
Abyss Dimension merupakan suatu dimensi buatan yang cukup luas. Kira kira luasnya adalah seukuran desa kecil. Abyss Dimension adalah hasil kolaborasi antara Alan dan Asmodias. Dengan Alan yang sebagai perancangnya, dan Asmodias dengan kekuatan specialnya yang sebagai pembuatnya.
Abyss Dimension dibuat khusus untuk turnamen Abyss Colloseum, Alan ingin menciptakan suatu lahan pertarungan yang bisa adil untuk semua class. Tidak peduli itu Swordman, Berseker, maupun Elementalist dan lain lainnya. Alan benar benar memikirkan keinginan para player, dimana mereka bisa bertarung tanpa kendala lokasi.
"Luar biasa sekali..." Satu kalimat keluar dari mulut Dealova setelah dirinya melihat isi dari Abyss Dimension. Matanya tidak berkedip sama sekali, melihat bagaimana ada lebih dari 6 elemen yang berbeda saling bersanding satu sama lain. Api, air, tanah, angin, kayu, cahaya, kegelapan. Semua unsur tersebut saling bersatu padu dalam satu wilayah kecil bernama Abyss Dimension.
Api membara yang seakan tidak pernah padam, menyala di samping kanan Dealova berdiri. Tanah yang cukup luas dengan bebatuan besar memisahkan api membara tersebut dengan sungai lebar yang tidak terlihat ujungnya. Pepohonan yang lebat pun tidak luput menghiasi ujung pandangannya. Tetap bersanding dengan api dan air di kanan kirinya.
Sebuah matahari buatan nampak menyinari Abyss Dimension dengan terangnya, bayangan bayangan yang gelap pun tidak luput tetap ada dari setiap benda yang terkena sinar matahari buatan. Dan yang paling mengejutkan Dealova adalah, sebuah guundukan es yang berdiri kokoh bagaikan sebuah bukit di belakangnya. Meskipun ada api yang membara, bukit es tersebut tidak menunjukkan tanda tanda akan meleleh nantinya.
"Ya... Mau dipandang berapa lama pun percuma... Ini hanya dunia buatan..." Dealova segera meninggalkan tempatnya berdiri. Yang terpenting bagi dirinya adalah segera menyelesaikan fase grup dan lolos ke fase knock out.
###
Burning Moon dengan santainya berdiri di atas puncak gunung es di dalam Abyss Dimension. Meskipun puncak bukit es tersebut cukup tinggi, namun mata tajamnya yang dilengkapi sensor kegelapan mampu menangkap bayangan bayangan ke 14 peserta lainnya yang ada di grup 9.
Meskipun mereka bersembunyi di dalam balutan pepohonan ataupun di dalam air. Selama masih ada bayangan mereka, maka dirinya bisa mengetahui lokasi mereka berada.
"Ahh... Ini hanya membuang buanh waktu..." Burning Moon mengeluh sesaat, jika dirinya harus mendatangi satu persatu player yang ada di grup 9, maka dirinya bisa menghabiskan waktu seharian. Mengingat posisi mereka saling terpisah satu sama lain.
"Baiklah... Akan aku buat ini sedikit lebih cepat." Burning Moon mengangkat tangan kanannya.
Aus der Dunkelheit kam ich und in die Dunkelheit werde ich zurückkehren. Rebellische, aber unerwiderte Seelen, ich rufe sie dazu auf, sich mir vollständig zu unterwerfen. Steh auf und tobe!
"Black Refelction!"
Dengan mantra yang keluar dari mulut Burning Moon, 14 aura gelap langsung menyebar ke seluruh penjuru Abyss Dimension. Ke empat belas aura gelap tersebut langsung menyasar dengan sendirinya ke arah 14 pesaing Burning Moon di dalam grupnya.
"Apa ini?" Seorang Archer yang sedang bersembunyi di pepohonan mendapati ada sesuatu yang masuk ke dalam bayangan tubuhnya. Seketika dari dalam bayangannya keluar satu sosok yang begitu mirip dengan dirinya. Hanya saja semua anggota tubuh dan senjatanya berwarna hitam legam.
Sosok hitam tersebut langsung menyerang Archer tersebut tanpa basa basi. Meluncurkan panah yang juga berwarna serba hitam.
Thang...
"Sial... Ulah siapa ini?" Archer tersebut tidak menduga akan mendapat serangan tiba tiba, padahal dirinya memiliki kemampuan sensorik yang bisa mendeteksi keberadaan musuh 200 meter di sekitar tubuhnya. Namun dirinya tidak bisa mendeteksi keberadaan satu pun player di dekat dirinya.
Thang...
Thang...
Archer tersebut beradu kekuatan dan kejelian dengan sosok serba hitam tersebut. Dari beberapa pertukaran serangan saja, dirinya sudah bisa mengetahui jika sosok bayangan hitam tersebut memiliki atribut yang sama persis dengan dirinya.
