
Rendemiz, terlahir sebagai anak dari Asmodias, Satu dari tujuh Jenderal besar Demon. Kehidupan Rendemis pada mulanya sangatlah nyaman, tidak pernah sekalipun dirinya merasakan yang namanya kesulitan hidup. Semua kebutuhannya akan selalu ada. Bahkan untuk mencari makan sekalipun, semua kebutuhannya akan segera disediakan oleh pelayan pelayannya.
Rendemiz digadang gadang akan menjadi penerus dari ayahnya, mengingat dirinya juga terlahir dengan kekuatan special yang hebat. Invisibility, itulah kekuatan dari Rendemiz. Rendemiz dapat membuat dirinya tidak terlihat oleh siapapun.
Kehidupan masa kecil yang nyaman, ditambah kekuatan special yang hebat. Membuat Rendemiz begitu jenawa, dirinya menganggap posisi ayahnya sebagai salah satu dari ketujuh Jenderal besar para Demon pasti akan diberikan kepadanya. Rendemiz pun menyepelekan pelatihan pelatihan yang diberikan kepadanya. Bahkan tidak jarang Rendemiz menggunakan kekuatan specialnya untuk kabur dari jadwal latihannya.
Apa yang Rendemiz dapatkan berubah 180° ketika dirinya berumur 148 tahun. Terutama setelah kelahiran adiknya, Selene. Walaupun seorang wanita, Selene lebih diunggulkan untuk menjadi penerus ayahnya dari pada Rendemiz. Semua karena Selene terlahir dengan kekuatan yang sangat special, The Command.
Selene dapat memberikan perintah yang tidak bisa ditolak kepada siapapun yang memandang matanya. Lagipula sifat Selene jauh lebih mencerminkan kedemonannya dari pada Rendemiz. Selene terlahir dengan sifat yang sangat ambisius. Dirinya sangat tidak menyukai ketidaksempurnaan di depan matanya. Mulanya hubungan kedua kakak beradik tersebut berjalan normal. Namun semakin kesini. Selene terlihat jauh lebih pantas untuk menggantikan posisi Ayahnya daripada Rendemiz.
Rendemiz yang merasa keberadaannya tersisihkan karena keberadaan Selene, akhirnya memilih untuk meninggalkan kehidupannya yang nyaman. Walaupun terkesan manja, Rendemiz memiliki harga diri yang sangat tinggi. Dirinya tidak ingin dipandang sebelah mata oleh para Demon di lingkungannya karena keberadaan adik perempuannya.
Rendemiz menggunakan kekuatan specialnya untuk dapat kabur dari Istana Ayahnya. Rendemiz yang bisa membuat tubuhnya tidak terlihat, tentu tidak memiliki masalah berarti untuk sekedar keluar dari Istana Ayahnya yang memberikan kehidupan nyaman. Tanpa terdeteksi oleh para penjaga yang menjaga ketat Istana, Rendemiz keluar dari Istana tanpa diketahui siapapun.
Berbekal beberapa harta yang dirinya bawa dari kediaman ayahnya, Rendemiz memulai hidupnya yang baru. Bukan sebagai Rendemiz putera dari Asmodias, tapi Rendemiz yang mencerminkan diri sendiri. Pada mulanya Rendemiz begitu menikmati kehidupan sendirinya. Tidak ada yang namanya jadwal latihan, tidak ada namanya pembelajaran sihir atau lainnya yang tentunya membuat Rendemiz bosan.
Namun Rendemiz mulai menyadari jika langkah yang dirinya ambil salah, setelah dirinya menjual satu satunya harta yang tersisa dari harta yang dirinya bawa dari Istana Ayahnya. Harta tersebut adalah sebuah pedang bernama Timeless Blade. Pedang yang seakan bisa menghentikan waktu. Pedang yang menjadi harta turun temurun dari keluarganya.
