
Puteri Leoni memandang pilu ke arah Ibukota South Mountain yang luluh lantah akibat pertempuran. Dari kediamannya Puteri Leoni bisa melihat dengan jelas asap bekas bangunan terbakar membumbung di beberapa sudut kota. Bangunan rumah rumah warga yang hancur pun tak lepas dari pandangan Puteri Leoni.
"Apakah cuma aku yang tidak begitu puas dengan hasil ini?" Puteri Leoni menghela nafas panjang. Meskipun berhasil memenangkan peperangan, namun efek yang ditimbulkan begitu besar. Bukan waktu yang sebentar untuk memulihkan kondisi Ibukota South Mountain seperti sedia kala.
Bangunan bisa dibangun kembali. Tapi bagaimana dengan trauma warga? Bayangan ketakutan akan pertempuran yang menewaskan keluarga atau teman mereka pasti akan selalu melekat dalam diri setiap warga.
"Anda Sudah mencoba yang terbaik Puteri. Tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri." Shoote Sun yang ikut berdiri di samping Puteri Leoni paham apa yang dirasakan oleh Puteri Leoni.
"Ya... Kamu benar... Paling tidak kita bisa memulai lagi dari awal." Pandangan Puteri Leoni tetap terarah kepada Ibukota South Mountain. Ingin rasanya dirinya berteriak untuk meminta maaf kepada seluruh warganya.
"Saya yakin Anda bisa membangun Ibukota ini menjadi lebih baik lagi Puteri."
"Bagaimana dengan dia?" Apa sudah ada kabar tentang AS?"
"Tidak ada kabar sama sekali Puteri. Aku beberapa kali mencoba menghubunginya tapi tidak pernah bisa terhubung. Seakan akan Dia telah hilang dari dunia ini." Wajah Shoote Sun langsung memancarkan aura kesedihan. Terlihat jelas jika dirinya merindukan sosok Alan yang tiba tiba menghilangkan keberadaannya.
"Hah... Aku belum sempat berterima kasih kepadanya. Tanpa ada dia..." Puteri Leoni menyayangkan atas hilangnya keberadaan Alan. Tanpa adanya Alan yang mengulurkan bantuan, pastinya Kerajaan South Mountain akan masih tetap berada dalam penderitaan.
"Pastikan untuk menitipkan salamku padanya jika kamu bisa menghubunginya." Puteri Leoni meninggalkan Shoote Sun sendirian di balkon kediaman rumahnya tersebut. Banyak yang harus dia kerjakan saat ini, waktunya tidak tepat bagi dirinya untuk hanya berdiri sambil meratapi hilangnya Alan.
"Tentu Puteri..." Shoote Sun memberi hormat kepada wanita yang kini menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di Kerajaan South Mountain tersebut.
Kepergian Puteri Leoni membuat suasana menjadi semakin sepi, sesepi hati Shoote Sun. "Kemana kamu?" Pandangan Shoote Sun terbang ke langit, menanyakan kepadanya kemana gerangan sosok seorang pria yang biasanya hadir di sampingnya.
###
Thek thek...
Thek thek...
Suara peraduan antara jari berkuku tajam dengan gagang kursi singgasana yang diduduki seorang pria bertudung hitam. Jemari tersebut terus menerus menarik detik demi detik, seakan sedang menunggu sesuatu. Tangan kanan Pria tersebut bertopang di dagunya, matanya menatap tajam ke arah seseorang yang tengah berdiri di depannya.
"Jadi? Bagaimana?" Pertanyaan dingin keluar dari mulut Pria tersebut, seakan sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban yang sedari tadi dia tunggu.
__ADS_1
"Hah... Baiklah... Lagipula aku tidak punya pilihan lain kan?" Jawab pria yang berdiri di hadapan sebuah kursi singgasana tersebut sambil memandang jasad seorang pria yang tengah tergeletak tak bernyawa di sampingnya.
Ya... Pria yang berdiri tersebut adalah Alan, sedangkan jasad seorang pria tersebut adalah Sander. Alan sudah melihat dengan kedua matanya sendiri, bagaimana Pria yang duduk di kursi singgasana tadi membunuh Sander dengan satu tarikan nafas. Hal yang tidak mungkin dilakukan sama sekali di dalam pikiran Alan. Kecuali jika itu dilakukan oleh seorang Azazel, salah satu dari 7 Jenderal demon di dalam dunia yang disebut abyss ini.
