
Sander mengaktifkan sebuah lingkaran sihir di hadapannya. Lingkaran sihir sebesar 2 meter tersebut berwarna hitam berbingkai tulisan rune. Dari dalam lingkaran sihir tersebut, muncullah gambar pasukan revolusi dan pasukan kerajaan yang sedang bertempur satu sama lain. Terlihat juga bagaimana pasukan revolusi mencoba mengevakuasi para warga dari dalam lingkaran sihir tersebut.
Kembang api merah menyala di bagian timur ibukota ketika Sander selesai membuat lingkaran sihir tersebut. Kembang api tersebut terlihat sampai ke seluruh penjuru ibukota. Tidak terkecuali Sander yang tengah berdiri di atas panggung eksekusi.
Sander tentu tidak terlalu memperdulikan akan kembang api merah yang barusan menyala, Sander tahu jika kembang api tersebut adalah salah satu sinyal yang digunakan oleh anak buah Deathmark. Sander yakin jika Deathmark dan anak buahnya dapat mengatasi pasukan revolusi kali ini.
"Ada apa tuan puteri? Masih berharap teman temanmu datang menyelamatkanmu?" Sander melirik kepada puteri Leoni yang tengah terdiam sambil memandang kembang api merah yang menyala di langit bagian timur.
"Cukup Sander! Cepat lakukan apa yang kamu inginkan!" Puteri Leoni tidak tahan harus melihat perang saudara antara pasukan revolusi dan pasukan kerajaan. Dirinya pun meminta kepada Sander untuk cepat melakukan eksekusi kepada dirinya. Puteri Leoni beranggapan, jika dirinya telah di eksekusi, perang akan langsung berakhir.
"Kenapa terburu buru? Bukankah indah melihat mereka saling bunuh satu sama lain?"
"Apa yang kamu inginkan sebenarnya?" Puteri Leoni tidak habis pikir dengan jalan pikiran Sander.
"Mereka sedang membantu menyelesaikan rencanaku. Lihatlah mereka..." Sander menjelaskan rencananya kepada puteri Leoni.
Puteri Leoni begitu marah setelah mendengar apa yang Sander katakan. Tidak dia duga niat sebenarnya dari Sander adalah ingin menghabisi pasukan revolusi dan pasukan kerajaan secara bersamaan. Namun apalah daya yang bisa dirinya perbuat saat ini.
Kedua tangannya terikat kepada tiang tiang yang menahan pergerakannya di atas panggung ini. Jikalau pun dirinya teriak, siapa yang akan mendengar? Para warga? Para warga tentu tidak ada yang berani mengambil tindakan secara frontal.
"AS..." Puteri Leoni hanya bisa merintih pelan sambil menyebut nama Alan. Alan lah satu satunya harapan puteri Leoni saat ini untuk bisa menggagalkan rencana Sander.
"Diam... Dan nikmatilah acara hari ini." Sander.
###
"Kalian pergilah dulu ke taman tengah kota! Gunakan jalan jalan kecil agar tidak terdeteksi oleh pasukan kerajaan." Alan meminta Shoote Sun dan Nightwalker untuk pergi terlebih dahulu.
"Tapi AS?"
"Aku akan mengecoh para player itu. Tidak ada waktu lagi." Alan melompat ke atas bangunan dan meninggalkan Shoote Sun dan Nightwalker berdua.
"Dia... Selalu saja..." Shoote Sun tahu jalan pikiran Alan. Dirinya juga tidak menyalahkan Alan akan pilihan yang diambil. Shoote Sun sadar jika dirinya dan Nightwalker justru akan menjadi kelemahan Alan jika ikut Alan untuk menghadapi para player anak buah Deathmark.
"Kita pergi..."
###
Deathmark yang melihat kembang api merah langsung tersenyum puas. "Waktunya..."
Melompati satu atap bangunan ke atap lainnya. Deathmark beserta 30 anak buahnya dengan cepat menuju ke bagian timur ibukota. Langkah Deathmark nampak terburu buru. Dirinya tidak ingin kehilangan jejak Alan jika terlalu lama di perjalanan.
"Berpencar! Jaga perimeter! Jangan sampai dia lolos!" Perintah Deathmark untuk mencoba membatasi pergerakan Alan seandainya Alan mencoba kabur.
