu memang kakakku yang terbaik..."
"Hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku harap kamu akan selalu baik baik saja..."
"Itu sudah cukup kak... Terima kasih..."
"Jaga dirimu baik baik... Hubungi aku jika kamu perlu sesuatu." Bug Fire menutup panggilan sistemnya.
Toni pun kini mengalihkan pandangannya ke arah May. Panggilan sistem hanya bisa diketahui oleh pemanggil dan si penerima panggilan. Jadi May masih belum mengetahui apa yang baru saja Toni bicarakan dengan kakaknya. Yang May tahu hanyalah Toni baru saja melakukan panggilan dari sistem.
"Siapa?" Sontak May bertanya setelah melihat pandangan Toni yang begitu aneh baginya.
"Kakakku..."
"Apa dia marah?"
Toni menjawab dengan gelengan kepala, wajahnya masih menunjukkan wajah datar. Dirinya berpikir keras apa yang harus dikatakannya kepada May tentang masalah ini.
"May..."
"Ya..."
"Bagaimana jika aku tidak kaya lagi? Apa kamu masih akan bersama diriku?"
"Tentu tidaklah..." Tawa May menggoda kepada Toni.
Toni hanya mengerucutkan bibirnya setelah May tidak menjawab pertanyaannya dengan serius. Dirinya ingin berkata lagi tapi langsung dihentikan oleh bibir May yang mendarat di bibirnya.
Cup... Aahh...
"Dengar... Aku bersamamu bukan karena hartamu. Aku bersamamu karena aku nyaman di dekatmu. Jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu hanya karena harta." Setelah melepaskan kecupan bibirnya, May memandang wajah Toni dengan begitu serius. Seakan akan apa yang disampaikannya barusan adalah kata terakhir dalam hidupnya.
"Terima kasih May... Kamu memang selalu ada untukku." Toni memeluk erat May, dirinya merasa beruntung telah mengenal May. Tentu saja dirinya juga berterima kasih kepada Alan yang telah mempertemukan dirinya dengan May, gadis pujaan hatinya.
__ADS_1