New World

New World
Tertarik?


__ADS_3

Terduduk termenung... Membaca sepucuk surat dari ibunya, membuat mata Alan berkaca-kaca.


"Dalam surat pun ibu tetaplah ibu... Selalu memberikan sebuah wejangan untukku..." Alan sedikit tersenyum. Membaca akhir surat Liliyana yang berisi wejangan untuk dirinya.


Disimpannya surat dari Liliyana, dan diambilnya surat dari Julian untuk Alan baca selanjutnya.


"Hah... Ayah..." Alan nampak sedikit ragu untuk membaca surat dari ayahnya. Entah kenapa dirinya merasa belum siap membaca surat dari ayahnya tersebut.


"Alan..." Sebuah suara wanita mengejutkan Alan yang nampak masih memandangi surat dari Julian. Dengan segera Alan mengalihkan pandangannya ke arah sang pemilik suara.


"Kak Rose?" Alan seraya berdiri... Menyambut sesosok wanita cantik berbaju pink yang tengah berjalan mendekatinya.


Harus Alan akui... Rose nampak anggun dengan baju yang serba tertutup seperti ini. Tidak seperti biasanya, dimana Alan selalu melihat Rose dengan pakaian yang cenderung sexy.


"Sedang apa kamu di sini?" Tanpa basa basi Rose mendekati Alan. Melihat secarik kertas terlipat yang dibawa Alan, Rose langsung memusatkan perhatian ke arah kertas yang dipegang Alan.


"Ah tidak apa..." Buru buru Alan menyimpan surat tersebut. Tidak ingin sampai Rose merebutnya dan membaca isinya. Dirinya saja belum membaca surat tersebut. Jangan sampai ada orang lain yang membacanya terlebih dahulu.


"Apa kamu habis menangis?" Melihat ekspresi aneh Alan, Rose mengalihkan pandangannya ke arah wajah Alan. Dan kedua bola mata yang nampak masih berair bisa dengan mudah Rose tangkap.


"Menangis?" Alan langsung salah tingkah. Rose mengenal dirinya sebagai seorang yang kuat, tegar, cerdas selama ini. Jangan sampai Rose mendapati sisi lemah dari dirinya.


"Hahaha...." Rose pun tertawa melihat tingkah Alan. Dengan santainya dirinya mendudukkan diri di atas rumput di samping Alan.


"Tidak masalah jika memang kamu menangis. Terkadang menangis memang satu satunya jalan agar kita bisa merasa melepaskan beban di hati." Lanjut Rose setelah memposisikan diri senyaman mungkin. Pandangan dirinya tidak terarah ke arah Alan. Melainkan ke arah sungai kecil yang berada di hadapannya.


"Apa memang begitu?" Alan ikut memposisikan diri di samping Rose. Entah kenapa... Ada suatu magnet tersendiri yang memaksa dirinya untuk duduk berdua dengan wanita bergaun pink tersebut.


"Ya... Aku pun juga sering melakukan hal itu..." Jawab Rose singkat.


Detik demi detik terjeda setalah ungkapan dari Rose.. Kediaman melanda di antara mereka berdua.


"Menangis sebagai tanda kita sedang mengalami kesedihan. Tapi kita tidak boleh larut dalam kesedihan. Kesedihan hanya akan membawa kita kepada suatu kehancuran." Lanjut Rose setelah terdiam.


"Maksudmu?" Alan menoleh ke arah Rose yang tetap memandangi aliran air yang begitu tenang.


"Sesedih apapun kita... Pasti ada suatu kebahagiaan yang sedang menunggu kita. Entah itu hanya sebutir debu kebahagiaan, atau pun seluas lautan kebahagiaan. Kita tidak akan pernah tahu tentang apa yang ada di depan kita."


"Kita hanya tidak boleh berhenti berharap dan berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan itu." Kali ini Rose mengalihkan pandangannya ke wajah Alan. Memberikan sebuah senyuman yang begitu menawan untuk dilihat.

