
"Jadi... Kamu sosok yang telah mengganggu Marryku?" Sebuah pertanyaan membingungkan keluar dari mulut Zepar. Yang tentunya membuat Alan memiringkan kepalanya karena kebingungan.
"Maksudmu?"
"Tidak usah banyak bicara! Serahkan dirimu baik baik... Marry menginginkan kamu disiksa!" Zepar tanpa basa basi melesat ke luar gerbang. Menyerang Alan dengan Timeless Blade yang tergenggam di tangan kanan.
"Menyingkir!" Perintah Alan kepada Rendemiz, sembari dirinya melesat ke arah Zepar untuk menyambut tantangan terbuka Zepar.
Thang...
Thang...
Pertukaran serangan antara Alan dan Zepar tidak bisa terelakan. Keduanya saling berusaha menghabisi menggunakan senjata mereka masing masing.
Zepar adalah sosok High Demon yang kekuatannya bisa mengimbangi kekuatan Jenderal Besar Demon. Dari pertukaran serangan saja, Alan bisa mengetahui jika atribut yang dimiliki oleh Zepar lebih tinggi daripada atributnya. Ditambah lagi pedang Timeless Blade yang digunakan oleh Zepar. Jika saja Alan tidak menggunakan The Forgotten Dagger dan Black Poison Dagger secara bersamaan untuk menangkis setiap ayunan Timeless Blade, mungkin Alan sudah terlempar beberapa kali.
"Five Guardian!"
Alan merasa tidak akan bisa menghadapi Zepar seorang diri, memanggil five guardian tentu akan menjadi pilihan yang paling bijak. Lima prajurit bayangan muncul di sisi Alan, dengan masing masing senjata tersemat di tangannya.
"Maju!"
Satu kata dari Alan langsung membuat kelima prajurit bayangan yang tadinya hanya berdiri tegap kini melesat ke arah Zepar. Berusaha menyerang Zepar dari berbagai sisi.
Dikepung oleh lima prajurit bayangan nampak tidak membuat Zepar begitu kesulitan. Dengan Timeless Blade di tangan kanannya, dirinya bisa menekan kelima prajurit bayangan yang mengepung dirinya. Bahkan sesekali Zepar masih bisa mendaratkan serangan balasan ke masing masing prajurit bayangan. Membuat HP prajurit bayangan turun secara perlahan.
"Hebat..." Harus Alan akui... Melihat Zepar memainkan Timeless Blade dalam menghadapi kelima prajurit bayangannya, membuat dirinya kagum. Setiap ayunan pedang Timeless Blade dari Zepar benar benar efektif.
Mengamati dari jarak, Alan menunggu waktu yang tepat. Sampai Zepar membuka sedikit celah untuk bisa mendaratkan serangan ke arah Zepar.
Jleb...
Tanpa Alan sadari, sebuah pedang telah menusuk perut Alan dari belakang. Menembus perutnya hingga ujung pedang tersebut bisa dilihat dari arah mata Alan.
"Siapa?" Alan tidak menduga akan adanya serangan dadakan.
Untung saja pedang tersebut tidak mengenai bagian jantungnya. Meskipun HPnya berkurang hingga lebih dari setengah bar, namun luka tersebut masih belum cukup untuk bisa membunuh Alan.
Alan bisa melihat adanya sebuah tangan yang keluar dari dalam bayangannya. Tangan yang menggenggam pedang Timeless Blade.
"Bagaimana bisa?" Alan mencoba melepaskan pedang yang menembus perutnya tersebut, rasa sakit yang hebat mesti dirinya rasakan ketika mencoba melepaskan Timeless Blade dari perutnya.
Alan segera meminum tiga botol potion untuk menyembuhkan luka yang baru saja dirinya dapatkan. Dirinya masih dipenuhi pertanyaan, bagaimana bisa Zepar menyerang dirinya melalui bayangannya sendiri?
'Joker... Kamu tahu tekhnik apa yang menyerangku tadi?'
[Shadow Limb. Sebuah kekuatan yang bisa mengirimkan anggota tubuhnya untuk menempel pada bayangan. Baik itu bayangan benda maupun makhluk hidup.]
__ADS_1
'Shadow Limb?'
Alan tidak menduga... Zepar memiliki kekuatan special yang begitu hebat. Pantas saja Zepar digadang gadang memiliki kekuatan yang bisa mengimbangi kekuatan Jenderal Besar Demon.
"Aku tidak boleh lengah lagi..." Alan mengaktifkan Shadow Zonenya. Dirinya tentu tidak ingin kecolongan terkena serangan dadakan dari kemampuan special yang dimiliki Zepar sekali lagi. Dengan Shadow Zone, dirinya bisa merasakan jika akan adanya serangan dadakan yang mencoba menusuknya dari belakang.
Thang...