Abyss World... Hal itulah yang Alan ketahui satu satunya dari dunia ini, itupun karena Alan bertanya kepada Joker tentang dimana dirinya berada saat ini. Jika tanpa bantuan Joker, mungkin Alan akan mengira jika dirinya masih berada di dalam dunia utama New World.
Dunia di dalam New World ternyata di kategorikan menjadi 3 dunia. Satu dunia utama atau disebut dunia tengah, dunia dimana para manusia dan bangsa lainnya hidup. Satu lagi dunia atas yang dihuni oleh para dewa. Sedangkan dunia yang saat ini Alan berada merupakan dunia bawah, atau lebih disebut Abyss World. Tempat hidup asli para monster monster dan Demon.
"Bagus sekali... Kamu memang bocah yang pintar." Azazel bangun dari duduknya, keenam sayap hitam yang menghiasi punggungnya pun merekah, menggambarkan kebesaran namanya.
"Flyin akan mengurusmu... Beristirahatlah terlebih dahulu!" Azazel meninggalkan ruangan tempat Alan berada dengan sekejap mata. Meninggalkan Alan yang masih berdiri mematung di depan kursi singgasana tersebut.
"Hah... Hampir saja..." Alan bisa bernafas lega setelah menghilangnya Azazel dari hadapannya. Tekanan dari kekuatan Azazel benar benar bisa Alan rasakan. Butuh kekuatan mental yang cukup hanya untuk berdiri di hadapan Azazel.
"Kita bertemu lagi Tuan Elf muda... Mari ikuti aku..." Suara seorang pria paruh baya mengejutkan Alan yang masih terpaku dengan menghilangnya Azazel dari hadapannya. Alan langsung mendaratkan kedua irish matanya untuk mencari tahu siapa si pemilik suara paruh baya tersebut.
"Maaf? Apakah kita pernah bertemu?" Alan memandangi pria paruh baya berpakaian setelan jas hitam putih yang tiba tiba muncul di belakangnya tersebut.
"Ah... Maaf saya belum memperkenalkan diri... Nama saya Flyin... Saya adalah kepala pelayan dari istana ini." Flyin membungkukkan badannya untuk memberi hormat kepada Alan.
"Mungkin Anda tidak ingat Tuan AS... Sayalah yang memberikan Demon Necklet kepada anda waktu itu." Flyin membalikkan badannya untuk berjalan, memberi tanda kepada Alan agar Alan mengikutinya.
"Jadi itu anda? Tapi kenapa aku tidak bisa mengetahui nama Anda ketika kita bertemu waktu itu?" Alan mengikuti Flyin yang berjalan menunjukkan arah.
Flyin langsung berhenti setelah mendengar perkataan Alan. Dirinya berbalik arah dan langsung memandang tajam ke arah Alan. Seketika Alan langsung berhenti dan terpaku akibat pandangan Flyin. Walaupun tidak sebesar tekanan yang diberikan Azazel, nampak jelas jika Flyin juga memiliki kekuatan jauh di atas Alan.
"Apa Anda bisa mengetahui nama semua orang saat bertemu dengan anda?" Flyin yakin jika dirinya telah menggunakan kekuatan specialnya untuk menutupi identitasnya waktu itu. Bahkan dewa sekalipun tidak akan bisa mengetahui jika itu adalah Flyin yang tengah menyusup ke dalam dunia tengah, dunia para manusia dan ras lainnya hidup.
Seketika Alan tersadar jika dirinya tidak sengaja tengah membongkar rahasia terbesarnya, keberadaan Joker dalam sistemnya. "Tidak... Tidak... Kamu tahu kan jika para player sepertiku akan mendapat petunjuk dari sistem." Alan mencoba beralasan.
Flyin masih memandangi Alan dengan tajam, dirinya memiringkan kepalanya. Mencoba memikirkan perkataan Alan lebih jauh. "Anda benar... Aku lupa akan hal itu." Flyin kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti.