__ADS_1


"Haha..." Alan hanya tertawa samar. Dirinya tidak tahu harus bersikap seperti apa. Entah itu karena dirinya gagal fokus akan senyuman Rose? Atau karena memang perkataan Rose terlalu berat untuk dirinya cerna.


"Ya... Aku bisa berkata seperti itu karena aku pernah mengalaminya."


"Aku pernah jatuh terpuruk hingga mungkin aku enggan untuk bisa bangkit lagi. Tapi seseorang memberikan sebuah jalan baru untuk diriku bisa melewati hidup ini."


"Walaupun sampai saat ini aku belum bisa mendapatkan kebahagiaan yang sepenuhnya aku harapkan. Tapi aku yakin... Aku berada pada jalan yang tepat untuk meraih kebahagiaan diriku ini."


"Benarkah? Siapa seseorang yang beruntung itu?" Alan justru malah penasaran dengan sosok yang disebutkan dalam perkataan Rose.


"Kau ingin tahu?"


Alan hanya menjawab dengan mengangkat kedua alisnya. Untuk apa dirinya tadi bertanya jika memang tidak ingin tahu jawabannya?


"Rahasia... Hahaha...." Rose pum kembali mengalihkan pandangannya dari wajah Alan. Dirinya merabahkan tubuh rampingnya di atas rumput untuk menikmati langit biru yang begitu cerah hari ini.


###


Thok... Thok...


Suara ketukan pintu membuat seorang wanita yang berada di dalam ruangan tersebut meletakkan cangkir teh yang baru akan dirinya minum. Wajah kesal karena acara minum tehnya terganggu pun diperlihatkan dari raut wajahnya.


"Permisi Nona... Simons datang untuk memberikan laporan." Suara seorang wanita yang lemah lembut namun terselimuti ketakutan datang dari seorang wanita yang baru saja memasuki ruangan. Pekerjaannya yang menjadi seorang sekretaris pribadi wanita tersebut, membuat dirinya mengetahui jika suasana hati bosnya sedang tidak baik.


"Suruh dia masuk!"


"Baik Nona..."


Wanita tersebut buru buru kembali keluar untuk mempersilahkan Simons memasuki ruangan wanita tadi. Tidak ingin sampai dirinya mendapatkan masalah dari hal hal sepele lainnya.


"Nona Isabel..." Simons langsung memberi hormat setelah dirinya memasuki ruangan sang empunya. Dirinya tahu betul jika dirinya tidak bersikap sopan, hanya masalah yang akan dirinya terima. Bahkan bersikap sopan pun masih belum menjamin dirinya tidak akan mendapatkan masalah.


Dirinya mungkin saja seorang Full Winter, Guild Master yang begitu dihormati oleh anak buahnya di New World. Namun di hadapan gadis remaja satu ini. Posisi Guild Master di New World bagaikan posisi satpam penjaga gerbang pintu masuk. Isabela bisa dengan sesuka hati mengganti posisi Guild Master.


"Tidak usah basa basi Simons... Apa pembelaan mu?" Isabel tidak akan tertipu dengan semua sikap hormat yang ditunjukkan kepada dirinya. Dirinya tahu betul, jika semua orang bersikap begitu hormat kepada dirinya hanya karena statusnya sebagai anak ketiga dari pemegang saham terbesar Sun Flower Grup.


Jika saja dirinya bukan wanita yang terlahir dari keluarga Sun Flower Grup, dirinya yakin 100%, semua orang belum tentu akan bersikap begitu hormat dan menjilat pada dirinya.


"Saya tidak bisa membela diri Nona... Semua memang salah saya yang tidak bisa mengurus bisnis dengan benar." Jawab Simons dengan sedikit gugup. Meskipun dirinya tahu itu bukan jawaban yang tepat, tapi dirinya merasa itu adalah jawaban paling masuk akal saat ini.

