New World

New World
Land of Death


__ADS_3

Perjalanan menuju Mischurine bukanlah perjalanan yang singkat. Alan dan yang lainnya perlu melewati beberapa daerah sebelum bisa mencapai tujuan mereka bertiga.


Di sela sela waktu istirahat, Alan duduk bermeditasi dengan tenangnya. Ada suatu rasa hangat yang bisa dirinya rasakan ikut mengalir bersama dengan aliran darahnya. Mencoba mengatur sensasi hangat yang ada di dalam tubuhnya agar bisa dirinya kendalikan dengan sempurna.


Memang setelah kemunculan Shadow Blood untuk yang pertama kalinya, Alan mulai bisa merasakan adanya sensasi hangat di dalam tubuhnya. Alan tidak tahu mengapa hal tersebut bisa terjadi, namun kemungkinan paling besar adalah Shadow Blood yang ada di dalam dirinya sudah mulai aktif.


"Apa yang dia lakukan?" Rendemiz memandang Alan penuh heran. Dirinya sudah menunggu Alan duduk terdiam lebih dari 3 jam.


"Jangan ganggu konsentrasinya. Dia sedang berlatih menggunakan kekuatan specialnya." Flyin memperingatkan Rendemiz untuk tidak mengganggu Alan, akan sangat berbahaya bagi Alan jika dirinya sampai diganggu di tengah tengah proses meditasinya.


"Berlatih?" Rendemiz tidak menduga jika Alan masih belum menguasai kekuatan specialnya. Tadinya dirinya berpikir jika Alan sudah menguasai kekuatan specialnya secara sempurna.


Memang setelah pertempuran dengan Dirda, Rendemiz belum pernah sekalipun melihat Alan menggunakan kekuatan specialnya, bahkan ketika berburu monster sekalipun. Tadinya Rendemiz berpikir jika Alan menyimpan kekuatan specialnya dan tidak ingin menunjukkannya jika dirinya tidak terlalu membutuhkan. Namun ternyata hal tersebut bertolak belakang dari kenyataan yang sebenarnya.


Alan mencoba mengumpulkan aliran hangat yang mengalir di dalam tubuhnya ke dalam satu titik. Perlahan lahan aliran hangat yang ada di dalam tubuhnya berkumpul menjadi satu di tangan kirinya. Sensasi panas mulai Alan rasakan setelah sekumpulan aliran hangat tersebut berkumpul menjadi satu.


Alan membuka kedua matanya yang tadinya terpejam, melihat ke arah telapak tangan kirinya yang kini tengah terselimuti aura gelap yang tebal.


"Jadi seperti ini Shadow Zone..." Gumam Alan yang mencoba memainkan aura gelap yang ada di tangan kirinya. Aura tersebut membesar dan mengecil sesuai dengan apa yang Alan inginkan. Alan mencoba menyentuh aura gelap tersebut dengan tangan kanannya, namun tangan kanannya sama sekali tidak bisa menyentuhnya.


"Sepertinya ini memang tidak memiliki bentuk yang nyata."


Alan mencoba untuk membesarkan aura kegelapan yang ada di tangan kirinya. Mencoba melakukan seperti yang Shadow Blood pernah tunjukkan. Aura kegelapan pun menyebar ke seluruh tubuh Alan, namun kepekatan aura gelap itu pun berkurang seiring dengan semakin luasnya daerah yang harus aura gelap tersebut tutupi.


"Masih terlalu dini untuk bisa melakukan seperti yang dia lakukan." Alan tersenyum dengan senyum ciri khasnya. Tidak mempermasalahkan lebih lanjut tentang belum mampunya mengontrol Shadow Zone secara sempurna. Bagi Alan hal seperti ini sudah menjadi kemajuan besar, mengingat dirinya benar benar otodidak dalam belajar menggunakan Shadow Zone.


