
Sebuah bola api menyasar ke arah perahu yang Toni tumpangi. Toni pun memperingatkan kepada semua penumpang untuk segera merunduk, mencoba mencari tempat perlindungan dari serangan bola api yang mengarah kepada mereka.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Bola api tidak pernah sampai ke perahu yang Toni tumpangi. Toni dan Red Ascend yang sama sama sedang merunduk akhirnya menengadahkan pandangan mereka ke sekitarnya.
Para penumpang yang terdiri dari para player dan NPC merchant terlihat begitu santai. Mereka malah sekarang memandang ke arah Toni dan Red Ascend dengan senyum mengejek.
"Sepertinya ini pertama kalinya kamu datang ke Kerajaan Hidden Forest anak muda..." Seorang NPC merchant yang nampak sudah tua mendatangi Toni yang masih bingung melihat sekitarnya.
"Ah..." Toni tidak bisa menjawab dengan kata kata, dirinya terlalu malu menjadi pusat perhatian seluruh penumpang kapal karena ulah bodohnya.
"Tenang saja... Pasukan kerajaan tidak akan tinggal diam. Mereka akan melindungi kita." NPC tua itu kembali berujar, yang membuat Toni harus mengalihkan pandangannya ke arah rombongan pasukan kerajaan yang ada di atas perahu.
Apa yang dikatakan NPC tua itu ternyata benar. Salah satu Elf pasukan kerajaan tersebut terlihat sedang memainkan tongkat sihirnya, membuat perisai pelindung yang melindungi perahu dari serangan bola bola api yang datang.
Toni bisa melihat dengan jelas jika elf tersebut begitu mahir menggunakan sihirnya, bola bola api yang menuju ke arah perahu selalu lenyap tidak bersisa setelah menyentuh perisai pelindung yang elf tersebut buat.
Mata Toni semakin melebar setelah melihat beberapa elf berlari menuju ujung perahu dan langsung melompat, tidak peduli jika di bawah perahu adalah sungai yang dalam.
"Apa yang akan mereka lakukan?" Toni ikut berlari ke ujung perahu untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh para elf tersebut.
"Yang benar saja? Bagaimana mereka melakukannya?" Toni terperangah melihat para elf yang tadi melompat dari atas perahu kini berada di atas permukaan air. Ada Elf yang melompat lompat ringan di atas permukaan air, ada yang berdiri dengan tenang di atas permukaan air, dan ada pula yang terbang rendah.
Toni tentu terheran melihat apa yang para elf itu tunjukkan, jika para elf tersebut adalah elementalist atau penyihir. Mungkin Toni bisa memaklumi apa yang mereka lakukan, tapi mereka yang kini berada di atas permukaan air tersebut adalah para golongan melee class. Golongan yang mengandalkan kekuatan fisik mereka, bukan sihir.
"Terkejut?" Salah satu elf yang tersisa di atas perahu mendatangi Toni yang kini sedang berada di ujung kapal.
"Ah..." Toni tidak bisa berkata kata lagi. Dirinya merasa sangat malu telah menunjukkan hal yang bodoh untuk kedua kalinya.
"Tidak usah malu... Semua yang pertama kali melihat kami bertarung pasti akan melakukan hal yang sama seperti dirimu." Elf tersebut memberikan senyuman hangat kepada Toni, memaklumi tingkah bodoh yang Toni lakukan.
"Kamu sangat beruntung... Sangat jarang kesempatan seperti ini bisa orang dapatkan saat pertama kali bertemu kami. Sekarang duduklah yang manis dan lihat kami beraksi..."
Elf tersebut melompat dari ujung perahu, berbeda dengan elf yang lainnya. Elf yang baru saja melompat tersebut kini terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke perahu perompak.
"Luar biasa..." Toni tidak bisa untuk mengalihkan pandangannya pada perahu perompak yang kini tengah terbakar.
Masih terekam jelas dalam pikirannya bagaimana para pasukan Kerajaan Hidden Forest tersebut mendatangi kapal perompak dan menghabisi para perompak satu persatu. Menebas mereka, melemparkannya ke sungai, dan membakar habis perahu perompak. Semua mereka lakukan dengan cepat dan akurat. Menandakan para pasukan kerajaan tersebut benar benar sangat terlatih.
__ADS_1
Tepuk tangan yang meriah pun menyambut para pasukan kerajaan yang tengah kembali ke kapal. Para merchant sangat berterima kasih kepada pasukan kerajaan yang telah menyelamatkan nyawa dan barang dagangan mereka.