Alan bernafas lega setelah melihat Flyin tidak menaruh curiga kepada dirinya. Dirinya pun kembali mengikuti Flyin menelusuri koridor koridor panjang yang hanya di terangi oleh lampu lampu kecil di beberapa bagian dinding.
__ADS_1
"Tuan Flyin..."
"Flyin... Cukup panggil saya Flyin saja Tuan..." Flyin membenarkan tanpa berhenti melangkahkan kakinya.
"Ah... Maaf... Flyin... Kenapa Anda memberikan Demon Necklet itu kepadaku? Apa ada yang special dari diriku?" Alan mencoba memastikan kepada Flyin. Alasan kenapa Flyin memilihnya. Apakah karena dirinya memiliki Joker? Atau alasan lainnya?
"Ah... Soal itu..." Flyin menggaruk kepala belakangnya yang sepertinya tidak terasa gatal. Flyin pun menghentikan langkahnya dan membisikkan sesuatu ke telinga Alan.
"Itu karena saya kelaparan waktu itu. Tapi tolong jangan beri tahu Tuan Azazel jika saya memberikan Demon Necklet kepada Anda karena hal itu."
"Maksud Anda?" Alan tidak bisa untuk tidak menanyakan hal itu kepada Flyin. Kelaparan? Padahal yang Alan tukar adalah sebuah crystal yang dapat digunakan untuk memanggil monster Mythic Class. Apa hubungannya dengan rasa lapar?
"Ya Tuan... Crystal yang Anda bawa waktu itu nampak sangat lezat. Itulah sebabnya saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menukar Demon Necklet dengan crystal itu."
"Lalu kamu memakannya?" Alan terkejut mendengar jawaban Flyin. Crystal yang bisa digunakan untuk memanggil monster Mythic Class? Dimakan? Kalau dijual ke dalam Black Market? Berapa saja uang yang bisa dirinya dapatkan? Dan hanya dimakan oleh Flyin.
"Ya Tuan... Kami di dunia ini memakan crystal kehidupan dari para monster untuk menjaga kita tetap hidup." Flyin melanjutkan langkahnya.
Alan tetap masih terperangah, Jika saja dirinya tahu. Dirinya pasti akan mencarikan crystal lainnya untuk ditukar dengan Demon Necklet itu, bukan Crystal yang bisa memanggil monster Mythic Class.
Langkah mereka berdua terhenti didepan sebuah pintu setinggi 4 meter. Pintu hitam dengan hiasan merah di beberapa ujungnya. Ukiran ukiran berbentuk Demon menghiasi pintu tersebut, membuat pintu tersebut nampak mengerikan. Gagang pintunya pun berukirkan kepala naga, menambah kesan mengerikan bagi pintu tersebut. Alan pun tidak bisa menebak, ruangan apa yang ada di balik pintu tersebut.
"Silahkan Tuan... Ini adalah kamar pribadi Anda... Silahkan beristirahat terlebih dahulu." Flyin membukakan pintu ruangan tersebut dan mempersilahkan Alan untuk masuk.
"Kamar pribadi?" Batin Alan. Alan tidak menduga jika dirinya akan dibawa ke kamar pribadinya. Tadinya Alan berpikir jika ruangan ini adalah ruangan pemujaan atau ruangan persembahan setelah melihat bentuk pintunya.
"Terima kasih banyak Flyin." Alan memasuki kamar tersebut. Flyin pun langsung menutup pintu dan meninggalkan Alan sendirian untuk beristirahat.
Alan lebih memilih beristirahat di satu satunya ranjang yang ada di ruangan tersebut, daripada mencoba menelisik setiap bagian ruangan yang kini menjadi kamar pribadinya. Pikirannya dipenuhi dengan masalah yang mesti diselesaikan.
"Apa yang harus aku lakukan?" Alan melihat daftar kontak teman temannya semuanya hitam. Menandakan dirinya tidak bisa menghubungi siapa pun dari Abyss World ini.
Namun itu bukan masalah terbesar Alan. Yang menjadi masalah terbesar Alan adalah menghitamnya tombol cursor log out yang ada di pilihan menunya. Berkali kali Alan mencoba memilihnya namun hanya sebuah suara sistem yang terdengar.
__ADS_1
[Player tidak bisa Log Out di Abyss World. Segera kembali ke Main New World untuk Log Out!]