Tadinya Rendemiz berpikir jika dirinya membawa pedang tersebut, dirinya tidak akan menemukan masalah berarti untuk menjalani hidup barunya. Namun apa yang Rendemiz pikirkan jauh dari kenyataannya. Kehidupan di dunia Abyss jauh lebih keras dari apa yang bisa dirinya bayangkan. Rendemiz tidak bisa menggunakan kekuatan special dari pedang tersebut. Semua karena tubuh Rendemiz yang tidak bisa menampung kekuatan yang diberikan oleh pedang tersebut.
Bahkan dengan bantuan Timeless Blade tersebut, Rendemiz kesulitan untuk membunuh monster yang akan dirinya makan. Rendemiz sudah terbiasa dengan kehidupan yang semua kebutuhannya terpenuhi. Dirinya tentu tidak ingin terlalu repot repot berburu monster hanya demi apa yang bisa dirinya makan. Namun keadaan berkata lain. Kehidupan Rendemiz terus berjalan, dan dirinya perlu asupan energi untuk bertahan hidup. Keadaan memaksa Rendemiz untuk menjual Timeless Blade yang dirinya bawa dari Istana Ayahnya.
__ADS_1
Alangkah disayangkan sekali, Rendemiz hanya menukarkan Timeless Blade dengan 50 Summoner Crystal. Jika Asmodias tahu akan hal ini, membunuh Rendemiz 100 kali pun tidak akan memberikan kepuasan baginya. Bayangkan... Harta warisan keluarga, ditukar hanya dengan 50 Summoner Crystal. Orang tua mana yang tidak akan marah dengan kelakuan anak seperti itu? Apalagi orang tua itu adalah bangsa Demon, bangsa yang selalu mengedepankan kekerasan.
50 Summoner Crystal memang bisa membuat Rendemiz bertahan hidup. Tapi untuk berapa hari? Hari demi hari berlalu, satu demi satu Summoner Crystal yang dimiliki Rendemiz dirinya makan, sampai akhirnya Summoner crystal tersebut habis.
Rendemiz yang tidak mampu untuk berburu monster sendiri. Memilih menggunakan kekuatan specialnya untuk mencuri dari Demon yang dirinya temui.
Rendemiz terus menjalani hari demi hari dengan mencuri, tidak peduli jika jalan yang diambilnya sangat bertentangan dengan harga dirinya. Rendemiz... Demon yang tadinya digadang gadang akan menjadi penerus dari salah satu Jenderal besar Demon. Kini harus mencuri demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Rendemiz pun harus hidup berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Mengingat dirinya tidak ingin keberadaannya terlacak oleh Ayahnya. Dirinya sangat yakin jika Ayahnya sangat marah kepadanya. Mungkin Ayahnya tidak terlalu marah akan kepergiannya, tapi mencuri harta warisan keluarga? Sudah pasti Ayahnya ingin membunuhnya saat ini.
Kehidupan yang terus berpindah pindah membuat Rendemiz kali ini terdampar pada satu daerah yang terpencil, jauh dari wilayah kekuasaan ayahnya. Daerah itu bernama Pripyat.
Pripyat merupakan sebuah kumpulan bangsa Demon yang hidup menetap. Pripyat tidak bisa disebut kota seperti tempat tempat lain yang Rendemiz pernah datangi, itu karena Pripyat hanya dihuni tidak lebih dari 100 Demon.
Usaha Rendemiz yang selalu berhasil kabur dari para Demon yang berusaha merampoknya pun membuahkan hasil. Para Demon yang tadinya berusaha merampok Rendemiz akhirnya menyerah, dan menganggap Rendemiz sebagai salah satu warga Pripyat.
Suatu ketika, Rendemiz membantu para Demon yang berusaha merampoknya tersebut untuk merampok para pendatang Pripyat. Berkat kekuatan special Rendemiz, Rendemiz berhasil mengumpulkan informasi dengan sangat akurat. Membuat usaha perampokan tersebut berjalan sangat mulus.