"Anda berhasil Tuan?" Sebuah pertanyaan dari Flyin langsung keluar begitu Flyin melihat adanya aura kegelapan yang menyelimuti Alan. Flyin sendiri merasa kagum melihat aura kegelapan di sekujur tubuh Alan.


"Masih belum cukup... Aku perlu banyak jiwa Demon lagi." Alan menyanggah perkataan Flyin, dirinya tidak ingin Flyin terlalu berekspektasi akan kemampuan dirinya mengontrol Shadow Zone.


"Tenang saja Tuan... Anda bisa menjumpai banyak Demon yang bisa Anda bunuh nantinya."

__ADS_1


"Maksudmu?


"Anda akan mengerti dengan sendirinya nanti Tuan..." Flyin hanya tersenyum, sambil tangannya dengan cekatan membereskan barang barang yang akan mereka bawa.


Alan pun hanya bisa menahan rasa penasarannya, dan harus bersabar untuk bisa mengetahui dengan sendirinya maksud dari perkataan Flyin.


Setelah 4 jam melanjutkan perjalanan, barulah Alan mengerti apa yang dimaksud oleh Flyin. Alan dan yang lainnya kini tengah berhenti di atas bukit bebatuan yang lumayan tinggi. Dari tempat Alan berdiri, sudah bisa mulai terlihat adanya sebuah hutan hitam di ujung cakrawala.


Namun pandangan Alan bukan tertuju kepada hutan hitam yang ada di ujung cakrawala, kedua irish mata Alan menatap barisan makam yang berbaris rapi di bawah bukit bebatuan.


"Para Demon tidak mau mendatangi Mischurine bukan hanya karena kengerian Mischurine itu sendiri. Daerah daerah yang berbatasan langsung dengan Mischurine juga menjadi faktor pendukung enggannya para Demon untuk mendatangi Mischurine." Flyin yang bisa membaca isi pikiran Alan langsung mencoba menjelaskan pertanyaan pertanyaan yang ada di pikiran Alan.


"Ini adalah salah satu daerah yang berbatasan langsung dengan Mischurine. Land of Death dari dunia Abyss." Lanjut Flyin.


"Land of Death?" Alan mengerutkan dahinya mendengar satu kalimat dari Flyin. Hanya satu hal yang bisa menjadikan tanah di hadapan Alan disebut sebagai Land of Death. Tidak ada yang bisa keluar hidup hidup dari tempat ini.


Alan langsung meminta Joker untuk menampilkan peta di sekitar daerah Mischurine. Dan seperti yang dikatakan oleh Flyin. Mischurine berbatasan langsung dengan daerah yang dikuasai oleh Demon Raider dan daerah yang bernama Land of Death, tempat yang kini ada di hadapan mata Alan.


Chigaza adalah salah satu Jenderal besar Demon yang sangat unik, seluruh tubuhnya murni adalah tengkorak. Konon disebutkan jika Chigaza sebenarnya adalah Demon yang telah mati tapi hidup kembali berkat kekuatan specialnya.


Kekuatan special Chigaza adalah dirinya mampu menghidupkan Demon yang telah mati untuk menjadi pasukannya, yang disebut bangsa Litch. Bangsa Litch merupakan bangsa Demon yang akan memakan jiwa sesama Demon yang masih hidup. Hal itulah yang membuat tanah di hadapan Alan disebut sebagai Land of Death.


"Bangsa Litch?"


Flyin yang bisa membaca isi pikiran Alan tentu terkejut mendapati Alan bisa tahu apa saja yang ada di Land of Death tersebut. Flyin sangat yakin jika ini adalah pertama kalinya Alan mendatangi Land of Death. Namun tentu Flyin menahan diri untuk menanyakan cara Alan mengetahui informasi tentang Land of Death, Flyin tahu ada rahasia tersembunyi yang selama ini Alan sembunyikan sendiri. Dan dirinya tidak begitu mempermasalahkan rahasia Alan tersebut selama hal tersebut tidak membahayakan Tuannya.