Para pasukan kerajaan tersebut juga sangat rendah hati, terlihat jelas dari cara mereka menyambut rasa terima kasih yang diberikan oleh para merchant.
"Mereka sangat hebat..." Red Ascend yang juga menjadi saksi akan kekuatan para pasukan kerajaan tersebut ikut berkomentar.
"Kamu benar... Sepertinya perjalanan kita akan menjadi lebih panjang dari yang kita rencanakan."
"Maksudmu?" Red Ascend tidak bisa untuk tidak bertanya kepada Toni setelah mendengar ucapan Toni. Red Ascend tidak tahu jalan pikiran yang sedang Toni pikirkan.
"Tidak apa... Nanti kamu juga tahu..." Toni membelai rambut merah Red Ascend yang duduk di sampingnya dan menyandarkan kepala Red Ascend di pundaknya kirinya. Membuat siapapun iri bagi yang melihatnya.
"Hidden Forest benar benar berbeda dari yang ku dengar." Toni hanya bergumam pelan melihat para pasukan kerajaan yang kini tengah kembali beristirahat.
###
Api hitam dan putih saling bersautan, membentuk sebuah dinding api yang tidak mungkin untuk ditembus. Api hitam dan putih tersebut menyelubungi pohon spiral yang menjadi tujuan dari Zepar dan anak buahnya.
"Tuan... Kita tidak bisa maju lagi..." Salah satu Demon memperingatkan Zepar agar tidak ceroboh dalam mengambil keputusan.
Zepar telah berulang kali memerintahkan anak buahnya untuk maju dan menembus perisai dinding api yang menutupi pohon tersebut. Namun tidak ada satupun dari anak buahnya yang berhasil menembusnya. Bahkan kini anak buahnya tengah tersisa setengah dari jumlah awal mereka.
"Sial... Tinggal sedikit lagi..." Zepar merasa sangat marah. Tinggal selangkah lagi dirinya bisa membongkar rahasia dari Mischurine. Namun langkahnya harus terhenti oleh dua ekor naga berwarna hitam dan putih.
Lesatan bola api, serangan sihir petir langsung mengarah kepada dua ekor naga yang berdiri di belakang dinding api hitam dan putih. Namun semua serangan tersebut langsung menghilang ketika bersentuhan dengan dinding api hitam putih yang mengelilingi mereka berdua dan pohon spiral.
Seakan akan serangan tersebut dimakan langsung oleh dinding api yang mengelilingi kedua naga tersebut.
"Apa yang terjadi?" Rahang bawah Zepar hampir saja terlepas dari kepalanya setelah melihat semua serangan yang mengarah kepada kedua ekor naga tersebut lenyap tak bersisa.
"Makhluk hina! Kembalilah ke tempat kalian! Tempat ini bukanlah tempat yang boleh kalian datangi!" Suara kedua naga tersebut tergema menjadi satu. Menambah kengerian yang tersirat dari suara kedua naga tersebut.
"Tidak ada tempat yang tidak bisa aku datangi!" Zepar menggenggam erat Timeless Blade yang ada di tangannya dan melesat ke arah kedua naga tersebut. Mencoba menembus dinding api yang menutupi mereka berdua.
Slash...
Satu ayunan pedang dari Timeless Blade mampu membelah dinding api hitam putih yang menutupi kedua naga. Sosok kedua naga tersebut langsung bisa terlihat dengan sangat jelas.
Bruk...
Belum sampai Zepar mendaratkan kakinya setelah menebas dinding api, ekor naga putih telah menanti Zepar. Tubuh Zepar pun terhempas kembali ke belakang sampai membentur pohon besar yang ada di belakang anak buahnya.
"Apa yang kalian tunggu? Cepat serang!" Zepar marah melihat para anak buahnya yang hanya berdiri dan melihat dirinya terpental. Padahal dirinya sudah berhasil membuka dinding api hitam putih yang mengelilingi kedua ekor naga.
__ADS_1
Ciu...
Ciu...
Serangan jarak jauh kembali melesat ke arah kedua ekor naga yang masih berdiri di depan pohon spiral. Namun sama seperti serangan pertama kali. Semua serangan sihir yang anak buah Zepar lesatkan tidak ada yang berhasil menyentuh kedua ekor naga.
Kedua ekor naga kembali menyemburkan api hitam dan api putih mereka. Kedua semburan api tersebut langsung saling bersautan, sambut menyambut hingga menjadi sebuah semburan api yang lebih besar. Api hitam putih kembali menelan semua serangan yang mengarah kepada kedua naga. Bahkan api hitam dan putih tersebut terus melesat hingga membakar sebagian anak buah Zepar.
