
Di suatu Istana salah satu Jenderal besar Demon, tengah duduk manis seorang Demon nan cantik jelita. Di tangan Demon tersebut tergenggam sebuah gelas yang normalnya digunakan untuk minum wine. Namun bukan wine yang dirinya minum, melainkan darah segar.
Srup...
Diminumnya perlahan darah yang ada di gelas tersebut, seakan akan dirinya tidak ingin melewatkan kenikmatan dari setiap tetesan darah tersebut. Senyum nan menggoda langsung terpancar di ujung bibir Demon tersebut, menandakan dirinya begitu puas dengan rasa darah yang baru saja dirinya minum.
"Bagaimana? Aku tidak bohong kan Mary?" Suara seorang pria terdengar dari kursi yang ada di hadapannya. Menanyakan tentang kualitas darah yang baru saja Mary cicipi.
"Harus aku akui... Kamu memang benar... Darimana kamu mendapatkan darah seperti ini?" Mary meletakkan gelasnya yang telah kosong ke meja yang menjadi pembatas antara kursinya dan kursi sang lawan bicara. Mary langsung memainkan rambut merahnya, mencoba menggoda pria yang ada di hadapannya.
"Kamu belum tahu bagaimana susahnya aku mendapatkan darah itu." Pria tersebut langsung berdiri dari duduknya, meletakkan tangannya di pegangan kursi Mary. Matanya tajam menatap kedua irish mata Mary yang berwarna merah kekuningan. Seakan mata tersebut mengatakan jika dirinya sangat menginginkan Demon nan cantik jelita tersebut.
"Apa kamu masih punya lagi? Jujur saja rasa darah itu sangat mencandu." Mary membelai wajah pria tersebut, mencoba menggodanya agar memberikan lagi darah yang baru saja dirinya cicipi.
"Semua yang kamu minta akan aku berikan kepadamu Mary... Asalkan kamu juga memberikan cintamu kepadaku." Pria tersebut mengambil beberapa helai rambut Mary, menciuminya, menghisap aroma yang dimiliki oleh rambut tersebut.
"Ah... Rambutnya saja sudah begitu nikmat." Batin pria tersebut, menikmati sensasi yang dirinya rasakan.
Mary tersenyum kecil melihat pria yang ada di hadapannya sudah begitu mabuk cinta kepadanya. Memang tidak ada satupun Demon yang akan bisa lolos dari pesona kecantikannya. Mary begitu diidam idamkan oleh seluruh Demon untuk dijadikan piala kebesaran mereka.
Sebenarnya bukan hanya karena kecantikannya saja Mary bisa menjadi idaman dari semua Demon laki laki yang ada di dunia Abyss, Mary juga menggunakan kekuatan specialnya untuk semakin mengikat semua Demon laki laki yang ada di dunia Abyss.
Absolute Love... Itulah kekuatan special yang Mary miliki. Mary mampu mengikat siapapun yang ada di sekitarnya untuk jatuh cinta kepadanya, selama orang tersebut tidak memiliki cinta sejati di hatinya. Tapi... Demon mana yang memiliki cinta sejati? Mengenal cinta saja mereka belum pernah sama sekali. Itulah sebabnya Mary begitu diagung agungkan oleh semua Demon laki laki.
"Kamu bisa mendapatkan cintaku asalkan kamu membawakan lebih banyak lagi darah segar kepadaku." Mary berdiri dari kursi, membuat rambut merahnya terlepas dari wajah pria tersebut.
"Aku... Behemout... Pasti akan memberikan semua yang kamu minta. Jangankan darah segar... Dunia tengah pun pasti akan ku berikan kepadamu jika kamu memintanya." Sesumbar Behemout kepada Mary. Mencoba meyakinkan Mary jika cintanya kepada Mary lebih besar dari apapun.
"Aku percaya kepadamu... Tapi semua orang yang ada di hadapanku juga mengatakan hal yang sama kepadaku..." Mary membelai lagi wajah Behemout, memainkan perasaan Behemout yang seakan sedang ditarik ulur oleh Mary.