__ADS_1
Tidak sampai sepuluh menit Deathmark beserta anak buahnya tengah sampai di tempat yang tadinya digunakan sebagai tempat pertempuran Alan dan Zegra. Deathmark tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Zegra beserta 20 anak buahnya tergeletak di tanah dan tak bernyawa dengan wajah yang mencerminkan kesakitan.
"Aneh... Luka yang mereka dapat bukan luka di bagian vital..." Deathmark meneliti lebih lanjut tentang tubuh Zegra dan anak buahnya. Tidak adanya luka di bagian vital, menandakan jika Zegra dan anak buahnya telah mati karena kehabisan Hp.
"Cari dia! Dia pasti belum jauh!"
Anak buah Deathmark pun berpencar dan menelusuri jalan jalan kecil sekitar untuk mencari posisi Alan.
"Aaa..."
Belum sampai beberapa menit anak buah Deathmark berpencar, terdengar jeritan dari salah satu gang kecil. Deathmark langsung menuju ke tempat asal suara untuk mendapati keberadaan Alan. Namun hanya anak buahnya yang tengah terbaring dengan memegangi tangannya yang terluka yang ada disana.
"Ayo bangun..." Deathmark yang mendapati anak buahnya hanya terkena luka ringan justru marah melihat anak buahnya terbaring di lantai. Deathmark berpikir jika anak buahnya tengah bersikap manja. Namun anak buahnya tersebut tidak mampu untuk bangkit. rasa sakit di tangannya benar benar seakan menggerogoti tubuhnya dari dalam.
"Aaaa..."
Kembali sebuah teriakan, Deathmark dengar dari jalan kecil lainnya. Deathmark pun menuju ke tempat asal suara lagi. Lagi lagi anak buahnya terkapar di atas tanah memegangi luka ringan di kakinya.
Teriakan demi teriakan terdengar beberapa kali di beberapa jalan kecil tempat anak buah Deathmark mencari keberadaan Alan. Deathmark pun selalu dengan cepat menuju ke tempat asal suara anak buahnya berteriak. Namun hanya anak buahnya yang sedang merintih kesakitan sajalah yang dirinya dapati.
"Kurang ajar! Keluar kamu kalau berani!" Teriak Deathmark yang marah karena Alan menerapkan taktik gerilya untuk menghabisi anak buahnya satu persatu.
Deathmark merasa akan berbahaya jika terus menerapkan rencana seperti ini. Dirinya pun mengumpulkan anak buahnya di satu tempat untuk mencegah rencana Alan.
Boom...
Sebuah bola api berukuran 2 meter dilepaskan oleh penyihir anak buah Deathmark ke arah bangunan yang ada di pinggir jalan. Bangunan tersebut langsung terbakar. Berulang kali penyihir tersebut melakukan hal yang sama. Membuat bangunan bangunan di sekitar mereka terlalap api.
"Hahaha... Sampai kapan kamu akan sembunyi?" Deathmark yakin jika apa yang dilakukannya akan membuat Alan keluar dari tempat persembunyiannya.
"Cuih... Dasar licik." Alan yang tengah bersembunyi di salah satu bayangan bangunan tidak punya pilihan lain selain harus keluar dari tempat persembunyiannya.
Alan langsung melompat ke atas dan menembakkan jarum jarum beracunnya ke arah range player anak buah Deathmark.
Jleb...
Jleb...
Lima jarum beracun Alan tepat mengenai setiap range player anak buah Deathmark yang tidak menduga akan mendapat serangan dadakan dari Alan. Notifikasi sistem jika mereka telah terkena racun white fog poiton pun terdengar. Sesak nafas, sulit bergerak langsung melanda seluruh tubuh mereka.
Deathmark tidak terlalu memusingkan kondisi anak buahnya. Dirinya tersenyum puas mendapati Alan yang akhirnya mau menampakkan diri.
"Aku kira kamu akan jadi tikus pengecut terus terusan?" Ejek knight beraura hitam kegelapan tersebut.
__ADS_1
"Pengecut?" Alan menaikkan salah satu alisnya. Sejak kapan taktik bertarung gerilya menjadi taktik bertarung pengecut? Tidak ada yang salah dengan taktik bertarung seperti itu. Jika mereka menganggap taktik bertarung seperti itu adalah taktik bertarung pengecut, itu karena mereka tidak siap untuk menghadapi taktik bertarung gerilya.