__ADS_1


Membentuk sebuah alasan yang konyol untuk menyelamatkan diri sendiri memang terkadang bisa menyelamatkan keadaan. Namun tentu tidak di hadapan Isabela. Gadis remaja kaya raya satu ini terlalu pintar untuk dibohongi. Dirinya hanya tinggal mengeluarkan satu perintah untuk menyelidiki kesalahan Simons, dan semua alasan konyol yang Simons buat akan langsung terbongkar.


Lebih baik mengakui kesalahan dan meminta maaf, berharap jika dirinya masih akan mendapatkan kesempatan yang kedua.


Wajah Isabel nampak mengerut. Di luar ekspektasi, Simons tidak membela diri. Dari satu hal tersebut pun bisa dirinya simpulkan jika memang masalah yang Simons hadapi bukan suatu masalah kecil di New World. Namun tetap saja... Dirinya butuh penjelasan dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Jelaskan padaku semuanya!"


"Ingat!" Belum sampai Simons menjawab, Isabel langsung memotong bicara lagi.


"Semuanya!"


"Musuh yang kita hadapi saat ini..." Simons pun menjelaskan tentang semua hal yang terjadi. Mulai dari persaingan bisnis dengan Heaven Throne, sampai dengan proses serangan yang sama sekali tidak terduga.


Simons juga tidak lupa menjelaskan seketat apa sistem penjagaan yang telah mereka lakukan. Namun tetap saja... Penjagaan yang telah mereka lakukan memang telah berhasil ditembus.


"Hah..." Isabel hanya menghela nafas setelah mengetahui jalan cerita yang disampaikan Simons. Dirinya bisa menangkap jika lawan yang mereka hadapi memang ahli dalam seni perang.


Bahkan setelah lawan pergi sekalipun, pihak Sun Flower Guild begitu kesulitan untuk mengurangi dampak serangan. Bahkan jujur saja... Dampak terbesar yang mereka rasakan datang setelah lawan memilih untuk mundur.


"Apa kamu bisa membuktikan jika Heaven Throne berada di balik semua ini?" Isabel menarik sebuah kesimpulan sendiri. Satu satunya yang ingin mencari masalah dengan Sun Flower Guild adalah Heaven Throne. Hanya saja Heaven Throne tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menyerang secara terbuka. Itulah sebabnya mereka melakukan cara licik seperti ini.


"Sayangnya tidak Nona... Saya juga sempat berpikir pada Heaven Throne... Tapi melihat kekuatan mereka yang tidak ada apa apanya... Pikiran saya langsung teralihkan."


"Baiklah... Berapa lama kamu bisa melakukan pemulihan seperti sedia kala?"


"Setengah tahun mungkin cukup Nona..." Jawab Simons dengan ragu.


"Buat semua rencanamu bisa selesai dalam tiga bulan! Dan selama pemulihan, lakukan penyelidikan untuk menemukan pelaku serangan!"


"Baik Nona..." Simons tidak berani menolak perintah. Dirinya masih beruntung tidak digantikan posisinya pada saat itu juga. Masalah tiga bulan perkebunan dan pabrik harus kembali seperti sedia kala, itu bisa dirinya diskusikan dengan para Kaptennya di New World.


"Jika tidak ada lagi kamu bisa pergi!" Isabel berdiri dari kursinya. Menggestur tangannya agar Simons meninggalkan ruangannya.


"Baik Nona..." Simons tidak pikir panjang, dengan hati hati keluar dari ruangan singa muda betina di hadapannya tersebut.


"New World... Benar benar dunia yang menarik..." Isabel tersenyum sembari memandang ke arah luar jendela. Dirinya tidak habis pikir, ada sekelompok orang yang bisa menghancurkan hasil jerih payah dua tahun sebuah guild hanya dalam satu malam.


"Lorensa... Bisa kamu carikan helm VR New World untuk ku satu?" Perintah Isabel pada sekertaris pribadinya melalui telepon yang ada di meja kerja.

__ADS_1


"Baik Nona..." Jawab Lorensa melalui loudspeaker telepon meja.


__ADS_2