
"Jangan khawatir Guild Master... Aku akan berusaha semampuku untuk bisa membalas kekalahanmu..." Gumam Gina sebelum dirinya naik ke atas arena pertarungan. Nama dirinya telah dipanggil untuk mengisi pertarungan selanjutnya beserta Golden Boy.
Langkah kaki Gina hampir bersamaan dengan Golden Boy. Adegan saling lirik untuk meneliti kekuatan lawannya masing masing pun tidak terhindarkan.
"Boy... Semangat Boy... Lova selalu mendukungmu..." Dealova berteriak sekencang kencangnya. Menjadikan pria jadi jadian tersebut menjadi pusat perhatian. Dan bukannya malu karena menjadi pusat perhatian, Dealova justru menari ala pemandu sorak. Dengan untaian rumbai rumbai di masing masing tangannya, Dealova menari dengan gemulainya. Rumbai rumbai yang entah dirinya dapatkan darimana asalnya, bergoyang ke kanan dan ke kiri.
Golden Boy serasa ingin bunuh diri kala itu, dirinya benar benar merasakan mentalnya down sampai ke titik terendahnya.
"Kekasihmu begitu setia kepadamu..." Senyum Gina saat kedua peserta tersebut telah berhadap hadapan, dengan Flyin di antara kedua peserta tersebut.
"Lebih baik kamu diam! Selesaikan ini dengan cepat! Dan Dia bukan kekasihku!" Geram Golden Boy yang sudah tidak tahan dengan kondisi yang menimpa dirinya.
"Sungguh laki laki yang temperamen."
"Peserta siap?" Flyin menoleh ke kanan dan ke kiri di atas arena pertarungan yang baru saja diperbaiki dalam sekejap mata tersebut. Tentu itu semua terjadi karena kemampuan pilar pilar yang ada di sekitar arena pertarungan. Pilar pilar tersebut bisa memulihkan arena pertarungan sepertu sedia kala meskipun hancur tak bersisa.
"Mulai..."
Satu kata dari Flyin membuat kedua peserta mengakhiri perbincangan sinis mereka. Kedua peserta langsung bersiap dengan senjata mereka masing masing.
Golden Boy yang seorang Knight langsung membawa Great Swordnya untuk menebas Gina. Gina yang seorang Archer tentu tidak tinggal diam dengan usaha Golden Boy mendekati dirinya. Pertarungan jarak dekat tentu tidak akan menguntungkan dirinya.
"Menyerahlah... Archer tidak akan diuntungkan di atas arena ini.."
Golden Boy terus menerus mencoba menebas Gina dengan Great Swordnya, namun langkah Gina nyatanya jauh lebih cepat dari Golden Boy. Di samping Gina memiliki level 5 level lebih tinggi dari Golden Boy karena special classnya. Atribut yang dimiliki Gina memang terspesialisasi untuk kecepatan.
"Apa kamu yakin? Tangkap aku dulu untuk membuktikan pendapatmu..." Gina terus melompat kesana kemari untuk menghindari serangan Golden Boy. Dirinya belum bisa menemukan kesempatan untuk bisa melesatkan anak panahnya.
Tidak sedikit penonton yang menguap ketika melihat pertarungan antara Golden Boy dan Gina. Setelah melihat pertarungan antara Poska dan Fire Blade yang begitu menegangkan, pertarungan antara Golden Boy dan Gina hanya seperti anak kecil yang main kucing kucingan.
"Huuu...."
__ADS_1
"Ayo serang..."
"Jangan lari terus!"
Teriakan penonton pun menggema di seisi Abyss Colloseum. Mereka benar benar merasa kecewa akan pertarungan kedua babak 16 besar.
"Lihatlah... Penonton pun tidak menyukai gaya bertarungmu..." Golden Boy mencoba memanfaatkan situasi untuk memancing Gina.
"Tidak ada peraturan yang melarangku untuk terus menghindar kan?" Balas Gina yang nampak tidak terpengaruh akan provokasi dari Golden Boy.
Apa yang dilakukan Gina bukanlah tanpa alasan, dirinya sebenarnya bisa saja mengalahkan Golden Boy. Dirinya hanya sedang mempersiapkan sebuah rencana untuk menghadapi Poska di pertandingan selanjutnya.
Di setiap Gina menapakkan kedua kakinya, Gina meninggalkan satu tanda bayangan di atas arena. Sebuah tanda bayangan yang busa dirinya gunakan untuk mengeluarkan skill pamungkas miliknya nanti ketika menghadapi Poska.
Terdengar curang? Memang... Tapi tidak ada peraturan yang menjelaskan jika Gina tidak boleh menyiapkan sebuah jebakan di atas arena. Pertarungan di Abyss Colloseum adalah pertarungan hidup dan mati Hanya ada satu peraturan yang berlaku di atas arena ini, yaitu yang hidup adalah yang menang.