"Habisi dia!" Perintah Deathmark kepada anak buahnya yang tersisa.
Alan pun hanya bisa menggenggam erat pedangnya untuk bersiap menghadapi 19 melee player anak buah Deathmark. "Siapa yang pengecut sebenarnya?" Alan bergumam ketika melihat Deathmark hanya memberi perintah kepada anak buahnya untuk membunuhnya.
Diserang 19 player beraura kegelapan secara bersamaan benar benar membuat Alan kerepotan. Gerakan setiap player benar benar jauh lebih cepat daripada ketika Alan menghadapi mereka di pertempuran pabrik senjata. Alan pun dipaksa untuk terus mundur sambil sesekali meminum potion untuk memulihkan Hpnya yang turun secara perlahan akibat serangan dari anak buah Deathmark.
"Bagus... Bagus... Hibur aku... Kita lihat berapa banyak potion yang kamu miliki?" Deathmark tersenyum puas melihat Alan harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya.
Thang...
Thang...
Alan hanya bisa menangkis setiap serangan yang mengarah kepadanya tanpa bisa memberikan serangan balasan. Bahkan sesekali Alan harus menggunakan skill shadowingnya untuk menghindari serangan yang sekiranya tidak bisa dirinya halau.
Namun langkah yang dilakukan Alan bukannya tanpa alasan. Tanpa anak buah Deathmark sadari, Alan tengah menggiring anak buah Deathmark agar mengitari dirinya. Membuat seluruh anak buah Deathmark berada dalam jangkauan Black Breathnya.
"Black Breath!" Alan meniupkan gas beracun dari mulutnya ke tanah tempatnya berpijak. Anak buah Deathmark tentu tidak siap dengan satu serangan balik Alan yang bersifat masal tersebut. Mereka tidak bisa menghindari kepulan gas beracun yang langsung menyelubungi tempat mereka berada.
[Player telah terkena Black Breath poiton. Hp akan turun 20 poin setiap detik. Player terkena stun. Segera tinggalkan area poiton untuk menghilangkan efek stun.]
Notifikasi dari sistem hanya menjadi penyiar abal abal di telinga para player. Mereka lebih terfokuskan untuk mencoba menggerakkan tubuh mereka yang tidak bisa bergerak akibat menghirup gas beracun yang Alan keluarkan.
Musuh tidak bisa bergerak? Di hadapan Alan? Artinya hanya ada dua.
Satu mati di tangan senjata Alan.
Dua mati karena efek racun dari Alan.
Mau yang manapun pilihannya tentu bukan pilihan yang bagus bagi anak buah Deathmark. Namun Alan sedang tidak memiliki waktu yang banyak untuk menyiksa dan memberi pelajaran yang berarti bagi para player anak buah Deathmark. Alan menebas setiap bagian vital dari anak buah Deathmark dengan cepat, takut jika ada yang bisa lolos dari efek Black Breathnya. Alan tidak berani macam macam setelah tahu setinggi apa atribut yang dimiliki mereka kali ini.
Deathmark yang melihat anak buahnya tertelan kepulan gas beracun hanya bisa memelototkan matanya. Baru saja dirinya tersenyum puas melihat Alan tertekan, namun langsung bisa dibalikkan keadaan oleh Alan dengan satu skillnya.
"Sepertinya harga 1000 gold untukmu memang bukan isapan jempol belaka." Gumam Deathmark pelan setelah melihat Alan keluar dari kepulan gas beracun dengan pedang bersimpah darah.
"Ayo cepatlah... Aku sedang tidak ada waktu untuk meladeni orang orang seperti kalian." Alan tidak menanggapi perkataan Deathmark dan memilih untuk langsung menyerang Deathmark.
"Bagus... Seperti itulah yang aku harapkan." Deathmark menarik pedangnya dan melesat ke arah Alan.
Thang...
pertukaran pedang Alan dan Deathmark menimbulkan hempasan angin ke seluruh penjuru arah. Gas beracun yang tadi ada di belakang Alan pun tertiup sampai menghilang. Api yang membakar bangunan pun ikut bergoyang karena terpaan angin.
__ADS_1