New World

New World
Kesepian Azazel


__ADS_3

"Bagaimana menurutmu?"


Wajah dari Red Ascend atau kalau di dunia nyata dikenal sebagai May langsung menampilkan ekspresi berpikir keras. Pertanyaan dari Toni begitu sederhana, namun sulit untuk dijawab. Banyak pertimbangan yang harus diperhatikan sebelum menentukan langkah yang tepat.


"Apa keluargamu sudah mendukungmu?"


"Hah... Itulah yang aku khawatirkan... Aku tidak yakin keluargaku akan mendukungku."


"Bagaimana kalau mereka tidak memberimu ijin?"


Toni pun terdiam, tidak bisa berkata kata. Di satu sisi dirinya ingin mencari keberadaan Alan di Kerajaan South Mountain. Tapi di sisi lain Toni takut jika keluarganya tidak mendukung keputusan Toni. Mengingat dirinya dan kakaknya sekarang sedang mendapat tugas untuk mengembangkan Supernova guild dari ayahnya.


"Rasa bersalahku terhadap Alan begitu besar. Aku tidak bisa menghiraukan masalah yang menimpanya."


"Aku paham maksudmu. Tapi coba pikirkanlah secara matang. Jangan sampai kamu menyesal nantinya. Apapun yang akan kamu pilih, aku pasti akan bersamamu dan ada di sampingmu." Red Ascend memberikan senyum terhangatnya sambil memegang pundak Toni, membuat hati Toni menjadi sedikit tenang.


"Aku akan coba berbicara dulu dengan kakakku. Siapa tahu dia bisa membantuku."


"He'em..." Red Ascend hanya membalas dengan menganggukkan kepalanya.


Pergilah Toni dan Red Ascend ke markas guildnya untuk menemui kakaknya. Toni tidak perlu menemui Guild Masternya, karena dirinya tidak memerlukan ijin darinya. Secara struktural memang Toni berada di bawah Guild Master, namun dalam kenyataannya Guild Master hanya menjadi simbol bagi Guild Supernova. Seluruh keputusan tentang rencana pengembangan guild tetap dipegang oleh keluarga Toni.


###


Bug Fire atau di dunia nyata dikenal sebagai Steven Wellington, kakak kandung dari Toni Wellington. Seorang elementalist pria berlevel 30 yang tengah duduk di meja kerjanya. Dari wajahnya terlihat jelas jika dirinya sedang pusing mengatur keuangan Guild. Terlalu sibuk mengatur administrasi guild, membuat dirinya tidak pernah melakukan levelling. Walaupun dirinya adalah seorang Wakil Guild Master, levelnya jauh tertinggal dari para anggota divisinya.


Thok..


Thok..


Suara diketuk diikuti dengan masuknya Toni ke dalam ruangan kerja Bug Fire. Bug Fire pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Knight berzirah kecoklatan yang baru saja memasuki ruang kerjanya.


"Ada apa? Kamu tidak tahu aku sedang sibuk?" Nada sewot langsung keluar dari mulut Bug Fire. Bug Fire sedikit iri hati melihat perlengkapan Toni yang berada jauh di atasnya. Namun dirinya hanya bisa menerima apa adanya. Berbeda dengan dirinya yang harus mengurusi administrasi guild, Toni mendapat tugas untuk mengembangkan pengaruh guild di Royal Empire. Membuat Toni bisa memiliki waktu untuk sekedar levelling dan mengupgrade peralatannya.

__ADS_1


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!" Wajah Toni tidak kalah serius dengan wajah Bug Fire yang masih berkutik dengan pekerjaan di atas mejanya.


"Hah... Cepat katakan!" Bug Fire menghentikan pekerjaan mejanya dan bersandar pada sandaran kursi empuknya. Pandangan matanya tajam menatap Toni, seakan mengungkapkan jika dirinya tidak memiliki waktu yang banyak.


"Aku akan pergi ke Kerajaan South Mountain."


"Hem... Berapa lama?" Bug Fire masih memandang dengan wajah datar. Dirinya masih berpikir jika Toni akan mencoba menyebarkan pengaruh guild ke Kerajaan South Mountain.


"Aku tidak tahu akan berapa lama. Oleh sebab itu aku akan meninggalkan semua urusan guild terlebih dahulu."


Bruak...


Seketika meja yang ada di hadapan Bug Fire bergetar, kalau saja meja itu tidak terbuat dari marmer kualitas terbaik, meja tersebut pasti sudah terbelah menjadi dua.


"Apa kamu gila? Kondisi guild kita sedang membutuhkan dirimu!"


"Aku tahu itu... Itulah sebabnya aku meminta pendapatmu!" Nada Toni tidak kalah keras dengan Bug Fire yang sedang tersulut emosi.


"Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu. Aku tidak bisa memutuskan hal itu. Lebih baik kamu tanyakan kepada ayah." Bug Fire tidak ingin berdebat dengan adiknya tersebut. Dirinya sudah hafal dengan sikap adiknya, Dirinya tahu jika Toni tidak akan melakukan hal seperti itu jika tidak ada masalah yang penting.


"Hah..." Bug Fire kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursinya. Dirinya memijat lembut kepalanya yang tiba tiba terasa sedikit pusing.


"Kamu tahu sifat ayah kita kan?"


"Aku tahu... Tapi aku harus melakukan ini... Temanku..." Toni menceritakan tentang kejadian yang menimpa Alan. Toni juga mencurahkan seluruh rasa bersalah yang dirinya rasakan.


"Kamu tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri atas masalah yang menimpa temanmu."


"Aku tidak bisa kak... Lagipula siapa yang akan membantunya kalau bukan aku. Dia sudah tidak punya keluarga lagi." Toni menatap Bug Fire dengan kebulatan tekat yang dimiliki.


"Hah... Percuma saja aku menceramahi dirimu. Lakukan apa yang kamu mau. Aku akan mencoba membujuk ayah."


"Terima kasih kak... Kamu memang kakak terbaikku." Toni menghampiri Bug Fire dan ingin memberikan pelukan terbaiknya.

__ADS_1


Melihat apa yang akan dilakukan Toni, Bug Fire segera memberi tanda dengan kedua tangannya agar Toni tidak melakukan apa yang akan dia lakukan.


"Tapi... Aku hanya akan melakukan semampuku. Aku tidak bisa menjamin jika ayah tidak akan marah kepadamu!"


"Aku siap menanggung semua resiko. Yang terpenting kamu mendukungku!" Toni pun meninggalkan ruang kerja Bug Fire untuk bersiap siap meninggalkan Royal Empire dan menuju ke Kerajaan South Mountain.


"Hah... Apa yang harus kukatakan pada ayah?" Bug Fire tidak bisa lagi untuk berpikir. Dalam benaknya sudah terbayang seperti apa wajah ayahnya yang sedang marah akibat ulah Toni.


"Paling tidak aku harus bersiap untuk kemungkinan yang terburuk." Bug Fire mengatur sistemnya untuk Log out dari New World. Dirinya perlu menghubungi Milton untuk mempersiapkan segala yang dirinya perlukan.


###


Azazel tengah berdiri di dekat jendela. Dari bayangan dirinya yang terpantul di kaca jendela terlihat jelas jika tatapan matanya kosong. Sama sekali tidak menggambarkan jika dirinya sedang menatap tanah gersang yang ada di luar istana.


"Tuan Azazel..." Flyin memberi hormat kepada Tuannya tersebut. Membuat Azazel harus menghentikan lamunannya dan mengalihkan pandangannya ke arah Flyin. Flyin yang tahu akan apa yang sedang dipikirkan Tuannya tersebut pun hanya bisa tersenyum kecil.


"Bagaimana kondisinya?" Azazel langsung mengalihkan pembicaraan. Karena dirinya tahu jika Flyin sedang menggunakan kekuatan specialnya untuk menyelidik isi pikirannya. Azazel tentu malu Flyin mengetahui apa yang dipikirkannya tadi, namun dirinya mencoba menutupinya sebisa mungkin. Walaupun juga percuma untuk ditutupi, Flyin bisa membaca semuanya.


"Kondisinya statis Tuan. Saya ragu dia adalah orang yang tepat untuk tugas itu."


"Hem..." Azazel memegang dagunya, memikirkan tentang keputusannya memberikan Shadow Blood kepada Alan. Dirinya memang memberikan kekuatan kepada Alan agar Alan bisa melakukan satu hal yang tidak bisa dilakukannya.


"Terlalu terlambat jika kita harus mengganti kandidat. Kita tidak akan punya cukup waktu sampai pasukan demon bergerak."


"Lalu apa yang harus saya lakukan Tuan?"


"Kamu bawa dia berkeliling Abyss. Aku yakin jika dia diberi pengalaman yang cukup, dia bisa menjadi kandidat yang sempurna."


"Baiklah Tuan..." Flyin membalikkan badannya untuk meninggalkan Azazel sendirian. Tapi belum sampai flyin melangkahkan kaki lebih jauh, Azazel kembali memanggilnya.


"Flyin... Pastikan Jenderal Demon yang lain tidak mengetahui rencana ini!"


"Baik Tuan... Saya mengerti..." Flyin kembali melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Azazel. Kali ini tidak ada lagi yang menghentikannya.

__ADS_1


Azazel kembali menatap pilu pada jendela kaca yang menampilkan tanah datar nan tandus. Tatapannya kembali pilu, seakan akan menggambarkan kesepian yang mendalam di dalam hatinya.


"Hera... Apa kamu juga merindukanku? Aku disini selalu memimpikan dirimu. Hera..." Azazel memegang kaca jendela bagian atas. Berkhayal seakan dirinya sedang memegang langit yang gelap.


__ADS_2