"Sepertinya Anda sudah mengetahuinya Tuan... Bagaimana? Apa kita akan lanjut?" Flyin sekali lagi memastikan keputusan Alan. Flyin yakin Alan akan berpikir ulang setelah mengetahui bahaya apa yang akan menantinya di depannya.


"Kamu bercanda kan? Ini yang aku tunggu tunggu." Alan mempersiapkan Wind Bownya, dan berlari menuruni bukit bebatuan.


Flyin hanya tersenyum mendapati semangat Tuannya yang begitu besar, dirinya pun ikut berlari menyusul Alan untuk mendatangi Land of Death. Sementara Rendemiz hanya menatap kedua Demon tersebut dengan tatapan tidak percaya. Gila... Itulah satu kata yang ada di pikirannya setelah melihat kedua Demon tersebut tersenyum mendatangi Land of Death.

__ADS_1


Namun Rendemiz juga tidak bisa memiliki pilihan lain selain mengikuti kedua Demon tersebut. Mau tidak mau dirinya harus melewati Land of Death untuk mencapai daerah bernama Mischurine dan mendapatkan kembali Timeless Blade yang kini dimiliki oleh Zepar.


[Litch Demon. Common Demon.


Hp 8000.]


Satu demi satu, Tengkorak tengkorak hidup mulai keluar dari barisan makam yang berbaris rapi di hadapan Alan. Tengkorak tengkorak hidup langsung berbaris rapi di atas makam makam mereka, siap menghadang Alan dan Flyin yang akan melewati daerah tersebut.


"Hati hati Tuan... Menghadapi mereka sedikit merepotkan. Anda harus menghancurkan mereka secara keseluruhan!" Flyin memperingatkan Alan yang masih berlari mendatangi para Litch Demon yang baru saja keluar dari barisan makam.


Alan hanya mengangguk akan peringatan Flyin. Dirinya langsung menarik Wind Bownya untuk melesatkan anak panah angin ke arah Litch Demon yang ada di hadapannya.


Thang...


Thang...


-400


-387


-431


Belasan anak panah yang Alan lesatkan membentur tulang kepala dari Litch Demon yang masih terdiam mematung di atas makam. Alan tentu mengerutkan dahi melihat Demon Litch tersebut tidak langsung mati ketika dirinya sudah mengincar kepalanya.


"Sepertinya ini Undead versi Demon." Alan bergumam sendiri. Mencoba menelisik bagaimana cara untuk membunuh para Litch Demon yang ada di hadapannya.


"Critical Wind Spear!"


Alan mencoba mengarahkan satu tombak anginnya ke arah satu Litch Demon. Tombak angin Alan pun langsung melesat, membentur kepala dari salah satu Litch Demon. Sosok kepala Litch Demon yang terkena tombak angin Alan pun hancur seketika, menyisakan tubuh tengkorak yang masih berdiri tanpa kepala. Alan bisa melihat Hp Litch Demon tersebut tertinggal sekitar 2000 poin. Namun sosok Litch Demon tanpa kepala tersebut langsung berubah menjadi debu, melebur hingga menjadi bayangan hitam yang meluncur ke dalam tubuh Alan.


"Jadi cukup hancurkan kepalanya!" Alan bergumam pelan sambil terus berlari. Dirinya mengganti senjata Wind Bownya dengan pedang dan belatinya. Tidak mungkin bagi Alan untuk bisa menghancurkan kepala Litch Demon jika menggunakan Wind Bownya. Pedang dan belatinya adalah satu satunya senjata yang bisa dirinya pakai saat ini.

__ADS_1


Barisan Litch Demon yang tadinya hanya diam membisu pun kini menerjang ke arah Flyin dan Alan yang mendatangi mereka. Mereka tengah merasakan adanya jiwa Demon yang bisa mereka makan.


__ADS_2