Para Demon yang tadinya berusaha merampok Rendemiz pun kini berubah sifat menjadi teman baik Rendemiz setelah kejadian tersebut. Para Demon di Pripyat sangat mengakui kehebatan Rendemiz dalam mengumpulkan informasi dan eksekusi ketika merampok. Rendemiz pun berubah menjadi sosok yang disegani di Pripyat tersebut, mengingat dirinya tidak pernah gagal dalam usaha perampokan.
"Hem... Ada mangsa baru..." Rendemiz yang tengah berdiri di depan salah satu bangunan. Bibirnya tersenyum sambil matanya terus mengawasi pintu masuk kawasan Pripyat tersebut.
__ADS_1
Dua Demon baru saja memasuki Pripyat. Satu memakai setelan jas pelayan, satu lagi memakai jubah berwarna biru langit dengan topeng yang menutupi mukanya. Dua demon tersebut memang tidak terlihat kaya, namun melihat setelan jas pelayan salah satu demon tersebut. Rendemiz yakin jika demon yang memakai jubah tersebut adalah demon yang cukup berada. Mengingat dia membawa seorang pelayan untuk menemani perjalannya.
Rendemiz tidak langsung bergerak, namun lebih memilih untuk mengawasi kedua demon tersebut terlebih dahulu. Dirinya perlu menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya.
Sampailah kedua orang tersebut pada satu daerah yang sedikit ramai dengan para Demon. Para Demon yang ada di Pripyat hanya memandang sinis akan kedatangan kedua demon baru tersebut. Rendemiz menilai ini adalah waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya. Para Demon yang ada disana bisa menjadi pengalihan yang sempurna baginya.
Tubuh Rendemiz langsung tidak terlihat, bagaikan Rendemiz tidak pernah ada. Rendemiz mendekati kedua Demon tersebut dengan hati hati. Ketika dirinya sudah cukup dekat dengan kedua Demon tersebut, Rendemiz mulai melakukan aksinya. Dengan sebuah pisau kecil di tangan kanannya, Rendemiz berusaha untuk menebas leher Demon yang memakai jubah tersebut.
Rendemiz memilih untuk langsung menyerang Demon yang memakai jubah, dirinya lebih yakin jika Demon yang memakai jubah lebih banyak memiliki harta daripada pelannya. Keputusan Rendemiz memang benar, tapu juga salah besar. Benar karena Demon yang memakai jubah tersebut lebih lemah daripada pelayannya. Namun Salah besar, karena Demon yang memakai jubah tersebut sudah mengetahui keberadaanya.
Thang...
Pisau Rendemiz tidak pernah sampai pada leher Demon yang memakai jubah tersebut. Pisaunya terhenti beberapa centimeter sebelum mengenai sasarannya. Pisaunya terpental dan langsung bisa dilihat oleh para Demon yang ada disana, seakan akan pisau tersebut baru saja membentur pada sebuah benda yang sangat keras.
"Lumayan untuk perampok kecil... Namun usahamu sia sia..."
Bruk...
Sebuah pukulan langsung mendarat pada perut Rendemiz yang masih tidak terlihat. Rendemiz pun terpental ke belakang sampai menabrak salah satu bangunan yang ada disana. Tubuh Rendemiz pun kini bisa dilihat oleh para Demon yang ada di sekitanya.
"Urgh... Bagaimana bisa?" Rendemiz tidak menduga serangan dadakannya bisa ditangkis, padahal selama ini tidak ada yang bisa mendeteksi keberadaan dirinya saat menggunakan kekuatan specialnya.
__ADS_1
Para Demon yang ada di tempat tersebut juga terpana, baru kali ini mereka melihat ada yang bisa mendaratkan serangan pada Rendemiz ketika dirinya menggunakan kekuatan specialnya.
'Kalian ingin bermain? Majulah?" Demon yang memakai topeng tersebut mengeluarkan pedang dan belati dari balik jubahnya. Sementara pelayannya memilih untuk minggir dari tengah jalan, untuk menyaksikan sebuah tontonan.