Seperti dugaan Alan, Zepar kembali melayangkan serangan dadakan kepada dirinya melalui bayangan Alan. Namun kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Alan tidak akan jatuh lagi ke dalam lubang yang sama. Shadow Zone membuat dirinya bisa merasakan datangnya serangan dari Zepar. Membuat Alan berhasil menangkisnya dengan sempurna.
"Kali ini giliranku!" Alan tentu tidak ingin berdiam diri dan menunggu Zepar menyerang dirinya. Menggunakan Shadow Zone terlalu lama juga akan terus menguras staminanya. Apalagi stamina dirinya kini sudah terkuras cukup banyak setelah menggunakan Real Counter tadi.
Beserta kelima prajurit bayangan, Alan mengepung Zepar. Mencoba menyerang Zepar dari berbagai sisi.
"Kurang ajar kamu bocah!" Zepar merasa begitu tersudut. Setelah Alan ikut bertarung, tubuhnya terasa jauh lebih berat dari biasanya. Jika bukan karena keahliannya dalam memainkan pedang, mungkin dirinya sudah terkena serangan di titik vital.
Merasa begitu tersudut, Zepar melompat ke belakang untuk mengambil jarak dari Alan dan kelima prajurit bayangannya. Tidak ada pilihan lain bagi Zepar untuk bisa mengalahkan Alan dan kelima prajurit bayangannya selain menggunakan kekuatan terkuat dari Timeless Blade, Time Space.
Zepar menggenggam Timeless Blade dengan kedua tangannya, meletakkannya di depan dadanya. Mengumpulkan kekuatan untuk mengaktifkan Time Space.
"Hati hati... Dia akan menggunakan kekuatan Timeless Blade!" Rendemiz yang masih bersembunyi di dalam mode tidak terlihatnya berteriak ke arah Alan. Memperingatkan Alan akan bahaya yang akan datang.
"Kekuatan Timeless Blade?" Meskipun diperingatkan oleh Rendemiz, Alan tentu terlambat untuk melakukan reaksi cepat.
"Time Space!"
Satu bisikan kalimat dari Zepar sudah cukup bagi dirinya. Bagaikan waktu sedang terhentikan, Zepar melihat semua yang ada di sekitarnya tidak bergerak sama sekali.
Alan tidak merasakan adanya perubahan, walaupun Zepar telah mengaktifkan Time Space. Yang dirinya tahu hanyalah sosok Zepar tiba tiba menghilang begitu saja.
Namun pertanyaan Alan terjawab sudah. Dua detik setelah sosok Zepar menghilang, kelima prajurit bayangannya tiba tiba mati. Ada yang tertebas menjadi dua, ada yang tercabik cabik. Satu hal yang Alan tahu, mereka berlima telah diserang dengan kecepatan yang super cepat.
Slash...
"Apa itu tadi?" Alan mendapatkan sayatan yang cukup dalam tepat di salah paha kakinya. Membuat Alan harus merasakan sakit di bagian paha kaki kirinya, yang tentunya membuat pergerakan Alan akan semakin melambat.
Alan hanya merasakan sekilas keberadaan seseorang di dalam Shadow Zone, lalu tiba tiba dirinya mendapatkan luka. Meskipun Alan tahu pasti jika sosok itu adalah Zepar, namun dirinya tidak menduga jika Zepar bisa menyerangnya dengan kecepatan yang super cepat.
Slash...
Slash...
Bagaikan disiksa secara perlahan. Alan mendapatkan sayatan demi sayatan di sekujur tubuhnya. HPnya pun berkurang terus menerus setiap dirinya mendapatkan sayatan dari Zepar.
"Sial... Jika saja aku tidak menggunakan Real Counter tadi!" Alan sedikit menyesali telah menggunakan Real Counter tadi. Jika saja dirinya menggunakan Real Counter saat ini, dirinya bisa menghadapi Zepar dengan begitu mudah.
Alan bisa saja menggunakan Real Counter sekali lagi. Tapi tentunya staminanya akan langsung terkuras habis, dan Alan tidak mau hal itu terjadi. Mengingat dirinya masih harus berhadapan dengan Marry setelah dirinya mengalahkan Zepar.
__ADS_1
"Wind Shield!"
Tidak mau mengaktifkan Real Counter, dan tidak mau terus menerus menerima serangan dari Zepar yang tidak bisa dirinya ikuti pergerakannya. Alan mengaktifkan Wind Shield untuk melindungi tubuhnya. Satu satunya cara untuk menahan serangan Zepar adalah dengan mengaktifkan pelindung yang melindungi seluruh tubuhnya. Meskipun Alan juga tahu, Wind Shield tidak akan cukup untuk menahan semua serangan Zepar. Tapi paling tidak, Wind Shield sudah cukup bagi dirinya untuk mempersiapkan langkah selanjutnya.
Thang...
Thang...