Behemout tentu langsung mengerutkan dahi mendengar perkataan Mary. Itu artinya bukan hanya dirinya yang telah berani mengatakan cinta kepada Mary.
__ADS_1
"Aku pasti akan menerimamu. Asalkan kamu menepati janjimu lebih cepat daripada yang lainnya." Senyum menggoda Mary terpancar di wajahnya.
"Kamu tunggu saja... Aku akan segera kembali dan mengambil cintamu untukku." Behemout mencium tangan Mary lalu pergi meninggalkan ruangan tempat Mary berada.
"Hahaha.... Dasar pria bodoh..." Setelah kepergian Behemout, Mary melepaskan tawa yang sedari tadi dirinya pendam. Dirinya begitu puas bisa memainkan salah satu Jenderal Demon untuk menjadi budak cintanya.
"Ratu..." Salah satu sosok tiba tiba keluar dari sudut ruangan nan gelap. Sosok tersebut tidak memiliki kaki maupun tangan, hanyalah semacam arwah hitam yang melayang.
"Bagaimana Varta?" Mary tidak perlu mengalihkan pandangannya, karena dirinya sudah tahu siapa sosok yang tiba tiba muncul di ruangannya tersebut. Hanya satu orang di dunia Abyss ini yang memanggil dirinya dengan sebutan Ratu. Varta, Demon setia yang telah menjadi pelayannya lebih dari 900 tahun. Mary sendiri yang telah membesarkan Varta sedari kecil, hingga kini Varta menjadi Demon mata mata yang sangat sempurna. Semua karena kekuatan special yang dimiliki oleh Varta, Divide Soul. Varta mampu memisahkan jiwanya untuk dikirim ke ujung dunia sekalipun tanpa harus mengirim tubuh aslinya. Membuat Varta bebas berkeliaran di dunia Abyss tanpa harus khawatir mendapatkan masalah.
"Zepar dan anak buahnya tengah memasuki Mischurine. Sepertinya semua rencana Anda berjalan lancar."
"Bagus... Terus awasi dia... Laporkan kepadaku jika ada hal yang mencurigakan."
"Baik Ratu..." Sosok bayangan hitam tersebut menghilang dengan berakhirnya nada yang mengiyakan perintah dari Mary.
"Laki laki selalu saja bodoh..." Mary kembali tertawa puas. Dirinya benar benar puas bisa mempermainkan para petinggi Demon untuk mendapatkan cintanya.
Kini Mary hanya tinggal duduk manis dan menikmati permainan yang sudah dirinya rancang sedari dulu. Dirinya yakin jika rencananya akan berjalan dengan sangat mulus.
"Tunggu saja Asmodias... Akan ku balas seribu kali atas semua perbuatan yang kamu lakukan kepadaku."
###
Toni dan Red Ascend telah meninggalkan wilayah dari Kerajaan Royal Empire. Mereka kini tengah bersiap untuk memasuki wilayah dari Kerajaan Hidden Forest.
Hidden Forest merupakan kerajaan yang seluruh areanya merupakan hutan yang sangat lebat. Hidden Forest juga merupakan satu satunya kerajaan yang hanya memiliki satu kota untuk ditinggali, dan kota tersebut merupakan Ibukota Kerajaan Hidden Forest. Satu satunya akses yang bisa dilalui untuk bisa sampai ke Ibukota Kerajaan Hidden Forest adalah melewati sungai.
Para player ataupun Merchant yang akan menuju ke Ibukota Kerajaan Hidden Forest bisa memilih dua jalur. Jalur darat dengan menelusuri bibir sungai, atau menyewa perahu yang tersedia.
Para warga Hidden Forest yang hampir semuanya merupakan bangsa Elf menyediakan jasa pengantaran kepada para player atau merchant yang akan menuju ke Ibukota Kerajaan Hidden Forest. Mereka memanfaatkan jasa pengantaran tersebut sebagai mata pencaharian mereka.
__ADS_1
Sungai sungai di Kerajaan Hidden Forest berbeda dengan sungai di Kerajaan lainnya. Ukuran sungai di Kerajaan Hidden Forest besarnya bisa lima sampai enam kali lipat dari sungai biasa. Bahkan untuk berenang dari tepi sungai ke tepi lainnya pun belum tentu Toni bisa melakukannya.