Namun ada satu hal yang membuat Archer tersebut tidak bisa mengimbangi sosok bayangan hitam. Archer tersebut adalah seorang player, yang bisa terluka dan berkurang hpnya. Sedangkan sosok bayangan hitam tersebut sama sekali tidak bisa mendapatkan luka.
__ADS_1
Meskipun sang Archer telah berhasil beberapa kali mendaratkan panahnya di kepala sosok bayangan hitam, namun kepala sosok bayangan hitam tersebut seakan terus beregenerasi, dan anak panah yang menancap di kepalanya hanya terjatuh di atas tanah.
"Hah... Sepertinya aku telah salah langkah..." Gumam Burning Moon yang merasa langkah yang diambilnya salah. Tadinya dirinya berpikir jika apa yang dilakukannya akan menjadikan fase grup menjadi lebih cepat, namun ternyata dirinya kini tetap harus menunggu.
Meskipun sudah diketahui hasilnya jika dirinya akan pasti lolos, tetap saja... Dirinya harus merasa bosan karena menunggu para Black Replikanya menyelesaikan tugasnya.
"Sebaiknya aku merajut saja untuk mengisi waktu..." Burning Moon mengeluarkan benang dan jarum dari tas penyimpanan sistemnya, duduk manis dan kedua tangannya mulai memainkan jarum dan benang dengan lihainya.
###
Fire Blade hanya tersenyum kecil ketika melihat ada 4 orang player yang saling bekerja sama untuk mengalahkan dirinya. Dirinya sadar jika di dalam grupnya berada, dirinya lah yang paling kuat. Dirinya hanya tidak menduga, jika ada satu kelompok dadakan yang bisa terbentuk di dalam fase grup ini.
"Masih bisa kamu tersenyum?" Cibir seorang Berseker yang memegang pedang besar.
"Apa tersenyum itu dilarang? Itu adalah tanda aku seorang pria yang ramah..."
"Kita lihat apa kamu masih bisa tersenyum nantinya!" Berseker tersebut langsung menyerang ke arah Fire Blade dengan pedang besarnya. Fire Blade hanya membuat sebuah pedang dari api untuk menghalau serangan Berseker tersebut.
Thang...
Satu pertukaran serangan, dan Berseker tersebut langsung terpental mundur beberapa langkah. Dirinya perlu menyeimbangkan kakinya agar tidak terjatuh, Fire Blade pun menggunakan kesempatan tersebut untuk melancarkan serangan balasan.
"Terlalu lambat..." Seorang Swordman tiba tiba muncul di samping kiri Fire Blade, kedua pedang yang digenggam Swordman tersebut sudah bersiap untuk menebas kepala Fire Blade.
"Aku memang mengincarmu!" Fire Blade menggerakkan tangan kirinya untuk menangkap kedua pedang Swordman.
Bukan tertebas, kedua pedang Swordman berhenti seketika di tangan Fire Blade. Dari tangan kiri Fire Blade langsung keluar api merah membara. Membakar kedua pedang Swordman hingga kedua pedang tersebut meleleh menjadi besi panas yang cair.
"Sial..." Swordman tersebut langsung melompat ke belakang, menghindari serangan susulan yang mungkin akan dilakukan oleh Fire Blade.
"Water Mountain!"
Beberapa pilar air langsung menyembur dari dalam tanah dan membumbung tinggi ke angkasa, ujung pilar air yang menjulang tinggi tersebut langsung berbelok arah dan menuju ke arah Fire Blade. Menjadikan Fire Blade sebagai sasaran utamanya.
Ceeesss...
Suara api Fire Blade yang tersiram air pun terdengar oleh keempat player yang mengepung Fire Blade. Kepulan asap putih pun langsung menutupi tubuh Fire Blade yang tersiram air.
"Mati sudah..." Senyum lebar terpancar di bibir Elementalist air yang mengeluarkan skill untuk menyerang Fire Blade. Dirinya sangat percaya diri jika serangan airnya bisa menjadi senjata utama untuk mengalahkan Fire Blade.
"Ah... Kenapa kamu bisa tahu kalau aku belum mandi?" Suara Fire Blade terdengar dari dalam kepulan asap putih yang menutupi seluruh tubuhnya. Perlahan namun pasti, tubuh Fire Blade bisa terlihat seutuhnya. tubuh Fire Blade yang basah pun kini bisa keempat player tersebut saksikan.
"Bagaimana bisa?" Elementalist air tersebut seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seharusnya serangan airnya bisa memadamkan tubuh api Fire Blade.
"Apa kamu tidak tahu cara kerja api dan air?" Lirik Fire Blade pada Elementalist air tersebut.
__ADS_1
"Api akan padam jika terkena air yang jumlahnya jauh lebih banyak dari jumlah api. Tapi jika jumlah api lebih banyak..." Fire Blade tersenyum puas. Dirinya memang memilih untuk tidak melanjutkan kata katanya.