"Aaa..." Jeritan demi jeritan langsung terdengar dari para anak buah Zepar yang terbakar. Mereka berlari kesana kemari mencoba memadamkan api yang menempel kepada tubuh mereka. Namun usaha anak buah Zepar sia sia, api hitam dan putih tersebut terus berpadu menjadi satu hingga membakar habis keseluruhan tubuh anak buah Zepar.
"Aku tidak percaya aku tidak bisa mengalahkan kalian..." Zepar menggenggam erat Timeless Bladenya yang kini ada di depan dadanya, bersiap untuk mengeluarkan kekuatan terhebat yang dimiliki oleh Timeless Blade.
"Time Space!" Ucap Zepar dengan lirih.
Seketika semua yang ada di sekitar Zepar berhenti bergerak, bahkan debu pertempuran yang sedang terbang ikut berhenti. Seakan akan Zepar telah menghentikan waktu seutuhnya. Zepar berjalan mendekati kedua ekor naga yang kini tengah terdiam, tidak bergerak sedikitpun.
"Kini kalian tahu... Siapa yang kamu panggil makhluk hina!" Zepar tersenyum puas melihat naga hitam dan naga putih terdiam mematung. Zepar bisa melihat dari kedua mata para naga tersebut jika kedua naga tersebut sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Zepar.
"Tenang... Aku sedang berbaik hati... Aku akan membiarkan kalian berdua mati tanpa rasa sakit!" Zepar bersiap menebas leher naga hitam. Mencoba mengakhiri nyawa naga hitam.
Wush...
Sebuah api hitam dan putih langsung menutupi tubuh kedua ekor naga. Membuat tebasan pedang Zepar harus terhempas ke belakang. Zepar yang tidak ingin terkena api hitam dan putih tersebut langsung melompat ke belakang.
"Bagaimana bisa?" Zepar tidak bisa untuk tidak terkejut. Dirinya sudah menghentikan waktu di sekitarnya dengan Time Space, tapi bagaimana kedua ekor naga tersebut bisa terlepas dari efek Time Space.
"Harus kami akui... Pedangmu bisa menjadi masalah. Tapi semuanya akan percuma di hadapan kami. Kami adalah naga yin dan yang, keseimbangan adalah jiwa kami. Tidak akan ada yang bisa menyerang kami berdua." Kedua ekor naga tersebut kembali bisa bergerak seperti sedia kala. Padahal semua yang ada di sekitar Zepar masih terhenti.
"Naga yin dan yang?" Zepar tidak bisa berpikir terlalu banyak, karena sebuah semburan api hitam dan putih sudah mengarah kepadanya. Memaksa Zepar harus menahan semburan api tersebut dengan Timeless Bladenya.
Semburan api hitam dan putih terbelah menjadi dua, namun kuatnya serangan memaksa tubuh Zepar untuk kembali terlempar ke belakang.
Bruk...
Tubuh Zepar kembali membentur pohon yang ada di belakangnya, memaksa efek dari Time Space menghilang begitu tubuh Zepar membentur pohon.
"Tuan... Anda tidak apa apa?" Salah satu anak buah Zepar langsung mencoba membantu Zepar yang nampak mengalirkan darah hijau dari ujung mulutnya.
"Kita mundur! Kita tidak bisa menghadapi mereka berdua!" Zepar berkata pelan, baru kali ini dirinya memerintahkan kepada anak buahnya untuk mundur. Zepar tahu diri jika dirinya tidak bisa mengalahkan kedua ekor naga tersebut. Setidaknya tidak untuk saat ini.
Perintah dari Zepar langsung disambut dengan senyuman bahagia dari anak buahnya yang masih selamat. Mereka sangat bersyukur Zepar tidak mencoba memaksakan pertempuran sampai semua anak buahnya mati.
Kedua ekor naga juga tidak mengejar Zepar dan anak buahnya. Mereka membiarkan Zepar dan buahnya untuk meninggalkan area pohon spiral. Tugas mereka adalah melindungi pohon spiral, bukan membunuh para Demon. Mereka hanya akan membunuh para Demon yang mencoba untuk keluar dari dunia Abyss dengan menggunakan pohon spiral.
__ADS_1
"Aku akan datang lagi... Tunggu saja..." Zepar kembali menolehkan pandangannya ke arah kedua ekor naga yang tetap tidak meninggalkan area pohon spiral. Nampak jelas di mata Zepar jika dirinya masih belum menyerah untuk membongkar rahasia Mischurine.