Dugaan Alan terbukti benar. Hanya dalam 3 detik saja, durabilitas Wind Shield Alan telah berkurang lebih dari tiga perempat. Menandakan Zepar terus menerus menyerang Alan tanpa henti. Padahal Wind Shield Alan memiliki durabilitas sebesar HP Alan, HP yang tiga kali lipat lebih banyak dari pada player manapun.
Alan memperlebar Shadow Zonenya. Mengaturnya agar mengurangi kecepatan siapapun yang ada di dalam Shadow Zone sampai ke batas maksimal yang bisa ditekan.
Langkah yang diambil Alan begitu efektif, dirinya kini bisa merasakan keberadaan Zepar yang datang dan pergi memberikan serangan pada Wind Shield. Meskipun sosok Zepar tetap saja tidak terlihat, namun Alan bisa mengetahui kapan Zepar akan menyerang dirinya.
"Bocah ini benar benar merepotkan!" Zepar mengumpat sendiri, melihat Alan kini bisa bergerak. Meskipun tetap masih dalam gerakan Slow Motion. Namun tetap saja, bisa terlihat bergerak di dalam Time Space merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa. Membuktikan Shadow Zone yang menekan dirinya benar benar membuat kecepatannya menurun sangat jauh.
Merasa kecepatannya menurun jauh, Zepar tentu tidak berani bertindak frontal dengan terus berada di dalam Shadow Zone. Zepar memilih sesekali memberikan serangan dan langsung mundur. Dirinya masih belum tahu sejauh mana Shadow Zone yang dimiliki oleh Alan bisa menekan kecepatannya. Akan sangat berbahaya bagi dirinya jika sampai kecepatannya ditekan lebih jauh jika dirinya terus terusan berada di dalam Shadow Zone.
Langkah yang diambil Zepar malah berakibat fatal pada dirinya. Tepat ketika dirinya memasuki area Shadow Zone untuk memberikan serangan, Alan menggerakkan mulutnya.
"Black Breath!"
Wush...
segumpal gas berwarna hitam keluar dari mulut Alan. Meskipun gerakan gas tersebut lambat, namun Zepar yang tengah melaju kencang ke arah Alan terlambat bereaksi untuk menghindarinya.
"Apa?" Zepar tidak menyangka sama sekali. Tubuhnya tidak mengikuti apa yang diinginkannya. Zepar ingin menebas Alan dengan pedangnya, namun tubuhnya seakan terhenti. Tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Ah... Akhirnya..." Alan kini bisa melihat sosok Zepar yang telah berhenti di hadapannya. Terlihat jelas jika Zepar berusaha menyerang kaki kanan Alan, yang tentunya akan membuat Alan tidak bisa berdiri dan melawan Zepar lagi.
"Kamu boleh saja cepat... Tapi secepat apapun kamu, kamu akan berhenti ketika berada di dalam kepulan gas ini." Alan tersenyum licik. Melihat raut wajah Zepar yang mencerminkan kekesalannya kepada Alan.
"Maaf? Tapi aku tidak bisa berlama lama denganmu..." Alan mengatur Shadow Zone untuk melunakkan semua benda keras yang ada di dalam Shadow Zone. Membuat tubuh Zepar yang tadinya begitu kuat kini menjadi seperti tahu putih yang lembek.
Slash...
Dengan satu kali tebas menggunakan The Forgotten Dagger, Alan menghabisi nyawa Zepar. Memisahkan kepala Zepar dari tubuh aslinya. Timeless Blade pun tergeletak di atas tanah, setelah terlepas dari genggaman tangan Zepar yang sudah tidak bernyawa.
Dari tubuh Zepar keluar bayangan hitam yang langsung masuk ke dalam tubuh Alan. Membuat Alan merasakan panas yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Bahkan Alan sampai harus jatuh menekuk lututnya, menahan rasa panas yang menyelimuti tubuhnya.
"Sial... Jiwa Demonnya kuat sekali..." Alan menggigit giginya sendiri, menahan sekuat tenaga rasa panas yang membakar dirinya dari dalam.
"Kamu tidak apa apa?" Begitu kepulan gas beracun hilang, Rendemiz bisa melihat sosok Apan yang tengah kesakitan. Dirinya langsung mendekati Alan untuk menanyakan keadaan Alan.
"Ya... Tapi ini panas sekali..." Alan masih mencoba menahan rasa panas yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Rendemiz tentu panik melihat kondisi Alan. dirinya ingin membantu tapi tidak tahu harus berbuat apa. Kepanikan Rendemiz semakin bertambah, ketika sebuah ledakan tiba tiba terjadi di dekat Alan dan Rendemiz.
__ADS_1
"Siapa itu?" Rendemiz mencoba memeriksa siapa sosok yang menyerang dirinya dan Alan. Namun setelah mengetahui siapa sosok yang menyerang mereka berdua, Rendemiz malah berpikir ulang tentang apa yang baru saja dirinya lakukan. Menyesali telah mengumpat pada sosok yang menyerang dirinya dan Alan.
"Marry?"