"Berlindung di belakangku!" Teriak seorang knight yang sedari tadi masih mengobservasi jalannya pertarungan. Dirinya tahu jika Fire Blade kini akan membalas menyerang.
"Terlambat!"
"Wave of Hell!"
Seketika gelombang api merah membara menyebar dari tubuh Fire Blade ke segala penjuru. Membakar dan menghempaskan segala bentuk materi yang terkena gelombang api tersebut. Keempat player yang mengepung Fire Blade pun terpaksa harus menerima kenyataan jika mereka memang harus menjadi bahan bakar untuk api milik Fire Blade.
###
Berbeda dengan Player lainnya yang memilih untuk langsung bergerak. Ken yang tergolong di dalam kelompok 12 beserta ke 14 player lainnya memilih untuk tetap diam di tempat terlebih dahulu.
Dirinya sudah berpengalaman untuk mengikuti turnamen di dunia nyata. Dan dirinya tahu, akan ada seorang pemantau yang mengawasi setiap kekuatan para peserta.
Ken tentu tidak ingin terlalu banyak menunjukkan kekuatannya, baginya yang utama adalah memenangkan turnamen. Bukan hanya sekedar lolos dari grup stage. Dirinya harus sebisa mungkin untuk menyimpan segala kekuatan dan skillnya untuk menghadapi peserta lainnya di fase knock out. Bahkan kalau bisa dirinya ingin bisa lolos dari fase grup tanpa harus bertarung.
"Dasar gegabah..." Ken hanya memandang intens pertarungan yang terjadi di lahan kosong di tengah tengah Abyss Dimension. Terlihat jelas jika semua yang bertarung di tempat tersebut tidak memikirkan apa yang akan terjadi nantinya di fase knock out.
Ya... Jika skill dan kekuatan seorang petarung telah diketahui dengan jelas, maka bukan suatu hal yang mustahil jika akan ada satu pihak yang menyiapkan sebuah rencana untuk memanfaatkan titik lemah peserta. Karena hal itulah, Ken masih mencoba menahan diri saat ini. Dirinya tidak mau kekuatan sebenarnya yang dimilikinya diketahui khalayak publik begitu saja.
"Kamu tidak mau ikut bertarung dengan mereka?" Suara seseorang tiba tiba muncul di dekat Ken. Padahal Ken sama sekali tidak menyadari kedatangan siapa pun.
"Bagaimana?" Ken langsung bersiaga, mengambil kuda kuda untuk bertarung begitu melihat seorang Assassin berpakaian serba putih muncul tiba tiba di dekatnya.
Meskipun Ken tahu jika Assassin memiliki skill Stealth untuk menghilangkan keberadaan, namun Gold Fighter yang merupakan class specialnya memiliki suatu kemampuan untuk merasakan keinginan bertarung seseorang yang ada di dekatnya. Itulah sebabnya Ken sangat terkejut ketika mendapati Assassin tersebut tiba tiba muncul di dekatnya.
"Tenang... Sama seperti dirimu... Pertarungan saat ini bukanlah yang utama. Lebih baik simpan tenaga dan skill mu untuk fase selanjutnya." Jawab seorang Assassin yang berpakaian serba putih tersebut.
Mendengar perkataan Assassins tersebut, Ken tetap tidak mengalihkan kewaspadaannya. Dirinya kini berada di dalam turnamen, bisa saja Assassin tersebut sedang menipunya.
"Aku bisa membunuhmu tadi jika aku mau... Tapi aku tahu itu tidak akan seru..." Gumam Assassin tersebut yang seakan tahu jalan pikiran Ken.
"Baiklah... Lalu apa maumu?" Ken menurunkan kedua tangannya, tanda dirinya sedikit percaya dengan ucapan Assassin tersebut. Namun dirinya tetap siaga, jika sosok Assassin tersebut berniat menyerangnya secara tiba tiba.
"Duduk saja di sini... Aku membawa arak... Temani aku minum dan melihat mereka saling berebut nyawa..."
Ken melongo mendengar perkataan Assassins tersebut, baru kali ini dirinya mendengar ada seseorang yang berniat minum minum di dalam sebuah pertarungan.
"Kamu tidak mau? Ya sudah..." Assassin tersebut berniat meninggalkan Ken.
"Tunggu... Siapa kamu sebenarnya..." Cegah Ken yang melihat Assassin tersebut berbalik arah.
"Namaku Blast. Lebih enak kalau kita mengobrol sambil minum."
__ADS_1
"Baiklah Blast. Aku Ken..."
Kedua player tersebut pun lalu duduk manis sambil minum arak. Bercerita satu sama lain mengenai diri mereka, seakan mereka sedang tidak dalam suatu pertarungan turnamen. Tidak peduli sama sekali, jika beberapa ratus meter di dekat mereka sedang ada sebuah pertarungan yang mempertaruhkan posisi di fase knock out.