Toni dengan terpaksa harus membayar sebuah perahu untuk bisa membawa dirinya dan Red Ascend ke Ibukota Kerajaan Hidden Forest. Toni tidak ingin mengambil resiko dengan menelusuri bibir sungai.
Bibir sungai akan menjadi tempat yang sangat rawan untuk dilalui. Tidak hanya rentan akan monster yang ada di hutan, para perompak juga menjadi kendala yang lebih besar. Toni tentu tidak ingin membuang buang tenaganya hanya untuk menghadapi para perompak yang mencoba mengambil harta bendanya. Lebih baik dirinya mengeluarkan uang lebih namun bisa menjamin keselamatan dirinya dan Red Ascend.
"Apa kamu yakin kita akan menyewa perahu?" Red Ascend memastikan sekali lagi keputusan Toni. Red Ascend sudah mengetahui jika kini Toni sudah dibebaskan dari keluarganya. Keuangan yang Toni miliki pun tidak akan sama seperti dulu lagi. Red Ascend memperingatkan Toni agar lebih berhati hati dalam menggunakan uang yang dirinya miliki.
"Lebih baik kita membayar beberapa keping emas kepada mereka, daripada uang kita nanti dirampok di tengah jalan." Toni meyakinkan alasannya kepada Red Ascend.
"Baiklah... Tapi kamu harus bijak dalam menggunakan uang sekarang. Jangan sampai keuanganmu di dunia nyata kamu gunakan hanya untuk membeli beberapa koin emas untuk game!" Red Ascend menekankan kata kata terakhirnya, yang membuat Toni sangat gemas untuk mencubit pipi Red Ascend.
"Baik Nyonya Besar..." Toni mencubit pipi Red Ascend yang tampak sangat imut. Membuat pipi Red Ascend menjadi merah.
"Sakit..." Red Ascend membalas Toni dengan memukulkan tongkat sihirnya ke kepala Toni. Membuat Toni harus terjatuh dan memegangi kepalanya.
Setalah beberapa waktu menunggu, perahu yang akan mereka tumpangi akhirnya selesai menaikkan barang barang yang akan mereka angkut. Toni dan Red Ascend pun menaikkan diri mereka ke atas perahu, membaur dengan para penumpang lainnya.
Ukuran perahu yang mereka tumpangi lumayan besar. Lebarnya hampir 10 meter dengan panjangnya hampir 20 meter. Membuat Perahu tersebut mampu untuk membawa lebih dari 50 orang.
Toni melihat ke arah semua penumpang, mencoba mengamati para penumpang satu persatu. Toni mencoba mencari lahan bisnis yang mungkin bisa dirinya gunakan untuk bisa menghasilkan uang.
Pandangan Toni pun terhenti pada sekelompok Elf yang duduk bergerombol. Sekita 16 Elf duduk saling berhadap hadapan. Ke enam belas Elf tersebut memiliki kemiripan. Mereka semua NPC, dan memakai seragam yang sama, baju zirah keperakan dengan logo sayap emas di dada mereka.
"Apa mereka pasukan Kerajaan Hidden Forest? Tapi apa yang mereka lakukan disini?" Toni memilih untuk mengalihkan pandangannya, takut jika apa yang dirinya lakukan akan menyinggung perasaan mereka.
Perjalanan perahu tersebut lancar sampai lebih dari 5 jam. Barulah ketika sore hari mulai menjelang, sebuah ledakan terjadi tepat di samping kapal, membuat kapal tergoyang.
"Apa yang terjadi?" Semua penumpang mencoba mencari tahu masalah apa yang menimpa perahu mereka, tidak terkecuali Toni dan Red Ascend.
"Perampok!" Toni melihat adanya sebuah kapal yang tengah mencoba mendekati kapal yang dirinya tumpangi dari kejauhan.
__ADS_1
"Merunduk!" Sebuah bola api langsung menyasar ke arah perahu yang Toni tumpangu. Toni pun langsung memberikan aba aba kepada para penumpang lainnya agar berlindung dari serangan yang datang.