Barulah setelah 20 menit Gina terus menghindari serangan Golden Boy, Gina berhasil meninggalkan jejak bayangan di setiap permukaan arena pertarungan. Kini dirinya bisa menghabisi Golden Boy untuk memastikan dirinya menjadi lawan Poska nantinya.
Alan mesti belajar dengan baik bagaimana cara untuk mengendalikan mana yang dirinya miliki di dalam tubuhnya. Jujur saja... Hal seperti itu sangat berguna dalam pertarungan nantinya.
"Bisa kita serius sekarang?" Gina tersenyum kecil setelah menyelesaikan tujuannya.
"Kamu yang tidak serius dari tadi..." Celoteh Golden Boy yang merasa diremehkan oleh Gina.
"Kalau begitu kamu yang memaksaku..." Gina menarik satu anak panahnya dan melesatkan ke atas langit.
"Kamu membidik kemana?" Golden Boy tidak menyadari apa yang Gina lakukan. Dirinya terlalu terfokus untuk menghabisi Gina dengan Great Swordnya.
Thang...
Tebasan pedang besar Golden Boy di tangkis begitu saja oleh Gina dengan busur panahnya. Meskipun Gina sampai terpental beberapa meter ke belakang karena perbedaan kekuatan, tapi paling tidak hal itu tidak membuat Gina terbunuh.
__ADS_1
"Kamu bisa lihat ke atas sekarang..." Senyum Gina jelas terpancar ketika dirinya berhasil menyeimbangkan tubuhnya.
Golden Boy melihat ke atas seperti yang Gina pinta. "Alamak..." Golden Boy menelan ludahnya dalam dalam. Jelas sekali tadi dirinya melihat Gina hanya melesatkan satu anak panah ke atas langit. Namun kini ada ribuan panah yang ujung runcingnya mengacung ke bawah. Semua arena pertarungan bahkan kini telah tertutupi oleh bayangan anak panah.
Penonton yang melihat ribuan anak panah pun juga ikut terkesima. Mereka semua kini menarik kata kata mereka yang tadi telah menganggap Gina sebagai petarung yang lemah.
"Rain of Dark Arrow!"
Satu kata dari Gina langsung membuat ribuan anak panah tersebut meluncur ke arah arena pertarungan. Golden Boy yang melihat hal tersebut langsung mengaktifkan skill perlindungan diri terkuatnya. Mencoba memastikan dirinya selamat dari serangan Gina.
Namun nyatanya percuma, ribuan anak panah Gina seperti hujan anak panah yang tidak ada habisnya. Skill perlindungan diri Golden Boy tidak bisa menahan semua anak panah Gina. Satu persatu anak panah Gina menancapi tubuh Golden Boy, seakan tubuh Golden Boy adalah sebuah papan latihan panahan. Golden Boy harus menerima jika dirinya telah kalah dalam pertarungan melawan Shadow Archer tersebut.
"Pemenangnya adalah Gina..." Flyin mengumumkan pemenang pertarungan kedua setelah tubuh Golden Boy jatuh tak bernyawa di atas arena. Puluhan, tidak bahkan ratusan anak panah menancap di tubuh Golden Boy.
Penonton pun masih terdiam, Gina yang sedari tadi terlihat tidak diuntungkan. Nyatanya bisa memenangkan pertarungan dengan Golden Boy dalam satu kali serang. Para penonton yang sempat menghina Gina tadi pun merasa khawatir, takut jika Gina menghafal wajah mereka dan berniat membalas hinaan mereka tadi di luar arena pertarungan.
"Boy... Tidak..." Dealova berteriak histeris, dirinya tidak menerima jika Golden Boy harus kalah oleh seorang Archer wanita yang menjadi lawannya.
Namun itulah kenyataannya, Golden Boy benar benar telah kalah dalam pertarungan melawan Gina. Dealova hanya bisa mengeratkan setiap tinjunya, dan ingin membalas kekalahan Golden Boy atas Gina. "Awas saja kamu... Tidak akan aku biarkan kamu hidup tenang..." Umpat Dealova yang merasa salah satu pria miliknya telah diganggu oleh seorang Gina.
###
Pertandingan pun dilanjutkan untuk pertandingan ketiga, di mana pertandingan ketiga akan menjadi lahan pertarungan antara Ken dan Blast.
Kedua peserta telah naik ke atas arena pertarungan setelah kedua nama mereka dipanggil oleh Flyin. Mereka berdua saling berhadap hadapan dengan tatapan yang tajam dimana Flyin berada di antara mereka berdua.
"Aku harap kamu bisa serius sekarang..." Blast tersenyum ke arah Ken yang akan menjadi lawannya.
"Kamu bercanda? Sepertinya yang tidak pernah serius itu kamu... Ayo... Berikan yang terbaik..." Tanggapan dari Ken membakar semangat bertarung antara mereka berdua.
"Pertandingan ketiga... Ken melawan Blast... Dimulai..." Perkataan Flyin pun mengawali pertandingan antara dua pemain solo tersebut. Blast dengan kedua belati tajamnya, dan Ken yang bertarung dengan tangan kosongnya.
__ADS_1